Love In Pesantren

Love In Pesantren
Cinta nomor tiga


__ADS_3

Malam semakin larut, di luar hujan masih mengguyur dengan lebatnya.Nimas sudah tertidur dengan lelapnya, sementara sang Ustadz masih terjaga karena tadi ada panggilan masuk ke ponselnya membuatnya harus bangun.


Di tatapnya wajah sang istri, tangannya terangkat menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya.


Senyum tak pernah luntur dari sudut bibirnya. Sungguh Ustadz Zamzam bersyukur masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.


Sang Ustadz bersyukur dikelilingi orang-orang yang bisa mengingatkan saat dirinya khilaf.


Sesaat kemudian gelegarr petir yang sangat keras mengagetkannya.


Nimas pun terbangun karena suara petir itu.


"Neng kaget ya, mau minum?"


Tanya Ustadz yang melihat istrinya terbangun. Nimas mengangguk, sang Ustadz pun ke dapur.


Dan klep GELAP.


Listrik padam sepertinya. Nimas kaget melihat seisi kamar gelap gulita.


Tak lama sang Ustadz datang membawa gelas air.


"Aa."


"Iya neng ini Aa."


"Gelap."


Nimas berkata pelan sambil mencari posisi sang suami.


"Ayah punya senter ga atau lilin? Aa tanya dulu ya."


"Enggak usah, Aa sini aja."


Nimas takut yaaaa.


Sang Ustadz pun meraba-raba untuk berjalan mendekati Nimas, untungnya cahaya kilat di luar jendela sedikit membantu dirinya.


Awas Stadz kesandung haha.


"Minum dulu neng."


Sesaat setelah dirinya tiba disamping istrinya.


"Ponsel neng mana?"


"Lupa naro."


Isshh author kesindir ini, suka kehilangan hp lupa naro he.


"Ponselku mati lagi."


Mau marah ke Nimas ga jadi yaaa?


Sang Ustadz naik ke tempat tidur tepatnya di sisi sebelah kanan Nimas.


Mereka saling terdiam.


Ngomong woi ngomong.


JEDDORRRRRRRRRR.......


Petir menggelegar kembali, Nimas berjengkit kaget. Sang Ustadz pun memeluknya.


Yah yaaah kesempatan dalam kesempitan ini mah namanya Stadz.


Ustadz masih memeluk Nimas, membawa jiwa Nimas tentram seketika.


"Neng, kepala sekolah Mts nelpon."


"Lalu?"


"Aku kembali besok. Neng gimana?"


Diam.


"Seandainya Neng belum kuat disini aja dulu, apa ikut Aa?"

__ADS_1


Diam lagi.


"Neng."


"Apa aku masih boleh ikut Aa?"


Sang Ustadz diam, lalu melepas pelukannya.


Ustadz menatap wajah Nimas dalam kegelapan, hanya sesekali kilat memberi cahaya pada mereka.


"Tentu, neng kan istriku."


"Apa Aa akan mengusirku lagi?"


Seperti menerima tamparan keras, kalimat yang diucapkan Nimas begitu sakit untuk di dengar.


Sang Ustadz pun memeluk lagi Nimas.


"Maafkan kekhilafan ku. Maafkan aku." Kata sang Ustadz sambil mengusap-usap punggung Nimas dan mengecupi kepala istrinya tersebut.


----------------------------


Esok harinya Nimas memutuskan untuk ikut Ustadz Zamzam. Kini mereka sedang dalam perjalanan.


Tidak ada obrolan selama perjalanan karena sejak berangkat, Nimas tertidur bahkan waktu sang Ustadz beristirahat sejenak Nimas tidak bangun.


Mungkin itu efek karena Nimas masih kurang sehat.


Ustadz Zamzam fokus menyetir sambil sesekali melihat ke arah istrinya yang masih saja terlelap.


Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah. Sang Ustadz turun terlebih dahulu dan membuka pintu rumah. Dia tidak berniat membangunkan Nimas.


Mungkin dia mau mewujudkan mimpinya untuk adegan gendong-menggendong haha.


Benar saja, setelah membuka pintu rumah Ustadz Zamzam berlari dan membuka pintu mobilnya lalu mengangkat tubuh istrinya.


Di tengah aksinya, Nimas terbangun. Dia kaget dan hampir saja jatuh untung sang Ustadz mampu menyeimbangkan kembali tubuhnya.


"Turun A !! Aku mau turun."


Biarin aja Nim, kan enak di gendong haha.


"Aku ga mau ke kamar, udah kenyang tidurnya."


Ustadz pun menuruti Nimas dia berbelok ke kursi meja makan.


"Ko disini?"


"Tidurnya udah kenyang, tapi perutnya pasti lapar. Sebentar aku ambil makanan di mobil, tadi beli di jalan."


Nimas membuang mukanya. Biar bagaimana pun Nimas tidak mudah memaafkan suaminya itu.


Kerjain aja Nim.


Sang Ustadz tersenyum dengan tingkah istrinya. Tak ada rasa kecewa atau apapun. Sungguh dia mengerti mengapa istrinya itu bersikap seperti itu.


Nyadar diri kamu Stadz.


Mereka pun akhirnya makan dengan tenang tidak ada percakapan apa pun. Terlebih Nimas yang menunjukkan wajah tak bersahabat.


Dalam fikirannya, untuk sekali ini ya Alloh ampuni hamba.


-------------------------------


Siang itu Nimas tengah menonton televisi sambil ngemil kripik singkong kesukaannya. Nimas belum mulai mengajar lagi karena sang suami selalu melarangnya. Nimas pun kini dengan kegiatan barunya seminggu ini, yakni bermalas-malasan sambil ngemil.


Di luar rumah terdengar riuh keributan, Nimas pun menyempatkan untuk mengintip.


Ah itu ternyata murid-muridnya datang bersama mama-mamanya.


"Assalamualaikum."


Nimas pun membuka pintu.


"Waalaikumussalam, eeeh pada kesini mari masuk semua."


"Disini aja bu guru, gak akan muat kami banyak, mending di teras aja kita sambil ngerujak."

__ADS_1


Kata salah satu mama di sana sambil menunjukkan kantong kresek yang dibawanya, terlihat buah-buahan di sana.


Authooor mauuuu.


Akhirnya mereka pun kumpul di teras, ada yang mengupas buah dan memotongnya jadi beberapa bagian ada yang ngulek sambel rujaknya dan ada pula yang lihat saja nunggu beres dan pastinya sambil bergosip.


"Selamat ya bu guru udah ngisi."


Nimas mengangguk seraya tersenyum, "bu guru sakit karena ngidam ya?"


"Ah tidak bu, kemarin saya hanya kurang darah."


"Ih beruntungnya gak ngalamin muntah-muntah?"


Nimas menggeleng.


"Bu guru ngidam ga?"


Eh itu ibu-ibu mirip wartawan gosip deh, segala ditanyain udah tahu disebarin ckck.


Nimas menggeleng, ibu-ibu itu langsung heboh menceritakan pengalaman masing-masing.


Yang Nimas tangkap dari obrolan itu ialah suami akan mengabulkan keinginan istrinya yang lagi ngidam.


Timbullah di benak Nimas untuk mengerjai suaminya.


Bagus Nim, aku mendukungmu hihi.


-------------


Malam pun tiba, sejak tadi Nimas memainkan ponselnya membaca grup sekolahnya tak sadar dia senyum-senyum sadar sejak tadi pula sang suami memperhatikan.


"Neng."


Ga ada sahutan.


"Neng."


Wah volumenya nambah tuh.


"Iya."


"Jangan maen hp terus !! Orang hamil itu harus sering baca alquran, bukannya maen hp!!"


Wah no komen ah, jiwa Ustadznya keluar.


Nimas diam, Ustadz Zamzam pun merebut hp Nimas dan menyimpannya di lemari.


"Aa emang ga cinta sama aku."


Loh tiba-tiba Nimas ngomong cinta pemirsa.


Ustadz Zamzam menatapnya dalam.


"Cinta itu nomor tiga neng."


"Tau ah, males ngomong sama Aa."


Nimas melempar bantal tepat ke badan suaminya.


Nimas jadi ganas yaa, mungkin pengaruh kehamilan kali.


Sang Ustadz hanya mengurut dada, tidak mau lebih dalam terpancing emosi dia memilih beristighfar.


Sang Ustadz mulai naik ke tempat tidur.


"Aa tidur di luar aja."


Hah.


Ustadz Zamzam melongo mendengar ucapan Nimas.


"Cepet sana!!"


Ustadz Zamzam pun mengikuti kemauan Nimas. Tapi sesungguhnya dalam hati dia ngomong andai saja enggak lagi hamil gue terkam lu.


Maaf bila salah ya Stadz haha.

__ADS_1


#Nimas jadi galak loh (author)


__ADS_2