Love In Pesantren

Love In Pesantren
Kode


__ADS_3

Malam yang terbungkus kabut, hawa dingin yang menusuk tidak menyurutkan niat Haqi untuk memulai acara ulang tahunnya.


Tidak, bukan keinginan Haqi tetapi Bu Salamah yang sangat mencintai putranya selalu ingin mengenang tiap tahun pertambahan usia putranya.


"Umurku berkurang Ummi, masa dirayain?" ucap Haqi yang terus-terusan digoda tentang ulang tahun oleh Bu Salamah.


"Kamu diem aja! Kipasin arangnya biar tetap menyala."


Bu Salamah tidak menerima protesan dari Haqi.


Haqi pun menurut dan terus melakukan tugasnya membakar ikan, walaupun wajahnya ditekuk bahkan mulutnya nampak sedikit maju.


Hulliyah sungguh tidak menyangka sikap Haqi berubah drastis ketika berada di dekat ibunya. Haqi yang dewasa bisa berubah menjadi Haqi yang manja, sangat diluar perkiraan.


Setelah makanan yang dibakar itu matang, mereka makan bersama di halaman yang beralaskan tikar. Beberapa tetangga yang kebetulan tugas meronda pun ikut bergabung.


Suasana hangat ditengah dinginnya malam itu selesai ketika satu persatu wanita penghuni rumah mulai kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat lebih dulu.


--------------


Hulliyah menjadi wanita terakhir yang masih berada di luar rumah. Hulliyah memutuskan untuk menunggu Haqi yang masih asik mengobrol bersama lelaki yang lain.


Lama ih


Hulliyah menggerutu tidak jelas dalam hatinya. Kemudian Hulliyah memilih memberikan kode kepada Haqi agar mengikutinya.


"Kak, aku duluan ya."


Hulliyah berpamitan.


Haqi mengangguk kemudian larut kembali dalam obrolannya dengan ayah mertuanya dan juga pejangga ronda.


Sepanjang langkah menuju ke dalam rumah Hulliyah terus menoleh ke arah Haqi, berharap suaminya itu mengikuti. Namun sampai dia masuk dan menutup pintu, Haqi tak kunjung mengerti akan kode yang diberikannya.


Hulliyah masuk ke dalam kamarnya dengan kecewa. Hulliyah mengintip melalui celah jendela kamarnya. Haqi terlihat masih bercengkrama bahkan sepertinya pembahasan mereka makin serius terlihat dari raut wajah semua yang sedang mengobrol itu.


Hulliyah menghela napasnya pasrah, ternyata malam ini bukan saatnya dia dipeluk Haqi.


Bukan malam ini mungkin besok?


Hulliyah bergumam kemudian tersenyum penuh arti. Hulliyah pun pasrah kemudian merenggangkan tubuhnya, Hulliyah berjalan menuju tempat tidur. Sebelum itu Hulliyah membuka ponselnya yang sejak pagi dia biarkan di dalam kamar.


Begitu membuka ponsel, Hulliyah sedikit terkesiap karena banyaknya panggilan tidak terjawab dan juga pesan dari Bi Haji dan juga Neli.


Hulliyah melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, berhubung ini malam jumat sudah pasti Neli sedang memegang ponselnya. Bermodal keyakinan itu, Hulliyah mencoba menelpon teman sekobongnya itu.


Beberapa kali mencoba sambungan telpon itu tak juga bertepi, akhirnya Hulliyah memilih membuka pesan yang masuk itu satu persatu.


Hulli lusa ada acara munaqosah anak-anak Tk yang mau diwisuda. Ibi minta kamu datang untuk mendampingi Ela, Risma, Shinta, Ani, Nela, Ticka, dan Cecan.


Salah satu pesan yang dibaca Hulliyah berisi perintah agar dirinya kembali ke Pesantren.


--------------------


Subuh ini Hulliyah terbangun masih dengan kecewa karena ternyata semalaman dirinya tidur sendirian. Haqi entah tidur dimana karena suara dari arah luar sudah sirna.


Hulliyah memilih keluar kamar dan bergegas ke kamar mandi untuk bersuci dan bersiap menunaikan ibadahnya.


Pagi menyapa semua orang dengan semangat, kali ini keluarga Hulliyah makan bersama masih dalam suasana yang hangat.

__ADS_1


"Lusa munaqosah anak-anakku, boleh 'kan aku ke Pesantren untuk mendampingi mereka?" Hulliyah bertanya kepada orangtuanya.


"Boleh saja Nak."


Jawaban sang ibu menjadi penentu bahwa Hulliyah diizinkan pergi ke Pesantren. Sementara sang ayah masih terdiam, sang ayah masih merasa bersalah terhadap anaknya sehingga ayahnya itu malu untuk berbicara banyak ketika ada Hulliyah.


"Kita berangkat sama-sama saja! Iya 'kan Qi?" kata Bu Salamah.


"Boleh, kalau Sypa mau," sahut Haqi.


"Enggak usah Kak, aku biar naik bus." Hulliyah kembali berusaha memberi kode kepada sang suami untuk menguji kepekaannya.


"Oh ya udah ...."


Satu jitakan mendarat di kepala Haqi, pelakunya adalah Bu Salamah.


"Kenapa Ummi jitak aku ih?" tanya Haqi tidak terima.


"Lagian kamu gak ngerti kode, barusan tuh Sypa ngasih kode sama kamu."


Bu Salamah gregetan.


Hulliyah merasa malu ternyata mertuanya lebih paham ketimbang suaminya.


"Aku tahu Mi, tahu. Semalam aja Sypa ngode aku biar masuk nyamperin dia, aku tahu kok."


Hah?


Pipi Hulliyah kini memanas menahan malu, apalagi mereka sedang berkumpul dan mendengarkan Haqi berbicara.


"Terus disamperin?" Kini ibunya Hulliyah ikut-ikutan penasaran.


Haqi berbicara tanpa beban dan rasa bersalah.


"Oo yang kamu pamit mau tidur tapi balik lagi itu ya?" Ayah Hulliyah menimpali.


Hulliyah sudah tersudut dan terpojok, malu rasanya tapi dia tahan dengan memberikan senyuman keterpaksaan.


"Bapak kok tahu? Aku jadi malu."


Semua orang tertawa mendengar omongan yang keluar dari mulut Haqi dengan begitu lancar itu.


Sementara Hulliyah tersenyum tetapi sejujurnya ingin sekali dia mencubit Haqi karena ternyata suaminya itu memiliki sifat iseng yang baru dia ketahui.


-------------------


Akhirnya di sore hari yang sedikit mendung Hulliyah berangkat ke Pesantren bersama-sama dengan suami dan juga mertuanya.


Haqi memilih mengantarkan ibunya terlebih dahulu ke rumah kemudian mengantar Hulliyah ke Pesantren.


"Sypa lain kali jangan main kode-kodean ya! Ngomong aja langsung, aku pasti turutin."


Sesaat setelah mereka sampai di Pesantren Haqi kembali menggoda Hulliyah.


"Iya aku kapok. Kakak tahu gak sih tadi pagi aku malu banget?" Hulliyah bersidekap dada karena kesal.


Haqi tersenyum kemudian mengusap kepala Hulliyah, melihat Hulliyah yang sedang merajuk seperti ini membuat Haqi tidak bisa menahan kebahagiaannya.


"Apa senyum-senyum? Udah ah aku turun assalamualaikum."

__ADS_1


Hulliyah hendak membuka pintu mobil tetapi pintu itu terkunci, dengan wajah kesal Hulliyah mendelik ke arah Haqi yang masih tersenyum-senyum.


"Buka pintunya Kak!"


"Sypa mau meninggalkan suami dalam keadaan kesal begitu?"


Pertanyaan dari Haqi membuat Hulliyah terdiam. Haqi dengan senyuman mautnya kini menarik bahu Hulliyah dan mencengkramnya pelan.


"Maafin aku ya! Maaf selalu menggoda dan membuat Sypa malu," ucap Haqi.


Hulliyah menggeleng seolah tidak membenarkan ucapan suaminya itu.


"Sekarang sebagai permintaan maaf aku, Sypa boleh minta apa aja sama aku. Mau dicium dimana? Kening? Mata? Hidung? Atau bibir?"


Haqi mengusap bibir Hulliyah dengan ibu jarinya.


"Beneran aku boleh minta apa aja?" tanya Hulliyah.


Haqi pun mengangguk dengan penuh semangat.


"Aku mau ...."


Haqi menatap Hulliyah penuh dambaan menunggu permintaan yang dengan senang hati akan dipenuhinya.


"Cubit Kakak."


Hulliyah mencubit perut Haqi sekeras-kerasnya melampiaskan kekesalan yang sedari pagi dia pendam.


Haqi mengaduh kesakitan namun diselingi tawa saking kagetnya dengan tindakan Hulliyah.


"Udah ampun, udah ...."


Hulliyah melepaskan capitan tangannya.


"Rasain! Makanya jangan macam-macam sama aku!"


Tatapan Haqi berubah nanar, "Oh aku jangan macam-macam ya? Kalau begini Sypa mau apa?"


Haqi tiba-tiba mengecupi wajah Hulliyah tanpa ampun di dalam mobil itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Buset Babang Haqi ganas juga hihi🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2