Love In Pesantren

Love In Pesantren
Anggota baru


__ADS_3

Nimas yang baru selesai menemani Zamima tidur, keluar dari kamar bermaksud untuk mengunci pintu depan. Namun baru beberapa langkah dirinya meninggalkan kamar, Nimas dikagetkan dengan serangan tiba-tiba dari sang suami yang menyergapnya dari belakang.


"Aa ih!"


"Neng keluar pasti mau ngajakin tempur 'kan?" tanya Ustadz Zamzam.


Nimas benar-benar kesal dengan ulah suaminya yang dirasa sangat menguji iman dan kesabaran itu.


"Tempur apaan? Aku mau ngunci pintu."


Nimas berontak dan melepas dekapan suaminya.


"Udah Aa kunciin semua. Sekarang tugas Neng cuma nemenin Aa di sini."


Sang Ustadz menaik turunkan alisnya penuh godaan. Namun Nimas bukannya tergoda malah merasa risih dengan tingkah suaminya itu.


"Aku lanjut tidur aja." Nimas berbalik hendak masuk kembali ke dalam kamar, tetapi penguncian tubuh dilakukan kembali oleh Ustadz Zamzam yang menyerang kembali Nimas dan menjatuhkannya perlahan ke atas kasur yang biasa digelar olehnya di tengah rumah.


Sang Ustadz yang salah perhitungan harus merelakan dahinya yang glowing terbentur pinggiran meja yang berada di samping kasurnya.


"Duh, siapa si yang nyimpen meja di sini?"


Ustadz Zamzam melepas Nimas dan terduduk di atas kasur itu sambil mengusap-usap dahinya tersebut.


Nimas yang tadinya kesal mendadak iba melihat sang suami terus-terusan terluka. Akhirnya Nimas ikut duduk dan mendekati suaminya dan memegang dahi Ustadz Zamzam mencoba memberi sentuhan selembut mungkin berharap bisa mengurangi rasa sakit yang dirasa suaminya.


"Makanya hati-hati dong A!" kata Nimas.


Ustadz Zamzam meringis kesakitan yang terkesan berlebihan guna mendapat simpati dari Nimas.


"Iya nih Neng, sakit banget. Tadi pipi, terus bahu eh sekarang jidat ikut-ikutan sakit."


Sang Ustadz masih memegangi dahinya lebih tepatnya tangan Nimas. Karena posisinya saat ini ialah tangan Nimas yang menyentuh dahi Ustadz Zamzam kemudian di atasnya lagi tangan Ustadz Zamzam.


"Aku gak rela ada yang nyakitin Aa selain aku." kata Nimas.


Eh tunggu deh!


"Maksud Neng?"


"Iya, yang boleh nyakitin Aa cuma aku aja," ujar Nimas.


"Jadi maksud Neng ... Neng mau nyakitin Aa terus gitu?"


Tatapan Ustadz Zamzam terlihat serius kali ini memandangi manik mata milik Nimas yang juga tengah menatapnya.


"Bukan gitu ...."


Ucapan Nimas terhenti karena kini Ustadz Zamzam sudah berhasil mengontrol tubuh Nimas dan menguncinya.


"Neng mau belajar nakal ya?"


Perkataan Ustadz Zamzam membuat merinding dan salah tingkah, ingin berlari tapi dikunci.

__ADS_1


Pasrah sudah!


"Aku mau tidur A."


Masih mencoba meloloskan diri, Nimas mencari-cari alasan untuk lepas dari jeratan sang suami.


Tatapan Ustadz Zamzam berubah lembut lalu tersenyum dan mencium pelipis istrinya.


"Iya kita tidur," bisiknya lembut.


Sang Ustadz melonggarkan kuncinya namun tidak membiarkannya terbuka. Sehingga kini tubuh istrinya masih berada dalam kuasanya. Ustadz Zamzam berbaring di samping Nimas yang masih tidak mengerti dengan tingkahnya.


"Kita gak ngapa-ngapain?" tanya Nimas.


Sang Ustadz tersenyum usil, " emangnya kita mau ngapain?"


"Ah itu mmm ... tidur A, kita tidur."


Sang Ustadz gemas melihat tingkah istrinya yang tidak jauh berbeda seperti pertama mereka dekat.


Istri polosnya yang suka ketakutan bila digoda seperti itu. "Aa menyayangi Neng dan anak-anak kita."


Sang Ustadz berkata lirih membuat hati Nimas menghangat. Mengingat waktu dulu ketika sang suami tidak pernah mengucapkan kata-kata sayang apalagi cinta karena takut mencintai selain Tuhannya. Namun kini ungkapan itu lancar mengalir dan diucapkan setiap saat tatkala dirinya bersyukur memiliki istri dan anak-anak yang sangat disayanginya.


Akhirnya mereka terlelap bersama dalam balutan kasih yang terbingkai indah saling menyayangi.


------------------


Sampai saat Ustadz Zamzam pulang dari mesjid, Nimas masih berdiri.


"Udah dicoba Neng?" tanya Ustadz Zam seraya mendekati Nimas.


Nimas menggelengkan kepalanya.


"Loh kenapa? Udah sana coba! Aa tunggu di sini."


Ustadz Zamzam membukakan pintu kamar mandi dan memaksa Nimas masuk ke dalamnya.


Walau dengan sedikit terpaksa Nimas menuruti kehendak suaminya masuk ke dalam kamar mandi dan mencoba alat itu.


Selang beberapa menit kemudian Nimas keluar dari kamar mandi dan masih mendapati suaminya berada tepat di depan pintu kamar mandi itu.


"Gimana Neng?" tanya Ustadz Zam antusias.


"Gimana dong A, anak-anak masih kecil-kecil?" kata Nimas.


Nimas berjalan melewati suaminya dan duduk di atas kasur yang belum sempat dia benahi.


"Hasilnya gimana?"


Nimas mendelik, tidak bisakah suaminya peka mendengar keluhan Nimas?


"Positif Aa!" ujar Nimas menaikkan volume suaranya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, terimakasih Neng." Sang Ustadz berhambur memeluk istrinya yang masih menekuk wajahnya.


"Ini anak ketiga kita, kita jaga amanat ini bersama." ucap Ustadz Zamzam.


Beberapa saat kemudian Ustadz Zamzam menghadiahi ciuman bertubi-tubi pada wajah istrinya aebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhannya.


-----------------


Hari berganti minggu, sang ibu dari Ustadz Zamzam yang masih terlihat cantik dan juga sehat berkunjung ke rumah anaknya. Setelah mendapat kabar bahwa Nimas hamil lagi, sang ibu langsung berangkat dan kini berada di rumah Ustadz Zamzam dan bermain bersama kedua cucunya.


"Nimas jangan capek-capek! Biar nanti Zam yang masak, nyuci baju, nyuci piring. Kamu mah diem aja."


Nasihat yang menyesatkan mulai dilancarkan sang mertua pada Nimas yang kini berada di dekatnya.


"Apa sebaiknya kamu dan anak-anak tinggal sementara sampai lahiran di rumah Ibu?" tanya mertuanya.


"Enggak! Gak boleh!"


Ustadz Zamzam yang entah sejak kapan berada di belakang mereka dengan sigap melarang Nimas untuk ikut ibunya.


"Iya Bu, gak usah. Selama aku masih kuat, aku gak apa-apa kok." ucap Nimas.


"Bukan begitu sayang ...." Sang Ustadz mendekati ibu dan istrinya kemudian mengusap kepala Nimas penuh sayang, sampai akhirnya pendaratan tubuhnya di samping Nimas berhasil tanpa kendala.


"Aku gak izinin karena aku gak mau jauh dari Neng dan anak-anak. Lagipula Neng inget gak waktu hamil Mima? Neng kan dulu ga mau jauh dari Aa." kata Ustadz Zamzam.


Dih kok sekarang beda ya? Aku maunya jauh-jauh dari Aa.


Nimas menggerutu dalam hati menahan kegeraman. Jikalau di sana sedang tidak ada mertuanya maka Nimas akan memgeluarkan jurus patukan ular betina. Namun sayang ibunya Ustadz Zamzam seolah memperhatikan mereka sambil tersenyum-senyum.


"Ibu kok senyam-senyum si?" tanya Ustadz Zamzam pada ibunya.


"Tidak Nak, Ibu cuma berharap semoga rumah tangga kalian harmonis selamanya, semoga tidak ada cobaan yang berarti. Zam, Ibu pesen sama kamu jaga istri dan anak-anakmu! Ibu bahagia di masa tua ini, Ibu bisa melihat kamu bahagia Nak."


Suasana yang mendadak mellow mengharuskan Ustadz Zamzam memeluk ibunya penuh cinta.


.


.


.


.


.


.


.


...


Typoku merajalela ya😲

__ADS_1


__ADS_2