Love In Pesantren

Love In Pesantren
Alarm Kebaikan


__ADS_3

Malam terselimuti hawa dingin yang menyusup melalui pori-pori ventilasi itu. Aku sengaja menunggu A Zam pulang sambil membaringkan tubuhku di karpet bulu ini, setelah tadi menemani Mima tidur.


Menyelimuti diri dengan selimut, bantal menumpu kepalaku. Beberapa kali aku mengalihkan channel televisi itu. Ah sungguh tak ada yang menarik, isinya kebanyakan sinetron yang penuh drama.


Malam minggu begini aku ditinggal A Zam mengikuti pengajian di Pesantren. Andai aku bisa ikut, itu akan sangat menyenangkan.


Kala sendiri begini, entah mengapa hati selalu menyapa pada mereka yang telah tiada. Teringat akan Sofia lagi dan terus.


Sofi ....


Aku mengirimkan Al-Fathihah untuknya sebagai obat kerinduan.


Lama termenung memandang televisi namun tak menontonnya, sayup ku dengar suara A Zam dari luar. Sepertinya dia mengobrol dengan bapak-bapak yang tugas ronda malam ini.


Ceklek ....


Aku mendengar suara pintu terbuka, A Zam memberi salam. Tapi mulutku kelu untuk menjawab, akhirnya aku menjawab melalui hati.


Ah aku kenapa coba?


Berpura-pura tidur adalah hal yang aku lakukan setelahnya.


"Neng? Udah tidur?"


Suara A Zam semakin mendekat aku masih berpura-pura lelap.


Hei Nim kenapa kamu?


A Zam berdiri kemudian masuk kamar, aku mengintipnya dengan satu mata terbuka.


Mungkin A Zam tidur bersama Mima di dalam.


Eh tapi, A Zam kembali membawa bantal dan merebahkan dirinya di sebelahku.


Hembusan nafasnya menyapu wajahku, ah ini geli sekali. Aku sampai menahan nafas dibuatnya, apalagi kala tangannya kurasakan mengusap rambutku, mengecup kepalaku.


Aihhh aku benar-benar merasa dicintai olehnya. Ternyata aku sampai juga di fase ini aku sampai pada tujuan hidup beribadah bersama imam yang baik.


Aku sudah tak tahan lagi, akhirnya aku membuka mata. Pandangan kami bertemu, tatapannya yang hangat senyumannya yang menyejukkan hati menyambutku.


A Zam mendekapku, memberikan kehangatan dan menghalau dingin yang menusuk malam ini.


"Aa kok lama di Pesantren?"


Masih dalam dekapannya aku berbicara.


"Mama Haji tidak enak badan, aku menggantikannya ceramah tadi."


Aku mengangguk di dadanya, aihhh dada.


"Tapi, emang Aa bisa ceramah?"


Rupanya pertanyaanku mengusiknya, A Zam melepas dekapannya dan memandangi wajahku dengan dalam.


"Aku masih belajar sayang, aku bukan seseorang yang sempurna. Bahkan untuk menjadi suamimu kadang aku merasa tak pantas."


Eh?


Kenapa jadi melenceng urusannya ini?


"Neng ...."


Aku menatapnya sambil menunggu perkataan A Zam selanjutnya.


"Teruslah jadi tempatku bersandar seperti sebelumnya, selalu ingatkan aku jikalau aku berada dalam kesalahan, ya?"

__ADS_1


Hah.


Ngangguk aja deh biar cepat.


"Neng bersedia kan, jadi alarm kebaikanku?"


Alarm kebaikan?


"Aa nih ada aja bahasanya ya."


Eh A Zam malah terkekeh.


"Aku lagi mode serius ini, setelah mengisi acara tadi kok aku jadi merasa bersyukur sekali neng."


"Kok bisa?"


Mengernyit dong aku.


"Berdiri di mimbar itu, aku merasa melihat semua kilas balik kehidupanku. Menatap santri satu per satu membuatku tersadar satu hal. Aku berada di lingkungan yang benar, aku memiliki orang-orang yang siap menegur atau mendukung setiap langkahku."


A Zam kembali mendekapku kali ini lebih erat, ku usap punggungnya penuh kasih. Kami pun terlelap bersama di hadapan televisi yang masih menyala itu.


---------------------


Keesokan paginya, aku meminta izin pada A Zam untuk menjenguk Mama sekalian menghadiri pengajian mingguan setiap hari minggu.


Sambil menuntun Mima aku menyusuri jalan ini, jalan yang menjadi saksi kehidupanku selama beberapa taun belakangan ini.


Di ujung jalan aku temui empat orang perempuan cantik yang juga akan menghadiri pengajian mingguan ini.


Mereka terlihat menungguku berjalan, salah satu dari mereka bahkan menyambutku bahkan memangku Mima.


"Ini pasti istrinya Ustadz Zamzam ya?"


Salah seorang dari mereka yang memakai kacamata bertanya padaku.


Aku tersipu, mungkin mereka ini sebagian dari fans A Zam haha ko aku geli membayangkannya.


"Kenalkan, kami jamaah di sini. Kami sering mendengar ceramah dari Ustadz Zam juga, sedikit banyak kita penasaran sama sosok istrinya yang beruntung itu."


Aihh beruntung katanya.


"Iyaa loh kami kagum dengan Ustadz Zam, eh ngomong-ngomong siapa namanya?"


"Saya Nimas, Bu. Ini Zamima anak kami."


Aku menunjuk Mima yang masih betah dalam pangkuan wanita yang entah siapa namanya.


"Ternyata Ustadz Zam yang beruntung karena memiliki istri dan anak yang cantik yaa."


Hadeeeuuh ... pandai sekali mereka menggombal.


"Saya Wulan Sari, ini Mimihna Na Ghebian, dan itu Isyeu Lismaya26."


Wanita yang anggun dengan kacamatanya itu mengenalkan diri beserta teman-temannya.


"Hallo kalau aku Ekha kurniati."


Oo jadi wanita cantik yang sedang memangku Mima itu namanya Ekha.


"Senang mengenal kalian."


Aku berkata penuh ketulusan. Kemudian kami pun berjalan bersama memasuki gerbang Pesantren dimana sholawat nabi tengah terngiang mengawali acara.


-----------------

__ADS_1


Para jamaah tumpah dalam satu ruangan aula yang besar ini, duduk rapi berjajar beralaskan karpet. Kami mendengarkan dengan seksama apa-apa yang Mubaligh sampaikan.


Mubalighnya masih muda hampir seumur A Zam, sengaja di datangkan untuk mengisi acara.


"Para jemaah sekalian sesungguhnya kita sebagai makhluk Alloh, sangat di haruskan untuk saling menasehati satu sama lain. Jika ada yang melenceng dan kita tahu ada baiknya kita tegur untuk dinasehati."


Penggalan kalimat itulah yang ku tangkap selama acara tadi.


Kini aku tengah berada di rumah Mama Haji, untuk menjenguk Mama. Ternyata bukan hanya aku yang datang, hampir semua jamaah juga menjenguk. Alhasil aku menunggu giliran deh.


Hulliyah datang menemuiku yang tengah menemani Mima main permainan anak-anak Tk sambil menunggu jamaah lain pulang.


"Tumben Ustadz Zam gak dateng Nim?"


"Ada urusan dengan Haqi."


Aku mendudukan diri di tembok yang sering dijadikan tempat duduk itu. Sementara Hulliyah mengambil alih mengajak Mima bermain.


"Mama Haji sakit dari kapan?"


Hulliyah menoleh ke arahku.


"Dari kemarin, sudah ke dokter katanya hanya kelelahan. Tapi lihatlah jamaah itu pada datang hanya untuk menjenguk."


Aku tersenyum menanggapi ucapan Hulliyah.


"Itulah keutamaannya Ulama Li, beda sama kita yang hanya rebusan labu."


Hulliyah nampak mengernyit menanggapi celotehanku yang tidak jelas.


"Mmm Nim, nikah itu enak gak sih?"


Aku tergelak mendengar pertanyaan seperti itu keluar dari mulut Hulliyah. Eh tunggu, apa mungkin Hulliyah sudah memikirkan ke arah sana?


"Namanya juga rumah tangga Li, pasti banyak cobaan tapi surut lagi begitu seterusnya. Kalau aku sendiri sii berusaha lebih baik lagi memperbaiki diri supaya jadi istri sholehah. hihi"


Hulliyah menggendong Mima, kemudian duduk di sebelahku.


"Tapi dulu kamu kelihatan tidak bahagia."


"Iyaa, untung aku punya kalian. Berasa dirangkul dengan kasih sayang aku tuh, tadinya air mata ini gak berhenti mengalir. Yaa sekarang ini aku bahagia Li, rasanya plong. Meskipun aku enggak tahu kedepannya gimana, tapi yakin Alloh akan memberi petunjuk bagi umatnya yang beriman."


Tuh kan aku malah berdakwah sama Hulliyah deeh. Perkataanku terinspirasi dari perkataan seseorang bernama Ella.


.


.


.


.


.


.


.


.


#Nama-nama yang aku tebelin itu adalah readers Love In Pesantren yang selalu mengingatkan aku pas aku salah. Entahlah apa mereka masih baca sampai sini apa sudah berhenti karena bosan hihi. Terimakasih pokoknya. ( Author)


#Kadang author itu enggak jelas banget (Nimas)


#Nimas bisa diem gak? (Author)

__ADS_1


Eh satu lagi teruntuk Dubberku yang udah ngedubbing novel kalengku BUKAN MAUKU, aku ucapkan terimakasih. Kemungkinan aku bakal buat cerita tentang dia, eh tapi gak tau kapan hihi.


__ADS_2