
Saat ini aku menunggu dokter yang menangani Mima di dalam sana, sungguh hatiku saat ini sangat tak tenang. Aku takut Tuhaan aku sangat takut.
Fikiran negatif terus berseliweuran tak jelas. Dan di sebelahku, baru aku sadar bahwa sejak tadi A Zam tidak berbicara apa pun.
Akhirnya aku mendekatinya, ku perhatikan wajahnya yang juga terlihat khawatir sama sepertiku.
"A, gimana ini? Apa Mima akan baik-baik saja."
A Zam memejamkan matanya kemudian menatapku, ada yang aneh sama dia tuh.
"Ini semua gara-gara kamu."
Eh apa?
Aku terdiam menelaah perkataan A Zam.
"Bisa ga sih kamu itu bersikap dewasa? Jangan hanya mementingkan diri kamu sendiri! Sekarang ini kamu seorang ibu. Fikirin juga kebaikan anak kamu, jangan sampai keegoisan kamu membuat Mima seperti ini."
Apa ini?
Sungguh saat ini aku butuh sandaran, aku butuh A Zam. Tapi kenapa dia malah menyalahkanku?
Iya aku memang salah iyaa.
Mima maafkan ibu.
"Udah deh jangan nangis, jangan menyesal!! Kamu emang mau kan Mima seperti ini?"
Kenapa begini?
"Mana mungkin aku mau Mima sakit A."
"Haalaaah, liat kan ini hasil perbuatan kamu."
A Zam pun melenggang meninggalkan aku.
Kenapa A Zam begini?
Akhirnya bertambah pilu lah hatiku.
-----------------
Tak lama setelah dokter datang tadi, Mima telah di pindahkan ke ruang khusus anak.
Sampai saat ini aku dan A Zam masih belum saling berkata. Aku sibuk menyusui Mima. A Zam berdiam diri di sofa itu memandang ke arahku, eh bukan dia saat ini tengah memandangi Mima.
Kalaupun pandangan kami bertemu dia memalingkan wajahnya.
Akhirnya setelah sekian lama, aku merasakan kesakitan ini lagi. Aku diacuhkan lagi.
---------------
Hari berganti, terangnya cahaya membias di jendela ruangan ini. Namun tak seterang hatiku. Meskipun Mima sudah membaik dan kami bersiap pulang. Tetap saja A Zam mendiamkanku.
Sefatal ini kesalahanku, tapi apa kamu tahu aku pun ketakutan kemarin.
Ah sudahlah berbicara dalam hati seperti ini memang tak ada gunanya.
Aku kini menungunya dalam mobil sambil memangku Zamima yang tertidur, semburat sesal selalu menghantuiku jika memandangnya seperti ini.
Aku bukan ibu yang baik, tak bisa kubendung air mata ini mengalir lagi.
Saat A Zam kembali, aku menghapus air mata ini. Aku tidak ingin dia melihatku menangis, aku tidak ingin mendengarnya menyalahkanku lagi.
"Sarapan dulu!!"
A Zam membuka cup berisi bubur.
Dia menyuapiku walaupun dengan wajah seriusnya, tak ada senyuman ataupun kata-kata jahil yang biasa dia keluarkan.
Boleh ga sih kalau aku memelototinya saat ini?
Ah tentu aku ga berani.
Lihat deh wajahnya ga cocok banget serius seperti itu, walaupun mengusap sisa bubur di bibirku namun tetap saja wajahnya serius seperti itu tidak banyak bicara.
__ADS_1
Uh sembur jangan nih?
-----------------------
Setelah perjalanan jauh terlewati, kami tiba di rumah ini lagi. A Zam membukakan pintu tanpa bicara, Mima yang sudah terbangun diambil alihnya.
Sementara aku lebih memiih pergi ke dapur memasak mungkin, daripada harus selalu diacuhkan tiap kali ada di dekatnya. Nyebelin ga sih?
Tak lama suara ketukan pintu terdengar nyaring, aku pun memilih membukanya dan ku dapati di sana Pak Anwar seorang guru temannya A Zam, dan satu orang yang kemarin datang ke rumah. Kalau tidak salah namanya Haqi.
Kupersilahkan masuklah mereka.
Sebenarnya aku ragu untuk memberitahu A Zam kalau ada tamu mencarinya, aku takut. Aku benar-benar takut saat ini pada suamiku.
Saat ku buka pintu kamar ku lihat A Zam tengah berbaring sambil memainkan jari lentik Mima.
Ya, bisa ku pahami kemarin malam memang menakutkan bagi kami. Aku tahu A Zam sama takutnya dengan diriku. Jadi ku pahami jika sekarang dia marah padaku.
"Ada Pak Anwar di depan."
Aku takut-takut untuk bicara.
Tanpa bicara A Zam keluar kamar melewatiku begitu saja.
Biarlah seperti ini biarr.
Sayup obrolan mereka terdengar ke dalam kamar.
Ini bisa dikatakan nguping kali yaa.
"Kenapa ga ke sekolah?"
Ku dengar salah seorang bertanya pada A Zam.
"Anakku sakit."
Terdengar helaan nafas kasar di sana.
"Pantesan mukanya kusut begitu."
--------------------
Malam harinya, disaat pasti semua orang telah terlarut dalam mimpinya. Aku di sini masih menggendong Mima yang rewel, benar kata orang kalau anak sedang sakit maka tingkat rewelnya meningkat.
Aku kini merasakannya.
"Sini biar aku gendong."
A Zam muncul tiba-tiba dari dalam kamar, maklum saja kini aku ada di ruang tamu karena tak ingin membangunkan A Zam tadi aku pindah kesini.
"Ga apa-apa Aa tidur aja."
"Emangnya Mima anak kamu aja."
Rasanya tak enak sekali dipanggil kamu sama A Zam.
Kemudian A Zam memakai alat gendongannya dan mulai menggendong Mima.
Eh ko, Mima langsung diam.
Tak perlu waktu lama Mima terlelap.
Ih Mima tuh sekongkol ya sama ayah.
"Udah A, baringkan saja."
A Zam tak mendengarkan ucapanku, yang dia lakukan kini ialah duduk di atas kasur tanpa melepas Mima.
Dia gendong sampai pagi, ck.
Keesokan harinya ibu A Zam datang ke rumah.
Uh pasti deh A Zam bilang-bilang kalau Mima sakit. Bisa ga sih dia bersikap dewasa jangan sedikit-sedikit bilang ibu.
Emang si ini masih termasuk wajar tapi ko aku kesel.
__ADS_1
"Gimana sekarang Mimanya?"
Tanya ibu setelah A Zam berangkat mengajar.
"Semalam rewel banget bu, tapi sekarang malah tidur pules banget."
Ibu kemudian duduk di sampingku.
"Zam pasti marah ya?"
Eh.
"Tenang aja, Zam kalau marah ga nyampe tiga hari ko."
Itu sih lama bu.
"Ibu ko tahu A Zam marah sama aku?"
Ibu tersenyum menatapku.
"Tadi pas pamitan kelihatan banget Nim. Maafkan Zam ya."
Iya sih tadi A Zam tak tersenyum padaku, uuh boleh sedih ga ini?
Ga puas aku, kalau A Zam belum minta maaf langsung.
Akhirnya aku tampilkan senyuman ala-ala ku yang penting ibu diam, hihi.
"Kapan-kapan nginep di rumah ibu yuk!"
Aku masih trauma perjalanan jauh bawa anak gimana dong?
"Tapi Mima ga kuat bu."
"Itu sudah biasa Nim, lagipula pasti kemarin kebetulan Mima mau sakit, jadi bukan karna perjalanan jauh aja."
Mungkin ibu benar.
Aku beruntung memiliki ibu sebagai mertuaku, beliau sangat pengertian berbeda sama anaknya ih.
Kadang A Zam baik plus manis tapi kadang dingin dan pemarah. Aku susah menebaknya.
"Hei, melamun aja. Sini ibu ajari bikin kue kesukaan Zam. Kalau kamu buatin ini pasti dia ga marah lagi."
Kami pun pergi ke dapur, mumpung Mima tidur aku berguru dulu sama ibu hihi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
#Apalah ini? Entahlah, kadang aku juga ga ngerti dengan apa yang ku tulis hihi (author)