
#Tadinya author mau kasih visualnya Nimas di episode sebelumnya, tapi berhubung ada kesalahan teknis jadi mungkin lain kali ya, haha jangan maraah (author)
-----------------------
Ustadz Zamzam melihat istrinya berdiri di sana dengan senyuman samar namun indah, hatinya jadi gemas sendiri lalu dia mengeluarkan ponselnya dan memotret Nimas.
Wih Ustadz nih ala-ala paparazi gitu sepertinya.
Aksinya itu di ketahui oleh Nimas.
"Aa foto aku yaa?"
A Zam saat itu tertawa karena merasa lucu, seorang suami begitu ketakutan hanya karena mencuri foto istrinya.
Bukankah wajar, jika di ponsel suaminya ada foto istrinya. Bukan isinya hanya animasi saja.
Karena melihat tampang sang istri yang mulai garang, Ustadz Zamzam pun menghentikan tawanya dan berkata.
"Ga apa-apa kan? Aa ga punya foto neng loooh."
Ga apa-apa Stadz ga apa-apa, tapi lihat istrimu sepertinya ga suka.
Nimas yang memaksa untuk melihat fotonya pun harus menyerah karena adzan dhuhur berkumandang.
"Nanti ya neng di rumah."
Bisik sang Ustadz kepada istrinya yang penasaran.
Kemudian mereka pun berjamaah sholat dhuhur di mesjid baru itu.
-----------------------
Malam harinya di rumah, Nimas sudah tertidur dengan lelapnya bahkan dia lupa untuk melihat foto yang tadi di ambil suaminya.
Sementara sang Ustadz baru pulang dari mesjid, dia heran tak mendapati sang istri tidak menyambutnya.
Kemudian dia ke kamar dan melihat sang istri sudah tertidur.
"Padahal belum makan kamu neng, kebiasaan."
Sang Ustadz berbicara pelan dan sepertinya nanti malam harus bersiap menemani istrinya makan. Karena memang kebiasaan Nimas, kalau sebelum tidur belum makan dia akan bangun mencari makanan di tengah malam.
Satu rahasia Nimas ini di rasa unik oleh sang Ustadz.
Sang Ustadz melihat galeri foto di ponselnya dan tersenyum melihat foto Nimas yang dia curi tadi.
"Sepertinya kamu lupa neng."
Sang Ustadz tergelak pelan.
---------------------------
Beberapa hari berselang, kehidupan Ustadz Zamzam dan Nimas berlangsung normal. Mereka sudah berbaikan dan menjalani hari-hari sebagaimana pasangan suami istri lainnya.
Namun kembali lagi, bukan hidup namanya kalau lurus-lurus saja.
Hari ini, Ustadz Zamzam pulang terlambat karena menghadiri acara pengajian di mesjid baru.
Ustadz Zamzam mengabari istrinya lewan pesan whatsapp.
Dari magrib Nimas menunggu Ustadz Zamzam pulang, dia tidak mengira pengajiannya akan sampai malam hari.
Kini jam dinding menunjukkan pukul 9 malam, namun sang Ustadz belum juga pulang. Nimas memutuskan untuk membaca Al-quran mengikuti perintah suaminya, seorang wanita yang sedang hamil harus memperbanyak membaca Al-quran.
Di tengah kekhusyuannya, pintu kamar terbuka.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
Nimas menoleh dan mengakhiri kegiatannya.
"Waalaikumussalam, Aa maaf aku ga denger kamu di depan."
Bukannya menjawab sang Ustadz malah tersenyum.
"Rajin banget, istri siapa sii?"
Oww Nimas tersipu dong pasti.
Sang Ustadz menghampirinya seraya tersenyum, "Ga apa-apa, sengaja ko."
Eh.
"Aa sengaja ga ngetuk pintu, takut neng udah tidur."
"Pengajiannya lama banget A."
"Tadi aku ke rumah Pak Mustafa dulu, beliau mengundang makan malam bersama."
"Pak Mustafa?"
Nimas merasa asing dengan nama yang disebutkan suaminya itu.
"Iya, beliau pemuka agama di sana."
Nimas mengangguk faham.
"Neng tahu gak?"
Tahu apa sii Stadz, ko aku yang gregetan haha.
"Ternyata anaknya Pak Mustafa yang punya yayasan anak yatim terbesar di kota ini. Dan hebatnya, Hannah masih muda."
Hannah?
Nimas tak menjawab, satu lagi nama baru yang di sebutkan suaminya membuat Nimas termangu.
"Hannah itu hebat loh neng, dia lulusan terbaik di kampusnya, terus......"
Belum selesai Ustadz bicara, Nimas sudah membalut diri dengan selimut seakan malas mendengar celotehan sang Ustadz yang dengan bodohnya memuji-muji perempuan lain di hadapan istri pencemburunya.
Ckck.. Pasti Ustadz lupa Nimas sensitif.
--------------------------------
Esok harinya, ketika sepasang suami istri itu tengah menikmati sarapan pagi.
Beberapa kali ponsel Ustadz Zamzam berbunyi tanda pesan masuk.
Acara sarapan pun terganggu karena Ustadz Zamzam yang sibuk berbalas pesan.
Nimas memperhatikan raut wajah suaminya yang tersenyum-senyum membaca pesan di ponselnya.
"Pesan dari siapa sii A? Anteung banget."
"Oh ini Hannah, ngajak ketemuan buat ngomongin acara santunan di mesjid."
Hannah lagi Hannah lagi, Ustadz ini kenapa ya?
"Aa kagum sama Hannah neng, kemarin banyak ngobrol sama dia. Wah dia itu...."
"Udah sarapannya?"
Tuh kaan Nimas mulai malas dengernya.
Sang Ustadz pun menyelesaikan sarapannya dan bergegas pergi ke Mts. Sementara Nimas masih termenung di meja makan.
__ADS_1
Ada apa dengan suaminya?
Dari semalam terus saja membahas perempuan lain.
Nimas membuang nafasnya pelan, mungkin memang suaminya nyaman dengan orang yang sama-sama berpendidikan. Beda dengan dirinya yang hanya belajar di pesantren.
Ah kaaan Nimas jadi rendah diri.
Siang ini, Nimas memutuskan untuk lebih lama di pesantren setelah mengajar tadi.
"Kamu kenapa Nim, kelihatan murung." Sofia bertanya, karena melihat Nimas yang tak bersemangat.
"Enggak ada, aku cuma lelah aja."
Sofia mengernyitkan keningnya.
"Lelah? Kalau begitu jangan mengajar dulu sampai melahirkan."
Nimas menggeleng, entah apa yang ada di fikirannya saat ini namun yang jelas kekalutan ini di mulai sejak sang suami membahas perempuan lain.
"Aku boleh numpang tidur di sini sebentar."
"Tentu, tapi aku tinggal ya soalnya aku mau ke madrasah. Yang lainnya udah di sana."
"Eh sekarang waktunya kaji kitab sulamunajat ya?"
"Iya."
"Tunggu Sof, aku ikut."
Nimas pun ikut Sofia ke madrasah dan mengikuti pengajaran sebagaimana dia lakukan dahulu sebelum menikah.
Nimas harus menyesuaikan diri ketika tiba-tiba dia tahu bahwa dirinya sudah jadi seorang istri. Dia harus berlapang dada menerima sosok yang baru dalam hidupnya.
Seakan baru kemarin dia mengaji di sini di madrasah ini, dan kini dia mengulang itu bernostalgia ke masa lalunya.
Nimas begitu bersemangat ikut mengaji seakan tak ingin dia kembali sebagai Nimas yang sudah menikah.
-----------------------------
Sore harinya, Ustadz Zamzam pulang lebih cepat dari biasanya. Nimas yang belum selesai memasak pun jadi terburu-buru.
"Neng, gausah masak !!"
"Loh, kenapa?"
"Kita makan di luar nanti sehabis isya."
Nimas pun menurut dan mengakhiri aksi memasaknya yang belum selesai. Ah sebenernya belum juga ngapa-ngapain sii, baru buka kulkas haha.
------------------------
Kini mereka ada di sebuah restoran bergaya lesehan khas sunda. Ustadz Zamzam mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari seseorang.
Setelah beberapa menit kemudian sang Ustadz menemukan sosok yang di cari.
Ustadz Zamzam menggandeng tangan Nimas menuju meja seseorang.
"Assalamualaikum, sudah menunggu lama?"
"Waalaikumussalam, baru ko Stadz. Mari-mari duduk."
Nimas masih bergeming di tempatnya, di sana dia berdiri menatap seorang gadis, dan dan apa nih Ustadz Zamzam mengajaknya bertemu dengan gadis itu.
#Di sini author merasakan ketidaknyambungan haha (author)
#Kasihannya (Nimas)
__ADS_1