Love In Pesantren

Love In Pesantren
Merasa disayangi


__ADS_3

Pov Hulliyah


Entah mengapa aku merasa was-was begitu tahu Kak Haqi akan pergi ke Palembang. Aku tidak bisa berpikir apapun lagi, ada semacam ketakutan yang tiba-tiba menjalar keseluruh bagian inti dalam tubuhku.


Aku hanya bisa menunduk lesu, mulutku terkunci hanya untuk berkata iya. Aku tidak mampu mencegah atau mengizinkannya pergi.


Apa aku berhak untuk melarangnya?


Sementara hubungan kami tidak seindah kebanyakan pasangan lain.


Mataku masih berpusat pada kedua tanganku yang saling bertautan. Hingga tangan besar itu menyentuh tanganku, telapak tangannya yang hangat menggenggam jemariku meremasnya pelan.


Satu tangan itu membawa wajahku untuk menghadap wajahnya yang bersahaja itu. Tidak, Kak Haqi tidak memiliki wajah rupawan seperti Shahrukh khan, tidak pula berwajah manis seperti Ustadz Zamzam. Tetapi wajahnya itu selalu membawaku ke dalam kenyamanan dan tenang jiwa.


Tutur katanya yang lembut juga sikapnya yang santun membuatku jatuh hati meski awalnya hanya kuanggap orang asing.


"Sypa kenapa?" tanyanya.


Aku bingung mau menjawab apa?


Aku siapanya sih?


Kenapa aku merasa belum berhak untuk mencampuri urusannya?


"Tidak Kak, aku hanya mengantuk."


Dih mulutku, kenapa aku malah bilang ngantuk?


Jelas-jelas aku tidak merasakan kantuk sama sekali.


"Sini! Tidur di sini, nanti aku pindahin."


Kak Haqi menidurkanku di pangkuannya, kepalaku berbantalkan pahanya.


Aish sopan enggak aku bilang paha ini?


Kak Haqi melepas kerudungku kemudian mengusap-usap kepalaku, jarinya merayap pada mataku mencoba membuatnya terpejam.


Terpaksa kupejamkan mata dengan sedikit paksaan dari jarinya.


Tuh kan nyaman.


Paha Kak Haqi mengalahkan kasur king size yang biasa muncul dalam novel CEO.


"Do'akan Abi, semoga beliau cepat sehat. Biar nanti aku cepat kembali ke sini sekalian sama rombongan."


"Rombongan?"


Mataku nyaris terbuka namun jari Kak Haqi menahannya.


"Sypa diam saja! Anggap aku sedang mendongeng, jangan jawab!"


Kak Haqi meletakan jari telunjuknya di bibirku, hal itu memaksaku untuk mengangguk.


"Sypa baik-baik di sini, tunggu aku!"


Aku diam, gemuruh dada sebenarnya sudah berontak ingin dikeluarkan.


Apa begini rasanya disayangi?


Kak, aku sayang Kakak.


Hanya bisikan dalam hati yang mampu aku ucapkan.


"Sypa?"


Panggilan Kak Haqi membuatku tersadar dari lamunan itu.


Aku berpura-pura tidur, aku tidak meresponnya.


Sampai sedikit guncangan aku rasakan dan tubuhku melayang di udara.


Aku digendong.


Ah tidak, aku pasti berat.


Duh malunya, ini kali pertama aku diperlakukan manis begini.


Kurasakan tubuhku kini sudah berada dalam tempat yang sedikit empuk, ya ini tempat tidurku.

__ADS_1


Eh tunggu!


Tempat tidurku hanya muat untuk satu orang saja. Jadi, Kak Haqi tidur dimana malam ini?


Ah aku tidak rela.


"Kak ...." ucapku lirih.


"Belum tidur?"


Aku menggelengkan kepalaku.


"Kakak tidurnya di sini saja!"


Kak Haqi terlihat terkejut, "tapi gak muat."


"Muat Kak!"


Eh dia malah senyum.


Aku menggeser sedikit tubuhku membiarkannnya ikut berbaring di tempat tidurku.


"Sypa bangun dulu!"


Apa katanya?


Kok ngusir aku?


Aku pun bangun dengan sedikit kesal, tetapi kemudian tangannya menarik tanganku hingga kini kepalaku berada di atas dadanya.


Aku kasih tahu, dadanya tidak bidang. Dadanya normal seperti lelaki kebanyakan porsi yang pas dengan tinggi badannya.


"Tetap begini!"


Perintahnya mengunciku.


Setelah itu kami terdiam, hanya dentuman jantung yang terdengar jelas di telingaku.


Kenyamanan itu memang seperti ini, tempat bersandar paling baik adalah dada suami.


------------------


Kulihat Kak Haqi yang masih terpejam diseperempat malam ini. Aku turun pelan-pelan supaya tidak membangunkannya.


Aku beranjak mengambil air wudhu membasuh hadas kecilku. Aku datang padaMu Ya Rabb.


Entah berapa lama aku bersujud tanpa kusadari Kak Haqi memperhatikanku di tempat tidur. Menyambutku dengan senyuman.


Aku segera membereskan peralatan ibadahku. Aku berjalan menghampiri suamiku yang masih memandangiku itu.


"Kenapa gak bangunin? Kita bisa tahajud bareng." ucapnya dengan suara parau yang terdengar syahdu di indera pendengaranku.


"Maaf Kak, tadi Kakak pulas banget."


Kak Haqi tidak mengalihkan sedikitpun tatapannya. Kemudian Kak Haqi bangkit dan terduduk. Satu gerakan yang membuat tubuhku membeku, Kak Haqi mengecup keningku.


Setelah itu membimbingku untuk kembali berbaring. Kali ini jantungku sungguh melompat-lompat apalagi ketika tatapannya berubah menjadi tatapan seorang pria yang terlihat penuh harap.


"Aku memilihmu sebagai penampung dzuriatku."


"Bismillahi alohumma janibnasyaitona wajannibissyaitona ma rozaktana."


Kulapalkan do'a berniat melakukan ini beribadah kepada Tuhan semata.


Dengan menyebut nama Alloh, ya Alloh jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang telah engkau rizkikan kepada kami.


Batinku membaca arti dari do'a itu.


Semoga do'a itu membawa manfaat dan jika ditakdirkan dzuriatmu hadir di dalam tubuhku, semoga Tuhan selalu menjauhkannya dari syaitan.


-----------------------


Keesokan paginya Kak Haqi berpamitan, aku merelakannya pergi.


"Sypa baik-baik ya, assalamualaikum."


Punggungnya berbalik dan menjauhiku dengan gerbang Pesantren ini.


Cepat kembali Kak.

__ADS_1


Setitik air mata tanpa diundang jatuh, segera aku menghapusnya. Aku harus kembali pada rutinitasku, di sini aku adalah santriwati senior.


Aku juga seorang mudharis di kobong puteri dua tingkat di bawahku.


"Baiklah, Hulli mari kita mulai hari ini!" tekadku.


--------------------------


Seminggu sudah aku dan Kak Haqi hanya bertukar pesan lewat suara. Untungnya aku diberi keringanan oleh Bi Haji untuk memegang ponselku.


Keuntungan santri senior memang begini, aku bersyukur dengan segala kemudahan ini.


Hari ini pengajian rutin diadakan di Pesantren, banyak jamaah datang dari luar kota hanya untuk menghadiri pengajian ini.


Salah satunya ialah Mbak Leni, Beliau adalah seorang pengusaha telur dan bawang merah dari Jawa.


Jawa mana? Aku tidak tahu tepatnya, aku mengenalnya sebab sudah beberapa kali Beliau datang ke Pesantren dan menjadi donatur pembuatan kobong baru bulan lalu.


Logat Jawanya yang kental menjadi hiburan tersendiri buatku. Terlebih Beliau orang yang sangat ramah dan juga murah senyum.


Aku yang notabene pendiam ketularan cerewet kala bersamanya.


"Dek Hulli, emangnya enak hidup terpisah sama suami?"


Pertanyaan yang menohok untukku, memang Beliau sudah mengetahui semua tentangku. Aku yang memiliki hubungan rumit seperti ini tidak sengaja diumbar Neli waktu itu.


Aku tersenyum menanggapi pertanyaannya.


"Ojo guyu! Jawab aja!"


"Eh anu Mbak Leni ...."


Aku sungguh bingung harus menjawab apa.


Ah kenapa Beliau tidak cepat pergi?


Pulang sana Mbak!


"Anu opo? Kamu itu harus tegas dong! Masa mau digantung."


"Aku gak digantung kok Mbak, lagian talinya pasti putus kalau gantung aku," ucapku sedikit bercanda.


"Eh malah becanda kamu!"


"Maaf Mbak ampun!"


Aku tersenyum sembari mengusap-usap tengkukku yang berbalut jilbab ini.


Dering posel milik Mbak Leni menyelamatkanku dari pertanyaannya, Beliau akhirnya pamit pulang.


Ah selamat aku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#Author apa-apaan kamu di atas? (readers)


#Maaf ya bila tidak berkenan tapi kan begituan juga harus ada ilmunya hihi 🙈🙈🙈(author)

__ADS_1


__ADS_2