Love In Pesantren

Love In Pesantren
Tak bisa marah


__ADS_3

Setibanya di GOR, riuh suara teriakan dari penonton menggema.


Kebetulan sedang ada pertandingan persahabatan di sana, membuat GOR lebih ramai dari biasanya.


Sofia merasa risih setibanya di sana, tadinya Sofia berfikir situasinya tidak akan seramai ini.


"Ko rame banget Rel?"


"Di sini memang selalu rame tiap akhir pekan."


"Tapi aku ga biasa."


Nada suara Sofia setengah berbisik, namun masih terdengar oleh Farrel.


"Kamu ikutin aku aja, jangan banyak bicara!"


Sofia pun menurut dan berjalan di belakang Farrel. Farrel membawa sebuah tas besar berisi raket yang di bawanya dari rumah.


Benar dugaan Sofia, semua orang menatap Sofia penuh tanya bahkan ada yang terang-terangan mencibir.


Sofia menunduk tiap kali melewati kerumunan orang itu.


"Widiiih, bos kita datang nih."


Sapaan seseorang menyambut Farrel, mereka pun bersalaman ala-ala mereka.


Hmmm pantesan Farrel ngajarin tos persahabatan, dia seperti itu sama temannya.


"Telat banget sii datangnya."


Kata seseorang yang lain.


"Harap maklum, bos kita ini kalau dandan suka lama."


Dan tawa pun menggema, bahkan sebagian pengunjung yang lain sampai melirik ke arah Farrel dan kerumunannya.


Farrel yang sedari tadi sibuk memilih raketnya, memilih tak meladeni candaan para sahabatnya yang terkadang absurt itu.


Sofia masih berdiri sambil menunduk sesekali meremas jemarinya karena tidak nyaman.


"Eh gaeesss, siapa itu gaeess?"


Salah satu teman Farrel baru menyadari akan kehadiran Sofia.


"Ada Ustadzah nyasar."


Gelak tawa mereka kembali terdengar bahkan lebih keras.


Farrel berbalik ke arah Sofia.


"Loh, kamu masih di sini?"


Eh apa maksudnya?


"Terus aku harus dimana?"


Farrel risih dengan candaan semua temannya.


"Tuh, tuuuuh, dan tuuh."


Farrel menunjuk jejeran bangku penonton itu dengan gerakan matanya.


Sofia melangkah dengan ragu menuju kursi penonton.


"Siapa bos?"


Sepertinya ada yang masih penasaran.


"Tadi nemu di jalan, karena masih bagus gue pungut deh."


HAHAHA.


Candaan Farrel membuat temannya makin terbahak, Sofia sempat menghentikan langkahnya tatkala mendengar Farrel mengatakan hal itu.


Namun Sofia hanya menggelengkan kepalanya, meskipun hatinya sakit Sofia berusaha mengacuhkan apa yang Farrel katakan.


Ih Farrel jahat banget sii.


Ada sedikit penyesalan di relung hati Sofia. Mengapa dirinya bersedia menemani Farrel kalau hanya untuk menjadi bahan olok-olok.


Di sudut bangku penonton Sofia duduk, orang-orang di sekitarnya selalu menatapnya berbeda dan penuh kesinisan.


Duduk deket author aja Sof.


Sofia memperhatikan Farrel yang tengah bermain itu. Farrel tertawa lepas seperti sangat bahagia.


Seketika sakit hatinya memudar karena melihat tawa Farrel.


Ah Sofia mah gampangan.


------------------

__ADS_1


Tiga jam lebih Farrel bermain badminton, hingga akhirnya dia mengakhiri permainannya karena sudah merasa letih.


Mata Farrel bergerilya mencari keberadaan Sofia di bangku penonton.


Setelah menemukannya Farrel tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Hei bos, elo udah mirip miss unipes lambai-lambai seperti itu."


Salah seorang temannya yang menyadari sikap Farrel menegurnya.


Dan lagi, tawa itu menggema.


Farrel memilih merapikan peralatannya dan meninggalkan teman-temannya yang masih sibuk tertawa.


Farrel berjalan perlahan mendekati bangku penonton dimana Sofia berada.


Farrel berhenti tepat di bawah bangku penonton yang Sofia duduki, kemudian tersenyum dan menyuruh Sofia turun dengan isyarat matanya.


Sofia yang mengerti segera turun dan menghampiri Farrel.


Sofia kini tepat berdiri di hadapan Farrel.


"Ayo."


Tiba-tiba Farrel menggenggam tangan Sofia dan menariknya sambil berjalan. Hal tersebut membuat Sofia tersentak.


Tidak pernah Sofia diperlakukan manis seperti ini sebelumnya.


Sebagian orang yang ada di sana melihat ke arah Sofia dan Farrel yang tengah berjalan bergandengan itu.


Bahkan teman-teman Farrel pun melihatnya sambil melongo dan penasaran sebenarnya Sofia itu siapa.


-------------------


Setelah tadi sempat berganti baju, kini Sofia dan Farrel berada di dalam mobil.


"Kita makan dulu yuk!"


Ajak Farrel karena merasa lapar sehabis berolah raga.


"Aku mau turun di sini!"


Farrel menoleh pada Sofia.


"Kamu mau kemana ko turun di sini?"


Sofia kini menatap Farrel.


"Iya, tapi mau kemana? Biar aku temenin."


Farrel menurunkan kecepatan mobilnya.


"Aku mau balik ke pinggir jalan, aku ga mau dipungut sama kamu!"


Volume suara Sofia meninggi, Farrel sontak menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.


Farrel gugup, karena candaannya tadi di dengar oleh Sofia.


"Kamu denger Sof? Itu ... Aku tadi cuma bercanda."


Sofia tersenyum miris.


"Maaf kalau kamu tersinggung. Aku ga maksud buat kamu ...."


"Udah, jangan di bahas! Aku turun!"


Sofia hendak membuka pintu mobil, namun usahanya sia-sia karena Farrel menguncinya.


"Buka Rel, aku mau turun!"


"Aku ga izinin!"


Farrel pun melajukan kembali perjalanannya.


Sofia terus saja meronta minta turun, membuat Farrel kesal dibuatnya.


Farrel menghentikan kembali mobilnya, kali ini di jalanan yang cukup ramai.


"Mau kamu apa?"


"Turun!"


Entah mengapa Sofia sangat sakit hati dengan ucapan Farrel tadi bersama teman-temannya, meskipun dia sudah melupakannya ketika melihat Farrel tertawa. Tapi ternyata rasa sakitnya kembali muncul ketika Farrel berbicara dengan entengnya kejadian tadi hanya bercanda.


Sembur aja Soof.


"Aku udah bilang minta maaf Sofi."


Farrel terlihat sangat gregetan dengan sikap Sofia.


"Aku ini teman kamu bukan bahan candaan." ucap Sofia.

__ADS_1


Farrel mengusap wajahnya kasar.


"Iyaa maaf, maaf yaa teman."


Farrel tersenyum pada Sofia.


"Tos."


Farrel mengangkat tangannya, Sofia diam.


Farrel mengangkat tangan Sofia persis seperti tadi malam yang mereka lakukan.


Meskipun masih cemberut tapi Sofia sudah luluh dan memaafkan Farrel.


Ck paling bisaaa deh Farrel tuh.


--------------


Setelah berbaikan, kini Farrel dan Sofia tengah berada di sebuah restoran menunggu makanan tiba.


Baru saja sang pelayan datang dan selesai menata makanan di atas meja mereka.


Suara dering ponsel yang Farrel miliki terdengar nyaring, Farrel pun menerima telpon itu setelah sebelumnya meminta izin pada Sofia.


Sofia masih menunggu kedatangan Farrel meskipun dari tadi air liurnya hampir menetes melihat hidangan di depan matanya.


Saat Farrel kembali, mata Sofia berbinar senang.


Sungguh dia sudah tidak sabar untuk melahap makanan itu.


"Sofi maaf yaa, Rani ngajakin aku makan siang. Nanti kamu pulang sendiri aja ya, nih uangnya nanti kamu naik taxi. Aku pergi dulu."


Tanpa mengucap salam terlebih dahulu Farrel pergi meninggalkan Sofia.


Mata Sofia mendadak sendu melihat punggung Farrel yang kian menjauh.


Kemudian matanya beralih pada meja yang penuh dengan makanan itu. Entah mengapa dirinya jadi tidak bernafsu untuk makan setelah Farrel meninggalkannya.


Sayang banget makanannya, buat author aja Sof.


Kemudian Sofia menatap uang yang ditinggalkan Farrel, mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tas.


Sofia kembali memandangi makanan itu.


Sejurus kemudian Sofia melahap semua makanannya.


Bagus Soof, ngapain mikirin yang ga penting. Yang penting mah makan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Untuk kisah Sofia sama Farrel ini author sudah menyiapkan kejutan buat kalian semua. Semoga suka yaa, eh semoga kejutannya sukses! Makanya ikuti terus yaa kisahnya.


Like jangan lupa!!

__ADS_1


__ADS_2