
Hulliyah kaget dengan kedatangan Haqi yang tiba-tiba dan melontarkan kalimat godaan yang membuat Hulliyah takut. Bukan, Hulliyah bukan takut Haqi cemburu tetapi Hulliyah takut tidak tahu caranya membalas godaan dari Haqi dan Haqi akan berpura-pura marah padanya.
Jika Hulliyah gagal membalas godaan itu maka setelah sampai di rumah habislah dia.
Haqi berjalan mendekati istrinya dengan senyuman yang berkembang. Haqi meletakkan tangannya di atas kepala Hulliyah dan mengusapnya pelan.
"Pulang yuk!" ucap Haqi sedikit berbisik.
Hulliyah mengangguk sebelum itu, dia mencari Nimas dan Siti yang hilang entah kemana.
Beberapa saat berlalu, Hulliyah dan Haqi pun pulang.
Sementara Siti menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Nimas. Rasanya dirinya sangat rindu mengobrol bersama sahabat yang dulu paling dekat dengannya itu.
Setelah menidurkan Khalila, Nimas menemani Siti mengobrol di ruang tengah sementara anak-anaknya bermain di teras rumah.
"Tumben Ustadz Ahmad gak datang ke pengajian?" tanya Nimas.
"Beliau ada pekerjaan di luar kota?" jawab Siti.
"Terus kamu pulang gimana?"
Siti melihat jam tangan yang dia gunakan.
"Mungkin sebentar lagi ada jemputan." jawab Siti.
Nimas tidak mempersoalkan itu lagi, mereka larut dalam obrolan nostalgia yang tidak ada habisnya mereka kenang.
Ditengah keasikan mengobrol, tiba-tiba Reasad berteriak dati luar. "Om ...."
Siti menghentikan percakapannya dengan Nimas. "Eh Farrel udah dateng."
Siti beranjak dari kursi dan keluar dari rumah diikuti Nimas.
Dalam hati Nimas dilingkupi rasa penasaran bagaimana sosok Farrel saat ini. Setelah beberapa bulan bahkan setahun tidak bertemu, kini mereka bertemu kembali.
Ah ini nostalgia CLBK bagi Farrel.
Ketika Nimas keluar dan mendapati Farrel di sana, masih dengan penampilan yang sama seperti dulu. Duda muda itu tidak banyak berubah bahkan semakin terlihat muda.
Untuk sesaat Farrel terpaku melihat Nimas, tetapi bisikkan itu segera ditepisnya. Farrel mencoba menjauh dari rasa mengagumi Nimas.
"Farrel, wah senang bertemu lagi," ucap Nimas.
Farrel tersenyum dengan caranya yang khas. Entah mengapa sebersit kesakitan dalam hatinya muncul lagi. Mengingat dosanya yang telah lalu, Farrel mengingat Sofia istri yang disia-siakan olehnya. Farrel merasakan kesakitan setiap kali mengingat tentang Sofia.
Nimas dan Siti saling berpandangan melihat Farrel terdiam tanpa membalas ucapan dari Nimas.
"Om ... Om kenalin ini teman Isad."
Tiba-tiba anaknya Siti menarik-narik tangan Farrel dan mengenalkan Zamima pada Omnya itu.
Farrel tersenyum ramah pada Zamima, gafis kecil itu menatap Farrel penuh tanya kemudian menjulurkan tangannya dan mencium tangan milik Farrel.
__ADS_1
"Eh ini Mima, udah gede ya. Ini kan yang dulu sempat disangka anakku sama Ustadz Zam."
Farrel memelankan suaranya bertujuan untuk menggoda Nimas.
Bukannya tergoda Nimas malah terkesiap mendengar ucapan Farrel. Bagaimana jika ada orang yang mendengarnya?
"Jangan bicara sembangan ah!" ucap Nimas akhirnya.
Farrel tergelak melihat ketakutan yang terpancar jelas dari wajah Nimas.
"Lah kan emang dulu begitu." ucapnya santai.
Sabar Nimas sabar.
Ternyata bukan hanya penampilannya yang tidak berubah tetapi sifat Farrel yang ceplas-ceplos pun masih sama.
Sementara dalam hati Farrel sebenarnya dia sedang meredam rasa sakit yang selalu memyeruak bila tiba-tiba mengingat Sofia.
Farrel aelalu menyembunyikan perasaan tetluka yang dia alami dengan bersikap biasa-biasa saja dan sesantai mungkin.
Isi hati orang mana tahu.
--------------
Setelah tadi berpamitan dengan Nimas, kini Siti dan Farrel bersama anaknya berada dalam satu mobil untuk pulang.
"Ahmad kapan pulang?" tanya Farrel kepada Siti yang duduk di bangku belakang.
"Katanya seminggu lagi, kenapa?"
"Nanya aja, betah banget dia di luar kota. Hati-hati aja di sana dia nikah."
Farrel berkata sambil tertawa berusaha menggoda Siti yang mendelik tajam ke arahnya.
"Ampun ... ampun, becanda kok Kakakku."
Farrel masih dengan sisa tawanya meminta maaf pada Siti dan kembali melajukan mobilnya.
"Kamu emang selalu nyebelin Rel." ucap Siti kesal.
Farrel terus tergelak menemukan hiburan yang dapat mengalihkan kegamangan hatinya.
---------------------
Setelah mengantarkan Siti ke rumah Uwanya, Farrel memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya. Farrel tidak ingin terus berpura-pura bahagia. Farrel ingin bersedih ria sejenak.
Sesampainya di rumah yang penuh kenangan itu. Farrel turun dari mobilnya dan membuka gerbang pagar yang sudah direnovasi karena sebelumnya tertabrak olehnya. Setiap kali mengingat kejadian itu Farrel selalu menutup matanya supaya tidak melihat pagar itu dan tiang listrik itu.
Farrel memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah. Farrel bergegas turun menutup kembali gerbang itu dan berjalan memasuki rumahnya.
Sesaat setelah masuk ke dalam rumah Farrel menutup pintu dan mendekap dirinya sendiri, badan Farrel selalu gemetar ketakutan bila harus mengingat kenangan itu. Bila harus terbayang dengan sangat jelas dirinya menabrak Sofia.
Farrel masih gemetar dan mendudukkan dirinya sejenak di sofa dengan susah payah.
__ADS_1
Tidak ada seorangpun yang tahu Farrel dengan kesendiriannya selalu menahan trauma yang mendalam bahkan berdampak pada kondisi tubuhnya yang selalu cemas berlebihan serta reaksi tubuhnya yang selalu menggigil dan gemetar.
Farrel menyembunyikan itu semua bahkan pada Uwanya Farrel tidak pernah berbicara apapun.
Farrel hanya berharap jikalau sudah waktunya dia dipanggil Tuhan, Farrel ingin menunggu untuk bertemu Sofia. Hanya Sofia.
Perlahan Farrel bangkit dari duduknya berjalan gontai menuju kamar mandi dan mengguyur sekujur tubuhnya yang masih gemetar itu.
Membasahi semua tanpa membuka pakaian Farrel memgeluarkan tangis yang selalu ditahannya. Farrel menangis sesenggukkan di dalam kamar mandi sendirian.
Selalu sendiri Farrel menikmati rasa sakit itu sendiri.
Setelah sekian lama di dalam kamar mandi tadi, Farrel kini sudah bersiap dengan baju koko dan juga peci hitamnya. Tatkala adzan dzuhur berkumandang, Farrel telah siap dan bergegas pergi ke mesjid yang berada di area dekat rumahnya.
Farrel keluar rumah dengan wajah yang berseri-seri menyapa tetangga yang kebetulan berpapasan dengannya.
Farrel sungguh aktor yang luar biasa memerankan karakternya.
------------------------------
Berlama-lama Farrel di mesjid mencoba menormalkan perasaan kalutnya. Sampai seorang marbot mesjid datang menghampiri.
"Assalamualaikum Nak."
Faarel mengerjap dan segera menjawab salam itu.
"Jika Nak Farrel tidak keberatan sehabis ashar nanti di rumah ada acara tahlilan. Sekiranya Nak Farrel bisa hadir." ucap marbot itu.
Farrel menyanggupi permintaan itu dan menjanjikan akan hadir diacara tersebut.
Asharpun tiba, Farrel yang sedari tadi ada di mesjid segera menunaikan ibadahnya. Setelah selesai Farrel keluar bersama dengan yang lain menuju ke rumah marbot yang tadi mengundangnya.
Sesampainya di sana Farrel bersama yang lain segera masuk ke dalam dan memulai acara.
Satu jam berlalu acara telah usai tetapi sang marbot menahan kepergian Farrel. Ada satu tujuan dari sang marbot.
Apakah itu?
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Belasan episode lagi ini hihi🙈