Love In Pesantren

Love In Pesantren
Mungkin lebih baik


__ADS_3

Tiga hari sudah aku terkurung di rumah ini. Setiap hari yang ku lakukan hanya menunggu, menunggu, dan menunggu Farrel pulang. Tiap hari aku memesan makanan secara online dan berakhir pada acara lempar-melempar. Uh, kenapa aku penurut begini sii?


Gara-gara pintu itu pula aku dianggap orang gila oleh si pengirim makanan.


Hahh memangnya kelihatan banget apa.


Malam ini belum terlalu larut, ku dengar suara gerbang terbuka.


Eh ada yang ngetuk pintu.


Mungkinkah?


Aku girang bukan main suamiku pulang.


Suami?


Ah kenapa aku geli sendiri mengucapkan kata itu.


Saat aku membuka pintu, benar dia Farrel. Ku sambut tangannya lalu menciumnya.


Ga ada perlawanan?


"Kamu tuh di rumah ngapain aja sii? Itu lantai teras sampai kotor begitu."


Lah.


"Kan kamu melarangku membuka pintu, jadi selama tiga hari aku ga pernah keluar melewati pintu itu."


Polos banget kedengarannya yak. Hihi.


Ko Farrel menganga begitu?


"Hei.. !!"


Aku toel aja tangannya.


Kenapa dia nganga begitu sii nanti ada nyamuk masuk loh Rel.


Idih matanya mengerjap-ngerjap gitu, Apa dia lagi main mata genit?


Setelah aku toel tiga kali barulah dia sadar.


"Kamu? Ga buka-buka pintu ini?"


Ngangguk aja deeeh.


Ih dia malah geleng-geleng melewatiku begitu saja.


Hahh sudahlah.


"Sofiaa.. Masak apa kamu, aku lapar."


Farrel ngagetin deh, gausah teriak-teriak gitu. Aku samperin aja deh.


"Aku ga masak."


Isshhh kok matanya nusuk gitu liatin aku nya.


"Kelewatan kamu !! Apa kamu ga bisa masak heuh !!"


Duh nada suaranya sudah mulai tak enak di dengar.


"Maaf.."


Ya ya cuma kata itu yang aku ucapkan seraya menunduk.


"Bawakan aku nasi saja. Jangan bilang kamu ga masak nasi."


"A-aku gak masak nasi."


Ko aku jadi takut begini.


"Ya ampuuuun, kamu itu istri macam apa? Sampai-sampai suami minta makan ga ada sebutir nasi pun. Bukankah kamu santri heuh !!"


Sakit.


Kenapa aku yang salah di sini?


Kenapa aku di bentak?

__ADS_1


Sakit.


Tak terasa air mataku mulai mengalir melewati pipiku.


"Aku ga masak karena ga ada gas, mau beli tapi kamu melarangku keluar. Aku ga masak nasi karena gak ada penanaknya, beras juga gak ada."


Huaaa nangis nih aku nangis, ga kuat rasanya.


JEBREDDD..


Farrel membanting pintu kamar keras, suaranya pun nyaring dan menyakitkan telinga. Mirip reporter sepak bola itu loh kalau ada gol. Tapi ini menyakitkan.


Yang kulakukan hanya sesenggukkan di tepi kasur sambil mencengkram erat dadaku. Karena rasanya begitu sakit.


---------------


Beberapa minggu berlalu selalu dengan kepedihan tiap harinya. Yang ku dengar hanya bentakkan dan makian dari Farrel.


Ini sebuah kisah yang mirip adegan ftv, tapi aku ga selemah itu aku pasti bertahan.


"Assalamualaikum."


Itu pasti Siti, kemarin kami janjian untuk pergi ke Pesantren menghadiri pengajian sebulan sekali.


Ah aku rindu Pesantren.


Aku pun menumpang mobil Ustadz Ahmad dan Siti.


Jangan tanya Farrel, dia sibuk bekerja. Aku bisa diizinkan begini karena Ustadz Ahmad yang bicara pada Farrel.


Mungkin kalau aku sendiri yang bilang Farrel tak mungkin mengizinkanku.


Huh.. Temperamennya sulit di tebak.


----------------


Akhirnya kami sampai di Pesantren ini, yang masih ku anggap seperti rumah keduaku.


Ustadz Ahmad memarkirkan mobilnya lalu kami pun bersiap turun.


Siti yang memang membawa bayi sedikit kesulitan untuk turun terlebih anaknya tertidur selama perjalanan. Ustadz Ahmad dengan sigapnya membantu Siti menuruni mobil itu.


Eh pengen apa nih aku?


Sebelum acara dimulai kami melihat Nimas yang juga hadir di sana. Aku menatap bayi yang digendongnya. Ah apakah itu Zamima anaknya?


Uuh lucu, dari kejauhan saja sudah nampak aura dari sang bayi mungil itu. Anak Siti laki-laki ga kalah lucunya.


Tapi yaa tetep beda, aku lihat Zamima di pakaikan kerudung oleh Nimas membuatku gemas sendiri.


Setelah bertegur sapa sebentar kami pun harus berhenti, sebab acara akan segera di mulai.


Aku duduk bersisian dengan Nimas, aku meminta Nimas untuk memberikan Zamima ke pangkuanku.


Ahayyy wangi khas bayi semerbak di tubuh Zamima, uh pinter deh Nimas ngurus bayi.


Anaknya kalem lagi, beda sama Reasad anaknya Siti tiap ku gendong pasti nangis. Ngerti sebelum waktunya Reasad tuh.


-------------


Tema pengajian kali ini ialah lakukan segala sesuatu itu karena Alloh.


Jujur aku merasa tersentil kali ini. Aku melakukan pernikahan ini karena apa?


Aku menikah bukan karena Alloh, aku melakukan ini demi sahabatku. Dari awal niatku sudah salah.


Pantas sajaa rasanya sulit sekali aku untuk tidak sakit di perlakukan tidak baik oleh Farrel.


Pantas saja aku masih mengeluh dan iri akan kebahagiaan pernikahan orang lain.


Rupanya aku kurang bersyukur, aku tidak melakukannya karena Alloh.


Aku seseorang yang terpaksa mengambil keputusan. Oh sungguh pantas saja terasa berat ternyata beban itu ada pada niatku.


Aku malu padamu Ya Alloh.


-------------


Selesai pengajian kami berkumpul dulu di rumah Nimas, Hulliyah pun ikut kali ini. Membernya kurang satu orang yakni Rista yang berhalangan hadir.

__ADS_1


Ceilah member.


Kedua bayi tengah tertidur di kamar. Hingga kami lebih leluasa mengobrol meskipun sedikit mengendap-ngendap karena takut bayi terbangun.


"Sofia, aku ga tau kamu nikah."


Nimas memecah lamunanku mungkin dia bingung melihatku yang hanya diam.


"Pernikahan sederhana ko Nim."


Jawabku sekenanya.


"Ko bisa sama Farrel yaa, jodoh memang sulit di tebak."


Siti memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Sementara Hulli dari tadi memandangku penuh iba. Iya, memang hanya Hulli yang tahu alasan kenapa aku bisa menikah dengan Farrel.


-----------------


Aku memutuskan untuk menjaga aib pernikahanku.


Meskipun sikap Farrel masih tak bersahabat, selagi dia tak main tangan aku masih terima.


Sampai suatu hari Farrel bilang dia punya pacar. Oh apa ini?


"Sejak kapan?"


Pertanyaanku lolos begitu saja, saat Farrel dengan tanpa beban membicarakan wanita lain.


"Apa peduli kamu? Sejak aku mencoba melupakan Nimas."


Aku diam menahan pedih hati. Lalu aku tersenyum.


"Selamat yaa kamu udah bisa move on."


Yah lebih baik aku berbesar hati daripada harus kesakitan. Mungkin sesungguhnya kami tidaklah berjodoh hanya karena aku memaksa jadi kami terpaksa begini.


Meskipun Alloh sangat membenci perceraian tetapi bila pernikahan memudharatkan diperbolehkan saja.


Selalu ku ingat kajian dari Mama Haji tentang perceraian. Dimana pernikahan itu dibagi dua, ada yang memberi manfaat dan ada yg mudharat.


Mungkin pernikahanku ini memang yang tak memberikan manfaat sama sekali jadi yaa pisah lebih baik.


"Jangan senang dulu kamu !! Aku gak bilang akan menceraikanmu."


Deg.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#Terimakasih temanku yang memberiku pengetahuan tentang perceraian (author)


#Siapa thor?

__ADS_1


#Kepo (author)


__ADS_2