Love In Pesantren

Love In Pesantren
masih ngambek


__ADS_3

A Zam tersenyum sambil meringis. Rasain !!


"Neng mau makan?"


Aku mengangguk, kenapa yaa lidahku kaku? Seakan tak mau bicara, padahal hatiku dari tadi nyerocos.


A Zam berdiri dari duduknya lalu menuju lemari es.


"Aku mau seblak."


Eh apa?


Aku gak sadar loh ngomong itu.


"Seblak? Jam segini?"


A Zam menatapku.


Peduli amat, pokoknya aku mau seblak titik.


Loh aku ko jadi ingin makan seblak.. Haha biarin, biar Si Aa pusing.


"Tapi neng, jam segini mana ada yang jual."


"Siapa bilang harus beli, Aa buat aja."


Ekspresinya itu lihat. Haha puas sekali rasanya.


A Zam pun menurut juga, dia mulai memasaknya.


Aku melihatnya, sambil memakan roti yang ada di meja makan.


Aku habiskan dua bungkus, lalu aku ke kamar saja. Sementara A Zam masih sibuk meracik seblak.


Tak lama kemudian A Zam ke kamar.


"Seblaknya udah matang tuh, ayo makan dulu."


"Ga jadi ah, aku udah kenyang makan roti."


Haha ko aku sadis, biarin!!


"Loh tadi katanya mau seblak."


"Aa makan aja, aku ngantuk mau tidur."


Kemudian aku memakai selimutku, selagi aku menutup mata aku mengintip A Zam yang menghela nafas sambil geleng-geleng kepala lalu mengurut dadanya.


Aku puas sungguh aku puaaaas.


-------------------------------------


Pagi harinya, perutku rasanya begah sekali. Entah sudah berapa kali aku bolak balik wastafel untuk muntah.


"Kamu masih sakit neng, sebaiknya kamu jangan ngajar hari ini. Nanti siang kita ke dokter."


A Zam datang dan mengusap-usap punggungku.


Aku mengangguk karna memang sepertinya aku gak kuat untuk mengajar hari ini.


"Nanti Aa ke pesantren izinin kamu, Untungnya Aa libur hari ini."


Bilang aja kesempatan supaya ketemu sama Sofia. Uh kesel lagi kan aku.


Aku kembali ke kamar merebahkan diri.


Uh rasanya gak enak sakit tuh, nikmat sehat sering aku abaikan ya Alloh.


---------------------------------------


Sudah sejak pagi A Zam ke pesantren, tapi sampai jam satu siang ini A Zam belum kembali. Sebel.


Tok tok tok


Eh suara pintu di ketuk, ah mungkin A Zam sudah pulang.


"Assalamualaikum...."


Sejenak ku hentikan langkah, itu suara perempuan.


Akhirnya aku membuka pintu, "Alaikumsalam.. Hulli."


Sedikit terkejut ternyata Hulliyah datang, aku persilahkan masuk.


Dan kini kami pun tengah duduk di kursi ruang tamu.

__ADS_1


"Maaf yaa, aku ga masuk."


"Kamu tuh ngomong apa, aku kesini mau jenguk kamu kata Ustadz Zamzam kamu sakit."


Oh Hulli tau.


"Aku masuk angin, mungkin karena jangin laut kemarin."


"Ciee yang baru pulang bulan maduu."


Eh dia malah menggodaku, jelas-jelas di sana aku ga ngapa-ngapain.


"Di sana banyak orang kali Li."


Sungguh aku malas membahas tentang hari kemarin dimana aku merasa terabaikan.


"Kalau ga ada orang mau ngapain Nim?"


Ih ih lihat itu alisnya naik turun gitu udah mirip jungkat jungkit anak Tk.


"Emmm Nim, gimana sii rasanya emmm."


Ga jelas banget sih Hulli ah, mungkin udah ngebet kali diaa haha.


"Rasa apa, ih kamu tuh."


Tanpa sadar aku malu sendiri, disambut gelak tawa dari Hulliyah yang sukses membuatku malu.


Kami pun mengobrol tak terasa waktu sudah hampir ashar.


"Ustadz Zamzam ko belum pulang, padahal tadi di pesantren cuma sebentar looh."


"Mungkin ada urusan."


Aku mencoba berfikir positif fokus-fokuuus dan fokuuuus.


"Tapi tadi aku lihat, Sofia sama Rista naik mobilnya."


Praaaang.... Fokusku pecah seketika.


"Maaf, maaf ya Nim. Aku ga maksud."


Mungkin Hulliyah ga enak melihat perubahan sikapku yang mendadak terdiam.


Aku tersenyum mencoba bereaksi sewajarnya saja.


Sudahlah Hulli aku ga apa-apa, aku udah biasa di giniin. Jadi istri seorang Ustadz yang banyak fansnya emang gini kali.


---------------------------------


Ashar, magrib, bahkan isya sudah lewat tapi A Zam belum juga kembali. Kemana sii kamu A?


Fikiran buruk mulai berseliweran di benakku..


Aku coba menepisnya kuat-kuat.


Apa sii gunanya ponsel? Uh apa susahnya ngasih tau mau kemana.


Katanya mau nganter ke dokter, uh tapi dia malah pergi sampai selarut ini.. Sebel, jangan salahkan aku A jika nanti aku marah lagi sama kamu.


Eh ada suara mobil, aku melihat jam dinding sudah pukul sepuluh malam.


Biarin, aku mau pura-pura tidur.


Suara pintu terbuka, lampu dinyalakan fix itu A Zam.


Terdengar dia mengucap salam, aku sudah menjawabnya dalam hati.


"Neng, sudah tidur.."


Apa sii megang-megang kepalaku ih.


"Maafin aku yaa, tadi nganterin Sofia jadi lupa nganterin kamu ke dokter."


Terserah A terseraaah aku ga peduli, cukup jangan bicara lagi !!


Menahan sesak dan air mata dalam diam itu sulit. Sekuat tenaga aku menahannya sampai A Zam keluar kamar.


"Apakah membuat hati istri terluka itu tidak dosa Aa? Aku sakit A, kenapa kamu ga peduli perasaanku?"


Itu hanya gumaman pelan sesaat setelah A Zam keluar kamar.


Keesokan paginya aku terbangun masih dengan muntah-muntah. A Zam mendekatiku, "kita ke dokter yu!"


"Gak usah."

__ADS_1


Boleh dong aku ketus, aku sebel sama dia.


"Neng masih marah?"


Perlukah aku jawab?


"Soal kemarin, Aa minta maaf. Kemarin Aa nganterin Sofia."


"Yaudah anterin aja lagi."


Jawabku asal, tapi A Zam malah tersenyum melihat tingkahku.


Apa dia ga tau aku lagi sebel sama dia?


"Eneng cemburu ya?"


Haissst ga penting banget.


Aku membuang muka kesal.


"Kemarin itu, ayahnya Sofia sakit. Mama minta aku nganterin dia kemarin."


"Terus kenapa ga ngasih tau?"


"Ponsel Aa ketinggalan di rumah Mama Haji, sayaaang."


Aku hanya mendelik tanpa mau bersuara lagi.


A Zam membalikkan tubuhku hingga kami saling berhadapan. Hadeeuuh sering banget nih posisi seperti ini jangan bosan ya.


"Kalau lagi ngambek, neng tuh gemesiiiiin."


Aww sakit tau, A Zam nyubit pipiku dengan kedua tangannya.


Ini termasuk KDRT nih.


Aihh abis dicubit sekarang di peluk. Nyebelin.


"Maaf Aa sering melukai hatimu."


Sadar ya kamu A.


---------------------------------------


Seminggu berlalu, aku pulang mengajar siang ini.


Sedikit terkejut melihat ibuku dan bang Gazani di teras rumahku.


"Asalamualaikum ibuuuu.."


Berlarilah aku ke pelukan ibu.


"Udah kali dek meluk ibunya, udah nikah masih aja manja."


Apa sii abang ini ganggu aja.


Aku membawa mereka ke dalam rumah.


"Sudah lama bu nunggunya?"


"Lama dek, liat nih abang sampe kering begini."


"Ah abang mah emang kering dari sononya."


"Anak nakal ngatain abang kamu heuh, daripada kamu tuh katanya sakit tapi ko malah jadi gendut gitu."


Isshh masa sih aku gendut.


"Ibuuuu... Abang tuh buu."


"Sudah-sudah kalian itu kalau ketemu selalu saja berantem."


"Ko ibu ke sini bu?"


"Wah bu, Adek ngusir tuh."


Si abang tuh nyebelin banget ih.


"Nak Zam ngasih tau ibu, katanya kamu sakit."


Ah suamiku tercinta mulutnya lemes juga.


"Enggak ko bu, sakitnya cuma pagi-pagi aja."


Hahaha

__ADS_1


Abang ketawa. ih ngeselin.


__ADS_2