Love In Pesantren

Love In Pesantren
Coba-coba?


__ADS_3

Suara anak-anak tahfidz yang tengah menghapal itu terdengar begitu nyaring. Tapi tadi Hulliyah tidak salah dengar kan?


Hulliyah mengerutkan keningnya menoleh ke arah Beni.


"Curhat nih ceritanya? Kamu ngundang aku ke pernikahan? Inshaalloh, aku datang jika tidak ada halangan."


"Aku tidak mengundangmu."


Beni menoleh kembali pada Hulliyah sesaat saling menatap sampai akhirnya Hulliyah memalingkan pandangannya.


"Yaa, enggak apa-apa juga sii. Mungkin aku juga sibuk tidak bisa hadir."


Ada sedikit sakit yang muncul ditiap kata yang keluar dengan sendirinya dari bibir Hulliyah itu.


"Aku enggak ngundang kamu, karena kamu yang jadi mempelai perempuannya."


Entahlah kini hening rasanya pendopo ini, padahal para hafiz masih menghapal dengan riuhnya.


Hulliyah mengerjap menyadarkan diri, kemudian tertawa yang terlihat dipaksakan.


"Aduh aku kena prank ...."


Hulliyah tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku serius! Sangat serius."


Seketika tawa Hulliyah berhenti.


"Jangan bercanda deh!"


Hulliyah memalingkan wajahnya pada kerumunan santri yang tengah menghapal itu.


"Aku bilang, aku serius. Semalam orang tuaku sudah menemui orang tuamu."


Apa?


Author syok.


Hulliyah tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya.


"Loh, bukannya kamu punya pacar? Terus itu Karina siapa?"


"Karina memang teman dekatku, tapi itu dulu. Ada beberapa hal yang membuat kita berpisah."


Hulliyah sungguh bingung, dia bingung menentukan sikap. Dalam lubuk hatinya yang terselubung Hulliyah tidak menyangka bahkan jingkrak-jingkrak karena bahagia.


Tapi kala teringat akan kenyataan kebahagiaan itu jelas tak boleh terlihat.


"Kamu bersedia kan menjadi pengantinku?"


Aw aw aww ini lamaran pemirsa.


"Apa orang tuaku setuju?"


Hulliyah menunduk merasakan kebahagiaan yang memuncak itu menerobos masuk melalui celah yang terbuka dalam hatinya.


"Iya, mereka setuju. Tanggal pun sudah ditentukan."


Apa?


"Eh tapi kenapa? Ini sangat mendadak."

__ADS_1


Beni kini sudah menghadap ke arah Hulliyah, membuat wanita itu gelagapan salah tingkah.


"Aku juga awalnya ragu, tapi kalau kita belum mencoba tak ada yang tau kan?"


Banyak pertanyaan yang tak tersampaikan dalam benak Hulliyah. Tapi, benar apa kata Beni kalau tidak dicoba mana tahu.


Jadi kalian pasangan coba-coba gitu maksudnya?


"Jika yang berhak atas diriku sudah setuju, baiklah aku bersedia." ucap Hulliyah mantap.


Ahcieee uhuk uhuk.


Senyuman merekah dari bibir Beni, ingin rasanya dia memeluk Hulliyah.


Tapi Beni tahu, Hulliyah dilindungi oleh sekat yang tebal. Perlu menghalalkannya untuk meruntuhkan sekat tersebut.


"Terimakasih Li, terimakasih."


Hafiz yang tengah melantunkan surat Al-Maidah ayat ke-5 serasa senada dengan kenyataan yang kini terjadi di pendopo itu.


Inti dari surat Al-Maidah ayat kelima tersebut ialah dihalalkan bagi seorang pria untuk menikahi wanita yang benar-benar menjaga kehormatannya.


Selamat yaa Beni berhasil.


---------------------


Seminggu setelah lamaran dadakan, Beni tak pernah lagi berkunjung ke Pesantren. Beni dan Hulliyah bersepakat bertemu saat akad nikah sekitar dua minggu lagi.


Sebenarnya orangtua Hulliyah sudah menyuruh Hulliyah pulang untuk mempersiapkan acara pernikahan. Namun Hulliyah menolak secara halus. Hulliyah ingin menemani Nimas sahabatnya, untuk persalinan. Berhubung setelah menikah, Hulliyah tak yakin apakah bisa dirinya bebas berkeliaran di luar rumah.


Hulliyah benar-benar menunggu sampai hari ini, hari dimana Nimas dilarikan ke rumah sakit.


Nimas sedang berjuang menjalani kodratnya. Hulliyah bergabung dengan orangtua Nimas dan juga ibunya Ustadz Zamzam.


Akhirnya kegelisahan buyar tatkala tangisan bayi terdengar memecah ruang perlindungan atas doa-doa tersebut.


"Alhamdulillah." ucap semua orang serempak.


Lega, satu kata yang menggambarkan suasana kemudian bahagia, akhir kata yang tersirat dari tiap lekuk raut wajah yang tadi merasakan kecemasan.


--------------


Suasana sudah terkendali, Hulliyah masuk ke dalam kamar yang di tempati Nimas bersama orang-orang yang akan memberikan selamat pada pasangan bahagia itu.


"Selamat ya, akhirnya lahir juga adiknya Mima."


Hulliyah mengelus pipi bayi mungil yang ada dalam pangkuan Nimas.


"Terimakasih Li, eh Mima dimana?"


Seketika Nimas teringat akan putri sulungnya.


"Kamu tenang saja, Mima di rumah bersama Sari dan Gazani."


Sang ibu yang membaca kekhawatiran itu menenangkan Nimas.


"Oo mereka dateng, duh kasihan mereka jadi harus mengasuh Mima."


"Sama saudara harus saling bantu, mereka justru senang."


"Adiknya Mima perempuan, pasti seneng nih dia punya teman."

__ADS_1


Mertua Nimas ikut menimpali obrolan.


Oo bayinya perempuan lagi, kalau mau laki-laki berarti Ustadz Zamzam harus coba lagi wkwk (timpuk author).


Bahagia dengan keriuhan yang ada akhirnya ada keheningan yang tercipta. Di ruangan itu tinggalah Nimas dan Hulliyah sebab yang lain keluar kamar untuk menyalurkan kebahagian pada yang lain.


"Nimas, aku mau pamit."


Hulliyah nampak menunduk di kursi itu.


"Kamu mau pulang kapan?"


"Mungkin besok, Nimas doakan aku!"


Hulliyah mengangkat wajahnya, binar permohonan jelas tergambar di sana.


Nimas tersenyum, kemudian tangannya yang tidak ditancapi selang infus menjulur menyentuh pipi Hulliyah. Telapak tangan dari sang sahabat dirasa hangat menyentuh pipinya.


"Jelas aku akan mendoakan yang terbaik buat kamu, kamu harus bahagia. Akhirnya yaa, doa-doamu terjawab. Beni akhirnya takluk oleh pesonamu."


"Aihhh apa sii kamu?" kata Hulliyah tersenyum malu.


"Ahciee ... tapi aku minta maaf gak bisa hadir nih, nanti aku suruh A Zam yang ke sana ya."


"Enggak apa-apa Nim, aku ngerti. Boleh minta peluk?"


Nimas memberengut namun akhirnya kedua tangannya merengkuh sang sahabat penuh sayang. Perpisahan adalah hal yang pasti terjadi dan dialami semua manusia.


Perpisahan yang akan selalu dikenang oleh kebahagiaan coba dirangkai Hulliyah dan Nimas.


----------------


Hulliyah keluar dari ruangan perawatan Nimas dengan mata sembab, sebab setelah berpelukan tadi mereka malah membahas hal yang menyedihkan alhasil mereka menangis bersama.


Baru beberapa langkah meninggalkan ruangan, Hulliyah berpapasan dengan beberapa teman Ustadz Zamzam. Tentu diantaranya ada Haqi, mereka tertegun dalam kebisuan.


"Bisa kita bicara?"


Sesaat setelah menyuruh teman-temannya untuk duluan masuk ke dalam, Haqi mengejar Hulliyah.


"Boleh, tapi sambil berjalan saja."


Hulliyah terus berjalan sehingga Haqi harus mensejajarkan langkah untuk bisa mengobrol.


Hulliyah ini kejam yaa dengan Haqi, tiap ngomong sama dia musti sambil jalan. Ckck kasihan Haqi, sini sama author aja.


"Selamat untuk pernikahanmu, saya ikut senang."


Haqi masih berlomba dengan langkah kali.


"Terimakasih."


Duh obrolan kalau sudah dapat jawaban singkat itu rasanya susah nyari topik lagi.


Itupun yang terjadi saat ini, Haqi menghentikan langkahnya. Membuat Hulliyah juga ikut berhenti.


"Saya bingung mau bicara apalagi. Intinya semoga Sypa bahagia selalu."


Seulas senyuman yang terasa sangat menyakitkan terlukis jelas tanpa harus diungkapkan.


Saling berbalas salam, mereka pun berjalan berlainan arah saling memunggungi satu sama lain.

__ADS_1


Haqi melangkah dengan berat, sementara Hulliyah melangkah dengan angan-angan dan juga kebahagiaan.


__ADS_2