Love In Pesantren

Love In Pesantren
Nafkah


__ADS_3

Keesokan paginya, Hulliyah bersama Bu Salamah pergi ke pasar. Setelah sholat subuh, mereka berangkat sambil berjalan kaki. Karena jarak rumah dan pasar lumayan dekat, mereka memanfaatkan kaki mereka sekalian berolahraga.


Hulliyah yang semalam tidak sempat membawa baju ganti, terpaksa memakai celana training milik Haqi yang terlihat kebesaran saat dia gunakan.


Atasannya pun memakai kaos Haqi yang sangat kedodoran kala dikenakan olehnya.


Berjalan saat cahaya masih remang-remang membuatnya tak terlalu risih, terlebih tidak terlalu banyak berpapasan dengan orang.


"Sypa bisa bikin karedok leunca?" tanya Bu Salamah.


"Bisa, tapi gak terlalu." Hulliyah nampak tak yakin dengan jawabannya sendiri.


"Ummi nanya karena Haqi suka banget karedok leunca, dulu ... waktu Ummi sama Abi belum pindah ke Palembang, tiap hari Haqi makannya pake karedok leunca ckck."


Bu Salamah mengingat masa lalu anaknya sambil menggelengkan kepalanya.


Hulliyah tersenyum dan mencatat hal penting tentang kesukaan suaminya itu dalam hati.


Hulliyah akan mulai mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan Haqi sedikit demi sedikit.


----------------------


Waktu bergulir menjadi siang, sepulang dari pasar tadi Bu Salamah kembali mengajak Hulliyah memasak. Sepertinya Bu Salamah memang sengaja untuk lebih mendekatkan diri dengan menantunya tersebut.


Bu Salamah banyak mengajak Hulliyah untuk mengobrol, sehingga Hulliyah yang pendiam terbawa arus sang mertua yang banyak bicara. Banyak hal mereka bicarakan sewaktu memasak, bahkan sesekali tawa terdengar disela obrolan mereka.


Haqi selalu menyunggingkan senyum kala mendengar dua wanita itu tertawa. Seakan tidak ingin mengganggu, Haqi memilih berdiam diri di ruang tengah menemani sang ayah yang sedang menikmati kopi pagi.


"Abi ... Kak Haqi, makanannya sudah siap!"


Suara Hulliyah mengalihkan perhatian ayah dan anak yang masih terlarut dalam obrolan kecilnya.


Sarapan yang paling berkesan dalam kehidupan Hulliyah, dimana dirinya merasa mempunyai keluarga baru.


"Keluarga di Palembang sedang menunggu kabar dari kita tentang kapan hari pernikahan akan dilangsungkan."


Pak Darmono memulai percakapan serius di pagi itu.


"Masih belum tentu juga 'kan Bi ...." Bu Salamah menghembuskan napasnya berat.


Hulliyah menikmati sarapannya dalam diam, ada rasa tidak enak hati karena dirinya teringat kekerasan hati ayahnya.


Rupanya Haqi menangkap itu semua dari wajah Hulliyah. Melihat sang istri kembali murung membuatnya harus menunda pembicaraan ini.


"Nanti kita bicarakan lagi, sekarang kita sarapan saja dulu," kata Haqi.


Mereka pun sarapan dengan tenang tanpa percakapan, hanya denting sendok yang berbenturan dengan piring sesekali terdengar.


-----------------------


Sore harinya di rumah itu, Hulliyah tengah berada di dalam kamar. Hulliyah bermaksud untuk bersiap pulang ke Pesantren. Hulliyah mencari gamis yang kemarin digunakan olehnya, tetapi belum juga ketemu.


Saat Hulliyah kelimpungan, pintu kamarpun terbuka. Nampak Haqi masuk ke dalam kamar dan melihat Hulliyah yang sedang kebingungan.


"Sypa sedang apa?" tanya Haqi sambil mendudukkan dirinya di tempat tidur.


"Ini Kak, aku nyari gamis punyaku kok gak ada?"


"Mungkin dicuci sama Ummi."


Hulliyah sedikit terkejut, biar bagaimanapun ini pertemuan pertama dengan mertuanya. Hulliyah merasa tidak memberikan kesan yang baik di mata mertua.


"Mau kemana?" tanya Haqi ketika melihat Hulliyah berjalan ke pintu kamar.

__ADS_1


"Aku mau nanya Ummi, duh kok pake dicuciin segala si. Aku kan gak enak."


Haqi berdiri menghampiri Hulliyah, "urusan gamisnya nanti saja dulu. Aku mau bicara sebentar."


Hulliyah mengerutkan keningnya dalam, namun tidak melontarkan kata apapun. Hulliyah mengikuti langkah sang suami kala menuntunnya duduk di atas karpet yang ada di kamar itu.


Mereka duduk saling berhadapan, memandang satu sama lain sebelum memulai pembicaraan.


"Aku bermaksud membawa Sypa untuk tinggal di sini, apa Sypa tidak keberatan?"


Hulliyah keheranan mendengar penuturan Haqi.


"Sampai kapan?"


"Selamanya."


Haqi berucap dengan mantap, tetapi dalam hatinya sedang berharap-harap cemas akan respon dari Hulliyah.


"Sebenarnya sudah kewajiban aku sebagai seorang istri untuk mengikuti kemanapun Kakak pergi, tapi ...."


"Aku tahu! Pasti masalahnya restu Bapak 'kan?" Haqi menyela ucapan Hulliyah dengan cepat.


Hulliyah hanya mampu mengangguk.


"Aku sudah pikirkan ini dijauh hari, aku memutuskan tidak mengizinkan Sypa kembali ke Pesantren!" kata Haqi.


"Tapi Kak ...." Lagi-lagi ucapan Hulliyah terpotong.


"Aku tidak menerima bantahan!"


Hulliyah sedikit kaget dengan sikap Haqi, hal yang membuatnya berada dalam situasi sulit. Hulliyah ingin mematuhi Haqi tetapi untuk melanggar sang ayah, Hulliyah masih belum mempunyai keberanian.


"Bukankah seorang wanita yang sudah menikah itu kewajiban terbesarnya adalah kepada suaminya? Orang tua sudah lepas tanggung jawabnya terhadap dirimu."


Lalu apakah Hulliyah akan menurut?


"Semoga dengan cara ini Bapak segera merestui kita. Jadi, aku harap Sypa menerimanya."


Hulliyah menatap Haqi dengan kebimbangan, tetapi keyakinan kuat terhadap norma agama membuatnya mengangguk.


Hulliyah mengiyakan keinginan sang suami, berharap sang ayah akan luluh dengan cara seperti ini.


"Alhamdulillah ...."


Tanpa aba-aba Haqi mengecup pelipis Hulliyah.


Rasa bahagia namun belum lega merekah di hatinya. Hasrat ingin memiliki Hulliyah seutuhnya begitu besar sehingga Haqi memilih jalan seperti ini.


Satu ketukan pintu, membuyarkan kehangatan yang baru saja akan dimulai. Belum sempat berbuat apa-apa, suara sang ibu mengganggu pengantin yang terlupakan ini.


Haqi bangkit dan dengan malasnya membuka pintu.


"Lagi pada ngapain si? Dari tadi ngurung diri dalam kamar?"


Pertanyaan polos penuh ledekan dilontarkan sang ibu.


"Cuma ngobrol," ucap Haqi.


"Yah ... yah, Ummi kira lagi bikin cucu."


Haqi mendelik menatap ibunya dengan kesal.


"Ummi kalau ngomong jangan sembarangan!"

__ADS_1


Sang ibu tertawa, "Habisnya kamu, lama-lama di kamar harusnya kangen-kangenan. Ini mah apa? Ngobrol doang di luar juga bisa."


"Kalau Ummi gak ganggu, mungkin kami sedang melakukan itu." Haqi kesal kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar.


Sang ibu menganga tak percaya kemudian tertawa kecil. Sementara Hulliyah yang tadi sempat melotot karena penuturan Haqi, kini merona karena malu terlebih Bu Salamah tertawa penuh dengan godaan.


---------------------------


Hari ini tepat seminggu Hulliyah diculik oleh Haqi. Hulliyah makin akrab dengan kedua mertuanya. Haqi pun bahagia merasakan hidup bersama dengan sang istri. Haqi bersemangat pulang bekerja karena ada Hulliyah yang menantinya di rumah.


Seminggu ini banyak kemajuan dalam kehidupan mereka. Haqi memberikan nafkah lahir dan batin kepada Hulliyah.


Mereka hidup dalam nikmatnya cinta suami istri, meski kadang Bu Salamah sesekali menggoda mereka berdua.


Merasakan bahagia yang mungkin saja akan berakhir, karena perputaran poros kehidupan yang kadang bahagia dan kadang bersedih. Hanya bergantung pada Sang Ilahi hidup kita penuh syukur dan keberkahan.


Tidak terlena saat bahagia dan tidak terpuruk saat bersedih.


Namun hari ini kesedihan akan segera muncul dalam kehidupan Haqi dan Hulliyah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum ... aku datang lagi. Maaf yaa lama menanti update dariku (dih siapa yang nungguin).


Aku lagi ada sedikit kesibukan di dunia nyata hihi. Inshaalloh aku konsisten ko teman-teman.


Jalan-jalan naik metromini


Di jalan lihat bunga yang merekah


Siapa yang menanti cerita ini


Semoga harinya penuh berkah

__ADS_1


Amin😘


__ADS_2