
Nimas memeluk pinggang Ustadz Zamzam dan sesenggukan ketika keluar dari kamarnya sampai teras rumah.
"Yaelah dek, manja benerr."
Gazani yang tiba-tiba datang langsung meledek Nimas.
Yah si abang ganggu, aku mau nulis adegan romantis ga jadi kan ah.
Ibu dan ayah yang kebetulan ada di teras pun sampai mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Gazani yang ga ngerti situasi.
Iya tuh si abang ih.
"Saya pamit dulu. Nitip Neng ya."
Sang Ustadz bersalaman dengan semua yang ada di sana. Kemudian matanya menatap sendu sang istri yang masih saja sesenggukan.
"Dek, diem dong kamu tuh lebay banget."
Gazani nampak gregetan pada sikap Nimas.
"Aku juga ga tahu baang, ga bisa berhenti." Nimas berbicara susah payah, nafasnya sulit diatur akibat menangis.
Kenyang ya Nim nangisnya.
"Bang, kamu ini. Ayok masuk !!"
Ayah dan ibu mengajak Gazani masuk ke dalam rumah, lebih tepatnya sih diseret hihi.
Tinggalah Ustadz Zam dan Nimas di teras itu.
"Yaudah neng, aku berangkat ya."
Nimas malah makin sesenggukan sang Ustadz pun merengkuhnya kembali.
"Aku pasti ke sini nengokin neng, jangan nangis terus !!"
Eh Nimas malah makin menjadi, para tetangga yang lewat pun dibuat bertanya-tanya bahkan ada yang sengaja menonton. Hadeuh dikira sinetron kali ahh, foto aja sekalian fotoooooo kkkkk.
"Cup sayang, aku cinta neng."
Mendengar sebuah kalimat langka itu, membuat Nimas melepas pelukannya dan mendongak menatap wajah sang suami yang tersenyum indah.
Sesaat kemudian sang Ustadz mengecup kening Nimas lamaa.
Ah meleleh deh aku.
Eh ko aku, Nimas maksudnya haha.
Setelah melepas kecupannya sang Ustadz tersenyum kembali.
"Assalamualaikum istriku sayang."
Nimas mengecup punggung tangan sang Ustadz.
"Waalaikumsalam. Hati-hati A."
Sang Ustadz pun berlalu dan baru sadar akan keadaan sekitar yang mana banyak tetangga berkumpul di sana.
Haisssshh kurang kerjaan pada. Eh atau Nimas sama Ustadz Zamnya aja yang ga tau tempat hihi.
Sang Ustadz hanya melempar senyum pada mereka semua. Kemudian melambaikan tangan pada sang istri.
Setelah mobil Ustadz Zam berlalu menjauh, kini giliran Nimas yang sadar situasi.
Aaaaaaaaaaaaaaaa.
Hatinya menjerit malu, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.
---------------------
Malam ini Nimas merasa sepi serta khawatir menjadi satu, pasalnya berkali-kali dia menelpon bahkan mengirim pesan kepada sang Ustadz belum ada satu pun yang mendapat sautan.
Tenang aja Nim, ga usah gelisah begitu.
Nimas pun tertidur dalam kegelisahan.
Pukul 4 subuh, ponsel Nimas berdering membuat sang pemilik menggeliat bangun dari tidurnya.
Dilihatnya layar ponsel ternyata video call dari seseorang yang semalaman di tunggu-tunggu.
__ADS_1
Segera Nimas menerimanya.. Terpampanglah wajah itu, wajah suami yang dirindukannya.
Eh baru juga kemaren.
Nimas menutupi sebagian wajahnya dengan selimut.
""Assalamualaikum..""
Isshh senyumnya Stadz.
""Waalaikumsalam""
""Maaf neng, aku baru buka ponsel. Tadi disimpen di tas jadi ga kedengeran ada telpon.""
""Iya.""
Sepertinya ada yang salting nih wkwk.
""Pas nyampe rumah langsung tidur, terus kebangun abis tahajud langsung inget neng.""
Uh laporan yang sangat terperinci.
""Alhamdulilah nyampe dengan selamat.""
Nimas merasa lega sekarang.
""Kenapa mukanya ditutupin neng?""
""Malu, baru bangun tidur.""
Sang Ustadz tertawa di sebrang sana mungkin karena kepolosan Nimas.
""Aa ih, malah ketawa.""
Nimas manyun tuh, selimutnya ampe maju begitu.
""Maaf neeng, abis kamu lucu.""
""Lucu gimana coba ih.""
Makin kesal deh sepertinya.
Ko aku yang malu haha.
Eh tunggu deh tadi Ustadz bilang berbagai versi, lah dikira mukanya Nimas itu apa yaa.
Nimas pun menuruti titah suaminya menurunkan selimut yang menutupi wajahnya.
"Tuh kaan cantik, jadi pengen nyubit."
Uhuk.. Author batuk.
Tuh kaan Nimas tersipu. Ustadz jago dah.
Obrolan mereka berlanjut sampai adzan subuh berkumandang.
---------------------
Dua hari berlalu, Nimas mengusir rasa sepinya dengan menemani Sari mengurus keponakan barunya.
Itung-itung belajar ya Nim.
Saat masih di rumah Gazani, kebetulan banyak tetangga yang berkunjung ke sana.
Sontak Nimas jadi artis hari itu. Semacam di wawancara gitu dia tuh. Kasihan.
"Nimas, kok mau jauhan sama suami sii?"
Kepo deh wahai kau tetangga.
"Gimana lagi bu, suami saya punya kewajiban di sana."
Nimas bicara tanpa melihat siapa yang bicara.
"Eh Nim, harusnya kamu jagain tuh punya suami seperti Ustadz Zam pasti banyak yang ngincar."
Ck mulai deh.
"Tapi suami saya tidak seperti itu."
__ADS_1
Mulai jengah Nimas meladeni para tetangganya.
"Inget loh Nim, Ustadz juga manusia, bisa saja tergoda. Secara kan kamu lagi jauh terus lagi hamil. Pasti kemarin-kemarin dia ga selera sama kamu."
Haissshh mulut itu mulut.
Nimas jadi teringat bahwa selama hamil dirinya hampir tidak pernah memberikan hak suaminya.
Apa suaminya kecewa?
Apa suaminya akan tergoda dengan wanita lain?
Ah Ustadz Zam bukan orang seperti itu.
Hei hati, kenapa kalian jadi dua lagi?
Nimas tidak menjawab dia memilih tersenyum, kemudian pamit pada Sari yang sedang menyusui bayinya.
Sari dari tadi sudah geram mendengar kompor meleduk dimana-mana. Namun berhubung dirinya sedang ada di kamar dan sedang menyusui dia tidak bisa berbuat apa-apa.
------------
Nimas berusaha menepis fikiran-fikiran negatif itu dengan disinfektan dzikir sesaat setelah melaksanakan sholat dhuhur.
Sesudahnya Nimas memilih membuka ponselnya, berharap ada pesan dari sang suami.
Namun yang ada hanya notif pesan dari Sofia.
((Assalamualikum, Nimas kamu ga bilang mau pulang.)) Sofia.
((Waalaikumussalam, maafkan aku Sof. Aku dadakan kesininya.)) Nimas.
((Iya deh, kamu jaga kesehatan yaa. Semoga lahirannya lancar.)) Sofia.
((Amin, terimakasih.)) Nimas.
((Nim, emmh tadi waktu aku ke rumahmu ada tamu di sana.)) Sofia.
((Tamu?)) Nimas.
((Iya, kalau tidak salah namanya Hannah.)) Sofia.
Nimas tidak menjawab lagi.
"Hannah udah sembuh?" Nimas berbicara sendiri.
Nimas tidak mau ambil pusing, lagi pula Nimas sudah tidak was-was lagi sekarang. Karena sesungguhnya was-was itu datangnya dari syetan.
Nimas percaya suaminya orang yang mengerti agama dan tahu mana yang baik dan yang benar. Nimas memilih mempercayai Ustadz Zam kali ini.
Mati kau syetan, kalah dengan keteguhan Nimas pada Tuhannya.
--------------
Hari-hari sangat cepat berlalu, hingga pagi ini sang Ustadz datang mengunjungi Nimas.
Ustadz Zam tiba pukul sembilan malam, setelah tadi sempat makan malam bersama kini Nimas dapat melepas rindunya seminggu ini, berdua hanya berdua dengan suaminya.
"Neng, tiga hari yang lalu Hannah datang ke rumah katanya mau ketemu neng."
Eh Ustadz jujur gaess.
"Aku tahu."
Ustadz mengernyit.
"Maksudnya?"
"Iya aku tahu kalau Hannah bertamu."
"Neng ga marah?"
Ustadz takut haha.
Nimas menggeleng sambil tersenyum, disambutlah dengan pelukan dari suaminya.
Uhuyyyy...
#Nanti bakal ada juga selingan kisahnya Sofiaa loooh (author)
__ADS_1
#Author mah ember bocor (Nimas)