
Nimas bangun dari tidurnya, di lihatnya jam dinding baru menunjukkan pukul 11 malam. Dia terbangun akibat rasa nyeri pada perutnya, dia beranjak ke kamar mandi.
Sekian lama di dalam kamar mandi tak ada perubahan, perutnya malah makin sakit.
Mencoba membaringkan kembali tubuhnya di kasur. Tetap saja perutnya melilit tak enak rasanya.
Kasih tahu orang-orang dong Nim.
Meringis kesakitan yang dilakukan Nimas. Dirinya tak mau merepotkan orang-orang yang ada di rumah itu jadi memutuskan untuk menahannya sendirian.
Tapi dia sempatkan mengirim pesan pada Ustadz Zam.
"A, perutku sakit."
Hanya itu isinya?
Ngomong dong, kamu cepetan ke sini. Ah Nimas mah.
Waktu berjalan sejam dua jam, tetap saja Nimas tak dapat menahannya dan menyerah.
Dia berjalan tertatih menuju kamar sang ibu.
"Ayaaaah, ibuuu..."
Ada sekitar empat kali Nimas memanggil kedua orang tuanya.
Sang ibu membuka pintu kamar dan agak terperanjak melihat Nimas memegangi perutnya.
"Dek, kenapa dek?"
"Perutku sakit buu."
Ucap Nimas lirih.
"Ya Alloh, ayaaah ayah bangun. Sepertinya Nimas mau melahirkan."
Ibu mendadak panik, aduh bu tenang buu. Author ikutan gugup ngetiknya gemeteran.
Sang ayah terlonjak dan menghampiri.
"Sebentar ayah minta tolong Gazani dulu."
Ayah berjalan cepat keluar menuju rumah Gazani yang memang ada di sebelah rumah itu.
Nimas telah terduduk di kursi sekarang di temani sang ibu yang berusaha menenangkan. Muncullah ayah bersama Gazani dari pintu masuk.
"Ayo dek kita ke bidan."
Ayah dan Gazani memapah Nimas menuju motor yang telah terparkir di depan rumah.
"Ayah, apa ga apa-apa naik motor?"
Ibu gusar sendiri.
"Kan waktu kemarin Sari juga naik motor."
Akhirnya Nimas di bawa ke bidan terdekat oleh ayah dan Gazani.
Melewati jalan berkelok dan tidak rata membuat Nimas makin meringis. Untung sang ayah di belakangnya terus memegangi dengan erat.
Naik motor bertiga?
---------------------
Sementara Ustadz Zamzam semenjak bangun tadi merasa gelisah tak karuan. Akhirnya dia memilih untuk sholat dan berdzikir, sedikit lega tapi tetap dia merasa tak enak rasa.
Sambil menunggu waktu subuh, sang Ustadz mengambil ponselnya. Dibukanya satu persatu notifikasi dan dia membuka pesan dari Nimas.
Tak fikir panjang sang Ustadz langsung menelpon nomor Nimas.
Lama tidak ada jawaban, sampai berkali-kali, barulah saat panggilan kelima ada sahutan.
__ADS_1
Eh tunggu ini bukan Nimas.
"Assalamualaikum nak Zam, Nimas mau melahirkan nak. Sekarang sedang dibawa ayah dan Gazani ke bidan, ibu juga mau menyusul ini."
Sontak sang Ustadz mendadak gemetar tubuhnya tegang seketika.
"Waalaikumussalam, baik bu saya akan segera ke sana."
Kemudian sang Ustadz mematikan panggilannya dan buru-buru menyambar kunci mobil miliknya.
Setelah sampai teras rumahnya, dia balik lagi untuk memakai celana karena ternyata dia baru sadar hanya memakai sarung.
Ckck ada aja, lagi panik juga.
----------------
Nimas terus meringis di ruangan bersalin di sebuah klinik praktek bidan.
Ibu yang sudah datang ke klinik itu buru-buru menemani.
"Bu, A Zam."
Nimas melenguh menanyakan suaminya.
"Sudah, suamimu sudah tahu dia sedang di jalan menuju kemari."
Ibu menenangkan Nimas yang gelisah menahan sakit serta keringat bercucuran ibarat di siram air.
-----
Waktu sudah pukul 11 siang, kali ini Nimas sudah sangat letih karena kesakitan. Walau tak menampakkan bahwa dirinya kesakitan namun keringat yang mengucur tiada henti bahkan gigitan di bibirnya menunjukkan bahwa dia kesakitan. Kini Nimas pun tengah berjuang dan mulai mengatur nafasnya sesuai arahan sang bidan.
Perjuangan terasa sangat lama, ibunya Nimas sangat cemas kali ini. Lain halnya dengan Nimas yang terlihat tenang walau sesekali meringis.
Dalam batin Nimas terus berucap doa-doa dan dzikir, supaya proses melahirkannya berjalan lancar.
Bidan beristirahat sebentar sambil geleng-geleng.
"Sepertinya ini harus di induksi Bu."
"Tapi kita coba sekali lagi ya."
Bidannya belum nyerah ternyata.
Saat itu juga pintu ruangan terbuka, nampak di sana sang Ustadz ngos-ngosan sambil memberi salam sejurus kemudian berlari menghampiri istrinya yang terbaring di ranjang sedang berjuang antara hidup dan mati.
Ustadz Zamzam memegang tangan Nimas mengalirkan kekuatan baru, kemudian mencium ubun-ubunnya sambil melapalkan doa.
Senyuman terbit di bibir Nimas,
Satu dorongan dari Nimas dan akhirnya.
Oeeeek oekk...
Tangis bayi menggema di ruangan itu.
"Alhamdulillah."
Kelegaan pun menyeruak.
Nunggu bapaknya ternyata. Huh.
"Bayinya perempuan, silahkan di adzani pak !!"
Sang Ustadz mengadzani bayinya dengan suara gemetar penuh haru. Nimas tersenyum melihat adegan itu, bahagia tentunya.
Boleh dong dia bangga sekarang.
Semua nampak bahagia di sana.
------------------------
__ADS_1
.
Hari ini Nimas sudah di perbolehkan pulang. Ustadz Zam menggendong istrinya itu masuk ke dalam mobil sementara bayinya di bawa oleh ibu.
Sesampainya di rumah ternyata sudah ada ibunya Ustadz Zam menyambut mereka bersama Sari dan Gazani.
Sungguh rumah ibu penuh suka cita malam ini. Tangisan dua bayi yang saling bersautan menambah ramai suasana.
Iya, Sari menginap di sana.
"Zam, namanya siapa cucu ibu ini?"
Ibu Ustadz Zamzam penasaran rupanya, eh author juga haha.
Ustadz Zamzam tersenyum menatap Nimas sekilas yang juga sedang menatapnya.
Nimas pun penasaran rupanya, sebab dirinya belum pernah membahas soal nama dengan suaminya.
"Kholisoh Zamima, inshaalloh jadi anak sholehah."
Ada tatapan bangga hadir di mata Nimas kala mendengar sang suami memberikan nama pada sang buah hati.
Nama yang cantik KHOLISOH ZAMIMA.
"Ooo dek Mima yaa, iya. Uluuuh lutunaa."
Ibu Ustadz Zam berkata menyerupai anak kecil.
Membuat semua yang ada di rumah itu tergelak.
Tuh kan bener, ibu Ustadz tuh kocak abis.
Di tengah canda tawa itu Ustadz Zamzam melirik ke arah sampingnya dimana Nimas berada dan tengah tersenyum melihat kelakuan mertuanya.
Tangannya terulur memperbaiki kerudung sang istri, sejenak beradu pandang. Sang Ustadz tersenyum sambil mengelus pipi Nimas.
"Terimakasih."
Ucapnya sedikit berbisik.
Nimas mengangguk diiringi senyuman yang hanya dia berikan pada sang suami.
"Woi.. !! Ga boleh liat-liatan dulu.. Zam pindah Zam."
Gazani merusak momen syahdu suami istri itu. Kemudian menggeser Ustadz Zamzam menjauh.
"Abang, apaan ih!"
Nimas protes karena Gazani membuat Ustadz Zamzam menjauh.
"Dengerin yaa dek, kamu jangan deket-deket sama suami dulu. Nanti ada syetan lewat."
"Iya, abang syetannya. Aku juga tahu kali bang, tapi ini kan banyak orang."
Nimas memperlihatkan bibir monyongnya karena sang Abang.
"Pokoknya gak boleh !"
Ustadz Zamzam hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kakak beradik itu.
"Udah abang ah, gangguin adek mulu."
Ibu Nimas melerai.
"Adek tuh bu, ngatain aku syetan."
Semua orang tergelak lagi.
Eh tunggu deh, mereka tuh berapa tahun sii?
Becandanya persis adik kakak sepuluh tahunan wkwk.
__ADS_1
Tapi itulah salah satu bentuk cinta, mungkin penyampaiannya seperti itu.
Ya sudahlah yaa, selamat atas kelahiran putri cantik dari Nimas dan Ustadz Zamzam yaa.