Love In Pesantren

Love In Pesantren
Istri manisku


__ADS_3

#Jangan benci Ustadz Zam yaaaa, sebenarnya Ustadz Zam orang baik dan penyayang. Jika penggambaranku berlebihan mohon beri tahu yaa.. Suka khilaf aku tuh.. ( author )


------------ -


Ustadz Zamzam memeluk Nimas tiba-tiba, membuat Nimas terkesiap.


Sang Ustadz terisak pilu memeluk istrinya erat-erat.


Lama mereka berpelukkan tiba-tiba saja suara ibu terdengar.


"Siapa yang bilang kamu boleh meluk istri kamu?"


Hayyo loooh...


Ustadz melepas pelukannya dan melihat sang ibu sedang berkacak pinggang mendekatinya.


"Jangan harap kamu bisa dekat-dekat dengan Nimas selama ada ibu di sini."


Wahh ibu serem eh keren ding.


Ibu menuntun Nimas kembali ke kamar, sementara sang Ustadz termenung melihat kepergiannya.


-------------------


Paginya mereka sarapan bersama, setelah itu Ustadz Zamzam berpamitan berangkat mengajar.


Ustadz Zamzam mencium tangan ibunya, kemudian mendekati Nimas yang kemudian mengecup tangan sang Ustadz.


Sang Ustadz hendak mencium pelipis Nimas.


"Stop !! Ga boleh ya, kamu cium-cium. Sana berangkat."


Ibu mendorong Ustadz Zamzam menjauhi Nimas.


Sang Ustadz nampak kecewa.


Kasihan..


Beberapa hari ini Ustadz Zamzam selalu dihalangi kalau ingin berdekatan dengan Nimas. Makanya waktu sang ibu pamit pulang, sang Ustadz sangat lega.


Setelah ibu pulang.


Ustadz Zamzam berjalan cepat menghampiri istrinya yang tengah berada di halaman belakang rumah menjemur pakaian.


Di peluknya Nimas dari belakang, lagi-lagi membuat Nimas kaget bukan kepalang.


"Aku kangen banget neng."


Nimas melepas pelukan sang Ustadz.


"Ibu benar A, sebaiknya Aa jangan menyentuhku dulu. Entah sampai kapan yang pasti sampai aku yakin Aa mengharapkan aku ada disisimu."


Jiahahaha... Skakmat.


Nimas berlalu ke dalam rumah meninggalkan suaminya yang mematung di sana.


Begitulah seterusnya, Nimas selalu menghindar dan tidak mau disentuh sang suami kecuali mencium tangan yaaa.


Jelas hal itu membuat sang Ustadz frustasi.


Emang enak !!


-------------------------


"Neng, besok kita besuk Hannah bersama ya?"


Ustadz Zamzam berbicara ketika mereka tengah berbaring saling membelakangi.


"Biasanya juga sendiri."


Sang Ustadz menghela nafas.


"Maafkan sikapku kemarin-kemarin neng."


Tak ada jawaban.


"Neng."


Sepi.


Eh ternyata Nimas memilih tidur ketimbang mendengar sang suami membicarakan Hannah.

__ADS_1


Ustadz Zamzam yang penasaran membalikkan tubuhnya menghadap punggung Nimas.


Betapa dirinya kurang bersyukur selama ini. Kini Nimas yang ada di depan mata begitu jauh untuk bisa di gapainya.


---------------------------


Sore hari itu seusai Nimas menghadiri pengajian di pesantren. Hujan turun dengan lebatnya.


Bi Haji mengajak Nimas ke rumahnya menunggu hujan reda.


"Nimas bagaimana kabar Ustadz Zamzam? Sudah lama tidak main ke sini."


"Baik bi, maafkan A Zam beliau sibuk akhir-akhir ini."


Nimas bicara sambil senyum.


"Ibi sempat mendengar desas desus tentang kalian."


Nimas menunduk kemudian menjawab, "Itu hanya masalah rumah tangga biasa Bi."


"Nim, ingat ya. Kita sebagai seorang istri hukumnya wajib untuk patuh pada suami, suami adalah imam kita. Jikalau suami memiliki aib kita harus menutupinya. Istri adalah pakaian suami begitu pula sebaliknya."


Nimas merenungi perkataan Bi Haji.


Sampai seseorang yang merupakan suaminya datang ke rumah Bi Haji dimana Nimas berada sekarang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam, eh Ustadz zam mari masuk."


"Saya mau jemput Nimas Bi."


Sang Ustadz menatap istrinya yang tidak menatapnya.


Butuh perjuangan Stadz.


Setelah banyak berbasa-basi, akhirnya Ustadz dan Nimas berpamitan.


---------------


Sampailah mereka di rumah, Nimaa mengganti gamisnya dengan baju kaos berlengan panjang serta celana kain yang nyaman dia pakai.


Lalu mendudukkan diri di ruang tamu sambil bermain ponsel. Ustadz Zam yang melihat istrinya tersenyum kecil dan ikut mendudukan diri di samping Nimas.


"Mau apa?"


"Cuma mau ngobrol sama anakku."


"Gak boleh nyentuh aku !!"


Nimas jahat uyy.


"Gimana dong, tapi aku akan tetap ngobrol dengan anakku, neng gak berhak melarang."


Nimas pun mengalah membiarkan Sang Ustadz tidur di pangkuannya.


Di bukanya kaos yang Nimas kenakan sampai atas, hingga terpampang perut Nimas yang mulai membuncit.


"Sayang, maafkan ayah selalu mengabaikanmu."


Ustadz mengecup perut Nimas lamaa.


Dada Nimas berdesir hebat, namun dia tahan.


Sang Ustadz menyenandungkan sholawat sambil mengecupi perut Nimas.


Nimas sampai menggigit bibirnya.


Geli ya Nim?


Lagian Ustadz nih pinter nyari kesempatan yaa. Pantasnya kita apain nih kkkkk?


" Neng."


"Yah, iyah."


Tuh kan Nimas gelagapan deh.


Sang Ustadz tersenyum tanpa merubah posisinya dia memandangi wajah sang istri yang mulai kemerahan itu. Sedangkan tangannya tak mau diam mengelus anaknya eh perut Nimas.


"Kita harus menemui Hannah."

__ADS_1


Ck lagi-lagi itu bahasannya membuat mood Nimas anjlok seketika.


"Silahkan, eh bukannya tiap hari Aa jenguk ya."


"Aku ga pernah jenguk lagi, semenjak malam itu."


"Terus Aa kangen gitu ingin jenguk? Ya jenguk aja sii, aku gak larang."


Ustadz mendengus, "Isshhh aku ngajakin neng, sekalian ngenalin neng sama Pak Mustafa."


"Harus banget ya?"


"Bukan begitu sayaang, aku tidak mau Pak Mustafa berharap lebih padaku."


Maksudnya?


"Ga ngerti?"


"Ga usah ngerti, neng cukup nurut aja."


"Tapi ada syaratnya."


Akhirnya Nimas minta syarat, apa Nim KTP atau SKCK haha.


Sang Ustadz menunggu Nimas kembali bersuara.


"Aku mau mie ayam yang deket tempat bazar kuliner."


Sang Ustadz tersenyum, "Iya nanti kita beli ya."


"Pulang dari Rumah sakit ya."


"Iyaa sayang, gemes deh."


Tanpa kontrol sang Ustadz mencubit pipi Nimas. Hal yang dirindukannya menggoda istrinya.


"Gak usah pegang-pegang!!"


Itu pipi Nim, coba lihat perutmu dari tadi di kecup di belai gak berasa kamu?


Sang Ustadz tergelak sambil memeluk perut Nimas menciuminya.


------------------------


Dan akhirnya siang ini, Nimas bersama Ustadz Zamzam telah tiba di rumah sakit.


Sungguh hati Nimas mendadak tak karuan, ada trauma setiap dia ingat kejadian waktu itu.


Mereka berjalan bersisian, sesungguhnya Sang Ustadz ingin menggenggam tangan Nimas untuk menenangkan Nimas yang terlihat jelas gelisah.


Apa daya Nimas menepis tangan sang suami dan memilih berjalan bersisian.


Sampailah mereka di ruangan Hannah. Nampak di sana Pak Mustafa bersama Hannah yang tersenyum sumringah melihat kedatangan Ustadz Zamzam. Namun raut wajah itu berubah kala Nimas masuk ruangan itu.


Sejenak mereka bergulat dengan pemikiran masing-masing.


Sebelum akhirnya Pak Mustafa yang sadar duluan.


"Ustadz, baru kesini lagi?"


"Ah iya Pak, maaf kemarin-kemarin saya sibuk lagian ada yang merajuk pula."


Lirikkan mematikan ditujukan pada Nimas.


"Ini pasti istri anda yang sering anda ceritakan ya?"


Apa?


Sering diceritakan?


Ustadz gosip juga wkwk.


"Iya Pak, ini Nimas istri manis saya."


Apa?


Ustadz ih Nimas malu tuh.


Pak Mustafa tergelak, "masih baru Stadz, masih gemas-gemasnya."


Eh apa lagi nih bapak-bapak bar-bar juga.

__ADS_1


Gak tau apa kalian hai para lelaki, ada dua wanita di sana yang saling menatap, menilai satu sama lain.


__ADS_2