Love In Pesantren

Love In Pesantren
Pembalasan Tunai


__ADS_3

Hari ini berkat desakkan dari orang tua dan juga ajakkan dari Bi Haji, akhirnya Hulliyah dan Haqi pergi bersama ke pernikahan Beni.


Mereka satu mobil bersama Mama Haji dan juga Bi Haji. Sengaja berjanjian untuk pergi bersama. Haqi yang mengemudikan mobil diam tak banyak bicara ketika Hulliyah berbincang bersama kedua gurunya.


"Orangtuamu datang Li?"


Bi Haji yang penasaran akhirnya bertanya juga mengenai orangtua Hulliyah.


"Mereka ikut rombongan Beni Bi, mungkin saat ini mereka sudah makan-makan." ucap Hulliyah.


Beberapa saat kemudian gedung tempat resepsi pernikahan itu sudah terlihat. Hulliyah sudah menyiapkan diri untuk menerka hatinya. Namun sejauh ini hatinya biasa saja, mungkin benar hatinya sudah sembuh semenjak ada dia.


Ya dia.


Hulliyah menoleh ke arah samping dimana Haqi masih anteung di sana. Hulliyah tersenyum menatap wajah suaminya walaupun tak setampan artis Korea, namun Haqi mempunyai hati yang tulus dan mulus melebihi pipi para artis itu.


Maka yakinlah kini Haqi sudah menggeser posisi Beni, Hulliyah tersenyum penuh kesyukuran.


-----------------


Sesaat kemudian mobil telah terparkir, semua bersiap turun dari mobil. Ada sesuatu yang janggal di tempat itu.


"Loh kok sepi Li," tanya Mama Haji.


"Bener gak tempatnya nih?" timpal Bi Haji.


Hulliyah pun membuka ponselnya dan mencocokkan alamat yang tadi sempat diberikan oleh ayahnya.


"Bener kok."


"Coba kita masuk ke dalam!" Haqi mendahului semua orang dan berjalan masuk ke dalam gedung.


Hanya kursi yang masih berjejer rapi di sana, tidak ada tanda-tanda keramaian di dalamnya.


"Bener 'kan ini tempatnya? Karangan bunga itu dikirim untuk Beni dan Karina."


Hulliyah menunjuk beberapa karangan bunga yang berjejer rapi di atas pelaminan.


"Iya, tapi kenapa sepi? Padahal ini sudah pukul sebelas, masak iya belum pada datang?" Bi Haji keheranan kemudian mendudukkan dirinya disalah satu kursi yang ada di sana.


"Ya sudah kita tunggu sebentar!" kata Mama Haji.


Detik berganti menit hingga kini jam pun bergulir, sudah setengah jam mereka di dalam gedung tetapi gedung itu belum jua didatangi orang-orang.


"Sypa, coba telpon Bapak!" Haqi memberi inisiatif setelah tadi lebih banyak diam.


Hulliyah pun menuruti perintah suaminya dan mulai menyambungkan saluran teleponnya.


"Assalamualaikum Yah, nikahannya dimana? Aku udah nyampe tapigak ada orang."


Hulliyah terdiam mendengarkan penuturan ayahnya dibalik telepon. "Apa?"


Hulliyah berucap cukup nyaring sehingga mengalihkan suami dan juga gurunya.

__ADS_1


"Oh begitu, ya sudah nanti aku ke sana."


Hulliyah memutuskan sambungan teleponnya, ditatapnya orang-orang yang sedari tadi menunggu dengan segala bentuk pertanyaan yang tercetak jelas pada raut wajah mereka.


"Kenapa Li?" Bi Haji mendekati Hulliyah yang terpaku di tempatnya berdiri.


Hulliyah mengerjap ketika lengannya disentuh Bi Haji.


"Bi ...."


Hulliyah mendadak lemas karena terkejut dengan kabar yang baru saja didengarnya.


"Ada apa Sypa?" Haqi mulai panik melihat istrinya yang mendadak pucat pasi. Haqi membawa kursi dan mendudukkan Hulliyah di sana.


"Istighfar Lia! Ada apa?" tanya Mama Haji.


"Sungguh aku melihat Kebesaran Alloh, pembalasan tunai Alloh tunjukkan padaku." Hulliyah berucap lirih.


"Ada apa?" tanya Haqi lagi, kali ini tangannya mengulur pada dahi Hulliyah yang berkeringat.


"Pernikahan Beni batal. Karina dan keluarganya pergi, padahal Juragan telah memberikan sejumlah uang yang lumayan besar untuk biaya pernikahan ini."


Mama dan Bi Haji saling menatap penuh tanda tanya.


"Ibunya Beni masuk rumah sakit sekarang karena syok."


Hulliyah menunduk.


Entah apa yang dirasanya saat ini, yang jelas bukan bahagia atau rasa bangga melainkan iba terhadap nasib Beni dan keluarganya.


"Tapi Ma, aku gak pernah mendoakan hal seperti ini Ma. Aku tidak pernah menginginkan siapa-siapa yang menyakitiku itu menderita."


Haqi merangkul Hulliyah dari samping seolah tahu apa yang dirasa istrinya saat ini. Hulliyah terkejut akan kebesaran Sang Penciptanya bukan karena gagalnya pernikahan Beni.


Beberapa saat setelah menormalkan emosi yang bergelut dalam diri Hulliyah, mereka pun memilih untuk pulang.


Setelah mengantar Mama dan Bi Haji ke Pesantren, Haqi dan Hulliyah melanjutkan perjalanan mereka.


"Kak, bisa antar aku ke kampung?"


Haqi menoleh pada istrinya yang bertanya tepat di sebelahnya.


"Sekarang?" tanya Haqi.


Hulliyah hanya mampu mengangguk, Haqi pun tidak menuntut alasan kenapa Hulliyah ingin ke kampung. Sekarang tugasnya adalah menemani Hulliyah, apapun yang akan dilakukan Hulliyah Haqi akan selalu mendukung.


Selepas ashar mereka baru tiba di kampung Hulliyah. Jalanan yang lumayan padat, membuat perjalanan mereka memakan waktu lebih lama.


Setibanya di rumah, adik dari Hulliyah berlari memyambut kakaknya.


"Teh ... Teh, tahu gak Juragan Herni sakit. Tadi siang dibawa ke rumah sakit tapi suaminya maksa buat dibawa pulang. Jadinya sekarang ada di rumah, Ayah sama Ibu lagi jenguk."


Hulliyah duduk sambil mendengarkan cerita sang adik. Hulliyah tidak ada kekuatan untuk menyela. Saat ini dalam hatinya adalah sebuah rasa miris. Hulliyah tidak pernah berharap jikalau pembalasan itu begitu nyata. Sungguh Hulliyah sudah memaafkan Beni.

__ADS_1


"Mau jenguk juga?" Haqi yang sedari tadi diam kini ikut mengeluarkan suara.


"Nanti malam saja Kak, lagipula capek juga diperjalanan tadi."


Hulliyah mengajak Haqi ke kamar sementara sang adik berpamitan untuk memberitahu ibunya bahwa Hulliyah datang.


"Kakak kenapa diem aja?" Hulliyah menatap Haqi yang dirasa murung sejak siang tadi.


Haqi yang sedang berbaring di tempat tidur, memijit pangkal hidungnya sembari memejamkan kedua matanya.


"Urusan pekerjaan."


Hulliyah yang tidak puas dengan jawaban Haqi akhirnya menyusul suaminya itu ke atas tempat tidur.


"Bukan karena cemburu?"


Tiba-tiba saja mata Haqi terbuka lebar memandang Hulliyah lamat-lamat.


"Siapa yang musti dicemburuin si? Yang ada orang-orang pada cemburu sama kita."


Haqi mendekap Hulliyah dalam kehangatan di sore itu. Menghabiskan waktu bersama di atas tempat tidur saling bercerita itulah kunci keharmonisan hubungan mereka.


-------------------


Malam ini, sesuai rencana Hulliyah bersama Haqi berkunjung ke rumah Beni bertujuan untuk menjenguk sang juragan.


Setibanya di rumah Beni yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya, di teras itu terlihat Beni tengah melamun seorang diri.


"Assalamualaikum ...."


Beni menatap nanar ke arah Hulliyah. Tanpa menjawab salam, Beni mempertanyakan maksud kedatangan Hulliyah.


"Ada urusan apa kamu kemari? Mau menertawakan?" ucap Beni.


Hulliyah dan Haqi terperangah dengan respon yang diberikan Beni.


"Aku turut prihatin Ben."


"Lebih tepatnya kami prihatin atas musibah ini. Kami kemari karena ingin menjenguk ibumu." Haqi menimpali ucapan Hulliyah.


"Tidak usah! Lebih baik kalian pulang!"


Beni masuk ke dalam rumah meninggalkan Hulliyah yang masih terkaget akan tanggapan yang diberikannya.


"Sudah, kita pulang saja dulu."


Haqi mengajak Hulliyah untuk pulang meninggalkan keinginan dan rasa iba yang bersarang dalam lubuk hati Hulliyah.


Terkadang niat baik tidak selalu ditanggapi dengan baik, mungkin beginilah kalimat yang tepat untuk Hulliyah.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2