
Hulliyah membawa minuman yang diberikan Nimas, sebenarnya Hulliyah sangat enggan melakukannya tapi apa daya Nimas meminta tolong padanya.
Di bukanya pintu itu secara hati-hati, yang pertama di lihat adalah sosok pria yang tengah sibuk membaca kertas-kertas di pangkuannya.
Hulliyah menelan ludahnya, ada kecanggungan tersendiri untuk dirinya.
"Diminum dulu!"
Hulliyah menyimpan gelas itu tepat di meja yang ada di hadapan Haqi.
Haqi sedikit terkejut melihat Hulliyah, sampai akhirnya Haqi menghadiahi senyuman yang membuat author lumer eh.
"Sypa ada di sini?"
Hulliyah yang hendak beranjak masuk ke dalam seketika menghentikan langkahnya.
Hulliyah mengangguk tanpa menoleh.
"Sini lah! Temani aku ngobrol dulu."
Haisshh Haqi nakal.
"Maaf, sebaiknya saya ke dalam."
Hulliyah melangkahkan kembali kakinya.
"Tunggu! Ini ada yang mau saya tanyakan."
Haqi menyodorkan sehelai kertas pada Hulliyah yang memunggunginya.
Dengan sangat terpaksa Hulliyah berbalik dan mengambil kertas itu.
"Apa ini?"
"Itu proposal yang akan kami ajukan ke kantor pusat tentang sarana air bersih di lingkungan Pesantren."
Hulliyah mengerutkan keningnya berlipat-lipat.
"Terus bapak minta bantuan saya untuk apa?"
Seketika Haqi tergelak.
"Jangan manggil bapak dong, saya belum kumisan looh!"
"Maaf."
"Sini duduk dulu!"
Haqi berpindah tempat duduk dan mempersilahkan Hulliyah untuk duduk di tempat dirinya tadi.
"Ah tidak usah, tidak enak dilihat orang."
"Loh kita enggak ngapa-ngapain kan? Biar enak ngobrolnya aja."
Hulliyah mengamati sekitar, kemudian menggeser kursi itu menjauh. Hullliyah mendudukkan dirinya kemudian matanya mulai menelisik pada kertas yang di sodorkan Haqi.
"Menurut Sypa gimana?"
Eh gimana apanya?
Kok author yang gugup haha.
"Apa Mama Haji sudah tahu?"
Haqi tersenyum, aihhh dalam bayangan author senyum kamu manis bang.
"Rencananya setelah dari sini saya dan Ustadz Zamzam mau menemui Mama."
Hulliyah mengangguk-angguk tanpa bersuara.
Haqi mengamati Hulliyah kemudian tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Ih author cemburu.
Hulliyah kemudian menyadari bahwa Haqi sedang tersenyum-senyum, lalu menyipitkan matanya.
"Apa yang lucu Pak?"
"Aiisshh manggilnya jangan Bapak! Panggil kakak saja ya, umur kita kelihatannya tidak jauh berbeda."
Lagi-lagi Hulliyah mengangguk tanpa menatap wajah Haqi.
Beberapa saat kemudian Ustadz Zamzam muncul dari dalam rumah.
"Yuk Haq! Maaf yaa lama nunggu. Berkasnya keselip-selip jadi dicari dulu."
Haqi pun berpamitan sebelumnya meminum air yang di bawa Hulliyah.
---------------------
Beberapa hari berlalu Hulliyah selalu bertemu dengan Beni. Setiap subuh Beni selalu datang untuk mengikuti kajian subuh. Hal itu membuat Hulliyah ketakutan akan perasaannya yang sulit di kendalikan.
Hulliyah takut syetan makin membuatnya terbuai. Akhirnya yang dilakukan Hulliyah adalah menghindar.
Ya, dia akan bergegas pergi setelah kajian usai, begitu seterusnya.
Namun sial baginya hari ini, Mama tidak memberikan kajian sehingga tidak ada alasan untuk berlama-lama berada di mesjid.
Di luar mesjid Beni terlihat sedang menunggu, sampai akhirnya Hulliyah datang.
"Lia!"
Beni tersenyum melihat Hulliyah keluar mesjid.
Hulliyah menundukkan pandangannya dan berjalan menghampiri.
"Lia, aku sengaja nunggu kamu di sini."
Apa katanya?
"Aku mau minta tolong boleh?"
Eh kenapa harus alasan klasik yaa mendekati Hulliyah?
"Minta tolong apa?"
"Nanti siang bisa temani aku ke toko buku gak?"
Hah.
"Se-sepertinya aku tidak bisa, lagipula kita tidak mungkin pergi berdua itu tidak baik."
Hulliyah hendak berlalu.
"Ayolah sekali ini bantuin temen. Kan ibadah juga."
Teman?
Sejak kapan mereka berteman?
"Kamu emangnya enggak nugas?"
"Nanti malam aku patroli, hari ini aku free."
Hulliyah membuat cetakan bulat pada bibirnya membentuk kata O.
"Gimana Li? Mau ya, nanti aku jemput."
Isshh ternyata pemaksa juga si Beni ya.
"Boleh, tapi aku ajak teman. Karena enggak mungkin kita hanya berdua saja pas kamu jemput."
"Siiiip. Ya udah aku pulang dulu, nanti aku jemput ya. Dandan yang cantik, assalamualaikum."
__ADS_1
Kenapa musti ada unsur godaan dalam kalimat yang Beni ucapkan ya?
Kan Hulliyah malu jadinya hihi.
-------------------
Menggunakan sedikit paksaan Hulliyah mengajak Neli untuk menemaninya. Setelah sebelumnya meminta izin pada Bi Haji, kini mereka tengah berada di halte dekat Pesantren guna menunggu sang penjemput tiba.
"Li, apa nanti aku enggak jadi nyamuk nih? Nemenin orang kencan."
Omonganmu Nel.
Hulliyah mencubit pinggang Neli gemas.
"Siapa yang kencan? Kita hanya ke toko buku. Awas loh kalau nanti bicara sembarang aku ...."
Belum sempat Hulliyah menyelesaikan perkataannya, sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka dan itu Beni.
Tanpa embel percakapan yang berarti akhirnya Neli dan Hulliyah masuk ke dalam mobil.
Para gadis menjadikan Pak Polisi sebagai supir mereka saat ini.
Waah jarang-jarang disupirin Polisi kkkk.
Hulliyah dan Neli duduk di bangku penumpang dengan canggung dan malu. Biar bagaimana pun Beni seorang asing yang kebetulan mengenal Hulliyah. Dan dengan sangat kebetulan Hulliyah pengagum rahasianya hmmmm.
"Toko buku yang lengkap dimana?"
Beni memecah kecanggungan yang terjadi dalam ruang yang berjalan atas kendalinya itu.
"Emm, di perempatan itu ada toko buku yang lumayan gede."
Neli menunjuk ke arah jalan tepat di depan mobil.
"Emang kamu pernah ke sana?"
Hulliyah nampak tak yakin dengan penuturan Neli.
"Yaa belum, makanya sekarang mau ke sana."
Hulliyah mencebik kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok yang tengah sibuk mengemudi.
Perpotongan antara rambut dan bahu yang sempurna berdesir hati melihat lekukan itu.
Astaghfirulloh Hulliyah.
Hulliyah merutuki mata dan sisi hati yang mempunyai sifat alamiah pemuja lawan jenisnya.
Dalam diam mereka tiba di toko buku.
Hulliyah bergandengan tangan dengan Neli seolah meyakinkan diri bahwa ada teman yang akan menjauhkannya dari penyakit hati.
Berjalan mengiringi sang lelaki bak dua orang permaisuri mengikuti sang raja mereka memasuki toko itu.
Berpencar mencari kebutuhan masing-masing, Hulliyah sibuk di area novel islami bersama Neli.
Lagi nyari referensi sepertinya.
Sang Polisi entah dimana, yang jelas mereka sibuk dengan hasrat masing-masing.
"Udah yuk Nel!"
Hulliyah berkata setelah menemukan buku yang membuat hatinya tertarik.
Mereka menyusuri penghalang demi penghalang rak-rak buku mencari sosok yang membawa mereka ke sana.Sampai akhirnya orang itu terlihat di sudut ruangan, namun Hulliyah dan Neli mendapati penampakan yang amat menusuk mata.
Adegan yang tak layak untuk di deskripsikan, yang mampu merubah image sang Polisi.
Waktu seakan berhenti, fungsi toko buku sepertinya berubah bukan semestinya.
Neli membekap mulutnya tak percaya, mata tetep aja melotot. Tontonan yang jarang dia temui, sayang untuk dilewatkan.
__ADS_1
Sementara Hulliyah limpung menahan sesak, dan beribu pertanyaan. Sampai kemudian dirinya tersadar dan dengan cepat menarik tangan Neli dan segera pergi dari tempat itu, tempat yang mulai saat ini terkutuk untuk dia datangi.