
Siti dan Ustadz Ahmad beserta anak mereka memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Farrel sementara Uwa lebih dulu pulang.
Rencananya nanti malam mereka akan melakukan makan malam bersama dengan Ustadz Zamzam dan Nimas. Farrel sengaja mengajak mereka makan malam, yaa mencoba dekat dengan kawan dari istrinya mungkin akan membuat Sofia luluh begitu fikirnya.
Gencar banget kamu Rel.
Dan kini Siti dan Sofia masih berada di ruang tamu bercanda dengan Reasad memang hiburan tersendiri. Tak lama kedua lelaki datang sepulang dari mesjid untuk menunaikan sholat ashar.
Kedua lelaki itu pun ikut bergabung bersama wanitanya.
"Sofi, udah cocok gendong anak tuh. Cepetan bikinin dong Rel!" celetuk Ustadz Ahmad ketika melihat Sofia menggendong anaknya.
"Apaan sii Ustadz." Sofia nampak malu-malu.
Farrel hanya memperhatikan tanpa ekspresi.
Sofia pun membawa Reasad kembali duduk, dirinya tidak mau terus-menerus jadi bahan candaan di sana.
"Barakallah fii umrik sekali lagi yaa Rel, semoga mendapat berkah dari Alloh dalam usiamu."
Ustadz Ahmad menepuk bahu Farrel.
"Makin tua kamu itu, harus mempergunakan sisa umur dengan baik Rel. Boleh gak nih aku kasih tahu sesuatu." sambung Ustadz Ahmad.
Farrel terkekeh sambil mengangguk-angguk menanggapi perkataan saudaranya.
"Sesungguhnya manusia yang dikatakan baik adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan manusia yang dikatakan jelek yaa kebalikannya."
"Siap Pak Ustadz! Mulai saat ini dan seterusnya aku akan berusaha jadi manusia yang baik, terutama untuk saat ini aku ingin sekali membahagiakan seseorang." Pandangan Farrel tertuju pada Sofia.
"Alhamdulilah, kamu sudah banyak berubah."
Ustadz Ahmad merasa takjub dengan sikap Farrel saat ini, biasanya Farrel sangat benci bila dinasehati tapi sekarang dia justru menerimanya dengan senang hati.
Oh apakah ini keajaiban?
"Ini semua karena Sofi."
Kembali Farrel menatap Sofia.
Sofia pun kini tengah menatapnya.
"Terimakasih Sof, kamu sudah membawaku pada kebaikan." ucap Farrel.
Sofia hanya tersenyum kaku, entahlah sangat bingung rasanya untuk menjawab terlebih dari tadi Siti sudah saling colek dengan suaminya.
"Ekhemm ... Eh kita keluar dulu ya, mau cari jajanan." Akhirnya Ustadz Ahmad dan Siti memberikan ruang bagi Farrel dan Sofia.
Kesempatan itu tak di sia-siakan oleh Farrel untuk menggenggam tangan Sofia dan menatapnya lekat.
Eh author gimana nasibnya ini? Masa iya harus ikut Siti jajan.
"Aku mohon Sof, biarkan aku berubah. Biarkan aku menjadi suamimu."
Tatapan Farrel mulai seperti memelas.
__ADS_1
Sofia terdiam.
Farrel mendekatkan dirinya dengan Sofia, "mau ya?"
Sofia melihat kesungguhan dari sorot mata Farrel.
Lalu berfikir apa salahnya memberi kesempatan. Dan gerakan kepala Sofia yang naik turun disambut pelukan Farrel dengan air mata harunya.
Inilah kado terindah yang diberikan Tuhan padanya.
Pelukan yang hangat dan lama itu berakhir, Farrel menangkup wajah sang istri dengan tangan gemetar akibat kebahagiaan yang tiada tara.
Ditatapnya wajah sang istri dari jarak dekat, menikmati keindahan yang memang hanya miliknya.
Farrel mendaratkan kecupan hangat di dahi Sofia, sangat menghangatkan sampai membuat air mata Sofia mengalir dibuatnya.
Setelah kecupan itu terlepas, Farrel kembali menatap wajah sang istri di hapusnya air yang mengalir di pipi istrinya itu dengan lembut.
Lalu Farrel mengisyaratkan bahwa dirinya akan berbuat lebih dengan mengusap bibir peach milik Sofia.
Sofia pun mengangguk dengan senyuman. Yang akhirnya terjadi ialah Farrel menikmati bibir peach itu untuk yang kedua kalinya setelah kejadian semalam.
Duh aduh gimana nasib author ini? Masa nonton.
----------------
Malam pun tiba, Ustadz Ahmad dan Siti sudah menunggu di dalam mobil untuk pergi ke sebuah restoran guna bertemu Ustadz Zamzam dan istrinya.
Sedangkan Farrel dan Sofia masih bersiap di dalam kamar.
"Tiba-tiba Farrel gusar setelah membaca pesan dari ponselnya."
"Ada masalah di bengkel, aku harus segera ke sana. Tapi gimana ya?"
Sofia tersenyum kemudian duduk di sebelah suaminya.
"Pergi aja!"
"Ya udah gini aja, kamu berangkat duluan sama Siti dan Ahmad nanti aku nyusul setelah masalah selesai."
Sofia mengangguk dan tersenyum. Membuat kegusaran Farrel hilang seketika.
Sofia pun bangkit dan berjalan menuju pintu, namun baru beberapa langkah kakinya berhenti.
Sofia berbalik ke arah Farrel yang sibuk memakai jaket.
"Rel ..."
Farrel pun menghentikan aktivitasnya lalu menatap Sofia.
"Kenapa?"
Sofia mendekati Farrel dan meremas tangannya gugup, setelah mereka saling berhadapan Sofia menunduk dalam. Kelakuan Sofia membuat Farrel kebingungan.
"Rel, boleh ga aku meluk kamu untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi."
__ADS_1
Kalimat Sofia sangat ambigu yaa.
Farrel terkekeh pelan kemudian merentangkan kedua tangannya. Sofia tersenyum dan menyambutnya. Mereka pun saling berpelukan merasakan kehangatan lewat dekapan sampai akhirnya suara klakson membuyarkan itu semua.
Farrel dan Sofia melupakan sesuatu, mereka sedang ditunggu kepentingan dunia.
Malah keasikan ckck.
-----------------
Setelah tadi berpisah dengan Farrel di halaman rumah, kini Sofia berserta sepasang suami istri yang tadi sempat kesal karena lama menunggu sudah tiba di sebuah restoran bergaya klasik tempat mereka janjian bersama Ustadz Zamzam.
Miris kalau inget nasib Siti sama Ustadz Ahmad haha.
Di sebuah meja yang berbentuk persegi panjang itu, sudah nampak Nimas dan suaminya di sana tapi tidak dengan anaknya.
Setelah semua duduk, obrolan pun di mulai.
"Mima gak dibawa?"
Pertanyaan pertama dari Sofia.
"Kebetulan ada ibu di rumah, eh ini yang ulang tahunnya mana?" tanya Nimas.
"Ada urusan di bengkel katanya, kalian pasti lama yaa nunggu di sini. Kami juga sama, di suruh nunggu di mobil sampai berakar. Ngapain dulu mereka di kamar hadeeuuuh."
Ustadz Ahmad masih kesal ternyata.
"Ah Ustadz kayak ga ngerasain aja haha." lanjut Ustadz Zamzam.
Mereka pun tertawa bersama dan terus menggoda Sofia.
Farrel cepat datang dong, biar Sofia tidak sendirian menghadapi kenyataan hihi.
---------
Kala sedang bercanda itu panggilan masuk ke dalam ponsel Sofia. Sofia mengernyit karena di sana tidak tertera nama si penelpon, kemudian Sofia pun meminta izin untuk mengangkatnya berlalu agak menjauh dari teman-temannya.
Tak lama kemudian Sofia kembali dengan agak terburu-buru.
"Teman-teman aku ada urusan sebentar. Barusan temennya Farrel nelpon, katanya ponsel Farrel ketinggalan di rumah. Minta tolong sama aku buat ngambilin. Assalamualaikum."
Tanpa menunggu persetujuan teman-temannya, Sofia berlalu meninggalkan restoran itu.
-----------
Tak lama setelah Sofia pergi, datanglah Farrel dengan senyuman lebarnya berjalan menghampiri meja dimana teman-temannya berada.
"Assalamualaikum, Loh Sofi mana?"
"Waalaikumusalam, loh bukannya kamu nyuruh Sofia buat ngambil ponsel ke rumah," ucap Ustadz Ahmad.
Apa?
Wajah Farrel pucat seketika, dia panik.
__ADS_1
Lalu dengan cepat Farrel pergi menuju mobilnya sambil mencoba menelpon Sofia.
Nah loh.