Love In Pesantren

Love In Pesantren
Ketakutan


__ADS_3

Ternyata bayangan Hulliyah untuk kabur dari rumah sepupunya tidak semudah yang dibayangkan. Sepupunya itu selalu mendampingi dan menempel padanya. Tidak ada celah membuat Hulliyah gusar sendiri.


Sebenarnya apa keinginannya diapun tidak tahu. Pikirannya buntu karena keadaan, Hulliyah sedang kehilangan arah.


Hulliyah masuk ke dalam kamar lagi, menghindar dari pepetan sang sepupu dengan alasan ingin beristirahat.


Hulliyah termenung di kamar itu sampai satu ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.


Ketika Hulliyah membuka pintu kamar itu, dia begitu terkesiap melihat seseorang yang beberapa jam lagi akan menjadi suaminya.


"Ka-kak kenapa ada di sini?" Hulliyah terbata karena terkejut.


Haqi masuk lebih dalam ke kamar itu tanpa menjawab pertanyaan Hulliyah. Haqi menutup pintu kamar kemudian menatap Hulliyah.


Hulliyah mundur beberapa langkah karena melihat tatapan Haqi yang dirasa berbeda, tatapan yang penuh kekecewaan.


Semakin Haqi mendekat Hulliyah semakin mundur untuk menghindar.


"Sypa sadar gak sih?" tanya Haqi tiba-tiba.


Hulliyah menghentikan gerakan mundurnya.


"Sypa sadar gak dengan apa yang dilakukan Sypa akan membuat semua orang terluka? Sadar gak!" Haqi menaikkan volume suaranya, segala kekecewaan tumpah ruah melalui suaranya.


Hulliyah terkesiap, ternyata Haqi memiliki sifat yang belum diketahuinya. Masih dalam diam dan pandangan mulai kabur oleh air mata Hulliyah tidak berani menatap mata suaminya.


"Jawab!" kata Haqi lagi.


"A-aku hanya tidak ingin keluargaku terkena musibah, tolong maafkan aku." Hulliyah menunduk.


Haqi benar-benar sedang bertarung melawan amarahnya. Dipandangnya wajah Hulliyah yang tidak terlihat itu dengan seksama.


"Sadar gak? Sypa sendiri yang menciptakan musibah itu. Sedikitpun Sypa tidak menghargai perjuanganku. Sedikitpun tidak!"


Haqi mengusap wajahnya kasar kecewa dan marah menjadi satu.


"Jika kita memang berjodoh besok pasti bertemu, tetapi jika kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama maka aku ikhlas. Aku tidak akan lagi berjuang, aku akan membiarkan kemana takdir membawa kita."


Haqi berdiri hendak keluar dari kamar itu tetapi Hulliyah dengan sigapnya memegang pergelangan tangan Haqi.


"Kakak jangan pergi dalam keadaan emosi! Tolong maafkan aku Kak!" pinta Hulliyah.


Haqi melepas jemari yang membelit pergelangan tangannya itu tanpa bicara dan berlalu meninggalkan Hulliyah yang mulai sesenggukan dalam tangisnya.


Hulliyah masih belum beranjak dari tempatmya, kemarahan Haqi membuat Hulliyah sadar seberapa fatal kesalahannya.


-----------------------


Hulliyah keluar dari kamar itu setelah menghapus air matanya namun jejak-jejak tangisan masih terlihat jelas pada matanya yang sendu.


"Teteh sudah sadar sekarang?" tanya sepupunya pada Hulliyah.


Hulliyah duduk di samping sepupunya itu.


Hulliyah masih diam, kemarahan Haqi kembali menghantui dirinya. Haqi marah.


Hulliyah masih larut dalam kebisuannya saat dari arah luar seseorang terdengar berteriak memberitahu warga.


"Ada mobil masuk jurang!" Bunyi teriakkan itu semakin lama semakin menggangu.


"Ada apa?" tanya Hulliyah pada sepupunya.


Sepupunya menggendikkan bahu kemudian mengajak Hulliyah keluar rumah.

__ADS_1


Warga yang lain sudah berkumpul, Hulliyah dan sepupunya pun ikut bergabung bersama mereka.


"Ada apa?" tanya salah satu warga pada sang pembawa berita.


"Mobil hitam masuk jurang! Mobil hitam itu datangnya dari arah sini." Pembawa berita itu menjelaskan.


"Ada berapa orang di dalam mobilnya?" tanya yang lain.


"Satu orang, naasnya meninggal karena terjepit."


Deg.


Mungkinkah?


Hulliyah mendadak kelimpungan, ketakutan menjalar sangat cepat.


Hulliyah terhuyung ke belakang, untungnya ada salah seorang warga yang menyadarinya dan memegangi tubuh Hulliyah.


"Teteh kenapa?" Sepupu Hulliyah mulai panik. Warga membantu memapah Hulliyah masuk ke dalam rumah.


"Mungkinkah?" rancau Hulliyah ketika dirinya sudah terduduk di atas kursi.


"Mungkin apa Teh?" tanya sepupunya.


"Mungkinkah yang masuk jurang itu Kak Haqi?" Air mata tiba-tiba merembes deras.


"Aku harus ke sana!" Hulliyah berdiri dan hendak melangkahkan kakinya namun sepupunya mencegah.


"Jangan Teh tempatnya jauh! Mending sekarang Teteh telpon dulu Kak Haqi, siapa tahu yang di jurang bukan Kak Haqi."


Perkataan sepupunya ada benarnya kemudian Hulliyah mulai mengambil ponselnya tangannya yang gemetar sangat sulit untuk mengetikkan apapun pada layar datar itu. Kamudian sepupunya mengambil alih ponsel tersebut.


"Biar aku yang menghubungi Kak Haqi."


Perasaan takut itu muncul lagi.


"Tuh kan gak aktif."


"Teteh tenang! Biar aku memghubungi Paman." Sepupunya kini menelpon ayah Hulliah memintanya agar segera datang ke rumahnya.


---------------------


Ayah Hulliyah datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Hulliyah yang melihatnya tiba-tiba mendekap ayahnya, meminta pertolongan dan mencari ketenangan dari jiwa yang ketakutan.


"Ayah ... Kak Haqi Yah." Hulliyah kembali menangis.


Sang ayah mengelus punggung anaknya mencoba menelaah apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa Haqi ke sini memukulmu Nak?"


Pertanyaan sang ayah membuat Hulliyah menjauhkan diri dari ayahnya.


"Kak Haqi bukan orang yang suka menggunakan kekerasan."


Sang ayah mengerutkan keningnya, kemudian berkata, "Lah terus kenapa nangis?"


"Itu loh Paman, tadi ada mobil masuk jurang. Teteh nyangkanya itu Kak Haqi." timpal sepupu Hulliyah.


Sang ayah terdiam membuat Hulliyah semakin ketakutan akan menghadapi kemungkinan terburuk.


"Sudah ... jangan menangis! Mari kita pulang saja dulu."


Akhirnya Hulliyah menurut dan pulang bersama ayahnya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Hulliyah terus berpikiran hal-hal yang buruk tentang Haqi.


Apa Haqi baik-baik saja?


Apa Haqi membencinya?


Semua pertanyaan itu tidak ada ujungnya muncul dibenak Hulliyah.


Setibanya di rumah sang ibu sudah mengambil ancang-ancang untuk menghukum Hulliyah dan ketika Hulliyah ada di depannya, sang ibu menjewer Hulliyah dengan gemasnya.


"Anak nakal ... anak nakal. Belajar nakal dimana kamu? Nakal ... nakal!"


Sang ibu berlama-lama menjewer Hulliyah meskipun anaknya itu sudah mengaduh kesakitan.


Setelah puas menjewer Hulliyah, sang ibu memeluk Hulliyah erat. "Jangan begini lagi Li! Jangan!"


Hulliyah terenyuh dengan sikap ibunya, betapa dirinya telah membuat sang ibu ketakutan. Benar kata Haqi ternyata apa yang dilakukannya akan menyakiti semua orang yang dia sayangi.


"Maaf Bu," kata Hulliyah lirih.


Sang ibu menyeka air matanya, "ya sudah, kamu istirahat gih!"


Sang ibu mengantar Hulliyah ke kamarnya.


Setibanya di kamar, Hulliyah mengedarkan kembali pandangannya pada seluruh ruangan itu.


Akankah Haqi besok datang?


Pertanyaan tanpa jawaban kembali berseliweran di kepalanya. Kelemahan Hulliyah adalah tidak bisa mengendalikan diri saat gugup. Akhirnya semua hal-hal buruk menghampiti dan masuk ke dalam kepalanya.


Hulliyah terduduk di lantai memeluk lututnya ketakutan.


Kak, Kakak baik-baik saja 'kan Kak?


Hulliyah gemetar ketakutan membayangkan jika benar Haqi yang jatuh ke dalam jurang itu.


Pertanyaannya kenapa sang ayah bisa sangat tenang mendengar kabar bahwa kemungkinan Haqi jatuh ke dalam jurang?


Apa sebenarnya yang terjadi pada Haqi?


Oh Tuhan Hulliyah sangat ketakutan saat ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2