Love In Pesantren

Love In Pesantren
Jadi milikku


__ADS_3

Pagi merangkak menuju siang, sang penghulu sudah hadir dengan deadline yang dikejar waktu.


Semua orang mulai kelimpungan dan bertanya-tanya kemana mempelai prianya?


Kenapa belum datang juga?


Apa mungkin macet?


Hei tidak mungkin mereka bisa berjalan kaki menuju rumah Hulliyah, hanya terhalang lima rumah dari sana.


Terus Beni kemana?


Situasi mulai panik ketika sang penghulu berdiri dari duduknya dan menghampiri ayah Hulliyah.


"Bisa disusul dulu mempelainya prianya Pak?"


Bergegas sang ayah menyuruh seseorang untuk pergi ke rumah juragan calon besannya.


Situasi mulai tenang, namun tak menyurutkan bisik-bisik antar sesama tetangga di belakang sana.


"Wah, jangan-jangan Den Beni kabur."


"Kalau benar kabur, Lia pasti malu."


"Eh iya, apalagi bapaknya tuh kemaren sombong banget, aku mah seneng kalau gak jadi. Puas hati pengen lihat muka bapaknya haha."


Hati Hulliyah pun mulai tak karuan, Hulliyah menatap ayah dan ibunya seakan meminta perlindungan. Apalagi gunjingan di belakangnya yang jelas terdengar oleh indera pendengarannya.


Hulliyah tak mengapa jika yang digunjingkan adalah dirinya. Tapi Hulliyah sakit mendengar yang digunjingkan adalah kedua orangtuanya.


Hulliyah melihat ke sekeliling dengan mata sayu, kemana dia harus meminta pertolongan?


Lebih dari apapun, Haqi melihatnya sungguh tak tega. Haqi melihat kegelisahan di wajah Hulliyah.


Oh sungguh ingin sekali Haqi merangkulnya membawa Hulliyah dalam dekapannya, menenangkannya.


Orang-orang mulai kembali berisik setelah melihat orang suruhan ayah Hulliyah datang dengan tergesa-gesa.


Haqi sedikit lega, kemudian dirinya berusaha menghibur diri dengan mengotak-atik ponselnya.


"Apa?"


Ayah Hulliyah berteriak ketika sang pembawa kabar membisikannya sesuatu.


Semua mata tertuju ke arahnya, Ustadz Zamzam beranjak mendekati. Haqi kembali menatap ke arah pusat perhatian semua orang.


Haqi membaca semua raut wajah yang ada di sana. Haqi terenyuh melihat Hulliyah yang menyeka air matanya.


Ada apa sebenarnya?


-----------------------


Ketika sang pembawa kabar berbisik.


"Juragan meminta maaf, pernikahan ini dibatalkan. Den Beni tidak jadi menikahi Lia, dia menitipkan surat ini untuk Lia."


Hulliyah membuka lipatan kertas itu perlahan.


Lia, maafkan aku. Sungguh-sungguh minta maaf, kepada orangtuamu juga. Aku terpaksa harus membatalkan pernikahan kita. Kemarin Karina masuk rumah sakit, karena mencoba bunuh diri. Dia memohon untuk kembali padaku, aku tidak bisa menolaknya, aku masih mencintainya. Aku meminta maaf kepadamu, karena aku mengabarimu saat hari pernikahan kita. Semoga kamu ikhlas, aku doakan semoga kamu menemukan jodoh yang lebih baik dari aku.


Dunia Hulliyah seakan berhenti berputar, air mata tanpa permisi menerobos keluar. Hulliyah melihat ayahnya yang marah-marah sementara sang ibu pingsan.


Oh Hulliyah tak peduli akan dirinya, Hulliyah melihat kesakitan yang mendalam dari wajah seluruh keluarganya. Hulliyah hancur. Ini aib yang sungguh-sungguh tak pernah disangka-sangka.

__ADS_1


Beni, kamu tega mempermalukan keluargaku!


Hulliyah menyeka air matanya, dia tak ingin terlihat lemah. Dia harus kuat menenangkan kedua orangtuanya.


Kegaduhan yang terjadi tiba-tiba hening tatkala salah seorang kerabat mengambil mikrofon dan mulai berbicara.


"Tes! Mohon perhatiannya sebentar! Assalamualaikum ... kami selaku keluarga meminta maaf kepada Bapak Penghulu yang sudah hadir, beserta tamu sekalian. Karena adanya sesuatu hal dengan tepaksa, ternyata pernikahan ini dibatalkan."


Riuh memecah kesunyian, para pemburu gosip mulai bercuap-cuap mendapati berita yang sangat menghebohkan ini.


Haqi berdiri, dia tak tega. Haqi tak rela Hulliyah diperlakukan seperti ini. Oleh karena itu Haqi berjalan mendekati kerumunan itu.


Saat penghulu bersiap pulang, Haqi bicara.


"Saya yang akan menjadi mempelai prianya, saya yang akan menikahi Hulliyah Sypa."


Sontak semua perhatian teralih padanya.


"Haqi?"


Ustadz Zamzam nampak terkejut dengan tindakan sahabatnya tersebut.


"Siapa kamu?"


Ayah Hulliyah menunjukkan nada suara yang tidak bersahabat.


Haqi tersenyum kemudian memperkenalkan diri, "Saya Haqi Khoirulanam, saya meminta izin Bapak untuk menikahi putri Bapak. Saya memang bukan seorang anak juragan, saya juga bukan siapa-siapa. Tapi saya serius ingin menikahi putri Bapak."


Ayah Hulliyah memelototkan kedua matanya penuh amarah bercampur keterkejutan.


"Saya akan menikahi anak Bapak secara sirih, tapi saya akan segera meresmikannya setelah mengabari orang tua saya. Sypa, tolong terima saya menjadi imammu."


Haqi menatap Hulliyah lamat-lamat, sorotnya penuh dengan kemantapan.


Sungguh Hulliyah bingung, jalan cerita macam apa ini author?


"Mau, Lia harus mau!"


Suara sang ibu yang mulai sadar dari pingsannya membuat semua orang terkejut.


Bahkan Hulliyah mengangkat kepalanya kemudian menatap ibunya yang sudah mulai bangun dan berjalan ke arah Hulliyah.


"Nak, ibu restui kamu menikah dengan anak muda ini."


Sang ibu menggenggam tangan Hulliyah, mengusap kepalanya lembut.


"Ini alur yang dipersiapkan Tuhan Lia, Ibu ridho kamu menikah bukan dengan Beni."


"Tapi Bu ...."


Sang ayah hendak membantah dengan suara tegas, namun sang ibu bersikeras.


"Sekali ini saja, Ayah tolong turuti keinginan ibu!"


Sang ayah diam.


Hulliyah menunduk dalam, tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi ini. Ini pasti mimpi! Hanya mimpi.


Hulliyah berharap segera bangun dari tidurnya, Hulliyah ingin segera melupakan mimpinya ini.


Sang ibu menangkup wajah Hulliyah, mengangkatnya perlahan. Hingga kini Hulliyah menatap wajah ibunya yang mulai keriput itu.


Hulliyah menangkap guratan lelah di wajah ibunya tersebut.

__ADS_1


Hulliyah ingin membahagiakan sang ibu, Hulliyah ingin.


"Mau ya nak? Seorang ibu hanya ingin melihat anaknya bahagia. Ibu yakin dengan insting sebagai seorang ibu, ibu yakin dia adalah jodohmu. Hanya saja harus melewati jalan seperti ini. Mau ya?"


Hulliyah sungguh ingin melihat ibunya bahagia, jika dengan menuruti keinginan sang ibu itu adalah jalannya. Baiklah, Hulliyah mengangguk dalam tangkupan sang ibu.


Ibunya pun memeluknya erat, mendoakan dan berharap ini yang terbaik untuk putrinya.


Haqi yang melihat anggukan dari Hulliyah merasa melayang seketika, hatinya memerah penuh cinta.


--------- ---


Setelah drama selesai, akhirnya Haqi lah kini yang menjadi suami dari seorang Hulliyah.


Haqi menyelamatkan Hulliyah dari gunjingan tetangga yang tak tentu arah.


Kini mereka sudah sah menjadi suami istri.


Tak ada pesta yang meriah, setelah ijabkobul selesai. Semua orang pun mengurai meninggalkan lokasi tanpa kata.


Semua ini seperti hantaman bom yang mendadak, ini semua sangat langka terjadi.


Membutuhkan waktu untuk mencerna ini semua.


Apa ini author?


Selesai sholat dzuhur, keluarga berkumpul di ruangan keluarga yang lumayan luas ini.


Ustadz Zamzam setia menemani Haqi di sisinya, menghadapi persidangan ini eh.


"Meskipun kalian sudah sah menjadi suami istri, saya belum mengizinkan kamu tinggal di sini ataupun membawa anak saya sebelum kamu membawa orangtua kamu kemari!"


Sang ayah mulai menunjukkan kekuasaannya.


Haqi mengangkat kepalanya menatap sang mertua, kemudian menatap satu persatu kerabat yang ada di sana.


"Baik Pak, saya pasti akan membawa orangtua saya kesini secepatnya."


"Satu lagi, kamu tidak boleh menyentuh anak saya sebelum perkataan kamu terbukti benar adanya. Sebaiknya kamu pulang sekarang dan jemputlah kedua orangtua kamu!"


Ustadz Zamzam angkat bicara, "tapi dimata agama mereka sudah sah dan sudah halal Pak."


"Sudahlah Stadz, saya bersedia apa pun syaratnya, tapi saya mohon izinkan saya bertemu dengan istri saya sebelum saya pergi."


Haqi pasrah dengan apa yang menjadi keputusan mertuanya.


Hasilnya, sang mertua menyetujui Haqi untuk bertemu Hulliyah hanya setengah jam waktu yang diberikan untuk Haqi berbicara pada Hulliyah.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Next lagi yaa, aku cape ngetiknya hehe


__ADS_2