
Waktu yang datang tidak disangka-sangka, kejadian meretas secara tiba-tiba. Seperti orang tua Haqi yang berinisiatif datang ke kota tempat tinggal Hulliyah.
Mendatangi orang tua Hulliyah tanpa pemberitahuan. Tidak ada persiapan ataupun penyambutan. Mereka bertamu dengan niat baik diperuntukkan untuk kejutan, sebab beberapa hari lagi Haqi berulang tahun.
Sebagai anak pertama dari dua orang bersaudara yang dilangkahi menikah oleh adik perempuannya, Haqi pun menjadi teristimewa di mata keluarganya.
Orangtua Haqi teramat menyayanginya, menjaganya, tidak ada satu keinginan Haqi yang tidak mereka kabulkan.
Siang hari di tengah perkebunan teh itu, orangtua Haqi mencari rumah yang ditunjuk salah satu warga.
Setelah memberi salam, mereka disambut dengan penuh tanya.
"Maaf mau cari siapa ya?" tanya ibu Hulliyah.
"Apa benar ini rumah Hulliyah Sypa?" kata ibunya Haqi.
Sang ibu dari Hulliyah menatap orang tua Haqi penuh selidik.
"Benar, saya ibunya."
"Oh besan ... saya Salamah, ibunya Haqi. Ini suami saya Pak Darmono."
Ibunya Hulliyah terkesiap dan langsung mempersilahkan besannya itu masuk ke dalam rumah.
Kini mereka tengah duduk di lantai beralaskan tikar sederhana, tidak ada jamuan istimewa hanya air teh hangat yang tersaji di depan mereka.
"Maaf, Pak ... Bu, kami tidak menyambut dengan baik. Ayahnya Hulliyah masih di kebun, mungkin sebentar lagi pulang."
Belum ada obrolan yang serius diantara mereka karena memang sang ayah belum berada ditengah-tengah mereka.
Ibu Hulliyah dan orangtua Haqi mengobrol semakin akrab, mengenai hal-hal terkecil dari anak-anak mereka. Obrolan itu terhenti ketika sang ayah datang.
Ayah Hulliyah masuk ke dalam rumah dengan sedikit keheranan.
"Ayah ... ini loh besan kita, orangtuanya Nak Haqi."
Ibu Hulliyah menggandeng suaminya dan menariknya untuk duduk bergabung.
Orangtua Haqi tersenyum ramah, tetapi tidak dengan ayah Hulliyah.
Ayah Hulliyah menatap sinis kearah besannya itu terkesan meremehkan.
Ayah Hulliyah berdiri kembali dengan angkuhnya seraya berkata, "sudah habis kesabaran saya, kenapa Anda baru muncul sekarang. Setelah anak saya menjadi bahan gosip orang sekampung. Jujur saya katakan, saya tidak menyukai Haqi. Percuma Anda berdua kemari, sebaiknya suruh Haqi mentalak anak saya secepatnya!"
Ayah Hulliyah berlalu masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan istrinya dan juga orangtua Haqi yang terkejut dengan ucapannya.
__ADS_1
"Pak ... Bu, maafkan suami saya. Ini ...."
Belum sempat ibunya Hulliyah menyelesaikan perkataannya, Pak Darmono menarik tangan istrinya untuk meninggalkan rumah itu.
Ibunya Hulliyah mengejar orangtua Haqi sampai keluar rumah, merasa tidak enak dengan kondisi yang ditimbulkan oleh suaminya.
"Pak ... Bu, tolong jangan begini! Mari kita selesaikan ini dengan baik-baik." kata Ibunya Hulliyah.
Pak Darmono menghentikan langkahnya kemudian berkata, "belum pernah saya dipermalukan seperti ini, jika kalian ingin hubungan ini tidak akan berlanjut maka saya pun tidak akan melanjutkan. Saya pastikan anak saya akan memutuskan hubungannya dengan anak Anda. Permisi, assalamualaikum."
Ibunya Hulliyah terpaku melihat kepergian besannya, betapa hal ini diluar keinginannya. Kini yang ada dalam benak sang ibu ialah Hulliyah, anaknya itu akan menjadi korban dari keegoisan ayahnya sendiri.
Detik itu juga sang ibu menghambur ke dalam rumah, meraup segala kemarahan dalam dada. Berjalan menghampiri sang suami yang menyambutnya di ruang tamu.
"Ayah ...."
Sang ayah dengan santainya menyalakan televisi tanpa melihat ke arah istrinya.
"Mau sampai kapan Ayah begini, kasihan Lia. Lia sudah menunggu hal ini sejak lama, kemudian Ayah hancurkan begitu saja. Dimana pikiran Ayah?"
Sang ibu mengatur napasnya yang tersenggal karena amarah.
"Ayah hanya ingin melihat kesungguhan mereka, Ayah ingin yang terbaik juga buat Lia. Biarkan Ayah memakai cara Ayah, Ibu jangan ikut campur." kata ayah dengan santainya.
Sang ibu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan tanggapan sang suami.
Ibu berlalu meninggalkan suaminya yang mulai sibuk menonton acara gosip itu.
--------------------------------
Sementara itu di tempat lain, Haqi kaget mendengar kabar bahwa orangtuanya berada di kampung halaman Hulliyah. Hal yang ditakutkannya terjadi, dalam sambungan telpon itu sang ayah terdengar murka dan akan segera ke rumah yang di tempati Haqi.
Selama mengajarpun Haqi nampak tidak berkonsentrasi, Haqi sangat ketakutan akan terjadi hal yang terburuk pada hubungannya dan juga Hulliyah.
Sepulangnya dari sekolahan, Haqi langsung pulang ke rumah yang selama ini ditempatinya seorang diri. Rumah sederhana yang dia beli dari jerih payahnya sendiri.
Haqi membereskan rumah yang nampak berantakan itu, baju-baju kotor yang teronggok begitu saja pada sandaran kursi dia punguti satu persatu. Haqi juga menyapu semua ruangan, banyak barang yang dia temukan selama menyapu, mulai dari remote televisi yang hilang sampai nasi bungkus yang sudah basi karena lupa dimakan dia temukan disela kegiatannya menyapu.
Haqi mengepel lantai rumahnya hingga terlihat kinclong, kemudian mengelap kaca jendela yang berlumut oleh debu itu. Membutuhkan beberapa kali gosokan hingga kaca itu terlihat lebih bersih.
Setelah semua beres, Haqi menuju dapur untuk memasak nasi. Haqi tahu orangtuanya akan makan di rumah ketimbang mampi ke rumah makan.
Setelah semua selesai, Haqi menjatuhkan dirinya di atas sebuah sofa panjang. Haqi merasa sangat letih karena aktivitasnya yang dirasa sangat menguras tenaga.
"Hadeuh ... cape juga, butuh istri ini mah."
__ADS_1
Haqi mengelap keringatnya asal kemudian memejamkan matanya karena kelelahan.
--------------------------
Sore harinya, orangtua Haqi telah tiba di rumah Haqi. Keadaan pintu yang tidak dikunci membuat mereka menerobos masuk begitu saja.
Pak Darmono dan Bu Salamah mendapati Haqi yang masih tertidur pulas di atas sofa.
Mereka memilih untuk membiarkan Haqi tertidur sebentar lagi, sementara Bu Salamah pergi ke dapur milik Haqi untuk mencari makanan. Hal yang sudah biasa mereka lakukan kala mengunjungi putranya tersebut.
Hanya ada nasi di sana, untung saja di jalan tadi mereka membeli lauk sehingga mereka pun bisa langsung makan.
Suara gaduh di dapur itu, membuat Haqi mengerjap dan terbangun. Haqi segera menuju dapur dan mendapati ayah ibunya di sana.
"Assalamualaikum, Abi ... Umi ... kapan sampai?"
Haqi sumringah menyapa kedua orangtuanya.
"Barusan, kami lapar. Sini ikut makan!"
Sang ibu mengajak Haqi makan bersama.
Selama acara makan itu tak ada satu orangpun yang membuka mulutnya untuk berbicara. Mereka menikmati makanannya masing-masing.
Beberapa saat kemudian setelah makan bersama usai, Pak Darmono mengajak Haqi berbicara di ruang tengah sementara sang ibu mencuci piring di dapur.
"Qi, apa kamu serius untuk meneruskan niatmu?" tanya Pak Darmono.
Haqi tahu arah pembicaraan ayahnya menuju ke arah sana, Haqi mengantisipasi gejolak hatinya dengan tersenyum.
"Sepertinya aku memang harus berhenti Bi."
.
..
.
.
.
.
.
__ADS_1
Like dan komennya ditunggu ya🤗
Terimakasih😊