
Ketakutan Hulliyah jadi nyata, sang ayah datang dengan kemarahan besar di sore itu. Wajah merah padam, mata tajam setajam pisau, urat di dahi tegang memendam kemarahan yang sangat besar.
Hulliyah yang kala itu membuka pintu dibuat kaget tidak berdaya. Sang ayah menyentak tangannya dan menariknya keluar dari rumah itu.
"Ayah ... lepas Yah."
Hulliyah meronta tanpa tenaga karena terlalu kaget dengan kedatangan sang ayah.
Pak Darmono dan Bu Salamah keluar karena mendengar sedikit keributan itu.
"Pak, mari kita bicara Pak! Jangan begini!"
Pak Darmono berbicara selembut mungkin. Tetapi ayah Hulliyah tidak menggubrisnya dan menarik tangan Hulliyah semakin kencang.
Beberapa tetangga mulai bermunculan menyaksikan adegan itu layaknya acara drama. Hulliyah mulai menangis pasrah, memang inilah konsekuensi yang akan didapatnya karena melanggar aturan sang ayah.
Saat sang ayah mulai menyalakan motornya dan menyuruh Hulliyah untuk duduk di belakangnya, Haqi pun datang.
Haqi segera turun dari mobilnya dan menghampiri mereka.
"Sypa ... Bapak, biarkan Sypa di sini! Saya suaminya."
Perkataan Haqi barusan semakin menyulut amarah sang ayah.
"Sudah habis kesabaran saya! Tadinya saya hanya ingin menguji kesungguhan kamu, tapi nyatanya kamu gagal dalam ujian itu. Saya ambil anak saya kembali, saya tidak akan menyerahkannya pada laki-laki seperti kamu!"
"Tapi Sypa istri saya! Saya berhak atas dia, Bapak sudah tidak punya hak lagi."
Haqi tidak bisa mengontrol kata-katanya lagi, apalagi ketika melihat Hulliyah menangis dan menjadi tontonan banyak orang.
"Jika kamu serius dengan ucapan kamu, seharusnya kamu cepat memenuhi syarat yang saya inginkan kemarin. Kesabaran saya sudah habis, saya mengambil kembali anak saya."
Sang ayah pun menaiki motornya kembali dan mulai menyalakan mesinnya. Hulliyah pasrah dan menatap suami beserta mertuanya dengan sendu. Banyak kata maaf yang tidak mampu diucapkan oleh Hulliyah.
Akhirnya Hulliyah dibawa sang ayah pergi dari kerumunan itu, meninggalkan Haqi yang tidak rela.
-------------------------
Haqi beserta kedua orangtuanya kini sudah masuk ke dalam rumah. Mereka terduduk di sofa, berusaha menenangkan diri mereka masing-masing.
Haqi bersandar pada sandaran sofa sambil memejamkan kedua matanya, serumit ini dia menghadapi persoalan.
"Setelah ini apa rencana kamu?" tanya Pak Darmono.
Haqi menggelengkan kepalanya masih dengan mata terpejam.
"Kamu ambil lagi Sypa Qi!" Suara Bu Salamah kini nampak bergetar.
"Tidak semudah itu Mi, keras dilawan keras hasilnya tidak baik," ucap Pak Darmono.
Haqi masih diposisi awalnya, masih dengan pemikirannya. Baru saja mereguk setetes kebahagiaan kini bahagia yang hanya setetes itu menguap tanpa sisa.
Wajah Hulliyah yang pucat juga deraian air mata yang tadi dilihatnya selalu terbayang-bayang oleh Haqi setiap memejamkan mata. Haqi menyadari telah salah memilih langkah, kini jalan mana yang seharusnya dia tempuh?
Haqi sungguh bingung.
Ketika malam menyapa dengan langit pekat di atasnya tanpa bintang. Haqi masih termenung di teras rumahnya, Haqi mulai memikirkan bagaimana cara meluluhkan hati mertuanya dari awal. Mencuri hati mertua nyatanya lebih sulit daripada menangkap seekor lalat.
__ADS_1
Bayangan Hulliyah dan tangisannya selalu memenuhi benaknya.
Maafkan aku Sypa, aku membuatmu menangis.
"Qi ...."
Sang ibu muncul di ambang pintu.
Haqi membenarkan posisi duduknya dan mempersilahkan Bu Salamah duduk di sampingnya.
"Ikuti kata hatimu! Pertahankan Sypa bagaimanapun caranya! Ummi menyukai istrimu, dia anak yang baik dan patut diperjuangkan. Abi dan Ummi ada di belakangmu Nak."
Haqi hanya mampu terdiam, Haqi sungguh tidak bisa berbuat lebih.
"Ummi akan menemanimu di sini sampai urusanmu selesai. Sementara Abi besok harus kembali ke Palembang ada pekerjaan mendesak."
Haqi mengangguk paham.
"Mi, maafkan Haqi ya. Haqi sudah membuat Ummi malu."
Bu Salamah melipat keningnya heran dengan ucapan putranya.
"Ummi tidak pernah merasa dipermalukan, Ummi justru selalu bangga sama kamu Nak."
Haqi tersenyum ditengah kegamangannya.
Malam yang semakin larut membuat percakapan mereka harus berakhir. Haqi dan Bu Salamah kembali ke dalam rumah untuk beristirahat.
Entahlah, apakah mereka bisa tertidur dengan nyenyak setelah kejadian tadi sore?
--------
Pikiran Haqi melayang pada seminggu ke belakang dimana di kamar ini dirinya dan Hulliyah menghabiskan malam bersama memadu kasih penuh cinta. Kini semua itu hanya bayang-bayang semu tak bertepi.
Haqi bahagia melihat senyum Hulliyah dan Haqi terluka melihat air mata Hulliyah. Oh inikah rasa mengasihi?
Haqi memejamkan matanya berharap semua ini akan berakhir seperti mimpi yang akan hilang ketika terbangun dari tidur.
-----------
Setelah melewati malam penuh kegelisahan, hari ini Haqi tetap mengajar. Di sekolah membuatnya bertemu dengan Ustadz Zamzam. Haqi menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya.
"Pulang dari sini kamu ke Pesantren! Mungkin Hulli masih ada di sana."
Saran dari sang sahabat diangguki penuh semangat oleh Haqi.
Sesuai saran dari Ustadz Zamzam, Haqi pun ke Pesantren.
Haqi menuju ke rumah Mama Haji terlebih dahulu. Di sana nampak Bi Haji bersama dengan santriwati tengah berbincang.
"Mama sedang pergi Nak."
Begitu yang diucapkan Bi Haji sesaat setelah mempersilahkan Haqi duduk.
"Begini Bi, apa Sypa ada? Saya ingin bertemu." kata Haqi.
"Hulli semalam dibawa ayahnya pulang, Hulli demam semalam. Jadi kami mengizinkannya pulang."
__ADS_1
"Sypa demam?"
Haqi sedikit panik.
"Iya, ayahnya nganterin ke sini, katanya Nak Haqi mengizinkan Hulli tinggal di Pesantren. Belum Hulli masuk kobong dia sudah pingsan, mungkin kelelahan. Badannya panas semalam, terus dibawa pulang sama ayahnya. Ibi pikir sudah bilang sama Nak Haqi."
Seketika tubuh Haqi lemas, mendengar Hulliyah sakit bagaikan sesuatu yang menarik jiwa dari dalam dirinya.
Haqi segera berpamitan dan bergegas melajukan mobilnya ke kampung halaman Hulliyah. Tidak ada lagi yang dipikirkannya selain Hulliyah saat ini.
Apakah Hulliyah baik-baik saja?
Akankan ayah mertuanua mengizinkannya bertemu dengan Hulliyah itu tidak lagi dia pikirkan.
Satu yang pasti, Haqi berharap Hulliyah baik-baik saja.
Haqi melajukan mobilnya menerobos teriknya matahari, dia ingin segera bertemu dengan istrinya, memastikan Hulliyah tidak apa-apa.
Rasa lelah dan pegal di tangannya akibat menyetir tanpa berhenti tidak digubrisnya.
Menjelang ashar, Haqi tiba di hamparan kebun teh itu. Haqi berjalan cepat yang sedikit berlari. Ingin cepat bertemu Hulliyah hanya Hullliyah.
Di halaman rumah Hulliyah tampak seorang remaja tengah menyapu, Haqi menghampirinya.
"Dek, Teteh ada?"
Ya, remaja itu diketahui Haqi adalah adik dari Hulliyah.
Adik Hulliyah mengangguk ragu, kemudian dengan satu gerakan dia merentangkan tangannya bermaksud menghalangi langkah Haqi.
"Kakak jangan masuk! Nanti Ayah marah lagi, aku gak mau liat Ayah marah."
"Kakak hanya ingin melihat keadaan Teteh."
"Tidak ada yang mengizinkan kamu menginjakkan kaki di sini!"
Suara yang bersumber dari arah rumah, membuat Haqi terpaku.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Nikmati alurnya ya 🤗