
Pagi tadi dibuka dengan adegan murka sang ayah yang marah besar mendapati Haqi menginap, terlebih ranjang sampai roboh itu merupakan pertanyaan terbesar semua orang yang ada di rumah itu.
Seganas itukah Haqi?
Setelah berbagai drama itu, akhirnya sang ayah rela melepas Hulliyah kembali ke Pesantren walau dengan hati yang dongkol.
Sang ibu berperan sebagai pahlawan yang membuat ayah luluh. Meski dengan ancaman, ayah memperbolehkan Haqi membawa anaknya.
-----------------
Akhirnya Hulliyah kini berada satu mobil bersama Haqi, mereka melakukan perjalanan untuk kembali ke Pesantren.
"Maaf ya Kak, Ayah marah-marah tadi."
Hulliyah berbicara tanpa menoleh ke arah Haqi.
"Saya yang salah kok, nginep gak izin beliau. Pantas beliau marah."
Haqi berbicara dengan santai, tidak ada dalam hatinya rasa dendam atau amarah padahal tadi bapak mertuanya memaki-maki Haqi habis-habisan.
Uh Babang Haqi kasihan.
"Tapi tadi Ayah keterlaluan, aku gak enak Kak."
"Enakin aja, yang penting 'kan beliau mengizinkan kamu ikut saya sekarang. Saya udah rusakin ranjang kamu, maaf ya."
Haqi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mengingat kejadian semalam.
"Itu ranjang tua Kak, pasti Kakak kaget ya?"
Hulliyah terkikik geli.
Haqi menoleh ke arah Hulliyah dan tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Hulliyah.
-------------------
Mobil Haqi dan Hulliyah sudah mulai memasuki jalan raya di persimpangan sana. Namun tiba-tiba Haqi menghentikan mobilnya karena mendapati mobil di depannya yang tengah berhenti.
Seseorang nampak tengah kebingungan seperti sedang menghubungi seseorang.
"Kenapa Kak?" tanya Hulliyah yang bingung karena mobil mendadak berhenti.
"Sepertinya mobil itu mogok, tunggu sebentar ya!"
Haqi turun dari mobil kemudian menghampiri mobil di depannya.
Sementara di dalam mobil, Hulliyah dibuat terkesiap karena ternyata seseorang yang mobilnya mogok itu adalah Beni.
Beni nampak berbincang dengan Haqi, bahkan dari gerak-gerik keduanya Hulliyah menyimpulkan bahwa Haqi sedang menawarkan bantuan.
Tapi bagaimana ini?
Rasanya Hulliyah ingin kabur saja, menghindar atau bersembunyi. Tapi kemana?
Hulliyah dibuat semakin sesak tatkala seorang wanita turun dari mobil itu dan berjalan beriringan bersama Haqi dan Beni menuju ke arahnya.
Wanita itu tak lain adalah Karina.
Hulliyah harus apa, dunia seakan sedang mempermainkannya.
Haqi membuka pintu mobil terlebih dahulu dan masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Di belakang sana, Beni dan Karina pun ikut masuk dan duduk dengan nyamannya.
Mereka masih belum menyadari bahwa ada seseorang di depan sana yang sedang menahan sakitnya hati sampai lupa caranya bernapas.
"Terimakasih, sudah mengizinkan kami menumpang."
Suara Beni ramah dan tulus berucap kepada Haqi, tapi tidak terdengar begitu dikedua telinga Hulliyah.
Rasanya suara Beni membuat telinganya sakit dan berdengung.
"Tidak masalah, lagipula kita kebetulan searah."
"Sayang ... ini masih jauh ya?"
Suara manja Karina terdengar seperti hantaman batu besar di hati Hulliyah.
Sesak?
Iya dada Hulliyah mendadak teramat sangat sesak.
"Sypa kenapa?"
Haqi yang menoleh ke arah Hulliyah merasa khawatir sebab melihat wajah Hulliyah yang pucat dan berkeringat.
"Ti-tidak Kak, sebaiknya kita jalan lagi nanti keburu dzuhur."
Hulliyah berkata sangat pelan tak ingin Beni mendengarnya. Namun usaha Hulliyah gagal ketika terdengar suara Beni menyapanya.
"Lia?"
Sontak Haqi menoleh ke belakang kemudian berkata, "jadi kalian saling kenal?"
Hulliyah enggan sekali menjawab semua pertanyaan itu, Hulliyah ingin menghilang saja.
Maaf author jangan Oot ya!
"Ayo Kak, jalan!" seru Hulliyah.
Haqi pun akhirnya menyalakan mesin mobilnya meski dalam hati masih dirundung rasa penasaran.
Sepanjang perjalanan Hulliyah memejamkan matanya seolah-olah ingin tertidur saja supaya dirinya tak sadar kalau ada Beni di sana.
Sedangkan di belakang, Beni dari tadi mencuri-curi pandang ke arah kaca spion supaya dapat melihat raut wajah seseorang yang telah dia tinggalkan di hari pernikahan.
Ingin aku tenggelamkan kamu Beni!
Sementara Karina yang berada di sebelahnya nyaman bersandar pada dada bidang sang Polisi.
Haqi berkali-kali menoleh ke arah Hulliyah seakan ingin memastikan bahwa istrinya itu baik-baik saja.
Ketika mobil memasuki area pengisian bahan bakar, Haqi mengajak semua orang untuk turun terlebih dahulu dan mengajak mereka ke sebuah rumah makan di dekat area tersebut.
Sebenarnya Hulliyah sangat enggan mengiyakan tapi Haqi berhasil membujuknya.
Mereka pun akhirnya duduk lesehan, di hadapan mereka meja segiempat di atasnya sudah terisi makanan beserta minuman yang tadi mereka pesan.
Hulliyah lagi-lagi harus menahan sesak ketika melihat Karina yang begitu manja, mulai dari ingin disuapi sampai memisahkan duri ikan dari dagingnya. Beni pun dengan senang hati menuruti keinginan kekasihnya tersebut.
Minta ke Haqi aja Li!
"Sypa ko enggak makan?"
__ADS_1
Pertanyaan Haqi sukses mengalihkan pandangan semua orang di meja itu.
"Saya masih kenyang Kak," jawab Hulliyah.
Haqi dapat membaca ketidaknyamanan Hulliyah berada di antara orang-orang yang tengah bermesra ria di hadapan mereka. Oleh karena itu, Haqi mempercepat makannya dan berpamitan untuk membayar makanan yang mereka makan.
"Kami jadi merepotkan, biar makanan ini saya yang bayar."
Beni merasa tidak enak, karena Haqi yang akan membayar semua makanan di meja mereka.
"Tidak apa-apa, saya yang mengajak kalian kemari jadi saya yang akan membayar. Tunggu sebentar!"
Haqi pun berlalu menuju meja kasir.
Hulliyah makin tak nyaman dalam duduknya, ingin sekali menyusul Haqi tapi dirinya tak punya keberanian.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya. Pengen anu hehe ...." suara Karina yang penuh intonasi manja membuat Hulliyah mual seketika.
"Isshh kamu tuh kebiasaan abis makan pasti dikeluarin lagi. Udah sana!" Jawab Haqi sambil mencoel dagu Karina.
Amboi Beni gemas sekali sepertinya.
Berdua?
Kini Beni dan Hulliyah hanya berdua di meja itu.
"Ekhem ... Lia apa kabar?" tanya Beni ragu.
"Seperti yang terlihat, aku kabarku baik sekali."
Hulliyah berusaha agar tak terlihat sedih sudah ditelantarkan.
Jangan tanya hatinya!
Hati Hulliyah remuk bagai diremas raksasa.
"Masalah kemarin ... mari kita lupakan."
Bagai ribuan jarum menusuk hati yang remuk itu, semudah kata 'lupakan' terlontar dari mulut Beni.
"Memang aku sudah lupa kok."
Berbicara tegar walau hati terluka itu yang dilakukan Hulliyah saat ini.
"Syukurlah, aku gak mau kamu berharap lagi. Sebab aku gak bisa meninggalkan Karina."
Boleh enggak nih, aku nimpuk Beni?
"Kamu tenang saja, lagipula aku sudah menikah dengan orang lain. Tentu kamu sudah mendengar kabar itu dari para tetangga."
"Memang, tapi aku yakin kamu terpaksa." kata Beni.
"Tidak penting aku terpaksa atau tidak, itu sama sekali bukan urusan kamu."
Hulliyah sungguh tak tahan lagi dengan segala ucapan yang menyakitkan keluar dari mulut Beni.
Bukan karena Hulliyah dendam, tapi karena Hulliyah perlu waktu untuk melapangkan dadanya setelah semua kejadian tak terduga yang menimpanya.
Apa Hulliyah salah?
Apakah kesakitan yang dirasa Hulliyah salah?
__ADS_1
Apa Hulliyah akan berlarut dalam kesedihan?
Salahkah aku membutuhkan waktu untuk tidak membencimu? Biarkan aku menikmati kesakitan ini sebelum kesakitanku hancur lebur bersama namamu di hatiku.