Love In Pesantren

Love In Pesantren
anak kita


__ADS_3

Karena kondisiku yang masih lemah, terpaksa aku harus di rawat beberapa hari lagi di rumah sakit ini.


Padahal aku ingin banget pulang uh, kan jenuh di sini.


A Zam setia menemaniku, dia rela tidak mengajar hanya untuk menungguiku di sini.


Sedikit info nih, aku masih ngambek sama dia. Entah kenapa aku jadi sadis begini.


Aku acuhin, aku sinisin tapi si Aa sabar menghadapiku. Aku mulai tak tega padanya.


Eits, tak semudah itu Ferguso aku bisa memaafkanmu, haha.


---------------------


Pagi itu, A Zam berinisiatif untuk menyuapiku bubur.


"Ayo neng, makan buburnya."


"Aku ga laper, simpen aja."


Mencoba menampilkan wajah seacuh mungkin.


Eh ko dia malah senyum ih.


Apa-apaan nih tangannya ngusap kepalaku segala. Ga tahu apa aku belum keramas dua hari.


Untung aku pakai kerudung, kalau enggak kan keliatan gimbalnya haha.


"Neng harus makan, kasihan anak kita kelaparan."


Sedikit tersentak mendengar ucapan A Zam, apa aku salah dengar?


Mataku menatapnya tajam, seakan tak suka dia bicara bahwa ini adalah anak kita. Sejujurnya sih suka, bahagia malah tapi gak tahu kenapa rasanya aku ingin sekali mengerjai dia. Haha.


"Ko liatinnya gitu amat, serrem tau gak neng."


Issh.. Kalo serem sana jangan deket-deket !!


Aku palingkan wajah imutku ini ke sembarang arah. Namun di sudut mataku bisa aku lihat A Zam masih bisa tersenyum. Uh.


A Zam tidak menyerah juga, dia akhirnya duduk memandangiku.


Apa sii lihat-lihat ih?


-----------------------------


Sore harinya ibu mertuaku datang ke rumah sakit.


"Ibu, terimakasih sudah kesini."


Jujur aku gak enak sama ibu.


"Ibu seneng bakal punya cucu, terimakasih ya. Kamu harus jaga kesehatan."


Senyum aja deh.


"Zam, kamu itu gimana gak bisa jagain istri? Sampai Nimas harus sakit begini."


"Iya bu, Zam minta maaf."


Sepertinya A Zam tulus. Ah entahlah.


"Lihat Nimas seperti ini, itu seperti istri yang lagi di tinggalin suaminya tau gak !! Terkesan gak terurus."


Hening..

__ADS_1


Apa keliatan banget?


"Kamu jangan sibuk sendiri aja mulai saat ini. Jagain Nimas!! Lagian ko bisa Nimas ada di daerah sini?"


"Em itu,........"


Gugup gitu kamu A, biar aku bantuin kasian.


"Kemarin aku kesini bu, mau nengokin ayah sama ibu disini."


"Ya sudah kalau begitu, lain kali jangan cape-cape ya. Kasihan dedeknya."


Fiyuhh, untung aku pandai ngomong coba kalau enggak. Bisa kikuk seperti si Aa gitu.


Tapi kenapa selama ada ibu disini, A Zam terus menatapku. Andai di sini ada helm sudah aku pakai dari tadi, buat nutupin wajahku yang memerah.


Ibu mertuaku sangat baik dan menyayangiku, kalau saja ibuku tidak memaksanya untuk menginap di rumah. Ibu mertuaku akan menginap di sini, namun aku juga tak tega dan meminta ibuku mengajaknya ke rumah kami.


Rencananya besok aku akan pulang ke rumah. Kondisiku sudah agak baik dan tidak pusing lagi.


-----------------------


Malam ini setelah sholat isya, aku mencoba membenarkan kerudungku yang melenghoy tak karuan.


Beberapa kali mencoba menautkan jarum pentul ini susah banget. Apalagi jarum infus yang menancap di pergelangan tanganku membuatku sesekali meringis.


A Zam berjalan ke dekatku dan duduk di bangkarku kemudian mengambil alih jarum pentul yang ada di tanganku.


Eh mau ngapain?


Sejurus kemudian A Zam mencoba menautkan kerudungku.


Aihh jarak wajah kami ga nyampe lima senti.


Ini sih dekat banget, aku sampai menahan nafas karenanya.


Lama banget A, cepet ih!! aku bisa khilaf.


A Zam kelihatannya agak kesusahan memasangkanku kerudung buktinya. Sudah lama posisi kami begini masih belum selesai juga.


Atau dia sengaja?


Setelah berhasil dengan pekerjaannya tak lantas membuat A Zam menjauh. Malah kini, dia tepat menghadap wajahku, samar ku lihat senyum di bibir keritingnya.


Hembusan nafasnya terasa di wajahku aku merinding, serius.


A Zam mengusap pipiku dan hampir saja bibir kami bertemu, pintu pun terbuka.


"Ow oww.. Abang ga lihat ko."


Secepat kilat kami menjauh.


Itu bang Gazani yang datang sedikit syok dan gak enak sepertinya.


Jangan tanya gimana reaksiku ya.. Uh maluuuuu.


"Abang nganterin makanan nih, duh sudah ya abang pulang lagi."


"Ko buru-buru bang?"


A Zam berusaha mencegah.


"Ah ga apa-apa, kalian lanjutkan saja yang tadi, abang pulang dulu."


Isshh abang ngomong apa ih? Yang tadi apaan coba huh.

__ADS_1


Sebelum menghilang di balik pintu, kepala bang Gazani kembali nongol.


"Makanannya jangan lupa di makan !! Biar ada energi lebih buat lanjutkan adegan panas itu."


Abang tergelak lalu setelah memberi salam akhirnya dia beneran sudah berlalu.


"Neng, makan dulu deh."


Itu knapa tingkahmu jadi aneh begitu A? Apa mungkin A Zam juga malu tadi ketahuan.


Aku pun jadi salah tingkah dibuatnya.


Ih abaaang...


Aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang. Bang Gazani pasti akan menjadikan kejadian tadi sebagai ladang untuk menggodaku. Uhh aku harus persiapkan mental nih.


-------------------


Akhirnya hari ini aku pulang dan sampai rumah sudah sejak tadi.


Kini aku berbaring di kamarku, sementara A Zam tadi pamit mengantar ibu pulang dulu.


Sebenarnya mertuaku terlihat masih betah menungguiku, namun karena sudah punya janji sebelumnya jadi beliau terpaksa berpamitan.


Mertuaku adalah tipe orang yang kalau sudah berjanji harus di tepati. Dan memegang teguh slogan janji adalah hutang.


Sudah hampir gelap tapi A Zam masih belum pulang aku jadi agak hawatir, diluarpun sedang turun hujan beserta kilatan-kilatan petir.


Sungguh ini membuatku tak nyaman, aku khawatir.


Aku memutuskan menunggunya di teras rumah meskipun sesekali bunyi petir mengagetkanku. Namun aku memutuskan tetap menunggu.


Tak lama kemudian sebuah mobil datang, ah benar itu A Zam.


Aku ingin sekali tersenyum melihatnya, tapi aku tahan.


Gengsi dong, aku masih ngambek.


Setelah mematikan mesin mobilnya A Zam berlari ke arahku. Ku lihat bajunya jadi basah.


"Neng, ngapain di luar sayang?"


A Zam menuntunku segera masuk.


Kini kami di kamar kuambilkan handuk untuknya lalu menunggunya sambil berdiri.


"Aa, mau makan?"


Kalimat yang meluncur sendiri tanpa bisa ku kontrol. Hingga membuatku aneh sendiri.


A Zam menghentikan aktivitasnya lalu tersenyum lebar.


Kenapa musti senyum sii.


"Aku senang neng sudah mau bicara lagi sama aku."


Hah?


Tuh kaan aku baru sadar, uh aku kan lagi ngambek ah.


"Mau makan sekarang enggak?"


Ku keluarkan suara ketusku untuk menutupi perasaan maluku.


"Nanti saja setelah sholat magrib."

__ADS_1


Masih dengan senyum di sana. Jujur aku tergoda melihat senyumannya itu.


Ah aku ini jadi wanita lemah banget ih.. Mudah goyah dengan yang manis-manis apalagi yang manis ada di depan mata.. Bawaannya ingin aku kantongin haha.


__ADS_2