Love In Pesantren

Love In Pesantren
Ada tapi tak ada


__ADS_3

Awalnya aku merasa sangat bahagia ketika A Zam mengajakku makan di luar malam ini. Apalagi saat A Zam menggandeng tanganku sambil berjalan, ah rasanya bunga-bunga dalam hatiku bermekaran sudah.


Namun, ketika kami sampai di tempat ini. Aku mulai merasa ada yang aneh, A Zam terus aja clingukan.


Padahal banyak tuh meja yang belum di tempati.


Dadaku mendadak bergemuruh, bunga yang tadi mekar mendadak layu dan berjatuhan, tatkala A Zam menghampiri seorang wanita yang ternyata tengah menunggu kami.


Ingin rasanya pulang sekarang ini, namun aku tidak mungkin kan membiarkan A Zam berduaan dengan wanita itu uh.


"Sini neng duduk !!"


Dengan terpaksa aku duduk di samping A Zam.


Gondok ih ingin bejek-bejek A Zam.


"Oh iya Hannah, ini istri saya Nimas."


Kami pun bersalaman.


Wanita itu menatapku lalu tersenyum.


Aiiihhh bahkan senyumnya begitu cantik menghiasi wajah cantiknya, pokoknya kesan pertamaku bertemu wanita itu ialah cantik.Penampilannya begitu anggun dandanannya sederhana namun elegan. Pasti harga kerudungnya mahal tuh.


Sementara aku, tadi tidak sempat berdandan. Baju yang ku pakai hanya gamis sederhana dan kerudungku hanya pasmina murahan.


Huhhh..


"Ini looh neng, Hannah yang aku ceritain."


Apa boleh aku ngomong BODO AMAT !!


Ah tentu tidak, aku hanya mengangguk seraya menunjukkan senyum kepalsuan.


"Eh kita pernah ketemu kan, pas waktu pembukaan mesjid."


Bodo amat !!


Lagi-lagi aku hanya tersenyum.


"Saya senang Ustadz akan mengadakan acara pemberian santunan kepada anak yatim seminggu sekali. Jadi setiap hari apa Stadz?"


A Zam belum sempat menjawab pelayan di sana keburu datang mengantar makanan.


Eh tunggu, ko banyak amat.


"Wah Hannah, kenapa ini banyak sekali? Lagi pula kita belum pesan."


A Zam kelihatannya sedikit canggung, sebenarnya aku juga sih hihi.


"Tadi saya sudah pesankan, tapi saya tidak tahu apa makanan kesukaan Ustadz jadi saya pesan banyak biar Ustadz milih."


Hei hei itu ngomong apa yaaa !! Ga lihat apa aku di sini.


"Kalau begitu mari kita makan !!"


Dih tingkah wanita itu dibuat-buat. Apa coba maksudnya?


Saat tengah makan, eh eh wanita itu menyendok makanan, diberikannya ke piring A Zam.


"Semurnya enak Stadz, coba deh."


Siram pake kobokan jangan nih?


A Zam menatap ke arahku, mungkin dia takut aku marah.


Pura-pura makan saja biar lupa.


"Makan yang banyak neng, biar dedeknya sehat."


Apa nih kok tiba-tiba elus perut?


"Jadi gimana Stadz?"


A Zam menghentikan tangannya yang sedang mengelus perutku, tapi A Zam tidak menjauhkannya. Telapak tangan A Zam terasa hangat sekali.


Duh aku ini..


"Saya rasa hari jumat cocok."


Hannah mengiyakannya.


Lalu mereka mengobrol, aku bagian mendengarkan keasikan mereka. Duh ketawa-tawa, bagus yaaa baguuus aku di sini tiang listrik udah.

__ADS_1


Ada tapi gak ada. Uh sebel.


Seusai makan kami pun berpisah di parkiran.


Aku masuk duluan ke dalam mobil sambil memperhatikan dua orang yang sedang mengobrol itu.


Belum puas juga mereka ngobrol ih.


Panas api membara membakar tubuhku.


Tuh kaan malah nyanyi aku.


Beberapa saat kemudian A Zam masuk ke dalam mobil.


"Maaf ya neng lama."


Bodo !!!


"Neng ko banyak diem sih?"


Terus aku harus bilang wow gitu.


Ko mobil belum jalan juga sii?


"Kenapa belum jalan?"


"Jawab dulu pertanyaan aku."


Buang muka aja, males.


Ih ko malah pegang-pegang tangan.


"Neng cemburu ya?"


Percaya diri sekali kamu A.


"Seneng deh dicemburuin."


Ih..


A Zam malah ketawa uh.


"Jadi beneran nih ada yang cemburu.."


"Jalan gak?"


Sempet-sempetnya dia ketawa sambil menyalakan mobilnya.


"Iya iya nyonya Zamzam, duh galak bener deh ah."


Nyebelin banget sii kamu A.


Sepanjang perjalanan aku kesel lihat senyuman usilnya itu aaaaaa.


--------------------------------


Sesampainya di rumah, bergegas aku masuk maksud hati untuk segera tidur setelah melewati hal yang menguras perasaan.


Aku merebahkan tubuhku yang penat di tempat tidur tanpa berganti pakaian.


Setelah itu aku tak ingat lagi.


Saat adzan subuh aku terbangun, aku bangkit dari tempat tidur.


Eh seperti ada yang salah tapi apaaa ya?


Namun tidak ku hiraukan dan bergegas membangunkan A Zam.


----------------


Seperti biasanya aku menyiapkan sarapan untuk A Zam pagi ini.


"Assalamualaikum zaujatii.."


Sedikit terkejut aku mendapati A Zam sudah ada di belakangku.


Zaujatii itu artinya istriku kan ya? Masih inget kamu A punya istri.


"Waalaikumussalam."


"Neng, semalam capek banget ya?"


"Lumayan."

__ADS_1


"Pantesan, aku gantiin baju ga bangun."


Hah !


Aku membalikkan badan ke arah A Zam yang masih berada di belakangku.


"Semalam ga berasa apa?"


"Maksud Aa?"


Senyum lagi ih.


Aku pun baru sadar sesuatu, dan terbelalak kaget bajuku beda sama yang ku pakai semalam.


Aku menutup mulutku dengan tangan.


"Biasa aja dong reaksinya."


Kemudian dia tergelak kencang, sedangkan aku masih terpaku antara malu dan kesal.


---------------------------


Hari ini A Zam libur, sehabis sarapan tadi dia langsung sibuk berkutat dengan laptopnya. Sementara aku bersiap pergi mengajar.


"Udah mau berangkat neng?"


Aku menoleh sekilas, "iya, kenapa emangnya?"


Aku berkata sambil membenarkan kerudungku dihadapan cermin besar ruang tamu.


"Cuma nanya sayang, udah cantik itu kenapa dibenerin terus kerudungnya."


Sirik aja sii.


"Tar aku juga ke pesantren ada perlu sama Mama."


hmm.


"Udah A, aku berangkat dulu. Assalamualaikum."


Aku cium tangannya, adem kan?


Tapi hatiku ga seadem itu, ada hawa panas yang terus menggebu di sana.


----------------


Mengajar adalah hiburanku, bertemu dengan anak-anakku setiap harinya membuatku bahagia di tengah kekalutan jiwa yang kadang menerpa seperti sekarang ini.


Aku memang harus banyak bersabar dan sadar diri punya suami yang banyak fansnya itu ibarat punya mainan yang bagus dan banyak yang suka akhirnya harus rela meminjamkan huh lelah sii.


Harusnya aku kan yaa yang di kejar-kejar ini mah apa?


Tuh lihat itu kan A Zam, baru juga datang ke pesantren udah di sambut ibu-ibu yang akan menjemput anaknya.


Ckck artis mah kalah udah sama kamu A.


Pelajaran pun usai, anak-anak berhamburan menuju orang tuanya..


Aku bersama Hulliyah membereskan ruangan kelas yang tidak berbentuk lagi.


"Nim, Ustadz Zam ke sini."


Hulliyah berbisik.


Aku pun menoleh ke arah pintu, benar saja A Zam sudah masuk dan memberi salam.


Idihh itu senyumnyaa.


"Katanya mau ketemu Mama Haji? Kok malah kesini?"


"Lah, emang ga boleh nyamperin istri. Kan kangen."


Isshhh ngomongnya ih, kan ada Hulliyah.


Tuh kaan Hulliyah batuk-batuk.


"Aku duluan Nim, gak mau aku jadi nyamuk."


Eh eh semalam dong aku jadi nyamuk gede matanya.


#Haha emang ada nyamuk gede matanya ( author )


#Ada, aku iyaaaa aku (Nimas)

__ADS_1


__ADS_2