Love In Pesantren

Love In Pesantren
Tidak mau


__ADS_3

Nimas kembali ke dalam kamarnya setelah mengetahui apa yang terjadi. Dia senyum-senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Wah sepertinya dia bakal punya ponakan yang jail.


Nimas kembali merebahkan diri di kasurnya.


"Nak, apakah kamu ga mau apa-apa?"


Nimas bicara sendiri pada perutnya.


Hei Nimas anak ga mau apa-apa malah ditawarin, ckck.


Selama hamil memang Nimas tidak pernah mengalami morning sickness ataupun ngidam.


Nimas bersyukur tidak musti merepotkan semua yang ada di sekitarnya.


-------------------


Di tempat lain, Ustadz Zamzam begitu tersiksa karena rindu pada istrinya. Setiap hari dia jalani hari dengan kegundahan, namun egonya terlalu tinggi untuk mengakui.


Ketika tengah termenung malam itu, dering ponsel sang Ustadz berbunyi. Itu adalah panggilan dari Mama Haji yang memintanya segera ke pesantren.


Ada apa yaa hmmm.


Setibanya di pesantren, Ustadz Zamzam menuju rumah Mama Haji.


Betapa kaget dia, ternyata di sana ada Farrel beserta Ustadz Ahmad.


Setelah di persilahkan masuk, Ustadz Zamzam duduk bersebelahan dengan Ustadz Ahmad.


"Zam, Mama sudah mendengar semuanya. Mama kecewa sama kamu."


Diam, ya sang Ustadz hanya diam.


"Kenapa kamu mudah sekali dihasut syetan? Apa kamu tidak ingat atau tidak tahu, Alloh berfirman dalam surat An-Nuur ayat 6-7. Yang intinya kalau mau menyimpulkan seseorang berzina itu harus ada empat orang saksi yang membenarkan. Mama benar-benar kecewa sama kamu."


Sang Ustadz hanya menunduk, mencerna setiap kata dari Mama Haji.


"Maaf Ustadz, kalau boleh saya bicara. Waktu kejadian, memang saya hendak menemui istri anda untuk mengembalikan barangnya yang ada pada saya. Namun istri anda selalu menghindar, pas kejadian kebetulan saya telpon istri anda dan dari sanalah istri anda meminta tolong. Sebenarnya istri anda sudah beberapa kali menyuruh saya pergi, namun saya tetap berada di sana. Karena sebagai manusia kita harus tolong menolong, itu yang ada di benak saya. Di sini yang salah adalah saya. Lalu kemarin saya mendengar kabar, bahwa anda memulangkan istri anda. Saya benar-benar merasa bersalah. Saya minta maaf."


Aduh Farrel kamu ngomong ga ada iklan, minum dulu minum.


Sang Ustadz masih diam.


"Ustadz, pernahkah anda baca hadis nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. Yang artinya, (yang terbaik dari kalian adalah yang terbaik akhlaknya atau perlakuannya terhadap istrinya). Bukan maksud saya menggurui, mohon Ustadz renungi itu semua."


Eh itu Ustadz Ahmad yang ngomong ya.


Ustadz di ceramahin, ternyata Ustadz juga manusia ya.


"Mama harap kamu Zam, bisa berfikir jernih sekarang."


Ustadz Zamzam bangkit dari duduknya dan tergesa berpamitan pada semua yang ada di sana. Tanpa pulang ke rumah dia melajukan mobilnya menuju tempat tinggal orang tua Nimas.


Sambil menyetir, sang Ustadz beberapa kali mengusap matanya yang berair.


Nangis apa bukan ya.

__ADS_1


----------------------------------


Sampai di kediaman orang tua Nimas sekitar pukul 2 dini hari. Sang Ustadz tak mengindahkan rasa lelahnya. Dia mengetuk pintu rumah itu.


"Assalamualaikum." Berkali-kali Ustadz Zamzam mengucapkan salam sambil mengetuk pintu. Setelah beberapa menit barulah ada yang membuka pintu dan itu ayah Nimas.


"Waalaikumussalam, eh nak Zam malam banget mari masuk!!"


"Neng dimana Yah?" Sungguh sang Ustadz tak bisa lagi untuk berbasa basi dirinya kini hanya ingin bertemu dengan istrinya.


"Di kamarnya nak, langsung masuk aja."


Sang Ustadz pun berjalan cepat menuju kamar Nimas.


Eh itu ayah mertua looh Ustadz, haha.


Ustadz Zamzam membuka pintu kamar, yang dilihatnya pertama kali adalah Nimas yang tertidur meringkuk tanpa memakai selimut.


Tubuh sang Ustadz bergetar mendekati Nimas, air mata meleleh di pelupuk matanya.


Dibelainya pipi sang istri, kemudian beralih ke perut sang istri. Rasa bersalah menyeruak di dadanya.


Nimas yang merasa terganggu perlahan bangun, dan sadar kalau ada seseorang di sana. Nimas dengan cepat menghindar ke sudut tempat tidur.


"Ini Aa, neng."


Nimas yang masih setengah sadar mengerjap beberapa kali. Mungkinkan dia bermimpi.


Ini pasti mimpi !! A Zam ga mungkin ke sini.


"Neng.. "


"Maafin Aa, neng."


Nimas mengeleng-gelengkan kepalanya cepat.


"Neng.. "


Kali ini suara sang Ustadz tercekat, mendapat penolakkan dari sang istri membuatnya hancur seketika.


Kasian kamu Stadz.


Sang Ustadz berdiri dan mencoba makin mendekat, lagi-lagi Nimas menjauh.


Namun kali ini Ustadz Zamzam meraih tubuh istrinya itu. Nimas berontak meronta-ronta supaya dilepaskan, namun usahanya gagal sang Ustadz memelukknya begitu erat.


Meluknya ala-ala Rembo kali haha.


Nimas pun menyerah tubuhnya melemah, tak ada air mata di sana.


Nimas diam, mencoba mengartikan apakah ini mimpi atau nyata.


"Maafin Aa neng, Aa minta maaf."


Pengumuman yaa, Ustadz nangis waktu itu.


Nimas masih diam, sang Ustadz pun melepaskan pelukannya. Di tatapnya wajah sang istri yang juga menatapnya, namun tatapan Nimas kosong tak ada yang dia tatap.

__ADS_1


"Neng.."


Sang Ustadz berusaha memanggil istrinya.


Sejurus kemudian Nimas terkulai lemas dan tak sadarkan diri di pelukan suaminya.


--------------------------------


Setelah tadi Nimas pingsan, Ustadz Zamzam membawanya ke rumah sakit.


Ibu dan ayah pun ikut mengantar.


Kini hanya tinggal Ustadz Zamzam di ruangan rawat inap ini, setelah tadi ayah dan ibu berpamitan pulang dulu.


Kata dokter, tekanan darah Nimas sangat rendah mungkin di karenakan stres.


Sedari tadi, Ustadz Zamzam memandangi wajah Nimas yang sangat pucat, kemudian mencium kening Nimas penuh sayang.


Kemudian tangannya memegang perut Nimas dan mengelusnya lembut. Rasa sesal kembali menyeruak dalam dadanya.


Tertunduk dalam penyesalan yang mendalam.


Kumandang adzan subuh, membuat sang Ustadz terpaksa meninggalkan Nimas dan menuju sang Kholik yang memanggilnya.


---------------------


Beberapa saat kemudian, Nimas terbangun dari tidurnya. Dia merasakan tubuhnya begitu lemah, kemudian dia melihat sekeliling dia bukan berada di rumahnya.


Ini dimana?


Aku kenapa?


Nimas memegangi kepalanya yang terasa begitu berat dan pening.


Rasa ngilu dipergelangan tangannya baru menyadarkannya kalau dirinya berada di rumah sakit.


Mata Nimas berkeliling mencari seseorang yang tadi dilihatnya, hanya untuk memastikan apakah dirinya sedang bermimpi?


Lalu kemana ibu?


Kenapa dia sendirian di ruangan itu?


Dan berbagai pertanyaan lain dalam benaknya yang sulit untuk dia temukan jawabannya.


Kemudian saat pintu itu terbuka, Nimas menemukan sosok itu. Sang suami tersenyum ke arahnyaa.


Nimas tak bergeming menatapnya kemudian membuang muka ke arah lain. Sang Ustadz berusaha mendekat, namun Nimas langsung berbalik ke arah berlawanan.


Entahlah kali ini Nimas tidak ingin melihat suaminya itu.


Sang Ustadz semakin mendekat dengan perasaan yang nelangsa, berusaha meraih tangan Nimas namun Nimas tetap tak bergeming.


Kali ini Nimas hanya ingin diam.


#Balas aja Nimas balas!! (author)


#Komporr (Nimas)

__ADS_1


__ADS_2