Love In Pesantren

Love In Pesantren
benar-benar ragu


__ADS_3

Siang itu Sofia tidak langsung pulang, Sofia memilih berjalan-jalan terlebih dahulu.


Sofia memasuki sebuah toko buku, guna membeli beberapa alat untuk membuat kalighrafi.


Sofia tertarik dengan sebuah buku novel yang berjudul OTW Soleha karya eNKa. Sofia pun mengambilnya, melihat covernya saja sudah membuat bulu kuduk Sofia meremang seketika.


Sofia tersenyum dan memutuskan untuk membeli buku itu.


Sofia merasa lepas dari sangkar, merasa bebas. Senyuman bergaris melengkapi derap langkah di trotoar ini.


Tangannya menenteng papperbag mengayun-ayun, kerudungnya menari-nari tersapu angin apalagi tiap kali kendaraan melewatinya.


Ah sepertinya aku harus berterimakasih pada Rani. Karena dia, aku bisa jalan-jalan hihi.


Sofia menghirup segarnya udara, tatkala dirinya melewati sebuah taman di pusat kota itu.


Hamparan bunga nan indah serta kolam-kolam yang dibuat sedemikian rupa membuat suasana begitu asri.


Sofia memilih masuk ke area taman tersebut.


Sofia memilih untuk mendudukan dirinya di sebuah bangku tepat dibawah pohon yang rindang.


Terpaan angin sesekali menerpa wajahnya.


Sofia teringat buku yang tadi dia beli, kemudian membuka paperbag dan mengambil buku itu.


Sofia mengusap sampul buku yang dibuat sangat apik itu.


Sebelum membacanya Sofia memperhatikan detail gambar yang ada pada sampul buku itu.


"Hmmm sepertinya pembuat sampul ini sangat pintar membuat gambar."


Bicara sendiri kamu Sof?


Baca Sof jangan dilihat sampulnya aja. Seperti kita sebagai manusia jangan hanya melihat orang dari luarnya saja lihatlah isi hatinya juga.


Uhuyy duh penyakit narsis author muncul di sini hihi.


Tak perlu waktu lama Sofia membuka plastik yang membalut buku tersebut.


Sofia membacanya dengan sangat teliti, satu persatu halaman dia baca.


Sesekali Sofia menyeka setitik air di sudut matanya.


"Duh, ternyata benar janganlah menganggap diri kita lebih menderita dari orang lain. Masih banyak orang yang lebih menderita dibandingkan kita."


Lagi-lagi Sofia berbicara sendiri.


-------------


Suasana taman makin sepi karena hari kini telah menjelang sore.


Sofia yang keasikan membaca buku tak menyadari waktu yang terus bejalan tatkala dirinya diam.


Terlebih Sofia sedang libur sholat jadi dirinya lebih leluasa membaca.


Hingga saat Sofia membuka halaman tengah dari buku tersebut, setitik air jatuh di atas buku itu.


Hujan pemirsa.


Sofia segera menutup buku tersebut, memasukannya ke dalam paperbag yang dia bawa. Sejurus kemudian Sofia berlari mencari tempat untuk berteduh.


Sangat sulit mencari tempat berlindung di dalam taman. Sofia memutuskan keluar dari taman tersebut dan melihat sebuah toko bunga di sana.


Sofia berlari ke arah toko tersebut untuk berlindung dari derasnya air hujan yang mengguyur.


"Assalamualaikum."


Tak ingin di bilang tidak sopan, Sofia memilih memberi salam pada pemilik toko tersebut.

__ADS_1


Sahutan terdengar dari dalam toko.


Nampak seorang ibu keluar dari dalam toko tersebut.


"Saya ikut berteduh di sini bu."


Sofia memberikan senyuman terhangatnya.


"Di dalam saja neng! Di sini keujanan!"


Ibu itu mengajak Sofia ke dalam, namun Sofia menolaknya secara halus.


----------------


Sementara di rumah, Farrel sedari tadi kelimpungan mencari Sofia. Ketika menghubungi ponselnya ternyata ponselnya tertinggal di dalam kamar.


Farrel mengumpat berkali-kali, bukan ditujukan untuk Sofia tapi untuk dirinya sendiri.


Farrel merasa bersalah meninggalkan Sofia di restoran itu.


Sebenarnya tadi Farrel sudah mencari ke restoran itu, namun nihil Sofia sudah tidak berada di sana.


Farrel beberapa kali menelpon Siti hingga Nimas, bahkan mertuanya guna menanyakan keberadaan Sofia. Namun dirinya tak mendapat apa-apa.


Sofia menghilang?


Oh kenapa Farrel merasa kacau begini?


Sejak makan siang bersama Rani tadi Siang, Farrel hanya fokus mengirim pesan pada Sofia supaya cepat pulang. Tapi setibanya Farrel di rumah, Sofia belum pulang.


Farrel mendapati ponsel Sofia tergeletak di atas tempat tidur.


Sungguh Farrel merasa tak karuan dibuatnya.


Waktu kini telah petang, terdengar suara adzan magrib bersautan. Farrel yang sedari tadi duduk di atas kasur sambil memegang kepalanya yang dibuat pusing karena tidak menemukan Sofia, kini bangkit dan mengambil air wudhu.


Farrel hampa, melakukan sholat sendirian dirinya rapuh.


"Ya Tuhanku, maafkan kesalahanku. Maafkan dosa-dosaku, maafkan kekhilafanku terutama pada istriku. Hamba berjanji, jikalau detik ini Sofia datang mengetuk pintu. Hamba berjanji akan belajar mencintainya, hamba akan memperlakukannya sebagai seorang istri. Hamba berjanji ya Alloh."


Disaat bersamaan kilat dan petir terdengar sangat keras, kemudian suara ketukan pintu beserta salam terdengar sangat jelas di telinga Farrel.


Farrel terpaku, apa ini jawaban?


Apa itu Sofia?


Farrel bergegas bangkit, dan berlari ke arah pintu. Sementara petir di luar sana masih menggelegar.


Farrel membuka pintu, dilihatnya Sofia yang menggigil dengan pakaian yang basah kuyup, kerudung lempes.


Sofia tersenyum ditengah rasa kedinginannya.


Farrel melihatnya sambil berkaca-kaca sejurus kemudian tanpa menghiraukan pakaian Sofia yang basah, Farrel menarik Sofia ke dalam pelukannya sambil menutup pintu.


Sofia berontak, namun Farrel tak melepasnya. Selanjutnya yang di dengar Sofia adalah tangisan.


Eh tunggu, kenapa Farrel menangis?


"Basah Rel."


Kembali Sofia mencoba memundurkan badannya, tapi Farrel tetap merengkuhnya erat.


"Farrel, aku kedinginan. Aku mau ganti baju."


Setelah Sofia mengeluarkan kalimat itu barulah Farrel melepaskan dekapannya.


Farrel memegangi kedua pundak Sofia menatap lekat wajah sang istri.


Matanya memandangi kedua mata sang istri kemudian turun pada bibir yang pucat itu.

__ADS_1


Kemudian tanpa aba-aba Farrel mengecup kening Sofia.


Sontak hal itu membuat Sofia membelalakan matanya heran.


Kemudian Sofia mendorong tubuh Farrel.


"Aku mau ganti baju."


Sofia bergegas menuju ke dalam kamar.


Setibanya di kamar, Sofia segera mengunci pintu.


Sofia bersandar pada pintu mencoba menelaah, apa yang baru saja terjadi. Sofia tidak menemukan jawaban apapun, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dan memilih segera mengganti pakaiannya.


Beberapa saat kemudian, setelah Sofia mengganti pakaiannya. Sofia ragu untuk membuka pintu, tangannya maju mundur memegang handel pintu kamar.


Setelah keberaniannya terkumpul, Sofia mengatur nafasnya kemudian membuka pintu.


Tak ada Farrel.


Sofia melangkahkan kakinya ke arah dapur, dirinya tertegun melihat Farrel tengah membawa nampan.


Saat Farrel melihat Sofia, Farrel tersenyum.


"Eh, tadinya mau dibawa ke kamar. Sini duduk!"


Farrel meletakkan kembali nampan yang dibawanya di meja makan.


Sofia masih diam, entahlah apa yang harus dia lakukan Sofia bingung.


Author juga bingung kamu harus ngapain Sof.


Farrel kemudian mendekati Sofia dan menarik tangannya supaya mendekat dan duduk di kursi itu.


Sofia sangat ragu benar-benar ragu.


Farrel kenapa?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#Tapi bukan ini kejutannya!!


Ada satu tentang Farrel dan Sofia yang author persiapkan khusus buat kalian, tapi itu nanti yaa. Kalau kalian setia author juga setia eh ngomong apa sii..


Eh iya manteman readers sekalian, tadi buku yang dibaca Sofia sebenarnya belum di bukukan. Hmm mungkin coming soon. Makanya kalian cepatan deh cari judul buku yang Sofia baca di beranda yaa. Itu karya teman author looh..

__ADS_1


Ok deh, terimakasih setia menanti up LIP. Eh tapi author mau like plus komen kalau bisa hihi.


__ADS_2