Love In Pesantren

Love In Pesantren
Tidak mudah melupakan


__ADS_3

"Apa yang mereka pikirkan tentang aku? mempunyai istri tidak berakhlak seperti kamu!"


Kata-kata yang sangat menyakitkan terdengar jelas oleh Nimas disela tidurnya. Kejadian kemarin terulang kembali seperti flashback waktu yang berjalan mundur.


Cengkraman itu terasa begitu menyakitkan lebih daripada sebelumnya. Nimas meronta, memohon supaya dilepaskan tetapi mulutnya sangat sulit untuk berucap. Nimas tidak mengenali suaminya yang terlihat seperti raksasa yang siap untuk menginjaknya.


Nimas ingin lari, tetapi kaki tak mampu untuk bergerak.


"Tidak! Tidak!"


Saat sang raksasa itu sudah mulai mendekatinya, sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi.


------------------------


Semakin lama tangisan itu semakin nyaring, gedoran pintu terdengar mengiringinya.


"Neng! Lila kenapa Neng?"


Sayup terdengar suara yang sangat dikenali Nimas.


Netra Nimas mengerjap menyesuaikan pandangannya. Nimas terkejut melihat sekitar, ternyata tadi hanyalah mimpi.


Namun mimpi itu begitu nyata dan jelas menyakitkan karena mengulang kejadian yang ingin dilupakannya.


Nimas bangkit dan segera menggendong Khalila, belum sepenuhnya percaya bahwa tadi adalah mimpi Nimas mencoba beristigfar.


"Buka Neng!"


Suara Ustadz Zamzam mengharuskan Nimas beranjak dan membuka kunci itu sambil menggendong Khalila.


Begitu pintu terbuka sang Ustadz segera melihat kondisi anaknya yang berada dalam gendongan Nimas.


"Lila kenapa?" tanya Ustadz Zamzam.


"Cuma haus."


Nimas melengos kembali ke dalam kamar terlebih dahulu sebelum akhirnya sang Ustadz mengikutinya.


Nimas mendudukkan dirinya di sebuah kursi panjang yang ada di kamarnya.


"Anak Ayah haus?"


Ustadz Zamzam yang sudah duduk di samping Nimas mengajak bicara anaknya sambil mengusap-usap pipi Khalila.


Berada dalam jarak dekat seperti ini sangat tidak nyaman untuk Nimas. Sesak terasa kala teringat perkataan sang suami yang menyebutnya tak berakhlak.


Seberat itukah dosanya? Hingga dirinya layak dicap tidak berakhlak.


Nimas membuang muka ketika Ustadz Zamzam sedang menciumi anaknya. Nimas ingin menghindar.


Saat Khalila sudah tenang dan diam, Nimas menyerahkannya pada Ustadz Zamzam. Nimas berlalu ke kamar mandi mencoba berwudhu untuk menghilangkan rasa sesaknya.


Saat kembali ke kamar nampak Khalila sudah dibaringkan kembali di atas tempat tidur. Saat sepertiga malam inilah Khalila asik bermain dengan imajinasinya. Khalila seperti kehilangan kantuknya.


Sang Ustadz sangat antusias mengajak anaknya itu bermain.


Nimas memilih menggelar sajadahnya dia bersujud menghilangkan rasa sakit di hatinya.

__ADS_1


Sang Ustadz sesekali memandangi wajah sang istri yang tengah khusyuk itu. Timbul rasa sesal di hatinya karena memperlakukan Nimas dengan kasar kemarin.


Nimas menangis dalam hati, luka hati yang seakan tersayat-sayat itu dia redam supaya tidak membuatnya terjatuh. Salah satu kekuatan untuknya saat ini ialah kedua putri kecilnya Zamima dan Khalila.


Aku harus kuat demi kalian.


------------------------


Tiga hari berlalu, baik Nimas maupun Ustadz Zamzam tidak ada yang membahas kejadian tiga hari yang lalu.


Namun sang Ustadz kehilangan sosok istrinya yang selalu tersenyum. Ustadz Zamzam tak pernah lagi mendengar kata-kata manja dari istrinya. Nimas hanya berbicara saat ditanya dan selebihnya diam.


Siang ini, Ustadz Zamzam berkeluh kesah pada sahabatnya Haqi. Sang Ustadz menceritakan segala bentuk kejadian yang menimpanya.


Curahan hati itu dihadiahi tatapan tidak percaya dari Haqi.


"Astaghfirulloh Stadz. Sadar tidak sih kamu?"


Mereka sedang berada di dalam ruangan guru saat jam istirahat. Kebetulan hanya mereka berdua yang ada di sana.


"Aku harus gimana Qi?"


Sang Ustadz menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Minta maaflah!" jawab Haqi.


"Sudah Qi, tapi sepertinya Nimas benar-benar terluka Qi. Bayangin deh Qi, biasanya pas bangun tidur aku disambut dengan senyuman ini tidak. Terus kalau pulang kerja gak ada lagi yang nyambut Qi."


Haqi menatap sinis Ustadz Zamzam.


"Masih untung Nimas tidak kabur. Kamu tidak bersyukur Stadz punya istri sholeha seperti itu. Aku kecewa sama kamu."


"Kamu bukannya bantuin malah nambahin beban." Ustadz Zamzam mendengus.


"Kamu juga nanya saran sama aku, pengalamanku belum sejauh itu. Aku juga lagi pusing dengan tuntutan mertua yang tiap hari nelpon nuntut segera meresmikan pernikahan. Kamu enak punya istri bisa disentuh-sentuh, lah aku? Digembok bro."


Seketika tawa Ustadz Zamzam pecah, mengejek sahabat malangnya itu. Ustadz Zamzam tertawa melupakan sejenak kemelut yang menimpanya.


"Jadi kapan Hulli diresmiin?" Setelah berhasil menguasai diri, sang Ustadz bertanya pada Haqi kesal karena ditertawakan.


"Entahlah Stadz pusing aku, bukannya aku tidak bisa ninggalin kerjaan aku di sini buat jemput orangtuaku di Palembang. Tapi...."


Haqi menggantung perkataannya, membuat Ustadz Zamzam membenarkan posisi duduknya dan menyimak dengan serius.


"Keluargaku di Palembang ingin acara yang sakral dan besar-besaran jadi perlu persiapan yang matang."


"Kamu udah ngomong sama Hulli atau ayahnya?" tanya Ustadz Zamzam.


Haqi membuang napasnya yang tiba-tiba tersendat.


"Sama ayahnya udah, yaa gitulah tanggapannya. Kalau sama Sypa belum, kamu kan tahu aturan Pesantren. Mana bisa aku ngobrol banyak-banyak sama Sypa."


"Aku ada ide." Sang Ustadz tiba-tiba berbinar seolah menemukan harta karun.


Haqi kebingungan membaca tingkah sahabatnya itu.


"Kita ajak istri-istri kita piknik, jangan terlalu jauh soalnya aku pasti bawa anak-anak. Soal izin biar nanti aku bilang sama Mama, mungkin Nimas perlu piknik baru bisa maafin aku."

__ADS_1


Tumben Ustadz Zam otaknya jalan hihi.


Seringai muncul dari sudut bibir kedua pria kesepian itu. Mereka pun merencanakan liburan bersama di akhir minggu ini.


------------------------


Sementara siang ini Nimas di Pesantren mengikuti pengajian rutin mingguan. Setelah tadi sempat dijemput Hulliyah, Nimas duduk diantara ibu-ibu Majlis Taklim itu.


Khalila yang tertidur membuat Nimas nyaman mendengar tausiyah. Sementara Zamima kalem dengan bonekanya. Sungguh anak-anak yang pintar dan tidak rewel dibawa ke tempat yang baik.


Dalam kesempatan ini Ustadz Ahmad yang menjadi penceramah hadir bersama dengan Farrel.


Eh author kangen Farrel😘.


Penampilan Farrel semakin berkarisma setelah beberapa bulan tidak bertemu. Setelah tadi saling sapa dengan Nimas, kini Farrel duduk di barisan laki-laki.


Farrel menyimak apa yang disampaikan oleh saudara sepupunya.


----------------------


Ustadz Ahmad merdu mengalunkan sebuah ayat dalam Al-Qur'an. Surat Al-Hujurat ayat 12 terdengar syahdu keluar dari mulut sang Ustadz.


"Inti dari ayat yang saya baca tadi adalah janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjingnya. Biasanya bila sudah menyangkut kesalahan orang lain kita semangat gali ya Ibu-Ibu?"


Ustadz Ahmad membawa para jamaah berkomunikasi.


"Ada pepatah mengatakan gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di seberang lautan kelihatan. Kesalahan kecil dari orang terlihat jelas oleh kita, sedangkan kita sering tidak sadar akan kesalahan diri sendiri.Intinya kita harus introspeksi diri ajalah sekarang! Mana yang salah dan yang benar saya yakin semua yang ada di sini pintar."


Sekilas tentang ceramah Ustadz Ahmad.


Setelah pengajian usai, Nimas masih berada di Aula itu bersama dengan Hulliyah dan Neli. Mereka memilih mengobrol sebelum Nimas pulang.


Saat tengah asik bercengkrama, tiba-tiba Farrel datang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Thor katanya mau tamat? Ko masih belum?

__ADS_1


Eh iya authornya keasikan hihi...sabar aja dulu yaa😉


__ADS_2