Love In Pesantren

Love In Pesantren
Ada apa


__ADS_3

Sofia yang tengah bervideo call bersama para sahabatnya dibuat tak tenang karena pintu gerbang terdengar ada yang membuka. Setelah mengakhiri panggilannya, Sofia cepat membuka pintu.


Ternyata Farrel yang sudah memasang wajah datarnya melenggang masuk tanpa basa basi.


Sofia mengikutinya dan memunguti satu persatu barang yang tadi dikenakan Farrel yang di buka sembarang sambil berjalan.


Mulai dari sepatu, kaos kaki, jaket, kemeja, gesper semua dia buka sambil berjalan.


Hadeuuuh kenapa ga sama daleman sekalian Rel.


Sofia memungutinya dan menyimpan pada tempatnya.


"Kamu mau mandi?"


Pertanyaan biasa dari Sofia malah membuat Farrel mendelik tajam.


"Aku udah mandi."


Hah dimana?


"Aku tadi mandi di hotel."


Apa?


"Kamu ga nanya ngapain aku ke hotel?"


Malah author yang gatal pingin nanya.


Sofia menggeleng lalu tersenyum, sejurus kemudian dia keluar dari kamar itu menuju dapur.


Farrel terbengong dibuatnya, dia tak habis fikir. Bukan jawaban seperti itu yang dia inginkan. Dia ingin Sofia sakit hati dan menangis tapi ini apa?


Beberapa saat kemudian, ketika Farrel telah usai berganti pakaian dirinya menyusul Sofia ke dapur.


"Aku lapar."


Sofia tersenyum.


"Aku masak ini, semoga kamu suka."


Sofia membuka tudung saji dan terlihatlah di sana, ayam goreng yang semuanya paha.


"Apa ini?"


Farrel menilik masakan Sofia.


"Ayam goreng, kata Uwa (ibunya Ustadz Ahmad) ini makanan kesukaan kamu."


Ternyata Farrel mirip tokoh animasi yang suka ayam goreng hihi, yang kembar botak itu loooh.


Kemudian Sofia, mengambilkan nasi ke piring Farrel.


Namun Farrel beranjak dan menyalakan kompor lalu memasak mie instan.


Sedikit sakit Sofia rasakan.


"Kenapa malah masak mie?"


Tak kuasa untuk tak bertanya rupanya.


"Aku ga suka masakan kamu."


Ucap Farrel Sinis.


"Kamu kan belum coba."


"Hei denger ya kamu !! Aku gak akan pernah menyukai apa yang ada atau apa yang kamu perbuat. Kamu mengerti !!"


Semburat sedih itu muncul kembali.


Yang Sofia lakukan kini hanya memandangi masakannya.


Lain kali jangan masakin Sof.


-------------------


Malam ini Seusai sholat isya, Sofia merebahkan diri di kasurnya terlihat olehnya di kasur yang satu lagi Farrel sedang memainkan ponselnya.


Ini sudah beberapa kali mereka sekamar tapi beda kasur.


Sesekali Sofia memandang ke arah Farrel yang terlihat sibuk itu.


Kemudian Sofia membalikkan badan membelakangi Farrel yang ternyata mulai menatapnya.


Pandangan Farrel sangat sulit diartikan, ada semacam kebimbangan di sana.

__ADS_1


Di satu sisi Farrel merasa bersalah pada Sofia. Namun dalam sisi egonya dia masih kukuh ingin membalas Nimas dengan cara menyakiti Sofia.


Isshh kejam.


"Sebaiknya kamu sholat isya, nanti ketiduran."


Perkataan di balik punggungnya yang tertutup selimut membuat Farrel mengerjap.


Kembali Farrel berdehem.


"Uwa nyuruh kita ke rumahnya besok."


"Iya."


Setelah itu hening tak ada percakapan lagi. Mereka tenggelam dengan fikirannya masing-masing hingga tanpa sadar terlelap dalam mimpi malam itu.


--------------------


Sekitar pukul delapan pagi, Sofia dan Farrel telah tiba di rumah Uwanya.


Di sana ada Ustadz Ahmad bersama Siti, karena memang mereka tinggal bersama orang tuanya.


"Sudah siap yaa, ayo berangkat !!"


Ibu Ustadz Ahmad sudah siap dengan tas belanjanya.


Eh pada mau kemana?


Ke pasar?


"Sofi, kamu mau ikut? Atau di sini sama aku."


Eh.


"Aku sama kamu aja Sit."


"Ga boleh !! Kamu ikut, sekalian belanja juga buat besok sahur pertama."


Ooo mereka mau belanja.


Ciee Farrel.


"Oh gitu, ya udah lain kali aku main ke sini ya Sit."


Farrel memutar bola matanya seakan malas melihat adegan drama persahabatan itu.


Sudah menjadi kebiasaan di keluarga mereka untuk berbelanja tiap bulannya.


Hmmm mungkin itu sebabnya waktu itu Farrel bisa ada di pasar dan bertemu Nimas.


Farrel pun ingat akan hal itu, sudut hatinya masih belum bisa di pulihkan. Masih saja ingat istri orang, padahal istrinya nganggur.


Awas kamu nyesel.


Saat itu yang mengemudi adalah Ustadz Ahmad.


Jadi Farrel bebas untuk hanyut dalam fikirannya, pandangannya tiba-tiba terhenti pada kaca spion.


Sangat jelas terlihat wajah Sofia yang tengah mengobrol bersama ibunya Ustadz Ahmad.


Senyuman itu, kenapa terlihat menyakitkan?


Perasaan kamu aja kali Rel.


Sorot mata itu kenapa meneduhkan?


Duh sepertinya ekhem.


Lama semakin lama Farrel memandangi wajah sang istri yang tak sadar tengah diperhatikan.


Sampailah mereka di pasar.


"Rel, hei Farrel !!"


Suara Ustadz Ahmad membuat Farrel berjengkit kaget hingga salah tingkah.


"Yeeee, ngelamun nih anak."


Ustadz Ahmad membuka pintu sambil terkekeh.


Farrel yang masih belum sepenuhnya sadar dengan terburu-buru membuka pintu sampai tidak tahu kalau Sofia sedang berjalan di sisi pintu itu dan akibat kerasnya dorongan di pintu mobil, Jeddukkk.... Sofia terdorong agak keras sampai jatuh terduduk.


Farrel semakin terkejut dibuatnya.


"Aww.."

__ADS_1


Rupanya sakit juga ya Sof.


"Ya ampun Farrel, kamu apa-apaan. Buka pintu liat-liat dulu dong."


Ibu Ustadz Ahmad berlari menghampiri Sofia.


Farrel masih diam tepatnya bengong sii.


"Ada yang luka Sof?"


Ibu Ustadz Ahmad khawatir.


"Kamu itu Rel, katanya mau jagain seluruh keluarga. Lah ini jagain istrinya ga bisa, ayo Sof mending kita belanja !!"


Ko ibu Ustadz Ahmad sewot?


Tapi kapan yaa Farrel bilang mau jagain seluruh keluarga hmm?


"Kamu kenapa? Dari tadi aku perhatiin ngelamuuuuun aja seperti anak perawan yang mau dikawinin."


Haha Ustadz Ahmad bisa ngelucu juga.


Sesaat setelah mereka duduk di kursi bangku kosong sambil menunggu para wanita berbelanja.


Farrel mengerjap sambil merogoh kantong celananya mengeluarkan bungkusan rokok beserta pemantik apinya.


Ustadz Ahmad menahan tangan Farrel yang akan menyalakan rokoknya.


"Kamu ngerokok lagi?"


Farrel tak menjawab dan melanjutkan menyundut benda yang mulai berasap itu.


"Ngomong Rel ! Ada apa? Kalau kamu begini pasti punya masalah. Kamu bisa ngomong sama aku."


Farrel tergelak sambil menghembuskan asap pekat dari mulutnya.


"Males cerita sama kamu, yang ada malah ceramah. Secara sekarang kan udah jadi Ustadz."


Ustadz Ahmad geleng-geleng.


"Enggak Rel, aku masih sama, Ahmad yang dulu, Ahmad sepupu kamu."


Tangan Ustadz Ahmad menepuk bahu sepupunya itu.


"Hidup aku udah banyak drama.. Jangan nambahin drama begini deh, ini bukan sinetron."


Farrel melepas tangan Ustadz ahmad yang ada di bahunya.


Ustadz Ahmad tersenyum.


"Makanya cerita, masalah apa? Kerjaan?"


Farrel menghembuskan nafas bercampur asap itu lagi.


Dan mulailah Farrel bercerita....


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#Duh ceritanya ga jelas banget yaa haha, author lagi buntu.

__ADS_1


__ADS_2