
Apa ini ya Alloh?
Semua kejadian ini serba mendadak, aku sungguh belum siap menerima ujian ini.
Aku menekuk lututku ku peluk kedua kakiku, menahan sesak seharian ini aku sungguh tak sanggup. Menangis lagi dan lagi, berharap setelah ini hatiku tak akan kacau lagi.
Boleh kan aku meratap sekarang. Aku tertunduk menangis pelan sedikit tertahan.
Bahkan A Zam tidak menanyakan hasil pemeriksaanku tadi siang.
Dia lupa?
Apa dia tidak peduli?
Aku angkat kepalaku dan beranjak mengambil tasku.
Semoga A Zam akan senang jika aku memperlihatkan hasil USG tadi, memperlihatkan calon anaknya.
Semoga.
Aku hapus air mata ini, tanganku sedikit gemetar memegang hasil USG. Membuka pintu kamar pelan, tersungging senyum di bibirku.
Aku berjalan menuju tempat A Zam berada.
A Zam sedang berbicara?
Eh dia sedang menerima telpon?
Tapi siapa yang menelponnya malam-malam begini.
Semakin mendekat semakin jelas pula suara A Zam terdengar oleh indera pendengaranku.
""Maaf Han, saya tidak bisa ke sana. Istri saya sendirian di rumah. Inshaalloh besok saya akan berkunjung kembali..(Hening).. Oh iya Hanna maafkan tadi saya memegangmu, seharusnya saya berjauhan karena kita bukan muhrim. Maafkan saya, saya sudah berdosa.. (Hening)""
A Zam tertawa?
Apa dia bahagia telponan sama wanita itu?
Seketika tubuhku terasa lemas, tanganku meremas kertas di tanganku. Berjalan lagi aku kembali ke dalam kamar. Kaki ini seakan tak terasa saat aku pijakkan.
Setelah aku tutup pintu kamar ini, aku terduduk dan air mata yang sudah kering tadi mengalir lagi.
Jujur aku kecewa saat ini, aku tak sanggup aku lelah.
Kenapa A, kenapa kamu meminta maaf pada wanita itu?
Tapi kamu tidak meminta maaf padaku kenapa?
Aku sakit saat ini Tuhaaaaaaan.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.
Tentu itu jeritan hatiku, sesenggukan aku kini mengiringi seseorang yang tengah asik bertelpon ria. Asik tertawa sementara aku di sini, oh sungguh mengenaskan.
-----------------------------
Hari ini aku memutuskan tidak mengajar, karena kepalaku yang bisa tiba-tiba berat.
A Zam berangkat pagi sekali, kami bahkan tidak bertegur sapa.
Salah..
Apa yang salah?
Aku yang salah, iya aku yang salah karena aku terlalu berharap pada A Zam seorang Ustadz yang banyak di sukai orang.
Tapi apakah aku salah ingin di perhatikannya?
"Assalamualaikum.."
Eh siapa itu?
Jarang sekali ada tamu ke rumahku.
"Waalaikumussalam."
__ADS_1
Suaraku agak serak kini.
Saat kubuka pintu aku tercengang melihat ibu mertuaku di sana.
Segera ku raih tangannya, eh kok ibu menarikku dan memelukku.
"Maafkan ibuu Nimas, maafkan ibuu."
Ibu kenapa sii?
"Ada apa bu, apa ada yang terjadi pada ibu?"
Aku khawatir mendapati ibu mertuaku yang tiba-tiba datang dan menangis.
Aku membawa ibu ke dalam dan mendudukkannya di kursi. Setelah mengambil air minum dan melihat ibu sudah agak tenang, barulah aku bertanya.
"Ada apa bu?"
Eh ko nangis lagi.
"Nimas maafkan ibu, maafkan anak ibu."
Semakin tak mengerti aku tuh.
"Ibu kecewa sama Zam, semalam Sofia menelpon ibu dan menceritakan semuanya."
Ah pasti Rista cerita sama Sofia dan Hulli deh. Drama rumah tanggaku begini amat ya.
"Sekarang mana Zamnya?"
"Lagi ngajar bu."
" Ibu tadi ke Mts tapi Zam ga ada. Kata guru yang lain dia sudah pulang setengah hari."
Deg.
Pasti A Zam ke rumah sakit, mendadak hatiku perih lagi.
"Ibu tunggu saja mungkin sebentar lagi pulang."
"Iya ibu tunggu, iiii calon cucu ibu sudah keliatan sekarang."
Tangan ibu mengelus perutku kemudian bercerita bagaimana pengalamannya dulu sewaktu mengandung A Zam.
Terus merembet cerita hal yang lucu, mampu membuatku tertawa memang ibu ini the best.
----------------------------
Pukul 9 malam, A Zam baru pulang.
Pintu memang terbuka karena aku dan ibu masih mengobrol seakan tak bosan aku mendengar ceritanya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam, baru pulang Zam?"
A Zam kaget melihat ibunya di sana menghadangnya dengan kata-kata sinis.
"Ibu.. Ko ga ngabarin mau kesini."
Tanpa babibu ibu bangkit dari duduknya dan yang membuatku kaget tak percaya ibu melayangkan tangannya menampar anaknya. Jelas itu sakit, suaranya saja nyaring begitu.
Aku menutup mulutku tak kusangka ibu tadi ngobrol denganku masih baik-baik saja berkata lembut seperti biasa.
Tapi kini dihadapanku, ibu menampar A Zam. Aku ikut merasa perih melihat suamiku di perlakukan begitu meskipun itu oleh ibunya sendiri.
Kini A Zam bersimpuh, tak ada kalimat yang keluar dari mulutnya.
Aku mendekat, memegang pundaknya dan ikut duduk di sebelahnya yang kini tertunduk dalam.
"Kamu apakan istrimu !!"
Sungguh ibu berteriak kini aku kaget.
A Zam diam.
__ADS_1
"Kalau saja Sofia tidak memberitahu ibu, kamu pasti akan lebih menyakiti Nimas."
Masih diam, suamiku diam.
"Ibu malu punya anak sepertimu, bersikap kekanakkan. Bukankah orang-orang memanggilmu Ustadz. Harusnya kamu malu dengan gelar yang mereka berikan."
"Kamu tidak ingat, bagaimana kamu meminta ibu untuk meminta Nimas kepada orang tuanya. Kamu suami tidak bertanggung jawab."
Ibu terengah-engah mengeluarkan kekecewaannya pada A Zam.
"Bu.."
Satu kata dariku mampu membuat ibu diam. Kemudian beranjak mengajakku ke kamar.
"Biarkan dia Nimas, kita ke kamar !!"
Aku mengusap pelan pelan kepala A Zam, kemudian mengikuti ibu ke kamar.
A Zam masih belum beranjak masih menunduk tak bergerak hanya untuk bernafas tak kulihat.
"Sini Nim, kita tidur."
"Tapi A Zam?"
"Biarkan dia, ibu sedang menghukumnya."
"Tapi bu, aku tidak apa-apa. Jangan perlakukan A Zam seperti itu buu."
Ibu tersenyum mengusap kepalaku.
"Tidak salah Zam memilihmu sebagai istri. Biarkan dia menyadari kesalahannya."
Aku pun mengikuti keinginan ibu dan tertidur bersamanya.
Sebelum mata ini benar-benar terpejam , ibu kembali berbicara.
"Nimas, apa kamu tidak ngidam?"
"Alhamdulillah bu, tidak."
Ibu menatapku.
"Mulai saat ini siksa Zam. Minta apa saja yang kamu mau. Ibu mau kamu repotkan dia."
Aihh ada yaa ibu yang seperti ini. Kocak ibu mertuaku emang. haha.
Tuh kan aku bisa ketawa lagi.
"Terimakasih ibu."
Ucapku lirih merasa bahagia di cintai ibu mertuaku itu hal paling luar biasa.
Ibu menyunggingkan senyuman kemudian mengecup kepalaku, indah.
Kini aku tahu sifat manis A Zam menurun dari ibunya.
Eh A Zam.
Apa dia sudah tidur?
Pukul 3 pagi aku terbangun, kulihat ibu tertidur lelap.
Perlahan aku turun dari tempat tidur.
Lampu ruang tamu tidak di matikan. Kulihat A Zam masih tidak merubah posisinya dari semalam.
Apakah A Zam tidak bergerak dari semalam. Langkahku mendekatinya, ku tutup pintu yang semalaman tidak tertutup.
Aku berjongkok mendekati suamiku.
"A Zam.. A."
Satu gerakan A Zam memelukku membuatku terkesiap kaget.
#Waktunya pembalasaaaaan wkwk ( author)
__ADS_1
#Ssstt (Nimas)