
Seminggu kini telah berlalu dari kejadian bertemu dengan Beni. Hulliyah sudah mulai menata hati meskipun dirinya kembali menjadi pendiam seperti dahulu. Hulliyah mulai belajar kembali di Pesantren, berbaur dengan santriwati lain. Hulliyah menghabiskan malamnya dengan mengaji sehabis isya hingga hampir tengah malam.
Kemudian siangnya Hulliyah mengajar anak-anak Tk dan mengisi kegiatan Pesantren lainnya.
Intensitas bertemu dengan Haqi pun ternyata tak sebanyak yang dibayangkan. Haqi sangat sibuk dengan pekerjaannya, kalaupun ada waktu meninjau persiapan pembangunan sumur bor waktunya sangat terbatas. Sehingga Haqi tak memiliki waktu yang cukup untuk sekedar memgobrol dengan istrinya.
Bahkan untuk berbalas pesan melalui ponsel mereka pun tak bisa lakukan. Ya alasannya karena selama seminggu penuh ponsel para santri selalu disita oleh Mama Haji. Termasuk juga ponsel milik Hulliyah, alhasil Haqi harus bersabar dan menekan rasa rindunya yang makin hari makin menggunung.
Selama seminggu ini mereka baru bertemu sekali itupun hanya bertatap-tatapan dari jauh.
Hmm ... berasa bukan suami istri yaa kalau begini hihi.
Haqi ingin sekali segera meresmikan pernikahannya tetapi apa daya keadaanny belum memungkinkan.
Haqi pun berencana setelah proyek yang sedang dikerjakannya selesai, Haqi akan segera pulang ke Palembang dan mempersiapkan semua untuk niat baiknya kepada Hulliyah.
Haqi harus bersabar tinggal beberapa bulan lagi, hanya beberapa bulan saja.
Semangat Babang Haqi!
-------------
Malam ini di Pesantren, dinginnnya udara menelelusup masuk melalui celah pori-pori. Langit cerah nan pekat itu dihiasi hamparan bintang yang seakan menggantung. Sang raja malam, rembulan sedikit menampakkan dirinya menyerupai lengkungan senyum.
Hulliyah baru selesai mengkaji kitab kuning bersama dengan santri yang lain.
Kini Hulliyah sedang termangu memandangi langit dan mengagumi keindahannya.
"Hayyo loh ... melamun!"
Tiba-tiba suara Neli sedikit membuat Hulliyah terkesiap dibuatnya.
"Ngagetin tahu gak ih." kata Hulliyah.
Neli mendudukkan dirinya tepat di sebelah Hulliyah, mereka duduk tepat di depan kobong mereka. Bangku dari kayu jadi penopang berat badan mereka berdua.
"Udah malam, jangan melamun!" ledek Neli.
"Enggak melamun, jangan ngarang deh! Aku liatin langit malam ini ko cantik banget ya."
Hulliyah tak memalingkan pandangannya dari langit itu.
"Iya si, langitnya lagi cerah. Eh Li, sebelum kamu ke sini, Dewi anak Tk B sakit."
"Loh, kok baru ngasih tahu? Sampai sekarang Dewi belum masuk 'kan?" tanya Hulliyah.
"Iya masih sakit sepertinya, eh kasihan deh anak itu. Kamu bayangin Li, gimana anak gak sakit keadaan rumahnya kotor begitu."
Hulliyah cepat-cepat mendelik ke arah Neli, sebelum Neli melanjutkan perkataannya.
"Kenapa liatinnya gitu amat?" Neli bingung melihat raut wajah Hulliyah.
__ADS_1
"Kamu kalau masuk ke rumah orang jangan begitu. Masuklah ke rumah orang dalam keadaan buta dan keluarlah dari rumah orang dalam keadaan bisu. Artinya apa? Artinya Kamu masuk ke rumah orang jangan melihat-lihat hal yang gak penting, terus pas kamu keluar dari rumah itu diamlah dan bisulah dengan apa yang kamu lihat dari dalam. Jangan sekali-kali kamu menceritakan apapun tentang keadaan rumah itu pada siapapun."
Hulliyah memperhatikan Neli yang nampak menyesal.
"Intinya Nel, kita tidak boleh mengumbar aib orang lain. Jadikanlah slogan aibmu bukan urusanku, sebagai pedoman. Saking tidak bolehnya kita mengumbar aib sesama muslim."
Neli terdiam meresapi ucapan Hulliyah sambil mengangguk-angguk.
"Enggak lagi-lagi deh hehe," katanya.
Mereka pun melanjutkan obrolan sampai tengah malam dan mengakhirinya ketika sang tubuh minta diistirahatkan.
------------------------------
Keesokan harinya Hulliyah mendapat izin untuk pergi ke rumah Nimas. Memang selama Hulliyah kembali ke Pesantren, dirinya belum sempat mengunjungi Nimas karena kesibukkan di Pesantren.
Hulliyah mengetuk pintu dan mengucapkan salam terlebih dahulu.
Setelah dipersilahkan masuk, Hulliyah masuk ke dalam rumah itu. Hulliyah mendapati Zamima dan adik bayinya tengah tertidur di tengah rumah itu.
Hulliyah menatap Nimas yang nampak kelelahan, wajah pucat beserta kantung mata yang menghitam sebagai tandanya.
"Kamu sakit Nim?"
Hulliyah khawatir, kemudian menghampiri sang sahabat yang sedang terduduk di kursi itu.
"Enggak, aku enggak sakit." jawab Nimas diselipi senyuman dalam perkataannya.
"Tapi ini kenapa kamu jadi jelek begini?" ceplos Hulliyah.
Nimas mengambil cermin yang ada di atas meja.
"Wajah kamu pucat amat." timpal Hulliyah sedikit merasa geli dengan kepanikan Nimas.
"Duh iya Li, liat mataku item banget. Ih aku lusuh begini pantesan A Zam tadi pagi buru-buru pergi. Mungkin jijik liat aku yaa Li."
Tiba-tiba Hulliyah merasa geli dengan pernyataan Nimas dan sedikit mengeluarkan tawanya.
"Kamu malah ngetawain ih!"
Nimas kesal dengan tingkah Hulliyah.
"Aku begini karena tiap malam begadang Li, beratnya punya dua anak kecil. Nikmat banget rasanya."
Hulliyah menatap Nimas dan menyeringai.
"Tapi kamu juga harus tetep keliatan cantik loh Nim. Takutnya Ustadz Zam bosen hihi," ledek Hulliyah.
Nimas makin memberengut tak terima.
"Awas aja kalau A Zam begitu, aku bakalan bejek-bejek dia. Aku begini juga karena anaknya."
__ADS_1
Hulliyah terkikik geli melihat ekspresi sahabatnya yang sukses dia ledek.
"Kamu ketawa aja sekarang, suatu saat kamu juga bakal ngerasain beratnya jadi ibu. Tapi nikmat juga, soalnya gak akan terulang suatu saat jika mereka sudah besar."
Tatapan Nimas tertuju pada kedua putrinya yang tengah tertidur, keharuan tiba-tiba menyeruak di sana.
"Oh iya Li, gimana kabar kamu?" tanya Nimas tiba-tiba.
Hulliyah tersenyum dan menerawang tak tentu arah.
"Aku baik ...."
Sebelum perkataannya selesai seseorang tiba-tiba masuk dan memberi salam.
Ustadz Zamzam pulang.
"Eh ada Hulli kebetulan banget di luar ada Haqi tuh, sana temuin!" ucap Ustadz Zam yang baru masuk itu.
Hulliyah pun begitu bersemangat dan segera keluar dari rumah itu untuk menemui sang suami.
Beberapa saat kemudian Hulliyah kembali masuk untuk berpamitan kepada Nimas, karena Haqi mengajaknya berjalan-jalan sebentar.
Sepeninggal Hulliyah dan Haqi Nimas masih berdiam diri di tempatnya semula. Nimas bersidekap dada memperhatikan suaminya yang sibuk menciumi kedua putri mereka yang masih tertidur.
Setelah puas menciumi anaknya, sang Ustadz menoleh ke arah Nimas. Tatapan sang istri yang tidak bersahabat membuatnya bangkit dan mendekati istrinya tersebut.
"Neng kenapa? Kok liatinnya begitu banget?"
Sang Ustadz pun duduk di samping Nimas kemudian sibuk menggulung lengan kemeja yang dia gunakan.
"Aa bosen sama aku?"
Satu kalimat dari mulut Nimas mampu membuat sang Ustadz menoleh.
"Neng ngomong apa?"
Ustadz Zamzam tersenyum, tapi tak lama senyuman itu surut karena melihat raut wajah Nimas yang serius.
"Jawab aja!" Nimas ketus.
"Hei ... mana mungkin aku bosan." Ustadz Zamzam memperhatikan setiap inci wajah istrinya yang sedang merajuk itu.
"Kali aja, aku kan sekarang jelek."
Nimas mengalihkan pandangannya supaya tidak bertemu dengan tatapan suaminya.
"Siapa yang bilang neng jelek? Justru kulihat neng makin berseri ditambah jiwa keibuanmu yang terpancar jelas."
Sang Ustadz menangkup wajah sang istri kemudian menatapnya lekat-lekat.
"Lagipula aku menyayangimu bukan karena rupamu tapi karena akhlakmu." Sang Ustadz mencium kening istrinya sekilas kemudian membawa tubuh Nimas dalam dekapannya.
__ADS_1
"Terimakasih sudah menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku."
Aih mirip lagu.