Love In Pesantren

Love In Pesantren
Ustadz juga manusia


__ADS_3

Kita tinggalkan sejenak Sofia dan Farrel yang mulai berdamai. Biar puas-puasin deh mereka ngobrol, kita jangan ganggu hihi.


---------------------


Di kediaman Ustadz Zamzam ternyata sedang terjadi perang dingin pemirsa.


Sang Ustadz bersama istrinya Nimas, masih saja main diam-diaman.


Haissh ga cape tuh?


Pagi ini, keluarga kecil itu sedang sarapan. Hening melingkupi ruang makan yang merangkap dapur tersebut, tapi untunglah ocehan Zamima sesekali memecah kesunyian.


Nimas sibuk dengan anaknya, sang Ustadz sibuk memakan sarapannya.


Duh ilah lagi mode silent mereka.


"Ayah berangkat dulu yaa."


Setelah sarapan sang Ustadz beranjak dan menggendong anaknya sebentar.


Nimas ikut berdiri dan mengikuti langkah sang suami menuju pintu keluar.


Ustadz Zamzam menciumi anaknya dengan begitu gemas di teras, sebelum dia berangkat. Nimas tersenyum melihat interaksi anak dan ayah itu.


Ah Nimas bilang aja mau, haha.


Sesaat kemudian, Ustadz Zamzam memberikan Zamima pada Nimas.


"Aku berangkat dulu, assalamualaikum."


Ustadz Zamzam menyodorkan tangannya ke hadapan Nimas.


Tangan itu tak langsung disambut oleh Nimas. Hingga sang Ustadz mengulang ucapan salamnya, namun Nimas masih dengan tingkah acuhnya.


Sang Ustadz menurunkan tangannya, lalu menghela nafas pelan.


"Setidaknya jawab salamku, menjawab salam itu wajib."


"Waalaikumussalam."


Sang Ustadz pun berbalik hendak pergi, sampai satu kalimat yang Nimas keluarkan membuatnya berhenti.


"Menjawab salam itu wajib, terus apa hukumnya jika seorang muslim bertengkar lebih dari tiga hari?"


Nimas pun masuk ke dalam rumah tanpa menatap sang suami, sungguh kali ini dia benar-benar ketakutan.


Karena terlalu lama didiamkan mengakibatkan lidahnya bertindak tanpa bisa di kontrol.


Wajar ko Nim wajaar.


------------------


Nimas masuk ke dalam rumah dengan perasaan takut, dia takut sang suami menyusulnya lalu memarahinya.


Nimas sudah menyiapkan mental untuk itu.


Tapi, apa yang di takutkan Nimas tidak terjadi. Ustadz Zamzam memilih berangkat ke Mts dan meredam amarahnya.


Sedikit kelegaan menyeruak di hati Nimas, eh tidak Nimas juga jengkel akhirnya. Ternyata sang suami lebih memilih berangkat ke sekolah ketimbang menyelesaikan masalah rumah tangganya.


Ckck, bakal lebih lama lagi ini mah marahannya.


Di tengah kejengkelannya, ponsel Nimas pun berbunyi. Tertera nama Hulli di layar benda itu.


"Assalamualaikum, Hulli."


Waalaikumussalam, Nim gimana Mima sehat?


Hulliyah nampak tak sabar mendengar jawaban Nimas.


"Alhamdulillah, kamu kapan kesini?"


Bukannya menjawab Hulliyah justru cengengesan di balik telpon itu.


Temen kamu kenapa itu Nim?


"Heii, aku nanya kenapa malah ketawa-tawa gitu ih?"


Maaf Nim maaf, sepertinya semingguan lagi deh. Soalnya ada yang bikin aku betah di sini.


Hah?

__ADS_1


"Aaah , emang sii kalau sudah ketemu keluarga suka males balik mondok lagi, aku jadi kangen pulang."


Nimas menerawang membayangkan dirinya pulang kampung.


Awas jatuh Nim.


Bukan, bukan karena itu.


Nimas segera turun dari hayalannya, kemudian sedikit mengernyit bingung.


"Terus? Kenapa? Ada apa di sana?"


Sabar dong sabar, kamu tahu Beni? Itu looh temen SD ku dulu yang pernah aku ceritain ke kamu. Ya ampuun aku kemaren ketemu dia Nim. Sepertinya perasaanku sama dia belum berubah Nim. Aaaah jadi ini yang dirasakan seseorang yang sedang jatuh cinta.


Ciee Hulli.


"Haissh, istighfar Hulli. Lagian cinta ga seindah itu."


Iya karena kamu lagi merasakan bagian cinta yang ga indah Nim.


Nimas menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar curhatan Hulliyah yang tengah dilanda api asmara.


Duh author jadi ingin nyanyi.


Pagi hingga siang mereka habiskan daya ponsel dengan mengobrol tanpa alur yang jelas.


Iya iya seperti cerita author yang kadang ga jelas haha.


Obrolan mereka harus terhenti akibat Zamima yang mulai rewel karena mengantuk. Nimas dan Hulli pun mengakhiri sambungan telponnya.


Bercengkrama dengan Hulliyah membuat Nimas terhibur dan melupakan sejenak masalahnya dengan sang suami.


Bahkan kini setelah dirinya mengakhiri sambungan telponnya, wajah Ustadz Zamzam mulai berseliweran kembali dalam kepalanya.


Ingin sekali Nimas menyiram disinfektan di sekitarnya supaya virus-virus yang bernama Zamzam Hasbi Amarulloh itu tak mendekati fikirannya.


Duh gini nih jika seorang istri sudah marah hihi.


---------------


Sore ini, Ustadz Zamzam pulang lebih awal. Sejak tadi di sekolah fikirannya tak tenang karena perkataan Nimas tadi pagi.


Tapi sungguh Ustadz Zamzam hanya manusia biasa yang bisa berubah baik atau jahat.


Sesampainya di rumah, sang Ustadz langsung bermain dengan Zamima. Padahal niat awalnya pulang cepat ialah untuk meminta maaf pada Nimas.


Namun entah mengapa rasanya berat untuk mengungkapkan permintaan maaf tersebut. Lidahnya mendadak kaku, atau mungkin mendadak ada tulangnya?


Gengsi itu namanya Stadz.


Akhirnya yang dilakukan Ustadz Zamzam adalah diam dan bermain bersama anaknya.


Nimas yang sejak tadi pagi memang jengkel pada suaminya, memilih acuh tak peduli.


Terseraaaah!


Mungkin itu suara hatinya.


Sore hingga petang berlalu tanpa penyelesaian, Nimas memilih acuh dan Ustadz Zamzam memilih bungkam. Memasuki tengah malam sang Ustadz yang baru pulang dari mesjid memilih mendudukkan dirinya di ruang tamu.


Sang Ustadz bingung harus memulai darimana, dirinya bingung harus meminta maaf dengan cara apa.


Tinggal ngomong elah, ribet Ustadz tuh.


Saat itu pula Nimas keluar dari kamar, dilihatnya sang suami tengah termenung di kursi itu.


Pandangan mereka bertemu.


Nimas berjalan makin mendekat terus sampai dekat.


Sementara sang Ustadz pun tersenyum manis, menyambut istrinya yang terus mendekatinya.


Tanpa usaha pun Nimas mendekati begitu fikirnya.


Nimas berdiri tepat dihadapannya berhenti sejenak, sang Ustadz pun mendongak menyambut dengan senang hati jikalau Nimas menjatuhkan diri dan memeluknya saat itu juga.


Namun apa yang terjadi?


Nimas datang kesana hanya untuk menutup gordeng yang belum tertutup dibelakang kursi yang di duduki suaminya.


GUBRAKK.

__ADS_1


Sang Ustadz meringis karena kepercayaan dirinya yang tinggi itu.


"Neng..."


Akhirnya sang Ustadz bersuara.


Nimas tak merespon, dan sibuk menutup gordeng.


"Neng, duduk di sini dulu deh !"


Perintah yang maksa hmmmm.


Nimas pun menurut dan duduk tepat di sebelah sang Ustadz.


Saat ini jantung Nimas dan Ustadz Zamzam seakan sedang berlomba untuk berdetak.


Sikap mereka saat ini seperti orang yang baru ketemuan dengan pacarnya, gugup-gugup deg-degan gimanaaa gitu ya, hmm.


"Aku minta maaf neng."


Sang Ustadz berbicara selembut mungkin.


"Iya."


Singkat banget Nim.


"Aku salah mendiamkan neng, maaf."


Sang Ustadz memegang tangan Nimas kemudian menatap wajah sang istri penuh harap.


"Aku bilang kan iyaaa."


"Tapi seperti ga ikhlas gitu, sini tatap mataku."


Sang Ustadz menarik dagu istrinya supaya tatapan mereka bertemu.


"Bener neng maafin aku?"


Nimas mengangguk tanpa suara.


"Kemarin aku takut banget neng, takut ada apa-apa sama Mima. Maaf karena telah menyalahkanmu."


Tatapan mereka makin terkunci.


"Aku juga takut A, tapi bukankah ini semua kehendak Alloh? Baik buruk keadaan yang menerpa kita sebagai manusia kita harus tetap pasrah."


Sebentar deeh disini yang Ustadz siapa ya?


Sang Ustadz mengangguk dan langsung memeluk istrinya itu. Kata-kata maaf berulang kali keluar dari bibir kritingnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#Thor kenapa part ini bosenin banget? (kalian)


#Author lagi merajuk ini (author)


#Merajuk kenapa sii thoor, author mau apa sini bilang sama kita? Mau mobil apa pesawat? (Kalian)


#Author mau jempol kalian!! Pleaselaah apa susahnya pencet tuh yang ada gambar jempolnya itu!! Warnain jadi merah tuh jempol. (author)

__ADS_1


__ADS_2