Love In Pesantren

Love In Pesantren
Mengunci kamar


__ADS_3

Di tengah kerumunan itu Nimas tertunduk, jiwanya hilang terombang-ambing. Ustadz Zamzam menarik tangannya ke sana kemari, dalam matanya kini telah terselimuti kabut amarah.


Nimas tak berani hanya untuk berkata sakit, Nimas diam.


Kiyai yang notabene ayah dari Hannah mengajak mereka mengobrol di rumahnya.


Nimas menahan sakitnya hati beserta tangannya yang sedari tadi dicengkram kuat oleh sang suami. Ketika tiba di rumah Hannah, cengkraman itu tak kunjung mengendur walaupun tangan Ustadz Zamzam sudah basah berkeringat.


Aliran darah Nimas seakan tersendat, hingga dia merasa kesemutan tepat pada tangan yang dicengkram. Namun Nimas tak berani berkata apapun, dia diam.


Memang tangan itulah yang telah menampar Hannah, jika dengan dihukum seperti ini akan mengurangi dosanya maka Nimas akan pasrah.


Sesaat setelah mereka tiba di rumah itu Ustadz Zamzam berkata, "Pak, Hannah...saya benar-benar minta maaf atas kelancangan istri saya."


"Sebenarnya bukan Ustadz yang harus minta maaf, tapi istri Anda." kata Hannah terdengar angkuh.


Biar bagaimanapun sang Ustadz tahu tabiat istrinya yang hanya akan diam tanpa berkata apabila berbuat salah.


"Mohon maafkan dia, saya akan mendidiknya dengan lebih baik. Kejadian seperti ini tidak akan terulang, sekali lagi saya minta maaf."


Ustadz Zamzam menoleh ke arah Nimas yang bergeming dalam duduknya tak ada pergerakkan apapun. Sang Ustadz mengendurkan cengkramannya saat dirasa pegal pada telapak tangannya.


"Kami maafkan Stadz, lagipula ini hanya salah paham sepertinya," kata Ayah Hannah.


"Sebaiknya segera selesaikan kesalahpahaman ini sebelum berlarut-larut," lanjut ayah Hannah.


Mereka pun mengobrol sebentar, tetapi tidak dengan Nimas. Nimas masih masih mengunci mulutnya, entahlah Nimas bingung harus bersikap seperti apa.


Ketika suasana sudah agak dingin, sang Ustadz berpamitan pulang.


Kini tangannya tak lagi mencengkram Nimas.


Sang Ustadz berjalan lebih dulu diikuti Nimas tepat di belakangnya.


--------------------


Di dalam mobil yang sedang berjalan itu, suasana begitu hening. Sang Ustadz menoleh ke arah Nimas yang masih menunduk tanpa kata sembari memegangi pergelangan tangannya yang ngilu akibat cengkraman sang suami.


Sang Ustadz menepikan mobilnya di sisi jalanan yang agak sepi.


"Kita harus bicara di sini!" ujar Ustadz Zamzam.


Sang Ustadz mematikan mesin mobilnya kemudian memposisikan tubuhnya agar bisa melihat jelas ke arah istrinya.


Dilihatnya tangan Nimas yang tertutupi itu, sang Ustadz meraihnya. Ustadz Zamzam melihat pergelangan tangan sang istri yang memerah karena ulahnya.


Ustadz Zamzam mengusapnya lembut, terbersit rasa bersalah karena menyakiti istrinya sampai seperti itu.


"Neng, kenapa Neng tiba-tiba menyerang Hannah?"


Suara Ustadz Zamzam sudah melunak dibandingkan dengan tadi.


Si Ustadz masih nanya.


Nimas diam.

__ADS_1


"Jawab neng! Kita gak akan pulang sebelum neng jawab."


Seketika itu Nimas menoleh ke arah suaminya.


"Aku mau pulang!"


"Makanya jawab dulu!" Ustadz Zam sengit.


Nimas memalingkan wajahnya lurus ke depan, sungguh dia ingin menjauh dari suaminya, sungguh ingin pergi.


"Lila pasti lagi nangis, dia butuh aku."


"Jawab dulu!"


Kini nada bicara sang Ustadz telah meninggi.


"Kenapa?" Nimas berkata dan menatap sang suami.


"Kenapa Aa bertanya seperti itu? Aa gak rela aku menampar Hannah? Aa dendam? Aa mau balas? Silahkan! Silahkan tampar aku juga!"


Nimas berbicara tanpa jeda, air matanya keluar beriringan dengan setiap kata keluar dari mulutnya.


Sang Ustadz mengernyit mencoba memahami situasi ini.


"Sebentar...jadi maksud Neng di sini, Neng cemburu pada Hannah begitu?"


Yaelah Ustadz pake nanya lagi.


Nimas makin terisak dalam tangisnya.


"Iya tadi rame-rame. Kemarin-kemarin mah berduaan. Aa coba dong pahami perasaanku, Aa lebih sering bertemu Hannah dan ngobrol sama dia. Tapi kita? Kita sudah jarang banget ngobrol. Apa Aa bosen sama aku? Apa Aa mau nambah istri?"


Sang Ustadz menatap lekat Nimas di sampingnya.


"Aku laki-laki, aku bisa menikah lagi kalau aku mau."


Nimas menatap suaminya sengit, "oh jadi sudah ada niat ya A?"


"Itu kalau aku mau, tapi aku tidak mau! Neng dengar! Aku tidak mau." Ustadz Zamzam menekankan setiap kata yang diucapkannya.


Bodo!


"Neng boleh saja cemburu, cemburu itu manusiawi tetapi jangan berlebihan. Cemburu yang berlebihan hanya akan berbuah kehancuran."


"Aa Ustadz bukan sih?"


"Bukan."


Sang Ustadz menjawab tegas.


"Aku hanya manusia biasa yang pasti berbuat salah," lanjut sang Ustadz.


"Harusnya Aa bisa memposisikan bagaimana bila sedang bersama dengan wanita yang bukan mahrom. Aa tahu 'kan hukumnya?"


"Terus salahnya dimana? Kami selalu jaga jarak, kalaupun pergi bersama kami tidak peenah berdua. Itu pun kami bertemu bila ada keperluan saja. Ayolah Neng, kapan kamu dewasanya? Kamu seorang ibu sekarang."

__ADS_1


Nyatanya sang Ustadz memang tidak peka ya Pemirsah.


"Pulang!" Nimas tidak ingin berbicara lagi, saat ini Nimas hanya ingin pulang.


Membiarkan permasalahan yang masih mengambang, sang Ustadz menyerah dan menuruti perkataan Nimas.


Sang Ustadz kembali menjalankan mobilnya.


----------


Setibanya di rumah, sang Ibu terlihat kerepotan menenangkan Khalila yang sedang menangis. Nimas bergegas turun dari mobil dan berlari ke arah ibunya, mengambil Khalila dan membawanya masuk ke dalam kamar lalu menguncinya.


Sang Ustadz menggendong Zamima yang masih berada di teras bersama ibu mertuanya.


"Ada apa?"


Rupanya sang ibu menangkap ada yang tidak beres pada anak-anaknya.


Sang Ustadz membuang napas berat.


"Biasa Bu, salah paham."


Ibu menatap menantunya lekat, mereka kini duduk di kursi yang ada di teras itu.


"Hidup berumah tangga memang tidak selamanya mulus, kalian harus menyelesaikannya baik-baik dengan kepala dingin. Ingat! Kalian bukan hanya berdua, lihatlah kedua anak kalian yang masih kecil."


Sang ibu menatap Zamima yang sedang berada di pangkuan ayahnya.


"Iya Bu, kami akan berusaha memperbaikinya."


Suara Ustadz Zamzam nampak tulus.


-----------------


Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya sang ibu pulang sambil membawa Zamima. Semua itu dilakukan untuk memberi waktu pada anak-anaknya untuk memperbaiki hubungan.


"Maaf Ibu harus melihat kejadian ini."


Nimas berkata saat mereka berpisah sebelum sang ibu berangkat.


"Selesaikan urusan kalian baik-baik." Ibu tersenyum penuh arti.


Selepas kepergian ibu dan Zamima, rumah nampak sepi. Anak yang selalu berisik nyatanya selalu dirindukan bila tidak ada, begitupun Nimas sangat merindukan Zamima meskipun baru beberapa jam mereka terpisah.


------------------


Ketika malam menyapa, dua insan itu masih dalam diam tidak ada permasalahan yang mereka bahas.


Nimas tidur mendekap Khalila merasa harus melindungi sang anak dari kemelut yang sedang membelenggunya. Tidak disangkanya peristiwa yang bertahun-tahun lalu kembali harus dia hadapi.


Sang Ustadz diam di ruang tamu sesekali memijat pangkal hidungnya. Meski sudah malam tetapi dirinya masih belum mengantuk. Sungguh dia ingin berbicara pada sang istri apa yang harus dia lakukan supaya hubungan mereka kembali membaik.


Itu tidak bisa Ustadz Zamzam lakukan karena Nimas mengunci kamar.


Hayo loh Stadz, Nimas ngambek.

__ADS_1


__ADS_2