
Farrel tidak kuat lagi, dan membalikkan tubuhnya.
Kini wajahnya menghadap langsung ke wajah Sofia, saking dekatnya Farrel dapat melihat tahi lalat kecil dibawah mata Sofia.
Farrel baru tahu Sofia memiliki tahi lalat di area itu. Karna ukurannya yang sangat kecil, hanya bisa di lihat dengan jarak dekat seperti ini.
Farrel terpaku sejenak, memandangi maha karya sang ilahi yang diberikan padanya. Eh tapi Farrel tak menggunakannya.
Gimana sii thoor maksudnya?
Tatapannya turun pada bibir berwarna peach alami itu. Farrel meneguk salivanya gugup.
Setiap inci wajah Sofia, tak luput dari pandangan Farrel.
Matanya menjelajah lebih jauh lagi sampai Farrel sudah tidak kuat lagi, sangat tidak kuat.
Farrel mendorong tubuh Sofia menjauh, sejurus kemudian Farrel bangun dan turun dari kasur.
Farrel sangat tidak kuat karena kepanasan, dia memutuskan memgambil bantal dan tidur di bawah beralaskan karpet bulu, jauh lebih nyaman dan aman fikirnya.
Yah author kira? Hahaha.
-----------------------
Sekitar pukul tiga dinihari, Farrel terbangun.
Dilihatnya Sofia yang sedang tertidur,Farrel tersenyum sejenak. Kemudian Farrel beranjak menuju kamar mandi.
Sekembalinya dari kamar mandi, Farrel memakai sarung serta pecinya. Dibentangkannya sajadah itu, Farrel bersimpuh menghadap Tuhannya.
Selesai menunaikan sholat, Farrel menengadahkan tangannya. Farrel mendoakan kedua orang tuanya yang kini telah tiada. Farrel terisak kala memohonkan ampun pada sang pencipta untuk ibunya.
Farrel tahu apa yang ibunya lakukan adalah sebuah dosa besar. Farrel pernah mendengar kajian, bahwa barangsiapa seseorang bunuh diri maka siksaannya kekal di neraka jahannam.
Dengan cara apa seseorang itu bunuh diri, maka di dalam neraka jahannam seseorang itu akan disiksa dengan cara demikian.
Disebutkan bahwa neraka jahannam adalah labi'salmihaad yang artinya seburuk-buruknya tempat.
Sungguh Farrel bersedia menggantikan ibunya di neraka jahannam, sungguh Farrel rela.
Farrel berharap dirinya bisa jadi penolong bagi sang ibu dengan cara berusaha menjadi anak yang sholeh.
Farrel melunak pada Sofia karena dirinya berterima kasih diajarkan sholat, berwudhu, dan Sofia selalu mengingatkannya pada kebaikan.
Farrel membuka kitab suci Al-quran yang dibawanya tadi.
Dengan pelan dan terbata Farrel membaca huruf demi huruf satu persatu. Selaksa sakit yang amat sangat menelusup ruang hampa di hatinya.
Farrel menyesal tidak belajar membaca Al-quran dari dulu. Farrel menyesal tak mendoakan kedua orang tuanya dalam sujud dari dulu.
Farrel terisak-isak pilu, bacaannya sesekali terhenti karena mengatur nafas.
Dalam setiap huruf yang dibacanya, Farrel berharap dapat mengalirkan pahala bagi kedua orang tuanya.
__ADS_1
Farrel makin terisak dan tak bisa menahan deraian penyesalan itu.
"Maafkan Farrel, ibuuu."
Farrel menangkup wajahnya tak kuat menahan kesakitan yang menyerang tepat pada hatinya.
Sementara Farrel terisak, ternyata Sofia sudah terbangun dari tadi. Sofia terbangun sejak Farrel memulai sholatnya.
Sekuat tenaga Sofia menahan suara tangisnya yang ikut merasakan kesedihan sang suami.
Sekuat tenaga meredam gejolak emosi dalam dirinya, yang ingin memeluk Farrel, mendekapnya, menenangkannya. Sofia menahannya.
Sofia terharu mendengar bacaan Farrel yang sudah mulai lancar.
Sofia mendengar semua doa Farrel, Sofia tahu seberapa besar penyesalan Farrel.
Sofia mendengarnya.
Namun Sofia tak bisa melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Sofia memberi waktu Farrel untuk berbicara pada Tuhannya, mencurahkan semua keluh kesahnya hanya pada Sang Pemilik segalanya.
----------------------
Keesokan harinya, Sofia bersama Uwa dan juga Siti berkutat di dapur. Mereka memasak untuk acara tahlilan nanti malam.
"Uwa heran sama Farrel, tiap tahlilan ibunya dia itu cuek minta ampun."
Masa sii Wa?
Sofia mendengarkan tanpa menghentikan aktivitasnya memotong wortel.
Uwa berbicara tanpa jeda, Sofia memberikan seulas senyum menanggapi ocehan Uwa dari suaminya tersebut.
Sofia tahu sikap Farrel begitu hanya untuk menutupi kesakitan dalam hatinya.
Sofia baru saja mengetahuinya tadi malam dimana Farrel sesenggukan menangisi kesalahan ibunya.
Jika saja tadi malam Sofia tak melihat sendiri dengan matanya, mungkin saat ini Sofia akan menganggap Farrel aneh sama seperti Uwa yang menganggap Farrel tak peduli akan ibunya.
------------------
Acara tahlilan telah usai, tak ada sedikitpun raut sedih yang ditampakkan Farrel.
Pinter kamu Rel menyembunyikan perasaan.
Sofia dan Farrel pun berpamitan pulang.
Sepanjang perjalanan Farrel fokus pada jalanan, sesekali menatap kosong ke depan.
Namun tak membuatnya kehilangan konsentrasi dalam menyetir.
Sofia yang berada di sampingnya pun tak banyak mengeluarkan suara, dia hanya diam sambil memikirkan ternyata beban seberat ini yang dipikul Farrel, hingga menjadikannya pribadi yang susah ditebak.
Sampailah mereka di rumah.
__ADS_1
Farrel segera menuju kamar dan membaringkan dirinya, tak lama Sofia menyusul.
Beberapa saat kemudian Farrel keluar kamar.
Farrel membuka selembar foto yang disimpannya di sebuah kotak.
Farrel memandangi sosok cantik yang tengah menggendong bayi laki-laki.
Aliran air dalam matanya merangsek keluar.
"Ini foto ibu ya?"
Suara Sofia dibelakangnya membuat Farrel terkejut dan menghapus air matanya kasar.
"Ga sopan!"
Farrel memasukkan kembali foto itu ke dalam kotak.
"Maaf, aku kan penasaran."
Sofia berucap penuh penyesalan.
"Ngapain kamu di belakangku, pindah sini!!!"
Eh Farrel menepuk tempat di sebelahnya.
Sofia pun menurutinya.
"Kamu pasti sudah mendengar semuanya dari Uwa kan?"
Sofia mengangguk.
"Dulu, aku pernah merasa seperti anak yang terbuang. Ayah dan ibuku pergi begitu saja tanpa membekaliku dengan apapun. Hingga aku terlahir kembali sebagai manusia yang penuh obsesi keduniawian. Pernah aku mengharapkan Nimas, kamu tahu itun Kamu tahu bagaimana usahaku. Tapi kenapa kamu masuk dalam kehidupanku Sof? Kenapa kamu membuatkan aku jalan menuju Alloh? Kenapa harus kamu yang membuatku menyesal tak pernah mendoakan orang tuaku? Kenapa?"
Farrel berbicara panjang lebar dan menangkup wajahnya guna menyembunyikan air matanya.
"Rel, semua yang terjadi adalah kehendak Ilahi. Kamu justru harus senang dan berbangga diri. Karena kamu yang dipilih Alloh untuk memiliki nasib seperti ini. Sungguh Rel derajatmu lebih tinggi daripada aku."
Dengan ragu Sofia menepuk bahu Farrel.
Farrel makin hanyut dalam sedihnya.
"Maafkan aku Sof, maafkan aku menyeret kamu dalam hidupku. Sungguh kamu boleh pergi dariku, sungguh kamu berhak bahagia."
Sofia berkaca-kaca mendengar penuturan Farrel.
"Aku ga akan ninggalin kamu, aku akan selalu ada di sampingmu mendengar semua keluh kesahmu."
Farrel memberanikan diri menatap kedua bola mata Sofia yang kini tengah berair.
"Tapi aku ga bisa Sof."
Lirih Farrel berkata.
__ADS_1
Sofia mengangguk mengerti apa yang dimaksud Farrel.
"Aku tahu kamu ga bisa, jika kamu tidak menganggapku sebagai seorang istri maka, anggaplah aku sebagai temanmu."