Love In Pesantren

Love In Pesantren
Permulaan


__ADS_3

Nimas Pov


Aku pulang dengan hati yang dongkol, sengaja atau tidak perkataan Hulliyah sedikit menyulut gelora kemarahanku sebagai seorang perempuan.


Satu yang tak bisa ku terima, ketika Hulliyah berkata A Zam nyaman dengan wanita lain.


Haisshh apa musti aku percaya, apa aku bersikap peduli amat?


Nyatanya hatiku sulit kudustai, aku harus mencari tahu sendiri sedekat apa A Zam dengan Hannah. Ya, aku harus melihatnya terlebih dahulu. Sebelum aku melihatnya sendiri aku harus bersikap normal dan biasa-biasa saja.


-------------------------


Malam hari ketika anak-anak sudah tertidur, aku keluar kamar mencari A Zam yang tak kunjung masuk kamar.


Ah A Zam tidur di depan televisi lagi?


Tanpa kusadari hampir setiap hari A Zam tidur di luar kamar. Aku terlalu lelah untuk mengurusnya, aku selalu tertidur lebih dulu bersama anak-anak.


Oh apa memang benar A Zam kesepian?


Aku sudah jarang sekali mendengar cerita-ceritanya.


Apa benar A Zam sudah mendapatkan tempat bercerita yang baru?


Jauhkan prasangka ini ya Tuhan!


Agak lama kupandangi wajahnya, wajah yang selalu menggodaku. Setitik rasa bersalah menghujam dadaku. Aku benar-benar melupakan A Zam karena anaknya.


Setetes dua tetes air mata perlahan mengalir dikedua pipiku.


"Neng...."


Suara parau A Zam mengagetkanku, segera kutepiskan air mata keperlihatkan senyuman hangat padanya.


A Zam menggeliat dan bangun dari tidurnya ketika menyadari aku terduduk di sampingnya.


"Anak-anak sudah tidur?"


Satu anggukan dariku membuat A Zam tersenyum penuh arti.


"Hmm...neng kangen ya? Tumben deketin."


Dih dih lihat itu senyumannya mulai tidak beres.


"Kenapa Aa tidur di sini?" kataku.


"Tiap hari juga di sini, kan di dalam sempit neng."


Aku terdiam sejenak, benar apa kata A Zam.


Bukan dia yang salah tapi aku yang tak peka sejak awal.


"Aku boleh nemenin Aa di sini?" kataku.

__ADS_1


A Zam terlihat keheranan dan nampak keberatan.


"Nanti anak-anak bangun?"


"Iya, iya gak boleh ya udah."


Aku kesal uh, lebih baik aku kembali ke kamar. Belum sempat aku beranjak, A Zam memeluk tubuhku erat membawaku dalam dekapan hangatnya.


"Bukan tidak mau, tadi aku cuma nanya. Aku seneng neng mau tidur denganku lagi."


Hah?


Berarti benar A Zam kesepian.


Rasa bersalahku makin besar kepadanya. Kini dalam dekapannya aku berkali-kali meminta maaf dalam hati.


Malam ini kuhabiskan bersama A Zam bercerita apa pun yang ingin diceritakan. Anak-anak pulas dalam buaian mimpi mereka, mungkin mereka sedang memberi kesempatan ayah dan ibunya untuk saling berbicara.


Malam semakin larut kami masih asik menceritakan kegiatan tadi siang.


"Rencananya nanti hari jumat aku ke panti lagi." kata A Zam.


Aku hanya berdehem mengiyakan, ih tapi rasanya aku enggak rela kalau A Zam bertemu dengan Hannah terus.


"Asik ya bisa ketemu sama Hannah terus."


Boleh dong kalimatku sedikit sarkas.


A Zam tiba-tiba membalikkan tubuhku yang sedang memunggunginya.


Jleb.


Kesal hati seketika mendengar A Zam memuji wanita lain. Selanjutnya yang kulakukan adalah tidur, stop! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Kupejamkan mata dan tulikan telinga, sayup masih terdengar A Zam bicara namun tak ku respon aku hanya ingin tidur.


---------------


Hari jumat tiba, sangat kebetulan ibuku datang berkunjung. Aku meminta tolong ibu untuk menjaga anak-anakku sebentar. Sementara aku akan menjadi detektif dadakan membuntuti A Zam ke Panti.


Sang surya yang merangkak naik ke atas langit tak menyurutkan niatku yang mencari tahu kebenaran A Zam. Setidaknya jika aku harus kecewa aku sudah menyiapkan diri untuk itu.


Angkot yang kutumpangi berhenti di dekat mesjid besar ini, mesjid yang A Zam dirikan bersama teman-temannya.


Aku berjalan sedikit kelimpungan karena area mesjid sangat sepi. Dimanakah A Zam?


Kala aku berpapasan dengan seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur sepuluh tahun, akhirnya aku mendapat informasi bahwa A Zam sedang berada di kolam belakang mesjid.


Pasti A Zam sudah sangat sering berkunjung ke sini, buktinya anak yang tadi ku tanya langsung mengenali ciri-ciri yang di punyai A Zam.


Perlahan aku memasuki area dalam mesjid, mencari jalan supaya sampai di tempat yang ditunjuk anak tadi.


Dosakah aku membuntuti suami seperti ini?


Riuh sayup-sayup gelak tawa terdengar semakin nyaring mengiringi langkahku mendekati belakang mesjid. Kakiku gemetar, di balik tembok terakhir mataku mulai menangkap keramaian.

__ADS_1


Semua nampak senang dalam tawanya, semua orang itu tak kukenali. Mataku menjelajah mencari keberadaan A Zam dibalik kerumunan itu.


Bagai sekelebat kilat menyambar secepat itu pula dentuman jantung berdetak ketika melihat A Zam berbincang dengan cara yang begitu manis.


Dengan siapa?


Seorang wanita yang pernah aku anggap sudah pergi dari hidup kami nyatanya masih berada sangat dekat dengan suamiku.


Seketika keberanian ini muncul, aku marah!


Aku di rumah mengurusi anaknya, sementara dia di sini asik berpesta.


Aku tak peduli dengan semua mata yang memandang heran kepadaku.


Begitu aku sampai dihadapan mereka, mataku sungguh sangat gelap tanpa sadar kulayangkan tangan ini tepat mengenai pipi Hannah.


Bunyi pertemuan tanganku dan pipinya nyaring terdengar hingga menyita perhatian.


"Neng!"


Bentakkan A Zam menyadarkanku bahwa kami tengah ditonton. Tanpa kata A Zam menarik tanganku meninggalkan orang-orang yang terkejut akan tindakanku.


A Zam menyeretku menjauh dari kerumunan, A Zam menghempaskan tubuhku yang seakan tak berbobot. Aku sendiri tak sadar apa yang sudah kulakukan. Ya Tuhan mengapa aku begini.


"Kamu kenapa?"


Sesaat setelah kami berada di tempat yang tak dijangkau orang, A Zam berbicara sangat tajam.


Aku diam.


"Kamu malu-maluin!"


Kata-kata yang sangat menyakitkan kudengar keluar dari mulut suamiku.


Aku menatapnya dengan kekecewaan tingkat tinggi, mataku buram karena air mata yang terkumpul siap untuk terjatuh.


"Kamu tahu gak di sana itu siapa? Mereka donatur dari luar kota, apa tanggapan mereka jika tahu aku memiliki istri yang tidak berakhlak seperti kamu?"


Aku semakin mematung, aku benar-benar tidak menyangka A Zam mengatakan kata-kata yang amat sangat menyakitkan.


"Minta maaf sekarang!"


Hah?


A Zam kembali menarik tanganku menuju tempat dimana Hannah berada. Cengkraman A Zam sangat kuat seakan aku ini tahanan yang tidak boleh lolos.


Tatapan orang-orang berduit itu nampak mengintimidasiku, aku benar-benar penjahat di sini.


"Maaf semua! Ini adalah istri saya, maaf atas kesalahpahaman dan ketidaknyamanannya. Sepertinya saya gagal mendidik istri saya, sekali lagi saya meminta maaf."


Setelah membuat permintaan maaf untuk semua orang yang begitu menyakiti hatiku, kini aku diseret untuk menemui Hannah.


Ingin rasanya aku berlari dari situasi ini, aku termakan hasutan syetan.

__ADS_1


A Zam pasti membenciku setelah kejadian ini.


***


__ADS_2