
Setelah kami saling bermaaf-maafan, untuk kesekian kalinya setelah idulfitri berlalu.
Aku dan A Zam masih di sini, di ruang tamu saling memeluk satu sama lain. Setidaknya saling mencurahkan kerinduan yang beberapa hari ini terpendam, berpelukan mungkin wajar.
Jangan pada ngiri yaa!
"Aku sayang sama neng."
Aihhh bisa ga sih ngomongnya dipending dulu A?
Aku lagi males ngomong.
"Neng."
Ck malah ngomong lagi. Berdehem aja deh.
"Heumm."
"Aku mau punya anak lagi."
Apa?
Melotot dong aku, aku dorong aja A Zam hingga melepaskan pelukan yang tadi membelit tubuhku.
Aku bergidik menatapnya sengit.
"Loh kenapa neng?"
Apa sii ngomong sambil nahan tawa gitu?
"Aku mau ke kamar."
Lebih baik aku menghindar, sebab kalau tidak matilah aku.
A Zam menahan gerakanku kuat.
Jika saja aku punya jurus untuk menghilang, sudah ku pakai jurus itu sekarang.
Hei Naruto aku pinjam jurusmu!
"Neng denger ga, aku bilang apa?"
Dih, ga usah penuh penekanan gitu dong ngomongnya A.
"Iyaa denger ko."
Berusaha santai nih aku, padahal aslinya ingin meronta aku tuh.
"Terus?"
Lah nanya, iya terus apa coba?
"Apa?"
"Iya, aku mau punya anak lagi."
Aku harus jawab apa coba?
Aku befikir sejenak, bagaimana caranya supaya aku terhindar dari A Zam untuk saat ini?
Aku melihat wajah A Zam yang penuh harap itu. Kemudian barulah aku mengeluarkan suara.
"Nunggu Mima umur setahun dulu deh A!"
Akhirnya, aku menyerah saudara-saudara.
"Bener?"
Kenapa si mata kamu musti berbinar gitu A?
Ngangguk aja deeh.
A Zam tersenyum memandangiku, Mimaaa ko kamu ga bangun naak? Bangun Mim, tolongin ibu.
Ada yaa ibu seperti aku haha.
"Besok di mesjid bakalan ada santunan anak yatim, neng ikut ya! Besok Sofia juga hadir."
Mesjid yang mana?
Eh mungkin di mesjid yang A Zam bangun bersama para sahabatnya.
Tadi siapa katanya?
Sofia Mufliha?
Sofia temenku kan?
"Ko bisa Sofia hadir?"
"Iyaa, Sofia kan yang buat kalighrafi hiasan di mesjid itu. Nah sebagian bayarannya Sofia santunin ke anak yatim. Sebagai donatur Sofia kami undang. Tadinya sii dia nolak buat hadir, tapi aku rayu aja Farrelnya biar Sofia mau. Dan alhamdulillah Sofia mau hadir."
__ADS_1
Aku berdecak geli. Tadi apa katanya?
A Zam rayu Farrel?
Boleh ga sih aku tertawa di sini?
"Aku baru tahu Sofia bikin kalighrafi."
"Udah lama kali neng, ya udah sekarang kita tidur besok kita pergi kesana!"
Dan malam itu berlalu dengan kedamaian.
Tanpa terjadi perang dingin lagi, tapi kalau perang panas? Entahlah aku lupa haha.
----------
Keesokan harinya, aku sudah berada di sini di halaman mesjid ini. Aku sudah duduk manis memangku Zamima. Kursi plastik yang diperuntukkan untuk tamu undangan berjejer rapi di dalam tenda ini.
Tenda yang menghadap langsung ke arah panggung, memudahkan para tamu untuk menyaksikan apa yang akan ditampilkan di atas sana.
Sementara A Zam sedari tadi sibuk di belakang panggung sana.
Ah aku sudah terbiasa dengan ini, jadi ku nikmati saja saat-saat seperti ini.
Toh kalau di rumah A Zam hanya milikku seorang, untuk saat ini aku rela deh berbagi suami oops.
Tanpa ku sadari Sofia, sudah terduduk di sebelah kursiku. Mengambil Mima secara paksa dari tanganku.
Eh, mataku mengarah tepat ke arahnya karena kaget bin terkejut.
"Assalamualaikum anak cantiik."
Ucapannya di tujukan pada Mima yang mulai dia ciumi, uh aku iri. Aku juga mau dicium Sof.
"Waalaikumussalam, Ateu."
Aku menirukan suara anak kecil.
Sofia melirik padaku sebentar kemudian fokusnya kembali pada Mima.
"Kesini sama siapa?"
Aku penasaran sebab dari tadi mataku berkeliling tak ku temukan sosok Farrel.
"Sendiri, naik angkot."
Loh.
Duh ini mulut, aku menggigit bibirku takutnya aku salah bicara.
Sofia menggeleng, namun mulutnya komat-kamit mengajak Mima bicara.
"Katanya sii tadi Farrel mau nyusul, tapi ga tahu deh."
Mata kemanaa mulut kemanaa, begitulah penggambaranku mengenai Sofia yang tengah asik dengan Mima.
"Eh Hulliyah kemarin telpon aku."
Sofia menatapku serius.
"Hulli nelpon kamu juga?"
Seketika kami terdiam menyadari sesuatu.
Kami pun terkikik geli.
Pasti pada kepo kan aku tertawa kenapa?
Aku dan Sofia baru sadar akan kelakuan Hulliyah yang dari dulu tak pernah berubah.
Hulliyah tak bisa diam persisnya sangat terbuka masalah pribadi pun dia sangat blak-blakan.
Hulliyah akan curhat sana sini hanya demi menghilangkan beban fikirannya.
Mirip deh sama author kita.
Kami yang tengah mengobrol harus menghentikan dulu obrolan kami sebab acara akan dimulai.
Moderator mulai membuka acara, menjelaskan rincian acara. Para tamu pun berfokus pada pria dengan baju koko putih itu.
----------------
Acara santunan anak yatim ini tentu dihadiri oleh Hannah. Eh masih ingat kan sama dia?
Hannah terlihat di atas panggung mendampingi salah satu anak yang berdiri tepat di sampingnya.
Eh kenapa musti ada acara penyerahan santunan secara simbolis sii.
A Zam selaku perwakilan donatur bertindak sebagai pemberi simbolis.
Jadikan itu tangan A Zam sama Hannah nempel terus, pas waktu salaman itu yang namanya fotografer minta salamannya agak lamaan buat mereka foto. Uh sakit mata aku lihatnya.
__ADS_1
Daripada mataku makin perih, lebih baik aku alihkan pandangan ke arah Sofia yang ternyata tengah celingukan.
Apa sii yang sedang dia cari?
Tukang cilok kah?
"Nyari apa Sof."
Rupanya aku sedikit mengagetkannya yang kulihat Sofia mengusap-usap dadanya.
"Nimas ah, kaget tahu."
Aku terkekeh pelan menanggapinya.
"Kamu nyari apa emangnya?"
"Farrel, katanya dia bakal datang. Tapi sampai acara sudah mau selesai begini dia belum juga nongol."
Tatapan Sofia sangat kentara tidak bisa diam.
"Telpon dong."
Solusi kan?
Gitu ko repot Sof.
Sofia pun beranjak meninggalkanku sejenak untuk menelpon suaminya.
-----------------
Beberapa saat kemudian Sofia kembali.
Eh tunggu?
Wajahnya ko jadi muram begitu?
"Gimana Sofi?"
Sofia tersenyum sekilas, kemudian mengambil tasnya dan berpamitan.
"Duh Nim, maaf yaa sepertinya aku harus pulang duluan. Farrel ga jadi dateng. Sampaikan maafku sama Ustadz Zam ya."
Eh.
Tanpa menunggu aku bicara Sofia pun mengucap salam kemudian berjalan pulang.
Aku jadi penasaran sebenarnya gimana sii hubungan Farrel sama Sofia hmm?
Selepas Sofia pergi, aku kembali fokus pada panggung. Dimana disana semua anak yang hadir berbaris guna mendapatkan haknya.
Seketika benak julidku bereaksi.
Kalau mau bersedekah dalam kebaikan, kenapa musti di pajang seperti itu coba?
Alloh SWT justru menganjurkan untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi, sebagaimana firmannya dalam surat Al-Baqarah ayat 264, yang artinya:
Hai orang-orang beriman janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan (si penerima).
A Zam pun pasti sudah mengetahui akan hal ini, tapi ini merupakan prosedur dari salah satu perusahaan yang menjadi donatur tetap di mesjid ini. Ya, aku tahu A Zam dengan terpaksa harus melakukannya. Aku hanya bisa menghela nafas, zaman sekarang memang adatnya sudah berbeda.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Aku mau ingetin nih tekan tanda jempolnya lagi yaa terimakasih.
Oh iya, aku juga mau berterimakasih akan berbagai masukan tentang cerita ini.
Teruuus terimakasih juga buat yang sudi dan rela nunggu up cerita ini tiap hari.
Terimakasiiih, apalah aku tanpa kalian.
#Thor udah thoor, turun dari panggung ini. Kamu udah mirip seseorang yang dapat award (Nimas)
__ADS_1