Love In Pesantren

Love In Pesantren
On The Way Bulan


__ADS_3

Baru tadi pagi Farrel berpamitan, sore ini Sofia sudah merindukannya. Padahal semalam dia yakin sekali kalau dirinya bisa menyembunyikan perasaan rindunya.


Tapi nyatanya hati membohongi akal, hatinya meronta untuk bisa mendengar suara Farrel.


Untuk itu, Sofia kini duduk sambil memegang ponselnya. Ingin sekali dia membalas setiap pesan yang masuk dari Farrel, tapi akalnya melarang.


Coba deh akalnya simpen dulu Sof.


Dibolak-baliknya ponsel itu, hingga dia terlonjak kala ponsel itu berdering.


Tak butuh waktu lama, Sofia mengangkatnya.


Nungguin ya?


Wajah Sofia panas seketika.


"Waalaikumussalam."


Sofia mencoba tenang dengan tidak menghiraukan godaan Farrel.


Assalamualaikum.


"Kamu harus biasain, ngucap salam Rel."


Farrel tergelak di balik telpon itu.


"Malah ketawa?"


Sofia mencebik kesal.


Iya, iya. Eh gimana udah kangen belum?


"Apa sii kamu? Udah ah aku mau buat kaligrafi."


Setelah memberi salam, Sofia mematikan sambungan telpon itu. Sofia tersenyum-senyum memeluk ponselnya.


Eh eh eh, Sofia kenapa?


---------------


Kegelapan malam menyelimuti hati yang sendiri, berpendar cahaya nan jauh untuk di gapai.


Sofia hampa, belum pernah sehampa ini. Sebelum matanya benar-benar terpejam, mata itu selalu terlukis indah di ingatannya.


Apakah benar kisahnya akan sama dengan cerita cinta yang lain? Hmmm.


Tak ingin terlarut Sofi bangkit menepuk-nepuk pipinya.


Sebenarnya apa sii yang aku takutkan?


Lah dia nanya siapa?


Sofia menjatuhkan diri di kasur itu, sungguh ada sesuatu yang terus mengganjal fikirannya.


Tinggal terima Farrel ko repot, dasar novel.


Eh.


---------------


Hampir seminggu Sofia ditinggal Farrel. Sofia banyak menghabiskan waktu di luar rumah guna mengusir rasa rindu yang siap merayap merasuki hatinya yang butuh pelampiasan.


Kini Sofia berada di Pesantren, Sofia ikut mengajar Tk seperti dulu bersama Hulliyah yang baru pulang dari kampung.


Meskipun jarak rumahnya dan Pesantren terbilang lumayan jauh, Sofia rela hanya untuk kembali ke almamaternya.


Farrel yang setiap jam menghubunginya pun tak melarang Sofia pergi ke Pesantren.


Ah sepertinya Farrel benar-benar luluh pada Sofi.


Seusai mengajar Sofia bersama Hulliyah membereskan kelas yang semrawut karena ulah anak-anak Tk.


"Kalau begini, jadi inget masa lalu ya Sof."


Disela membereskan mainan anak-anak, Hulliyah berbicara.


"Huum Li, aku kangen masa-masa itu. Aku kangen liat kalian rebutan Ustadz Zamzam."


Sofia tergelak pelan.

__ADS_1


"Eh iyaa Sof, secara dulu dia tuh Ustadz termanis kan ya."


Sofia mengangguk sambil terkekeh.


"Tapi cuma kamu yang ga kegoda Sof."


Sofia berbalik ke arah Hulliyah.


"Aku kan udah taaruf dulu sama dia, jadi aku santai aja."


Sofia tertawa sambil geleng-geleng kepala.


Sementara Hulliyah mendadak diam dan memperhatikan Sofia.


"Soof."


Lirih Hulliyah berucap.


Sofia menghentikan tawanya dan melirik ke arah Hulliyah yang menatapnya dengan iba.


"Ih kamu kenapa Li? Jelek tahu."


Nyatanya ledekan Sofia tak mampu membuat Hulliyah berhenti menatapnya.


"Hulli ih, aku takut!"


Sofia mencoba menggoda lagi.


Hulliyah dengan tiba-tiba datang pada Sofia dan memeluknya.


"Kamu kuat banget sii Sof."


Berkaca-kacalah mata Hulliyah.


Sofia sedikit kaget dengan perbuatan Hulliyah, namun membiarkannya tetap begitu.


"Semoga kamu berbahagia selalu Sofi."


Hulliyah melepas pelukannya dan masih memandangi sahabatnya tersebut.


"Pasti lah, aku emang selalu bahagia. Eh bentar lagi aku mau on the way ke bulan, saking bahagianya."


"Ke bulan?"


Sofia mengangguk, "Kamu jangan nangis yaa, kalau aku udah ke bulan. Karena harus kamu tahu, aku selalu ada di hati kalian."


Eh ko seperti kalimat perpisahan begini?


Apa mungkin Sofia ke bulan hihi.


-------


Sudah menjadi kebiasaan ditiap malam, Farrel menyempatkan diri untuk menelpon Sofia.


Walau kadang panggilan telponnya diacuhkan begitu saja oleh Sofia. Tapi Farrel tidak pernah marah, Farrel menjelma jadi orang penyabar dan penyayang.


Apalagi seminggu ini tak bertemu Sofia membuatnya merasakan apa arti sebuah rindu pada seorang istri.


Sofia yang mengobati luka-luka dalam hatinya, Sofia pula yang tiba-tiba menuntunnya ketika dirinya benar-benar tertatih mencari perlindungan.


Oh apakah menjadi suami bagi Sofia saja cukup untuk membahagiakannya?


Farrel tidak pernah merasa menyayangi seseorang yang dimulai dari kebencian, Farrel rela menelan semua perkataannya dahulu.


Farrel mencoba memperbaiki semuanya, bersama Sofia melewati kehidupan mungkin akan sangat menyenangkan.


Farrel seakan lupa bahwa ada Rani yang kini masih berposisi sebagai kekasihnya.


Untuk itu malam ini, Farrel pulang namun tidak langsung ke rumahnya. Farrel memilih menemui Rani sang kekasih.


Setibanya di gerbang sebuah rumah megah, Farrel menghela nafas kasar. Dirinya harus segera menyelesaikan urusan dengan Rani melalui ayahnya yang merupakan anggota TNI.


Karena dulu ketika Farrel meminta Rani untuk menjadi kekasihnya, sang ayah dari gadis itu pula yang merestui.


Maka dengan keteguhan yang sangat kuat, Farrel memencet bel di rumah itu beberapa kali.


------------


"APA?! KAMU KIRA ANAK SAYA BARANG."

__ADS_1


Teriakan sang ayah yang murka langsung meneror gendang telinga Farrel.


"Maafkan saya Om, saya benar-benar tidak bisa bersama dengan Rani lagi."


"Saya tidak terima! Dulu saja kamu minta-minta anak saya, sekarang kamu injak-injak begini. Kamu sudah punya yang baru heuh?"


Masih dengan emosi tingkat tinggi, ayahnya Rani mengatur nafasnya yang tertahan karena amarah.


"Maafkan saya Om, tapi saya sudah punya istri."


"Apa?!"


Mata sang ayah melotot dengan letupan emosi tak tertahan.


"Pergi kamu dari sini! Anak kurang ajar."


Sang ayah menyeret Farrel dan menghempaskan tubuh Farrel ketika sampai di pintu keluar.


"Pa ...."


Rani berusaha menghampiri Farrel yang tengah mencoba bangun itu, namun sang ayah mencengkram lengannya kuat.


"Apa kamu tidak tahu? Si kurang ajar ini mencampakkan kamu."


Rani dibuat bergeming di posisinya. Karena sejak tadi dirinya berada di kamar dan tidak mengetahui kedatangan Farrel.


Saat dirinya keluar kamar dia mendapati sang ayah yang sedang mendorong Farrel.


"Benarkah itu Rel? Kamu mau ninggalin aku?"


Air mata mulai meluncur bak air terjun yang deras.


"Maafkan aku Ran"


"Tapi aku ga mau Farrel Altofh!"


Rani mulai histeris.


"Kamu harus bisa, assalamualaikum."


Farrel pergi dari rumah itu diiringi teriakan tak rela dari Rani, dan umpatan marah dari ayah Rani yang sedari tadi memegangi putrinya supaya tidak mengejar Farrel.


Setelah mengurus urusannya dengan Rani, Farrel merasa sedikit lega dan bertekad untuk belajar hidup dengan baik bersama Sofia.


----.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hmmm, memasuki kejutan yang aku maksud nih. Ada beberapa dari komentar kalian yang bikin aku terharu. Terimakasih semua yang sudah rela membuang waktunya demi cerita ini.


Akhir kata saya Rf, sampai jumpa di episode selanjutnya.


#Ini author minta diseret nih (Ayah Rani)

__ADS_1


#Ampun Om, saya belum kaya jangan seret saya (author)


__ADS_2