Love In Pesantren

Love In Pesantren
Tentang Sofia


__ADS_3

#Assalamualaikum semuaa. Maaf yaaa jika cerita ini terkesan berputar-putar tidak ada titik temu yang menarik. Maklum ya aku ini bukan penulis, aku hanya seseorang yang berusaha merangkai setiap hayalannya dengan kata-kata. Jika hayalanku monoton mohon maaf dan terimakasih atas berbagai masukan yang aku masukan ke dalam hati lalu aku renungi semalaman. Ok deh lanjut ah, lanjut aja deh udah setengah jalan juga. Belajar ikhlas menerima masukan agak sulit untuk manusia yang mengandalkan rasa sepertiku ini. Atur nafas dulu dong. (author)


---------------


Aku Sofia nih yang ngomong.


Setelah berkirim pesan dengan Nimas, aku berdiri di atap ini menikmati sang surya yang mulai condong ke arah barat. Angin membelai menerbangkan segala kepenatanku.


Aku dan kesakitanku. Mungkin inilah judul yang cocok seandainya bisa aku mengarang lagu. Aihhhh, jika dipikir-pikir aku ini tragis sekali.


Sempat menjalani hubungan taaruf bersama seseorang yang lama-lama ada di hati, namun berakhir begitu saja karena kami saudara. Huhh.


Setahun aku pupuk cinta padanya tanpa ada yang tahu, bahkan sahabatku tak ada satu pun yang tahu.


Aku ikhlas sungguh, bahkan ketika dia menikahi sahabatku Nimas. Aku ikhlas menerimanya.


Waktu itu aku bercerita pada Rista, eh kok dia yang emosional padahal aku biasa aja deh perasaan.


Nimas sahabatku, aku belajar ikhlas justru darinya. Aku bahagia Ustadz Zam memilih sahabatku dijadikan istrinya.


Setidaknya dia tepat memilih istri yang inshaalloh soleha menurutku.


Tak bisa kupungkiri waktu itu aku sedikit meratapi nasibku, namun disini bukan hanya aku korbannya tapi kami bertiga yang terjebak dalam situasi aneh ini.


Terlebih Nimas, dia yang terseret ke dalam kisahku tanpa dia tahu, sempat pula di beri tatapan benci dari Rista.


Karena rasa bersalah itulah, aku selalu berusaha membantunya kala Nimas ada masalah. Waktu peristiwa di rumah sakit bersama Rista, jujur aku geram pada Ustadz Zam makanya aku menelpon ibunya. Dan kemarin ada seorang wanita yang datang ke rumah Nimas, menurut Rista sih itu wanita yang sama waktu dia dan Nimas di rumah sakit.


Semoga rumah tangganya baik-baik saja.


"Sofi..!"


Eh.


"Aku cariin kemana-mana, eh ada disini."


Hulli ganggu aja deh aku yang lagi bermonolog hihi.


"Kenapa?"


"Jadi kan kita beli kitab?"


Ah iya hampir aku lupa, aku harus membeli kitab baru untuk para santri.


Berhubung ini masih pukul 4 sore, kami pun berangkat ke toko kitab.


Di antar supirnya Mama, kami menikmati jjs eh apa tuh istilahnya jalan-jalan sore yang langka kami lakukan selama jadi santri.


Aku dan Hulli sungguh mirip kuda yang lepas dari kandang setibanya di toko kitab. Kita lari sana lari sini haha bahagia begini, mirip anak tk deh kami.


Eh apa kita katro haha bodo amatlah yang pasti hanya membeli kitab saja kita bahagia.


Ketika aku dengan semangatnya membawa tumpukan kitab di tanganku. Tiba-tiba di depanku nampak seseorang yang menghalangi jalan.


"Permisi !!"


Pintaku menahan pegal di tangan.


"Lain kali, bawanya sedikit-sedikit saja."


Eh dia mengambil alih kitab di tanganku dan membawakannya ke kasir.


Siapa sii? Perasaan Pak Supir ga setinggi itu.

__ADS_1


"Sofia, itu kan si Farrel."


Hulliyah menghampiriku.


Hah.


Aku dan Hulli mendekat ke tempat kasir.


"Terimakasih."


Ucapku singkat.


Dih ekspresi macam apa itu, orang ini malah menatapku dan Hulli dari atas sampai bawah.


Astagfirulloh ga sopannyaa.


"Kalian teman Nimas kan?"


Aku dan Hulli saling berpandangan, kemudian mengangguk.


"Ada yang ingin saya bicarakan, habis ini kalian mau kemana?"


Ngomong aja sii ribet amat.


"Pulang."


Singkat aja.


"Gimana kalau aku traktir minum kopi dulu?"


Ih ko aku ga suka ya.


"Maaf, ini sudah terlalu sore."


"Ok."


Syukurlah dia tidak memaksa kami.


-----------------------


Setelah selesai membayar, kami pun keluar menemui pak supir untuk membantu kami membawa kitab-kitab itu.


Namun ternyata pak supir tengah berbincang dengan seseorang di meja yang tersedia di depan mini market tak jauh dari toko kitab.


"Hulli, itu di sana."


"Samperin yuk, ga mungkin kita teriak."


Kami pun mendekati pak supir. Semakin dekat semakin jelas siapa seseorang yang sedang bersamanya.


Farrel, ya dia orangnya. Mendadak aku meringis menyadari bahwa orang ini ngotot juga.


"Eh neng-neng udah selesai, sebentar bapak masukin ke dalam mobil dulu. Neng berdua tunggu di sini saja, tadi nak Farrel meminta izin untuk berbicara katanya."


Aku menatap sengit pada orang yang sedang nyengir itu.Iuuhhhhh ko mendadak kesal aku sama dia.


Aku dan Hulli pun terpaksa duduk di kursi kosong berhadapan dengan manusia yang mendadak membuat moodku jelek.


"Kalau mau bicara, cepatlah !!"


Ketus boleh dong.


Dih malah nyengir, jengkelin banget nih orang.

__ADS_1


"Saya hanya ingin bertanya, Nimas dimana ya?"


"Kenapa menanyakan Nimas?"


Bagus Hulli tanya aja pojokan dia.


"Saya hanya ingin melihatnya, beberapa hari ini tak bisa mengintainya di rumah."


Apa katanya?


Jangan bilang dia mengintai Nimas.


"Astagfirulloh, Nimas istri orang. Jikalau anda lupa."


Top deh Hulli ayok pojokin dia pojokin.


Udah seperti sporter deh aku kkkk.


"Ya ya ya, saya tahu. Dan saya tahu dia tidak bahagia."


"Apa maksud anda? Stop jangan menganggu Nimas lagi !! Masih banyak wanita lain di luaran sana."


Terusin Hulli terus.


"Saya terlanjur menginginkannya."


Haisshhh.. Aku melihatnya horor banget.


Aku dan Hulli melotot ke arah Farrel, tidak percaya dengan apa yang di katakan pria itu.


Aneh, Ustadz Ahmad bisa memiliki sepupu seperti dia. Astagfirulloh, apa hakku menjudge orang.


"Kami permisi !! Assalamualaikum."


Aku pun hendak mengikuti Hulliyah, namun satu kalimat yang keluar dari mulut Farrel mampu membuatku menghentikan langkah.


"Kamu Sofia kan? Yang disakiti Nimas."


Aku membalikkan badan gusar.


"Jaga bicara anda !! Nimas tidak pernah menyakiti saya."


Sejurus kemudian aku sedikit berlari meninggalkan pria aneh itu.


Uh amit-amit deh punya suami seperti dia.


Eh aku ngomong apa.


Setelah semua selesai kami pun naik mobil untuk pulang. Sebelum benar-benar masuk masih ku lihat pria menjengkelkan itu di sana menatap ke arah ku dengan senyuman sinisnya.


Dih mimpi apa aku.


"Sofi, sepertinya si Farrel nekad orangnya. Aku jadi hawatir sama Nimas."


Aku membenarkan ucapan Hulliyah, aku berfikir harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Nimas.


Duh ko aku rasanya ingin jadi wonder women deh.


Tenang saja Nim, aku di sini akan berusaha melindungimu.


Tekadku sudah bulat, aku harus berbuat sesuatu meskipun aku harus menderita aku rela.


#Apakah Sofia akan berhasil menjadi wonder women untuk Nimas? Kita tunggu yaa pemirsahh. (author)

__ADS_1


__ADS_2