
**Hai maafkan aku telat nongol hihi, aku masih belum bisa move on dari Sofia huhuhu. Selemah itu memang aku ini hiks, padahal aku yang buat hadeeuuuhh.
Terus nih yaa tadi aku dengerin lagunya Fathi Naim feat Oki Setiana Dewi 'salam rindu', ya ampun ko itu cocok buat Farrel hiks bertambahlah sedihku huaaaa. Padahal aku ga tahu ada lagu itu, ih tapi kok kebetulan begini hiks..
OK THIS TIME NEW PART**!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sepulang dari pemakaman Sofia, ku lihat Nimas istriku masih syok. Dia begitu rapuh, aku tahu ini berat untuknya. Nimas termenung di teras rumah, wajahnya terlihat pucat aku tak tega melihatnya.
"Neng ... Makan dulu yuk!"
Gelengan lemah dia pakai sebagai respon, aku ga suka dia yang seperti ini.
"Pokoknya neng harus makan!"
Aku menarik tangannya supaya mengikutiku masuk ke dalam rumah.
Jangan tanya Mima, tadi pagi ibuku membawanya pulang. Berhubung kini usianya sudah menginjak satu tahun, Mima sudah sering ikut ibu pulang bahkan menginap.
Mima jadi lebih dekat pada neneknya ketimbang sama ibunya sendiri, eh ada untungnya juga. Terlebih situasinya sedang sulit begini.
Nimas sangat tertekan kehilangan Sofia. Pertemanan mereka yang dimulai dari Pesantren itu sangatlah dekat seperti saudara. Pantas jika kini Nimas masih tak percaya.
Malam itu benar-benar malam yang sangat kelam, dimana kami mendapat kabar bahwa Sofia kecelakaan.
Padahal malam itu kami bertemu, sungguh manusia tidak tahu apa-apa akan kehendak Tuhannya.
Kini ku lihat Nimas yang masih menutup mulutnya meski beberapa kali aku menyodorkan makanan di depan mulutnya.
Menyebalkan nih kalau sudah begini, aku ga tahu mesti ngapain. Kadang Nimas memang sulit di tebak.
Semenyebalkan apa pun, dia istriku yang sering aku sakiti hatinya. Aku belum bisa menjadi seorang yang bisa membimbingnya, justru selama perjalanan rumah tangga kami, Nimaslah yang sering mengalah akan keegoisanku.
Sebenarnya aku berat membawa embel Ustadz di depan namaku, tapi mereka tetap saja memanggilku demikian.
"Makan dong neng! Jangan berlarut dalam kesedihan, itu tidak bagus."
Nimas kembali menggelengkan kepalanya.
"Neng, Rosululloh SAW bersabda, 'dua hal yang ada pada manusia dan keduanya menyebabkan mereka kafir yakni mengingkari keturunan dan meratapi kematian.' Neng mau ada diantara dua golongan itu?"
Nimas menatapku dengan mata indahnya yang memerah, kemudian dia menggeleng lagi.
"Untuk itu ikhlaskan Sofia, dia sudah tenang menunggu hari kiamat tiba. Kita hanya bisa mengirim doa padanya bukan menangisinya."
Air mata itu lolos juga di pelupuk matanya, ku dekap dia.
"Biarkan aku sedih untuk saat ini A, aku tak bisa berpura-pura, aku kehilangan Sofii Aa."
__ADS_1
Ku usap punggungnya yang bergetar karena tangis, ku biarkan air matanya meleleh membasahi bajuku.
Sesungguhnya aku tahu perasaannya saat ini, dia butuh aku.
"Menangislah sayang ..."
------------------------
Malam harinya sepulang dari tahlilan di rumah orangtua Sofia, Nimas masih saja murung tak banyak bicara. Untungnya Mima menginap di rumah ibu, jadi dia tak mendapati ibunya yang manja ini bersedih ria sepanjang hari.
Sabar Zaam sabaar.
"Neng, udah dong murung melulu gak kasihan apa sama aku?"
Ku coba menggodanya, biasanya dia akan langsung merona tapi tidak kali ini.
Huft, usahaku musti lebih keras ini.
"Aku sedih kehilangan Sofia, terus ada hal lain juga yang buat aku sedih."
Eh apa katanya?
Ada hal lain?
Aku kebingungan dengan ucapannya yang rancu.
"Hal lain apa?"
Eh ko dia mencebik kesal begitu?
Apa aku salah ngomong?
"Ini gara-gara Aa."
Nimas membuang mukanya.
Apa sii aku ga ngerti?
"Apa aku punya salah neng?"
"Iiiih jangan pegang-pegang deh!"
Eh.
Ok Zam, jangan emosi! Sabaaar.
"Cerita dong, neng kenapa?"
Tak ku lepaskan rangkulanku ini.
"Gara-gara Aa nih, aku hamil lagi."
Hah.
Perlu beberapa saat untuk aku mencerna ucapan Nimas.
"Neng hamil?"
Eh dia berdecak lagi.
"Tadinya malam itu, aku mau ngumumin kehamilanku tapi ternyata ada takdir lain yang harus terjadi."
Nimas menunduk lesu.
Ya Tuhaan apa ini? Dibalik kesedihan kami kau selipkan kebahagiaan ini. Terimakasih.
Ku balikkan tubuhnya hingga kini bisa ku tatap wajah cantik istriku.
"Alhamdulillah ini rejeki."
Ku bisikan kalimat itu semanis mungkin.
"Tapi gak ada Sofi, yang heboh pas aku hamil Mima A."
__ADS_1
Ku tangkup wajah sendu itu.
"Sofia pasti sangat bahagia neng, untuk itu neng jangan bersedih terus, kasihan adeknya Mima."
Raut wajah Nimas masih belum berubah tetap murung tak bersemangat.
"Mima baru satu tahun, masa aku udah hamil A."
Pernyataan macam apa itu?
Ingin rasanya aku terbahak kalau situasinya tidak seperti ini.
Nimas memang istri polosku yang mampu membuat aku rajin tertawa.
"Yaa gak anehlah neeng aku kan Ustadz, kata orang Ustadz itu rajin bikin anak."
Nimas terlihat sebal dengan ucapanku kemudian memberiku cubitan yang super pedas di lenganku.
Ah tapi tak apa, biarpun lenganku jadi korban yang penting kulihat senyuman tipis di bibir manis istriku.
Menghabiskan malam tanpa kantuk, kami habiskan untuk mengobrol. Sebenarnya ini kesempatan untuk bermanja tapi situasinya tidak memungkinkan.
Dasar Ustadz omes.
Hei, author ganggu aja! Ini bagianku yang ngomong.
"Aku ga nyangka A, Sofia secepat ini pergi."
Yah meskipun sudah beberapa kali bahasan ku alihkan tetap saja ujungnya tentang Sofia.
Ku maklumi itu, begitu besar rasa sayang Nimas pada Sofia hingga dia begitu kehilangan.
Dari Sofia pula aku belajar, aku harus menggunakan waktu yang diberi Alloh SWT untuk bersama dengan orang yang kita sayangi.
Aku tak bisa membayangkan bila jadi Farrel, akan seperti apa aku ini.
Eh ngomong-ngomong soal Farrel, aku salut padanya yang setegar itu. Oh sungguh hidayah telah menyapanya.
Lebih baik seseorang yang bertaubat dibanding seseorang yang berpura-pura baik sepanjang hidupnya.
"Neng sekarang tidur, besok kita jemput Mima. Sembari mengabari ibu, kalau sebentar lagi cucunya bertambah."
"Tapi aku malu."
Apa?
"Malu kenapa?"
Heran dong aku, hamil ko malu.
"Yaa malu Aa, Mima masih kecil udah mau punya adek."
Eh, masih masalah itu dia bahas.
"Malu itu, kalau hamil gak tahu siapa bapaknya. Aku mau nanya, neng punya suami?"
Nimas mengernyit.
"Lah kan Aa."
Aku tersenyum sambil membelai rambutnya.
"Neng hamil anak siapa?"
Nimas sedikit melotot, yang membuatku gemas ingin menciumnya.
"Aa nanya aku hamil anak siapa?"
Aku mengangguk sambil menahan tawa melihat reaksinya.
"Yaa anak Aa lah, keterlaluan!"
Dih bibirnya manyun, gigit jangan nih?
__ADS_1
"Nah itu tahu, jadi ngapain malu. Toh neng hamil ada bapaknya."
Sorot mata Nimas terlihat kesal kala menatapku, yang membuatku tergelak karena kelakuannya.