
Hari ini Nimas dan Ustadz Zamzam tengah bersiap untuk menjemput Zamima di rumah ibunya Ustadz Zamzam.
Mereka kini tengah berada di mobil dan siap berangkat, hingga suara seseorang membuat mereka menunggu.
"Nimas, Nim ...."
Terlihat Hulliyah yang berlari-lari sambil memanggil Nimas. Setelah sampai di dekat mobil, barulah Hulliyah berbicara.
"Assalamualaikum ...."
Huliyah berkata dengan nafas ngos-ngosan.
Minum Hul Minum!
"Waalaikumussalam, ada apa Li?"
Hulliyah mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.
"Kalian mau jemput Mima ya?"
"Iya ...."
"Aku boleh nebeng gak? mau nganterin santriwati yang sakit. Kebetulan alamatnya se-desa sama kamu Nim."
Nimas menoleh ke arah suaminya untuk meminta izin.
------
Akhirnya, kini Hulliyah bersama santriwati yang sedang sakit itu berada di dalam mobil, Ustadz Zamzam bersedia mengantarnya.
Tak ada percakapan di dalam mobil itu, hening tercipta, deru suara mesin yang jadi penghibur.
Jangan tanya kenapa?
Hulliyah dan Nimas masih mengingat Sofia, biasanya mereka akan sangat heboh jika bertemu.
Sekarang mereka tak akan bertemu lagi.
Ustadz Zamzam yang fokus menyetir pun tak berani memulai percakapan. Sementara santriwati yang hendak di antar Hulliyah, lelap dalam tidurnya.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai lebih dulu di rumah santriwati itu, Ustadz Zam bersama Nimas dan Hulliyah berpamitan setelah serah terima dengan orang tua santriwati tersebut.
Serah terima ceunah.
"Aku langsung ke Pesantren lagi Nim, di sini ada angkot atau bus gak?"
Sesaat setelah mobil kembali melaju, Hulliyah memulai pembicaraan.
"Ga ada Hulli, udah besok aja kita pulang bareng lagi." ucap Nimas.
"Masa aku nginep? Aku belum izin Mama." Hulliyah bimbang.
"Kamu tenang aja, nanti aku izinin." timpal Ustadz Zamzam.
Walaupun enggan, tapi Hulliyah tak punya pilihan lain.
Ibaratnya mau menyebrang sungai, eh airnya lagi banjir hihi.
Gak jelas banget, author tuh.
--------------------
Mereka tiba di rumah ibu sore hari sekitar pukul empat.
Nimas berhambur memeluk sang putri yang seharian kemarin tidak bersamanya.
"Mima, ibu kangen."
Nimas terus menciumi anaknya setelah mereka masuk ke dalam rumah.
"O iya Bu, mmm ... Mima mau punya adek."
Ustadz Zamzam mengelus kepala Zamima yang ada dalam pangkuan Nimas.
Sang Ibu sempat menganga namun akhirnya bersorak gembira mendengar kabar itu.
Author juga nganga wkwk.
Hulliyah pun tak kalah heboh dengan mertua Nimas.
"Waduhh nambah ponakan baru aku," ucap Hulliyah diselingi tepuk tangan dan tos ria bersama ibu Ustadz Zamzam.
Kelakuan ibunya Ustadz Zamzam hihi.
__ADS_1
"Eh eh, lihat tuh temennya udah mau punya dua anak. Kenapa Hulli masih betah sendiri?"
Setelah ibu Ustadz Zamzam bisa menguasai diri, dia menjadikan Hulliyah bahan candaan.
Hulliyah yang sedang minum pun tersedak hingga terbatuk.
"Kapan Li?"
Nimas ikut menggoda Hulliyah.
"Idih kapan apa coba? Aku masih betah di Pesantren, lagian aku kan masih kecil hihi."
Perkataan Hulliyah barusan, dihadiahi lemparan tisu dari Nimas. Nimas merasa gemas pada Hulliyah yang sekarang tidak pendiam lagi.
Berbeda dengan pertama mereka berteman.
Sejenak mereka melupakan kesedihan akan kepergian Sofia, lebih tepatnya mencoba melupakan kesedihan.
--------------------
Hulliyah termenung di kamar tamu rumah itu, khayalnya melayang mengingat saat-saat bersama keempat sahabatnya dulu.
Kini mereka sudah punya kehidupan masing-masing, lantas bagaimana dengan dirinya?
Memori itu seakan berputar jelas dalam rekaman di kepalanya.
Saat satu nama terucap, kembali merasakan sakit pada hatinya.
Sofia telah pergi.
Oh Sofi semoga husnul khotimah, sahabatku sayang.
Hulliyah mendudukkan dirinya di atas ranjang, kemudian membuka ponsel miliknya yang sejak pagi tadi dia biarkan di dalam tas miliknya.
Mencoba masuk ke akun media sosialnya, Hulliyah melihat satu persatu apa yang ada di dalamnya.
Sampai saat matanya tertarik pada satu nama di sana, nama yang begitu diidamkannya. Nama yang sempat menghiasi hari-harinya dulu.
Ya, dulu.
Hulliyah pernah memendam rasa pada seorang pria bernama Beni, anak seorang juragan peternakan di kampungnya.
Seorang Beni mampu membuat Hulli yang kalem terpikat oleh pesonanya.
Iii Hulli kepo iiiii.
Hulliyah dengan asiknya melihat segala sesuatu yang orang itu posting di sana.
Bahkan Hulli baru mengetahui jika Beni adalah seorang anggota kepolisian di sektor daerah dimana Pesantrennya berada.
Di tengah malam Hulli melompat-lompat tak menyangka ternyata cinta pertamanya berada sangat dekat dengan dirinya.
Author no komen.
Hulliyah tertidur dengan senyuman.
---------------
Keesokan paginya Hulliyah ikut sarapan dengan keluarga Ustadz Zamzam.
Pagi ini sangat cerah, secerah hati Hulli yang sudah tidak sabar untuk kembali ke Pesantren. Hanya terhalang beberapa blok dari Pesantren adalah kantor Polisi, Hulli ingin membuktikan bahwa Beni memang benar ada di sana.
"Jam berapa kita pulang?" tanya Hulli.
"Nanti sore deh sepertinya, mau ada temen aku ke sini."
Ustadz Zamzam menjawab sambil tangannya menyuapi makan Zamima.
"Siapa?"
"Itu looh si Haqi neng, dia mau mancing katanya. Sekarang lagi di jalan orangnya."
Sang Ustadz menjawab rasa penasaran semua orang yang ada di meja makan itu.
-----------------------
Nimas dan Hulliyah tengah berada di dapur siang itu, mereka membantu ibu melakukan pekerjaan masak-memasak.
Sedangkan Ustadz Zamzam mengasuh putri kecilnya yang sebentar lagi akan menjadi kakak.
Tak lama terdengar suara mengobrol dari teras, Nimas yang penasaran pun berjalan menuju teras.
Terlihat di sana seseorang yang diketahui Nimas bernama Haqi tengah berbincang bersama suaminya.
__ADS_1
"Eeeh sudah datang ya tamunya? Mari masuk!"
Nimas menyambut tamu sang suami dengan sangat ramah.
"Iya Haq, ayo masuk!"
Ustadz Zamzam menggiring Haqi masuk ke dalam rumah.
"Dimana mancingnya Stadz?"
Haqi bertanya sesaat setelah mendaratkan tubuhnya di atas kursi.
"Di halaman belakang, istirahat aja dulu! Pasti kamu cape kan?"
Dan obrolan-obrolan lain terjadi di antara dua lelaki berbeda status itu.
Nimas kembali dari dapur dan membawakan minuman untuk tamunya. Kemudian mengajak Zamima bersamanya, membiarkan sang suami bergosip ria dengan temannya.
---------------
Setelah agak lama mengobrol, sang Ustadz pun mengajak Haqi ke belakang rumahnya. Sesuai rencana awalnya, mereka akan memancing di sana.
Mereka melewati dapur untuk sampai ke belakang dan saat itulah Haqi tertegun melihat sosok Hulliyah berada di sana.
Getaran macam apa ini?
Setiap melihatnya aku bahagia.
Hulliyah tidak menyadari keberadaan Haqi di sana, dia asik ngobrol bersama ibunya Ustadz Zam.
Sebelum akhirnya Haqi menyapa di sana.
"Assalamualaikum, ibu."
Haqi menjulurkan tangannya pada ibu Ustadz Zamzam lalu mencium tangan itu penuh hormat.
"Waalaikumussalam, eh maaf nak ibu habis dari warung ga tau ada tamu."
Haqi tersenyum menanggapi perkataan ibunya Ustadz Zamzam, kemudian matanya beralih pada sosok Hulliyah yang tengah menunduk dalam.
"Assalamualaikum Sypa."
Eh ko Sypa?
Hulliyah mengangkat kepalanya merasa heran, mengapa Haqi tau nama belakangnya.
Sejenak beradu pandang, sampai kemudian suara Ustadz Zam yang memanggil Haqi dari luar membuat tatapan itu terputus.
Yah yaah, Ustadz Zam ganggu aja hihi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hmm aku mau ngomong apa ya?
Part ini aneh ya?
Aku tuh ga bisa bikin cerita panjang kayak sinetron hiks. Tadinya aku mau tamatin cerita ini kemaren.
Eh tapi ko aku kasihan sama Hulliyah yang belum dapat jodoh hihi.
Jadi untuk ke depannya InshaAlloh, cerita ini dibuat untuk Hulliyah wkwkwk.
Terimakasih semua yang sudah membaca ceritaku, aku bukan apa-apa tanpa kalian. Huhuhu nangis nih aku nangis.
__ADS_1