Love In Pesantren

Love In Pesantren
Musibah


__ADS_3

Haqi melajukan kembali mobilnya, kali ini dia mengurungkan niatnya untuk ke Pesantren. Haqi melewati Pesantren dan berhenti di depan rumah Ustadz Zamzam.


Haqi mengetahui jika Ustadz Zamzam ada di rumah sebab tadi dia sempat menghubunginya terlebih dahulu. Masih dengan kekesalan tingkat tinggi, Haqi memarkirkan mobilnya sembarang kemudian memberi salam setelah sampai di depan pintu.


Tidak perlu menunggu lama pintu pun terbuka.


Ustadz Zamzam mempersilahkan Haqi untuk masuk.


"Tumben diizinin masuk biasanya aku disuruh tunggu di luar. Kamu selalu takut aku nikung Nimas 'kan? Tapi kok sekarang boleh masuk? Apa sekarang aku boleh nikung?" Haqi memberikan candaan yang panjang lebar setelah duduk di sofa ruang tamu.


Ustadz Zamzam yang mendengar celotehan sahabatnya mendelik tajam seraya membawa minuman yang diambilnya dari dapur.


"Sembarangan! Sampai kapanpun Nimas cuma istriku!" tegas Ustadz Zamzam.


"Iya Stadz iya, aku cuma heran aja." kata Haqi.


"Nimas nginep di rumah ibunya sekalian jemput Mima," ucap Ustadz Zamzam.


Haqi membulatkan bibirnya kemudian bertanya, "kenapa gak nemenin?"


"Tadi nganterin doang palingan besok jemput mereka pulang."


Kini Haqi mengerti mengapa dirinya diperbolehkan masuk oleh sang sahabat.


"Eh katanya tadi ada yang mau diomongin?" tanya Ustadz Zamzam.


"Oh itu, sebenarnya tadi aku ketemu Beni."


Haqi kembali nampak gusar kala mengingat pertemuannya dengan Beni.


Ustadz Zamzam membuka toples yang ada di meja, toples yang berisi keripik singkong itu kini mulai berkurang isinya. Ustadz Zamzam mendengarkan seluruh curahan hati Haqi sambil memakan kripiknya.


"Abaikan saja Qi, toh dua hari lagi kamu pemenangnya." Ustadz Zamzam menyemangati sahabatnya yang kini terduduk lesu di sampingnya.


"Stadz maaf, boleh minta kripiknya?" tanya Haqi.


Ustadz Zamzam menyerahkan toples dalam pangkuannya yang hanya tersisa tiga keping kripik di dalamnya.


"Ini mah bukan nyuguhin tamu! Kamu mah mau aku cuciin toplesnya kalau begini."


Haqi berkata sambil memakan kepingan terakhir kripik tersebut. Sementara sang Ustadz tertawa tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Mereka akhirnya larut dalam obrolan hingga Haqi memutuskan untuk menginap di rumah Ustadz Zamzam. Haqi membutuhkan bimbingan dan pengajaran tentang berumah tangga langsung dari ahlinya.


----------------


Berbeda dengan Haqi yang masih bisa berkeliaran, Hulliyah terkurung di rumahnya. Ayah dan ibunya melarang Hulliyah keluar dari rumah walaupun hanya di depan teras. Hulliyah merasa terpenjara lebih daripada saat dia berada di Pesantren. Kejenuhan merayap hingga ke sendi-sendi pengikat raganya.


Hulliyah sangat ingin mendengar suara Haqi, tetapi Haqi seakan menjauhinya. Dia harus apa? Melamun sepanjang waktu?


Hulliyah bergabung di dapur bersama dengan orang-orang yang sedang berkutat dengan bumbu. Walaupun tetap saja Hulliyah banyak menjadi penonton daripada pengeksekusi.

__ADS_1


Di tengah kegiatannya di dapur, Hulliyah dan yang lainnya dikagetkan dengan teriakan yang berasal dari halaman depan.


Mereka yang berada di dapur tergesa-gesa berlari menuju halaman.


Sesampainya di depan rumah, Hulliyah dibuat kaget melihat ayahnya yang berlumuran darah sedang dipapah warga menuju teras. Sang ibu berlari mendekati suaminya.


"Bapak kenapa?" Ribuan air mata berjatuhan dari sudut mata sang ibu.


"Bapak keserempet tadi Bu ... motornya masuk jurang Bu." kata ayah Hulliyah.


"Motor tidak masalah, tapi Bapak keluar darah begini. Kita ke Puskesmas saja ayok!"


"Tidak Bu, ini cuci sebentar juga hilang darahnya. Ini cuma lecet saja." Sang ayah keukeuh.


Hulliyah berjalan perlahan mendekati ayah dan ibunya yang saling mendekap.


"Yah ... kenapa bisa begini?" Hulliyah berucap lirih.


Perhatian semua orang kini tertuju pada Hulliyah. Hulliyah berusaha membangunkan ayahnya, Hulliyah dibantu oleh ibu dan juga orang yang ada di sana. Luka pada bagian tangan sang ayah terlihat lebih parah dibandingkan dengan kakinya yang masih bisa berjakan meski terpincang-pincang.


Hulliyah membantu sang ayah ke kamar mandi, mendudukkan ayahnya itu di kursi plastik yang ibunya berikan. Hulliyah membasuh tiap luka yang ada di tubuh ayahnya dengan hati-hati. Sakit yang dirasa sang ayah ternyata tidak sebanding dengan sakit yang kini dirasa Hulliyah.


Hulliyah seakan tidak bisa menginjakkan kakinya di bumi melihat keadaan sang ayah yang seperti ini. Rasa sesal telah mendiamkan ayahnya kembali menghujam dada Hulliyah.


"Sudah Nak? Terimakasih ...." Sang ayah memberikan senyuman hangat kepada putri kesayangannya yang terlihat menahan gelombang air mata yang siap menggulung dan merangsek keluar.


"Lain kali Ayah hati-hati, jangan sampai seperti ini lagi."


Hulliyah mengobati luka ayahnya dengan sangat hati-hati, tidak lama kemudian ibunya datang menghampiri.


"Kenapa bisa keserempet? Ibu gak ngerti Yah." tanya ibu.


"Ayah gak tahu Bu, itu mobil mepet-mepet motor Ayah sampai di deket jurang mereka seperti sengaja nyenggol motor Ayah."


"Sudahlah Yah! Pokoknya Ayah harus sembuh, waliin aku nikah sekali lagi."


Hulliyah menatap ayahnya penuh harap hingga matanya yang bening itu mulai berkaca-kaca.


Ayahnya Hulliyah mengangguk dan mengusap kepala anaknya dengan sayang, sang ibu sangat bahagia melihatnya. Ternyata benar tentang pepatah habis gelap terbitlah terang.


----------------


Malam harinya di rumah Hulliyah terlihat banyak orang. Diantara mereka ada beberapa tetangga dan juga sanak saudara Hulliyah. Mereka sengaja datang untuk membantu ibunya Hulliyah.


"Kenapa tidak pesan catering saja Li?" tanya salah satu tetangga kepada Hulliyah.


Sebelum Hulliyah sempat menjawab, tiba-tiba salah seorang tetangga berbicara, "ah mungkin suaminya gak mampu kasih uang lebih. Jadi maklumi saja Ibu-Ibu."


Hulliyah hanya tersenyum menanggapi celetukkan tetangganya yang tidak bisa meraba hati orang lain itu.


Hulliyah lebih baik tidak mengambil hati segala ucapan yang tidak baik.

__ADS_1


Ditengah kegiatan itu tiba-tiba kegaduhan kembali terjadi tepatnya dari arah luar dimana tungku api dibuat. Terdengar jeritan yang membuat semua orang terkesiap termasuk Hulliyah. Semua orang berlalu menuju asal suara.


Pemandangan tidak mengenakkan kembali terjadi di depan mata Hulliyah. Sang ibu terlihat kesakitandan menangkup wajahnya. Hulliyah berlari menghampiri.


"Ibu kenapa?" tanya Hulliyah.


"Aw panas Li, sakit Li." rancau sang ibu.


Hulliyah memapah ibunya menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Hulliyah masih belum bertanya lebih lanjut lagi dan membiarkan sang ibu berlama-lama membasuh wajahnya.


Setelah beberapa saat, akhirnya ibunya Hulliyah selesai membasuh wajahnya. Perlahan membalikkan tubuhnya dan kini menghadap ke arah Hulliyah.


Hulliyah sangat terkejut melihat wajah ibunya, wajah cantik itu nampak memerah.


"Ibu kenapa?" tanya Hulliyah.


Harinya sungguh buruk, setelah siang tadi ayahnya yang mendapat musibah, kini ibunya pun terkena hal yang sama.


"Ibu hanya terkena minyak panas Lia," ucap sang ibu.


Hulliyah tidak berkata apapun, tangannya sigap menggandeng sang ibu ke ruang tengah kemudian Hulliyah mengambil salep untuk mengobati wajah ibunya.


Entahlah, kini Hulliyah berpikir apakah semua yang terjadi adalah pertanda buruk?


Apakah Hulliyah harus membatalkan pernikahan yang tinggal menghitung hari itu?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2