Love In Pesantren

Love In Pesantren
meredam amarah


__ADS_3

Canggung rasanya kini aku di sini berdua bersama A Zam.


Tadi pakai ada acara ngomong barengan lagi, bikin tambah salah tingkah aku nya.


"Aa duluan."


Aku memberikan kesempatan A Zam semata menghormatinya. Biar pun kesel dan masih ada amarah disini di hati ini.


A Zam pun melangkah mendekatiku dan duduk di sampingku.


Iiiiiiiii A Zam please itu natapnya jangan begitu eneng meleleh A.


Jangan maju, jangan !!


"Neng cantik."


Aaaaaaa kaaaan, bersikap biasa ajalah lagian aku masih kesel. Tapi wajahku panas begini, rasanya ingin aku jingkrak-jingkrak.


Jangan deket-deket A, ini kenapa dia duduknya maju-maju.


Tanganmu A, kondisikan itu tangan ngapain belai-belai pipi, leher lagi, aku kan geli.


Aku tangkap tangan nakalnya, aku tatap matanya sejurus kemudian ku beranikan untuk bicara sambil menunduk.


"Maafin aku A, tadi aku ngejawab terus."


"Gak, aku gak maafin."


Hah !!


Aku angkat wajahku ku dapati A Zam dengan seringainya. Uh jantungku, eh ini aku berasa seperti anak remaja yang sedang falling in love deh.


Segera aku hempaskan fikiran kotorku dan mengernyit mencoba mengartikan arti perkataannya.


"Ko gak maafin, aku juga gak bakal maafin aa."


Boleh dong aku angkuh kali ini jaga gengsi ah.


Enak aja dia jalan sama wanita lain ke cafe, lah aku istrinya gak pernah diajak kemana-mana kecuali makan mie ayam itu. Huft mirisnyaaa.


Eh kenapa sii dia malah ketawa? Ga lihat nih aku bersidekap dada kayak gini.


"Bener deh, neng itu gemesin kalau ngambek."


Pipiku yang masih panas dicubitnya ih.


"Aa ke cafe itu, tadinya mau merayakan ulang tahun Bu Nanda. Eh orangnya gak datang. Yaudahlah tadi itu udah terlanjur duduk dan ada Bu Rara juga gak enak kalau pulang, eh aku lihat neng digodain tuh sama sepupunya Ustadz Ahmad. Aku marah neng !!"


Harusnya aku yang marahlah, jelas-jelas aku gak berdua, Aa tuh berduaan huh.


"Di godain gimana? aku tadi cuma ngobrol sama Siti, Hulliyah, dan Sofia ko."


Jangan fitnah deh A.

__ADS_1


"Iya, tapi si Farrel itu liatin neng terus!! Ya Aa ga suka lah."


"Kenapa?"


Aku tantangin aja sekalian.


"Karna neng milik Aa."


Satu kalimat yang membuatku bungkam sekaligus.


Eh tapi kenapa dia gak mau maafin aku uhh.


"Aa maafin aku kan."


Penuh harap aku mendapat maafnya.


Eh dia senyum lagi.


"Maafin gak yaaa hmm?"


Kok malah ngeledek sii.


Masih menunggu jawabannya, aku harap-harap cemas ini.


"Aku maafin neng, asaal..."


Hei, asal apa hei?


Mendadak merinding aku, melihat sorot matanya.


------------------------------


Tiga hari berlalu, tumben nih aku sana A Zam baik-baik saja. Semoga ga akan pernah ada badai berarti dalam kehidupan kami.


Kemarin A Zam bilang dirinya akan dipindah sementara keluar kota sebab biasa di Mts tempat A Zam mengajar selalu ada yang namanya pertukaran pengajar bukan pelajar.


Ah, membayangkannya satu bulan gak ketemu A Zam, sudah membuatku sedih.


Sedari bangun tidur tadi aku menangis bahkan sampai sekarang membantu menyiapkan kebutuhannya selama A Zam di luar kota, aku masih berderai air mata. Rasanya sulit untuk berjauhan dengan dia. Mungkin karena aku sudah terbiasa hidup bersamanya.


Kini ku perhatikan A Zam yang sedang siap-siap berangkat. A Zam sedang mengikat sepatunya, sementara aku duduk di sampingnya sambil berkaca-kaca.


Eh dia noleh, kenapa musti senyum sii? ga tau apa aku mah sedih, ah pasti dia sedang bahagia nih gak bakalan ketemu sama aku setiap hari.


Uh sebel !! Melihat senyumannya, aku buru-buru menghapus air mataku.


"Neng, udah dong dari tadi nangis terus. Kasihan matanya, nanti sembab. Kalau sembab berkurang deh cantiknya."


Issshh kadang ya, gombalnya tak tahu tempat.


Aku diam ah malas, aku susah-susah bersedih hati. Eh orangnya biasa aja kan kesel.


A Zam tersenyum kemudian memelukku.

__ADS_1


Jangan membuatku semakin berat melepaskanmu deh !!


"Aku pasti rindu neng. Baik-baik ya di sini, jaga kehormatan diri sendiri untuk aku."


Apa katanya?


Emang aku mau ngapain?


"Aku menyayangimu neng."


Uh cuma sayang, cinta ke ngomongnya. Jiwa marukku bergejolak.


A Zam melepaskan pelukannya, kemudian memandangku dalam.


Tatapan mata kami terkunci beberapa saat, lalu dia menciumi seluruh wajahku tanpa terkecuali.


Sedikit mengobati sedihku ya sedikit.


"Aa jangan nakal !!"


Eh eh ko dia ketawa, aku serius ini.


"Enggak bakal nakal, aku kan anak baik."


Ih ko becanda sii.


Masih dengan wajahnya yang penuh tawa, kami keluar rumah mengantarnya sampai pintu depan.


"Aku berangkat ya, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ah beraaaaat ku pandangi punggungnya yang menjauh.


Eh ko A Zam berbalik apa ada yang ketinggalan.


Loh malah meluk sii.


"Aku berangkat ya neng."


Iyaaaaa.


Dengan bahasa anggukan aku menjawab.


Di lepaskannya aku kemudian dia berjalan pergi.


Lebay juga sii kadang. Haha, tuh kan jadi ingin tertawa.


----------------------------------------


#Ketemu A Zam asli aku tuh (author)


#teruuus (Nimas)

__ADS_1


#speechless you know, kehilangan kata hayalanku buyar. Buat nulis ini aja perlu tidur dulu (author)


#apalagi aku thoor yang ketemu tiap hari (Nimas)


__ADS_2