Love In Pesantren

Love In Pesantren
sahabatku sayang


__ADS_3

Hari semakin siang, acara masih saja ramai. Wajar saja karena acara tersebut juga di gelar sekalian halal bihalal, reuni juga.


Awalnya acara akan dilaksanakan selepas idulfitri namun baru terealisasikan hari ini.


Kita kembali pada Nimas dan kawan-kawannya yang masih asik mengobrol. Zamima masih asik tidur dalam kereta bayi, sementara Reasad putra dari Siti sedari tadi di bawa Hulliyah berkeliling Pesantren.


Ckck sepertinya Hulliyah sedang latihan mengurus bayi. Haha.


"Lama yaa kita gak ngumpul seperti ini."


Rista berbicara dengan lantang, membuat hampir semua orang melihat padanya. Alhasil, Amir suaminya harus sedikit memberi sentuhan pada lengan Rista untuk memelankan suaranya.


Ditoel?


"Apa si kamu tuh colek-colek?"


Eh Rista ko ga peka.


Amir menggaruk kepalanya antara malu pada semua orang dan gregetan pada istrinya itu.


Duh kalau lagi di rumah udah digigit deh, mungkin itu fikir Amir.


"Sof, Farrel ko ga ikut?"


Lagi-lagi suara Rista memecah suasana.


Sofia baru akan membuka mulut sebelum akhirnya Ustadz Ahmad menyelanya.


"Farrel lagi di luar kota."


Semua orang mangut-mangut kecuali Nimas, kembali dia tatap dalam wajah Sofia yang sedang tersenyum tapi entah kenapa Nimas melihat sisi muram dibalik senyuman itu.


Nimas udah mirip peramal yee.


"Aku ke belakang dulu."


Sofia beranjak meninggalkan kerumunan. Lalu kemudian Nimas mengikutinya.


Sudah lama rasanya dia tak mengobrol berdua dengan Sofia.


Sofia duduk di teras salah satu kobong yang kosong.


Menyaksikan gerimis yang kala itu turun dengan rapatnya.


"Sof.."


Suara Nimas yang tiba-tiba datang membuat perhatian Sofia teralihkan.


"Nimas, ngapain kesini?"


Sofia bergeser supaya Nimas bisa duduk di sampingnya.


"Kamu juga ngapain ke tempat sepi begini."


Sofia nyengir.


"Aku ga biasa di keramaian aja." ucap Sofia.


"Hmmm gitu, Sof lihat deh pohon itu."


Nimas menunjuk pohon bambu di kejauhan.


"Pohon yang mana, pohon jambu atau pohon bambu?"


Sontak Nimas mendelik seraya tersenyum.


"Pohon apa aja deh."


Sofia terkekeh mendengar nada suara Nimas yang kesal.


"Pohon itu selalu berdiri walaupun diterjang angin, hujan, atau panas sekalipun. Tapi ada saatnya pohon itu gak kuat, ada saatnya pohon itu menyerah. Entah itu ditebang manusia ataupun tumbang karena hal lain. Layaknya kita, memang harus kuat menghadapi keadaan. Tapi.."


Nimas menoleh ke arah Sofia yang kini memperhatikan pohon-pohonan itu.


"Sofi, kamu juga bisa menyerah."


Sofia menoleh pada sahabatnya itu.


"Menyerah? Memangnya aku kenapa Nim?"


Nimas menatap lekat sahabatnya.


"Kamu bisa menyerah jadi istrinya Farrel bila itu menyakitkan."


Sofia tersenyum seraya memalingkan pandangan lurus ke depan.


"Aku ga apa-apa. Aku ingin seperti kamu."

__ADS_1


Nimas mengernyit tak mengerti.


"Aku pasti bisa kan? Iya kan?"


Kini kembali pandangan mereka bertemu.


"Kenapa aku?"


"Iya kamu, aku ingin melewati masa sulit ini seperti kamu dulu dan akhirnya sekarang kamu bahagia kan."


"Tapi, aku belum tahu nantinya apakah aku bisa bahagia atau tidak."


Sofia melanjutkan perkataannya dalam hati.


"Apa kamu mencintai Farrel?"


Pertanyaan Nimas satu ini tidak bisa dikondisikan.


Sofia menggeleng, "Aku ga tau Nim. Tapi sekarang aku udah tahu kenapa Tuhan menjadikan aku istrinya Farrel."


"Apa? Kenapa?"


Sofia tersenyum memegang tangan Nimas.


"Kamu jangan tertutup gini dong Sof!! Aku ga bisa masuk buat bantuin kamu."


Nimas tidak puas dengan tanggapan Sofia.


Kembali Sofia tersenyum sambil menatap lekat kedua mata sahabatnya.


"Berbahagialah dengan Ustadz Zam, dengan begitu kamu sudah membantuku."


"Sooof.."


Nimas berhambur memeluk Sofia dan menangis di sana.


Sofia membalas pelukannya.


"Udah ah jangan nangis!! Kan jadi ga kelihatan udah punya Mima kalau begini."


Nimas melepas pelukannya, di sekanya air mata yang masih mengucur itu.


"Kamu jangan imut gini dong Nim, aku kan iri."


"Isshh kamu tuh Sof."


Nimas menggeser tubuhnya menjauhi Sofia.


Akhirnya keharuan itu berubah jadi keceriaan dua sahabat itu yang saling tertawa.


"Udah ah udah, ayo kembali ke Aula."


Ucap Nimas disela tawanya.


Mereka pun bergandengan tangan berjalan menuju Aula.


"Nim, janji yaa sama aku. Kamu akan selalu tersenyum seperti ini."


Nimas mengeratkan genggaman tangannya pada Sofi.


"Kamu juga janji sama aku, kalau kamu harus bahagia."


Kembali mereka bertatapan dan saling tersenyum tulus.


"Duh mesranyaa kalian, cemburu jadinya."


Ustadz Zam tiba-tiba muncul dihadapan mereka sambil menggendong Zamima.


"Eh Mima bangun."


Nimas mengambil alih menggendong Zamima.


"Tanggung jawab nih, aku cemburu."


Isshh Ustadz sok imut.


Sofia tersenyum melihat tingkah suami istri yang manis itu.


Kemudian seseorang datang menyentak tangan Sofia keras.


Semua pandangan menuju padanya.


"Farrel."


Ya, orang itu Farrel. Tanpa salam tanpa senyum, menarik tangan Sofia pergi dari acara tersebut.


--------------------

__ADS_1


Ketika malam tiba, Nimas yang baru saja menidurkan Zamima, berdiri termenung menghadap keluar jendela.


Fikirannya melayang pada kejadian tadi siang.


"Neng.."


Ustadz Zam datang memeluk Nimas dari belakang.


Ah Ustadz udah malam ini wkwk.


"Neng kenapa?"


Ustadz Zam mengelus-elus perut Nimas.


Duh ngapain coba Ustadz satu ini.. Bikin author geli, eh ko geli haha.


"Ga ada A."


Ucap Nimas berbisik.


"Pasti neng khawatir sama Sofia kan?"


Nimas mengangguk pelan. Sang Ustadz membalikkan tubuh istrinya ditatapnya wajah sang istri yang tengah menunduk. Diangkatnya dagu Nimas hingga kini sang Ustadz mampu melihat wajah sang istri.


Cup.


Dikecupnya sekilas bibir Nimas.


Eh jangan pada marah yaa aku bikin adegan seperti ini. Aisshh ko author guling-guling ngetiknya.


"Sofia wanita yang kuat, dia seorang yang ikhlas. Alloh pasti memiliki cara tersendiri untuk melindunginya."


Cup.


Dikecupnya lagi bibir Nimas itu.


Hadeeuuh.


"Yang perlu neng lakukan hanya mendukung Sofia dan terus mendoakan yang terbaik buat dia."


Nimas mengangguk.


"A, dulu Aa benci sama aku?"


Sang Ustadz mengernyit.


"Aa kan udah pernah bilang, Aa mengincar neng dari pertama kali neng masuk Pesantren."


Mengincar katanya.


"Tapi kan kita nikah mendadak."


"Kata siapa mendadak? Aa sudah persiapkan semua rencana meminangmu, bahkan sebelum Aa taaruf sama Sofia dulu. Pernah coba melupakan neng, waktu itu Sofia masih menjadi calon istri aku. Namun jodoh yaa jodoh, akhirnya kita menikah juga kan?"


Entah mengapa semua ucapan Ustadz Zam mampu membuat wajah Nimas bersemu merah.


"Semoga Sofia bahagia." ucap Nimas.


"Ini nih yang membuat aku jatuh cinta setiap hari sama neng."


Nimas menuntut jawaban dari sorot matanya.


"Neng itu selalu memikirkan orang lain dibanding diri neng sendiri."


Cuuup.


Sang Ustadz mengecup kening istrinya lama.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


#Entahlah haha (author)


#Ciee author mau (Nimas)


__ADS_2