Love In Pesantren

Love In Pesantren
Misi penculikkan


__ADS_3

"Sepertinya aku memang harus berhenti Bi," kata Haqi yakin.


Sang ayah mengernyit mengartikan perkataan anaknya.


"Berhenti?"


"Iya, aku tahu Abi kaget 'kan dengan sikap mertua aku?" kata Haqi.


Sang ayah mengangguk menunggu kata selanjutnya yang akan diucapkan oleh anaknya.


"Aku akan berhenti mematuhi mertuaku, aku akan bawa istriku dengan atau tanpa izin dari beliau. Toh Sypa sudah menjadi tanggunganku bukan lagi orangtuanya."


"Kenapa tidak dari kemarin? Qi ... Qi, kamu ini masalah mudah dibuat susah saja."


Sang ibu yang baru saja keluar dari dapur menyauti perkataan putranya.


"Kamu yakin?" tanya sang ayah.


"Yakin Bi, Haqi lelah terus-terusan digantung begini," kata Haqi.


"Abi sih terserah kamu, tapi Abi akan memutuskan setelah Abi bertemu langsung dengan istrimu. Jika istrimu layak untuk diperjuangkan, Abi akan dukung sekuat tenaga."


"Ummi juga."


Lagi-lagi sang ibu menimpali.


"Baiklah, nanti malam aku bakal bawa Sypa ke sini," kata Haqi.


"Hei ... kenapa kita jadi terlihat seperti penjahat yang sedang merencanakan penculikan ya?" kata Bu Salamah.


"Ini judulnya menculik menantu Mi."


Mereka pun tertawa bersama di sore itu.


----------------------


Malam ini Haqi pergi ke Pesantren, dia berbicara panjang lebar dengan Mama Haji mengutarakan niatnya untuk membawa Hulliyah.


"Saya sih sebenarnya mengizinkan, tapi bagaimana dengan mertuamu? Beliau sudah mengamanatkan Hulli pada saya."


Mama Haji nampak ragu dengan keputusan Haqi.


"Mama tidak usah risau, saya yang akan bertanggung jawab sepenuhnya."


Mama masih nampak berpikir dengan keputusan Haqi.


"Begini saja, tanya Hulli dulu! Kalau Hulliyah bersedia, Mama juga akan mengizinkan."


Bagaikan angin segar yang menerpa hatinya, Haqi yakin kalau Hulliyah akan setuju.


Haqi menunggu Hulliyah tepat di teras madrasah dimana Hulliyah tengah mengkaji kitab kuning di dalamnya.


Walaupun puluhan nyamuk menyerbu, rasa dingin menusuk, Haqi tetap menunggu di sana.


Haqi mendadak cemas dengan jawaban Hulliyah, kepercayaan dirinya mendadak menciut karena berlama-lama menunggu.


---------------------


Sesaat setelah kajian usai, Hulliyah keluar dari madrasah bersama santri yang lain. Belum menyadari keberadaan suaminya, Hulliyah berjalan beriringan dengan Neli, mereka menuju kobong. Ingin segera menjatuhkan diri karena letih seharian mereka memparcepat langkahnya.


"Sypa ...."


Satu panggilan sukses membuat Hulliyah menoleh, serasa mimpi dirinya mendapati Haqi berdiri diantara santri-santri yang sedang berlalu lalang.


"Aku duluan ya Li," Neli seakan mengerti situasi dan memilih menghindar daripada otak polosnya menerka-nerka.


Hulliyah menunggu Haqi untuk mendekat, setelah jarak mereka sudah dekat barulah kegugupan mengambil alih. Haqi yang tadinya sudah yakin, kini hanya bisa menggaruk tengkuknya merasa bingung harus memulai pembicaraan darimana.


"Gak enak ngobrol di sini, Kakak ikut aku!"

__ADS_1


Hulliyah berjalan lebih dulu membiarkan Haqi membuntutinya di belakang.


Kini, mereka berada di depan kobong Hulliyah, bangku dari bambu menjadi penyangga kedua tubuh yang canggung.


"Di rumah ada Ummi dan Abi."


Hulliyah menatap Haqi dengan keseriusan.


"Mereka ingin bertemu dengan Sypa, bisakan Sypa malam ini ikut aku?" ujar Haqi ragu.


Hulliyah mengerjap membiarkan suasana hening sejenak kemudian berkata, " tapi apa boleh? Mama mungkin tidak akan mengizinkan."


"Aku sudah berbicara dengan Mama, beliau mengizinkan kalau Sypa mau. Jadi gimana?"


Hulliyah nampak berpikir, menimbang-nimbang mana yang harus dia pilih.


"Malam ini saja 'kan?" tanya Hulliyah.


Haqi bingung harus menjawab apa, rencananya Haqi akan membawa Hulliyah selamanya. Kalau sudah begini, apa sebaiknya Haqi berbohong?


"Iya, malam ini saja."


Haqi pun akhirnya memilih berbohong, asalkan misi menculik istrinya berhasil. Haqi berbohong untuk kali ini saja.


---------------


Kini mereka berada dalam satu mobil yang sama melaju meninggalkan Pesantren. Misi penculikkan dengan cara terang-terangan itu sukses.


Sudah hampir tengah malam ketika mereka sampai di rumah Haqi.


Hulliyah yang baru pertama kali ke rumah itu merasa canggung bukan kepalang. Untuk pertama kalinya Hulliyah menyesal dengan keputusannya, seandainya saja tadi dia menolak.


Ah itu semua sudah terlanjur.


Hulliyah mengikuti langkah sang suami, menatap punggungnya ragu.


Pertanyaan buruk mulai berseliweran dalam benaknya.


"Assalamualaikum* ... Ummi, aku pulang." Haqi mengetuk pintu.


Hulliyah sedikit lega dan yakin bahwa di dalam memang ada orang, terlebih ketika siluet bayangan wanita berkerudung terlihat melalui gordeng tipis itu, nampak membuka pintu.


Benar.


Hulliyah sangat lega, ketika pintu telah terbuka. Sang mertua memberikan senyuman terbaiknya dan membimbing Hulliyah ke dalam pelukannya.


Sang mertua merangkulnya dan membawa Hulliyah ke dalam rumah. Di ruang tamu itu, Pak Darmono sedang menunggu tidak sabaran.


"Duduk Nak!"


Sang ibu mendudukkan Hulliyah tepat di sampingnya.


Mereka pun mulai mengobrol bertanya satu sama lain, baru sebentar saja Hulliyah sudah tampak akrab dengan ibu mertuanya.


Haqi memperhatikan dua orang wanita yang disayanginya dengan seksama, ada perasaan yang membuncah dalam dadanya. Perasaan yang sulit untuk dia ungkapkan.


"Jadi, kemarin nikah Haqi ngasih maskawin apa?" tanya Bu Salamah.


Hulliyah menatap sang suami yang juga sedang menatapnya.


"Alhamdulillah uang seratus lima puluh ribu."


Sang ibu melotot tak percaya.


"Isshh ... Haqi kamu malu-maluin ih."


"Malu-maluin apanya sii Mi? Kan waktu itu mendesak banget, aku ga bawa apa-apa selain uang itu."


Haqi tidak terima dengan perkataan ibunya.

__ADS_1


"Kenapa kamu ngasihnya cuma segitu? Bisa agak gedean dikit lah, beli anak gadis orang murah banget. Pantas saja mertua kamu ga percaya sama kamu."


Rupanya sang ibu keceplosan membuat Haqi berjingkat sambil menatap Hulliyah yang mulai menunjukkan raut wajah keheranan.


"Ah Ummi sudah mulai ngelantur, ayo kita tidur saja Mi!" Pak Darmono mengerti situasi ini tidak akan berlanjut dengan baik, oleh karena itu Pak Darmono mengajak istrinya ke kamar walau dengan paksaan.


Tinggallah kini Haqi dan Hulliyah duduk berdua di ruang tengah itu.


"Apa maksud Ummi tadi Kak?"


Pertanyaan yang ditakutkan oleh Haqi akhirnya muncul juga.


Haqi memilih jujur kali ini, dirinya membuang napas berat sebelum berkata.


"Sebenarnya tadi siang Abi dan Ummi ke rumah Sypa. Dan ...."


"Dan Ayah mengusir mereka?" Suara Hulliyah bergetar kala menerka kelanjutan dari perkataan suaminya.


"Tidak ... bukan begitu, hanya saja belum ada kesepakatan kapan kita akan meresmikan pernikahan kita. Masih belum ada titik temu dari kedua orangtua kita."


Haqi berusaha berbohong lagi, namun kali ini sepertinya Hulliyah tidak percaya dengan ucapannya.


"Jangan berbohong Kak! Aku tahu Ayah sekeras apa? Pasti beliau sudah menyakiti hati Ummi sama Abi. Aku malu."


Air mata yang tak diundang itu keluar juga, hati Haqi mendadak sakit kala melihat air mata itu.


"Aku malu Kak ...."


Hulliyah masih menangis dan menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya.


Sementara Haqi masih mematung tanpa bisa berbuat apa-apa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Buat rumah pakai adukan semen


Orang yang buat terjebak macet


Berilah aku like dan komen


Agar semangat aku mengejar target


😂😂

__ADS_1


Readers: Author pantun?


Aku: Iyee udah cocok belum jadi pujangga🤣


__ADS_2