Love In Pesantren

Love In Pesantren
pengorbanan Sofia


__ADS_3

Sikap Nimas jadi manja pada Ustadz Zam akhir-akhir ini, mulai dari tidak mau ditinggal sampai akan terus menempel kala sang Ustadz pulang.


Hadeuh jangan buat author iri dong ah.


Saat ini di perjalanan kembali dari mengunjungi Nimas. Senyum Ustadz Zam tak pernah lepas dari bibirnya. Mengingat kelakuan sang istri yang bermanja ria dua hari kemarin, membuatnya semangat untuk cepat pulang minggu depannya.


Eh gimana ini baru juga berangkat sudah berfikir untuk pulang.


------------------


Kita tinggalkan Ustadz, kali ini kita ceritakan Nimas dengan kesepiannya ditinggal kembali di rumah orang tuanya. Dimana dirinya merana hatinya meronta untuk ikut, apa daya keadaan memaksanya untuk tetap tinggal.


Ketenangan Nimas terusik ketika Farrel tanpa di sangka bertamu ke rumah orang tua Nimas.


Nimas menerimanya di teras, Mika anak Bagas yang kebetulan sedang berkunjung menemaninya sambil bermain boneka. Dan acuh pada pembicaraan orang dewasa itu.


"Ada apa kamu sampai kemari?"


To the poin banget kamu Nim.


Yang ditanya malah nyengir, sebelum menjawab.


"Aku hanya rindu."


Issh si Farrel kenapa jadi aneh.


Nimas mendelik terkejut serta takut.


Ini Farrel kan?


"Tau darimana rumahku?"


Farrel tersenyum lagi.


"Dimana pun kamu berada aku akan selalu menemukanmu."


Eh ko agak mirip psikopat sekarang.


"Sebaiknya kamu pulang, lagi pula aku ga enak sama tetangga menerima tamu laki-laki di saat suaminya tidak ada."


Farrel ko ketawa begitu.


Nimas sedikit melirik Mika yang masih asik dengan bonekanya.


"Jangan bodoh kamu Nim, kamu ga tau kelakuan suami kamu selama kamu di sini?"


Nimas diam.


Kemudian Farrel mengeluarkan ponsel miliknya.


"Lihat ini !"


Tunjuk Farrel pada layar ponselnya.


Nimas pun mengambilnya kemudian tersenyum.


"Maksud kamu apa? Tidak aku lihat pun aku tahu itu isinya apa. Suamiku sudah menceritakannya."


Farrel terbengong.


"Jadi Rel, kamu mau apa ke sini?"


"Sudah ku bilang aku rindu."


Nimas semakin takut menghadapi Farrel.


"Istighfar Rel, aku bersuami lagipula aku sedang hamil tua begini. Perdekat diri dengan Alloh, jangan sampai syetan menghasutmu. Aku yakin kamu akan mendapat jodoh yang terbaik."


Panjang lebar Nimas menjelaskan.


"Terserah apa katamu, aku permisi dulu. Lain kali bila kamu ada masalah sama suamimu datanglanglah padaku. Assalamualaikum."

__ADS_1


Setelah mengucapkan salam, Farrel bergegas pergi dari rumah itu.


Nimas melihat kepergiannya dengan kelegaan tapi juga ketakutan. Nimas memilih menelpon Sofia dan menceritakan ketakutannya mencari saran serta solusi dari sahabatnya itu.


----------------------


Di tempat lain, Sofia baru saja menerima telpon dari Nimas yang menceritakan kedatangan Farrel ke rumahnya.


Si Nimas curhat.


Sofia merasa dia harus membantu Nimas supaya Farrel tidak berbuat nekad lebih dari itu.


Berhari-hari Sofia memikirkan cara untuk melindungi Nimas. Masih belum mendapatkan cara.


Sampai dirinya bermimpi bahwa dengan menikah, Farrel bisa lebih baik.


Tapi Farrel menikah dengan siapa?


Setelah berfikir kembali, terbesit di fikirannya bagaimana kalau dirinya sendiri.


Sofia memutuskan untuk solat istikhoroh, memastikan mimpinya itu.


Lagi-lagi mimpinya sama dan akhirnya Sofia mengambil keputusan yang sangat besar dalam kehidupannya.


Sebutlah dia tidak tahu malu atau gila, yang pasti dia lakukan adalah meminta orang tuanya beserta Mama Haji untuk meminta Farrel supaya jadi suaminya.


Serius kamu Sof? Ckck.


---------------------


"Ini gila Sofii, kamu kenapa?"


Hulliyah berjengkit kala Sofia mengutarakan niatnya.


"Mungkin ini yang terbaik, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk melindungi Nimas."


"Tapi ga harus begini Sofia, masih ada jalan lain. Kamu belum kenal siapa Farrel itu."


"Sepertinya dia orang baik, cuma obsesinya yang membuat dia seperti itu."


Sofia bersikeras.


------------------------


Malam itu, Mama Haji mengundang Farrel beserta keluarganya.


Ternyata Farrel datang bersama Ustadz Ahmad dan kedua orang tua Ustadz Ahmad selaku keluarga Farrel.


Farrel ternyata yatim piatu dan di besarkan oleh keluarga Ustadz Ahmad, kedua orang tuanya telah meninggal dunia sejak Farrel masih kecil.


Farrel tipikal orang yang membangkang jadi sewaktu orang tua Ustadz Ahmad mau memasukkannya ke Pesantren, Farrel menolak dengan alasan mau fokus sekolah.


Farrel sebenarnya orang yang baik tapi karena keadaan dan hati yang terluka kehilangan orang tua di masa lalu membuatnya jadi orang yang ngotot, semua keinginannya harus tercapai meskipun harus bekerja keras dia pasti mendapatkannya.


Contohnya ketika dia ingin membuka sebuah bengkel per dan kaki-kaki mobil truk besar, dia berhasil menunjukkan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri.


Berkat kegigihannya dia sekarang sudah memiliki tidak kurang dari tujuh bengkel besar.


Berhubung Farrel tidak pernah belajar di Pesantren, mereka bertanya-tanya ada apakah gerangan hingga Farrel diundang ke pesantren.


Wuih panjang bener deskripsi Farrel.yak haha.


Sofia dan kedua orang tuanya pun sudah berada di rumah Mama Haji.


Kali ini mereka memulai percakapan.


Farrel mengerutkan keningnya semakin bertanya-tanya.


Mengapa ada wanita itu?


Apakah dia melaporkan kejadian tempo hari?

__ADS_1


Ah tapi Farrel merasa tidak berbuat kesalahan.


Lalu apa?


Farrel linglung sendiri sambil menatap Sofia yang terlihat gugup meremas-remas jemarinya penuh kecemasan.


"Terimakasih sudah mau datang ke rumah Mama."


"Iya Ma, maafkan kami karena terburu-buru tidak sempat membawa oleh-oleh."


Ahh ibu Ustadz Ahmad basa basi hihi.Maaf.


"Tidak apa, sebenarnya kami mengundang nak Farrel karena ada hal penting yang ingin disampaikan."


Nah loh.


"Apakah itu Mama?"


Ciee Farrel ga sabar.


Mama tersenyum.


"Begini, kami bermaksud untuk mengatur taaruf antara Sofia dan nak Farrel."


"Apa?"


Tanpa sadar Farrel mengeraskan suaranya.


Membuat Sofia ingin menyerah dibuatnya.


Ini nih yang dinamakan maju kena mundur jatuh. Eh gimana?


"Euh maaf."


Farrel meminta maaf setelah menyadari ketidak sopanannya.


"Jadi bagaimana, apa nak Farrel mau menerimanya?"


Pertanyaan dari ayah Sofia membuat Farrel berfikir sembari menatap Sofia yang menundukkan kepalanya sangat dalam.


Tiba-tiba seringai kecil muncul begitu saja di sudut bibir Farrel.


"Baiklah saya akan mencobanya."


"Alhamdulillah.."


Kelegaan menyeruak di ruangan itu, jujur mereka ketakutan Farrel akan menolaknya mentah-mentah namun nyatanya Farrel menerima begitu saja.


Hati orang siapa yang tahu. Begitu pun dengan hati Farrel.


Sofia yang mendengar pernyataan Farrel pun akhirnya mendongak pelan. Menatap semua orang kecuali Farrel.


Semoga kamu baik- baik saja Sofia.


#Kok ceritanya jadi aneh? (reader)


#Ya iya ya, kenapa jadi aneh? (author)


#Mulai males lanjutin baca. (reader)


#Jangan baca aja. Aman kan (author)


#Ceritanya membosankan (Reader)


#Uuh terimakasih looh, berkat kamu aku semangat nulis (Author)


#Authornya aneh (reader)


#Baru sadar ya (author)


#pokoknya aku males baca lagi (Reader)

__ADS_1


#Yaudah sii ini emang novel jelek ko, terimakasih yang setia membaca. Aku berusaha membuat cerita yang ada isinya yang ada hikmahnya, tapi yaa kalau itu tidak berkesan. Mau bilang apa. Itu hanya keterbatasanku sebagai manusia. (Author)


__ADS_2