
Sehari setelah pernikahan Haqi membawa Hulliyah ke rumahnya. Rencananya mereka akan mengantarkan keluarga besar Haqi yang akan pulang ke Palembang.
Hulliyah berada ditengah-tengah keluarga besar yang kala itu tengah mempacking barang bawaannya. Hulliyah beradaptasi dengan sangat cepat hingga berbaur dengan baik bersama keluarga Haqi.
Haqi mendekati Hulliyah kemudian duduk di sampingnya. Jemarinya tidak mau diam menyusuri setiap bagian tubuh Hulliyah.
Sesekali Hulliyah menghentikan aksi Haqi karena merasa tidak enak dengan yang lain, tetapi ternyata Haqi menganggapnya wajar.
Haqi menumpu dagunya pada pundak Hulliyah.
"Aduh Kakak ... mau mesra-mesraan sana di kamar! Buat polusi aja, tahu gak?" ledek sang adik.
"Tadinya di kamar, tapi istriku kabur ke sini."
Haqi semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Hulliyah.
"Kak, jangan gini!" Hulliyah sedikit menjauh tetapi Haqi memperangkapnya dalam dekapan, tangannya begitu erat melingkar disepanjang pinggang Hulliyah.
Hulliyah hanya pasrah mendapat perlakuan manja dari sang suami. Sementara orang-orang yang ada di sekitarnya hanya bisa menahan senyum bahkan ada yang jengah yakni adiknya. Berkali-kali sang adik mengomel karena ulah kakaknya itu.
"Dunia milik berdua deh, kita cuma ngontrak."
Satu omelan sang adik membuat semua orang tertawa.
------------------------
Ketika makan siang tiba yang merupakan makan siang terakhir mereka ada di rumah Haqi. Semua keluarga larut dalam canda tawa sambil menikmati makan siang.
Sepasang suami istri memisahkan diri dengan makan di ruang tengah. Haqi sibuk mengotak-atik ponselnya sembari disuapi oleh Hulliyah. Hulliyah benar-benar berperan sebagai istri yang baik dengan menuruti semua keinginan Haqi.
Sang adik masih nampak gemas dengan kelakuan kakaknya pun mengikuti sang Kakak makan di ruang tengah bersama suaminya.
Sang adik sengaja melakukannya untuk membalas dendam akan kelakuan Haqi.
"Sayang ... suapi aku!" kata adik Haqi kepada suaminya.
Haqi melirik sekilas lalu kemudian mengalihkan pandangannya pada Hulliyah.
"Kenapa ya disuapin kamu makanannya jadi enak?" kata Haqi.
Sang adik meledeknya dengan berpura-pura muntah.
"Gombalan jadul," ledek sang adik.
"Syirik kamu!" Haqi tidak memperdulikan adiknya lagi.
Sang adik memutarkan bola matanya pertanda jengah dengan sang kakak. Kemudian seringai hadir dari bibirnya.
__ADS_1
"Sayang ... rasa nih rasa! Dedek bayinya nendang." Adiknya Haqi membuka bagian perutnya dan meletakkan tangan suaminya tepat pada perutnya yang memang sedang terlihat menggeliat gerakan-gerakan kecil.
Haqi menatap sang adik dengan delikkan tajam. Merasa kalah, ya kini Haqi merasa kalah.
Akhirnya yang Haqi lakukan adalah melanjutkan makannya serta bermain ponsel kesayangannya.
Hulliyah yang menyadari perubahan ekspresi suaminya menyembulkan senyuman kecil di sudut bibirnya. Ternyata seorang Haqi yang bijak memiliki sisi kekanak-kanakkan bila sedang bersama dengan orang yang disayangnya.
----------------------
Malam ini, setelah anggota keluarga pulang semua termasuk ayah dan ibunya Haqi suasana rumah menjadi sepi.
Bunyi detik jarum jam menjadi musik pengiring dua insan yang sedang memadu kasih.
Setelah aktivitas melelahkan itu Haqi mendudukkan dirinya dan bersandar pada head**board. Tangannya sesekali mengusap kepala Hulliyah yang tertidur di sampingnya dengan pulas.
Setelah semua yang terjadi Haqi bersyukur akhirnya dia bisa memiliki Hulliyah seutuhnya. Ditakdirkan bersama dan membina kerajaan cinta bersama Hulliyah adalah impiannya yang kini terwujud. Syukur seperti apa yang harus Haqi panjatkan untuk berterima kasih pada Tuhan-Nya.
Kemudian Haqi mengulas senyum tipis seraya mengusap kepala istrinya.
Aku akan mencintai dan menjagamu sepenuh hati. Tetaplah bersamaku hingga ujung waktu.
Bisikkan yang diberikan kepada Hulliyah yang sedang tertidur itu dianggap Haqi sebagai sugesti dan juga kepercayaan pada dirinya bahwa kini Hulliyah adalah miliknya hanya untuknya.
---------------------
Sesampainya di Pesantren Hulliyah bergegas masuk meninggalkan Haqi yang mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Di area Pesantren Hulliyah bertemu Nimas dan juga Siti yang kebetulan ikut mengaji.
Mereka larut dalam obrolan sebelum dimulainya acara pengajian.
Seperti biasa kerepotan Nimas menular pada Hulliyah, seolah mendapat penjaga anak Nimas sangat senang ketika Khalila ingin digendong oleh Hulliyah. Sementara Zamima asik bermain bersama putra dari Siti yang bernama Reasad kebetulan umurnya tidak jauh dengan Zamima.
Nimas dan Siti akhirnya leluasa mengobrol tanpa direpotkan oleh anak mereka.
Hulliyah yang sedang menggendong Khalila pun tidak keberatan jika jarus ikut mengobrol walaupun berat menumpu badan Khalila.
Suasana ramai dan berisik mendadak hening ketika Ustadz yang sengaja didatangkan dari luar kota mulai naik ke atas mimbar.
"Eh Ustadznya ganteng," bisik Nimas.
Siti menyahutinya dengan anggukkan sementara Hulliyah hanya melirik sekilas kemudian berkata, "inget suami woi."
Nimas hanya terkekeh geli mendengar penuturan Hulliyah.
"Cie yang punya suami," Siti kini ikut-ikutan berbisik. Akhirnya Nimas dan Siti saling terkikik geli karena berhasil meledek Hulliyah yang tidak bisa membalas ucapan mereka.
__ADS_1
Ketika Ustadz itu mulai membuka suara akhirnya suasana kembali hening.
Setelah membuka kajiannya Beliau mulai masuk pada inti kajiannya.
"Apa di sini semua santri?" Pertanyaan dari sang Ustadz dijawab serempak, bahkan ada yang mengatakan alumni Pesantren.
Ustadz yang terlihat murah senyum itu kemudian melanjutkan perkataannya, "tahukah santri yang baik itu seperti apa?"
Jawaban dari semua orang yang ada di tempat itu berbeda-beda mengharuskan sang Ustadz untuk menengahi.
"Santri yang baik tidak bisa dilihat ketika dia ada di pondok, santri yang baik akan terlihat ketika dia keluar dari pondok dan berbaur dengan masyarakat. Hayo para santri yang sudah keluar dari sini tunjukkan pesonamu di luar sana! Tunjukkan bahwa kamu santri yang baik."
Penjelasan masih terus berlangsung sampai tengah hari dan acara disudahi.
Banyak ibu-ibu milenial yang ingin berpoto bersama Ustadz yang dianggap berparas rupawan mengalahkan Ustadz Zamzam.
Namun secara tiba-tiba Ustadz yang masih menjadi sorotan itu mendekat ke arah Hulliyah yang masih terduduk tanpa bisa bergerak lebih banyak karena Khalila tertidur di dalam gendongannya.
Assalamualaikum ...."
Hulliyah mengerutkan keningnya karena merasa heran ada seorang Ustadz kondang yang menyapa dirinya.
"Waalaikumsalam." jawab Hulliyah.
"Alhamdulillah kita bisa bertemu di sini. Saya salah satu panitia FASI, waktu itu Anda membawa perwakilan dari Pesantren ini 'kan?" kata Ustadz itu.
"Ah iya, benar saya." Hulliyah tersenyum kaku.
"Saya ingin mengajak Anda supaya menjadi juri dalam kompetisi yang lain, bagaimana kesediaannya?"
Hulliyah terkesiap dengan tawaran itu.
Kenapa terlambat?
Hulliyah merasa salahsatu keinginannya datang disaat yang sangat terlambat.
"Nanti saya pikirkan dan diskusikan bersama auami saya." ucap Hulliyah.
Sang Ustadz pun berlalu pergi setelah berpamitan dengan Hulliyah.
Namun ketika Hulliyah kembali sibuk dengan Khalila tiba-tiba suara Haqi terdengar.
"Cie yang digodain Ustadz ...."
Hulliyah kaget melihat Haqi berada di Aula itu.
Hulliyah kini dihinggapi ketakutan, merasa takut jika Haqi marah padanya.
__ADS_1