Love In Pesantren

Love In Pesantren
bertahan atau menunggu


__ADS_3

Sepertinya untuk beberapa part ke depan akan selalu tentang Sofia. Jadi buat kalian fansnya Nimas harap tenang yaa. Aku ga bakalan hilangin tokoh iconic dalam cerita ini ko. Tapi meminta waktunya sebentaaar saja untuk melihat Sofia. Okrayyy, Terimakasih.


.


.


.


.


.


.


-------------


Acara donasi kedua yang aku hadiri dan aku bertemu lagi dengan Nimas.


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padanya. Namun apa daya, tadi Farrel menjemputku dan memaksa untuk pulang.


Dan kini, di sinilah aku dalam mobil yang dikemudikan olehnya. Semenjak kejadian aku hujan-hujanan waktu itu, aku merasa ada yang aneh dengan Farrel.


Farrel jadi gampang tersenyum, jarang teriak-teriak lagi. Eh kenapa ya?


"Rel, kita mau kemana sii? Buru-buru banget ngajak pulang, aku masih mau ngobrol sama Nimas."


Gemas rasanya aku menahan kesal.


Setelah hening merayap dalam mobil ini Farrel mulai membuka suara.


"Besok aku berangkat ke Yogya."


Ko tumben dia bilang-bilang? Biasanya dia maen berangkat aja.


Tapi hubungannya apa coba? Maksa pulang sama dia mau ke Yogya.


Mataku memicing memperhatikan raut wajahnya.


"Sementara aku di Yogya, kamu mau tinggal dimana? Rumah Uwa atau rumah ayah sama ibu?"


Eh?


Ini aneh! Farrel kerasukan kali ya? Kenapa tiba-tiba dia selalu nanya pendapatku. Huft.


"Ko diem aja."


Farrel menoleh ke arahku, dan lihat itu! Senyuman macam apa itu?


"Aku, aku di rumah aja."


Duh kenapa ini lidah jadi kaku begini sii?


"Ok, kalau begitu. Tapi jangan mengurung diri di rumah lagi yaa, kamu hanya perlu meminta izin kalau mau keluar rumah."


Otakku sungguh buntu saat ini, setelah berkata seperti itu Farrel malah mengusap kepalaku.


"Kamu kan ke Yogyanya besok, kenapa sekarang buru-buru pulang."


Sebelum menjawab, Farrel melihat kaca spion dan membelokkan mobilnya ke arah kanan.


"Sebelum aku pergi, baiknya kita habiskan waktu berdua."


Eh.


Lagi ku lihat lengkungan indah dibibirnya lagi. Haisshh dia tuh kenapa?


--------------


Begitu sampai di rumah, aku dibuat keheranan karena rumah terlihat rapi dari sebelum aku pergi.


Farrel beres-beres?


Aku pun menuju dapur untuk minum. Sekilas kulihat meja makan, kenapa tudung saji di taruh di sana?


Biasanya kalau meja kosong, tudung saji tidak di taruh di atas meja.


Aku pun penasaran dan ku bukalah akhirnya.


Apa ini?


Makanan?


"Cobain deh soto buatanku!"

__ADS_1


Farrel yang tiba-tiba ada di belakangku mendudukanku secara paksa di kursi ini.


Dihadapanku kini adalah semangkok soto yang Farrel sodorkan.


Dengan ragu aku menyendok kuah soto itu dan menyuapkannya ke dalam mulutku.


Enak.


Ko enak?


Tanpa ragu aku mengambil piring di dekatku tak lupa ku isi dengan nasi putih.


Aku malah keasikan makan, hingga aku melupakan seseorang yang entah sejak kapan memandangiku seperti itu.


Setelah menyelesaikan kegiatan makanku, aku mengerjap salah tingkah.


"Kenapa?"


Aku merasa tak enak hati dipandangi begitu.


Farrel menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Seneng aja kamu suka masakanku."


Eh serius soto ini buatan Farrel?


Bahkan aku saja tidak bisa, masakanku standar.


"Ko kamu bisa masak?"


Aku tahu ini pertanyaan bodoh, tapi aku penasaran.


"Semenjak SMA aku sudah bekerja, waktu itu aku sekolah sambil bekerja. Yaa meskipun hanya jadi tukang cuci piring di warteg orang."


Farrel terlihat memamerkan kembali senyumanya.


"Aku melakukan itu supaya tidak terlalu banyak merepotkan Uwa."


Farrel menunduk.


Tunggu deh, Farrel jadi terbuka begini. Ah mungkin karena kami teman jadi dia nyaman bercerita padaku.


Meja makan persegi dan empat kursi beserta alat-alat makan di depan kami, sekarang menjadi saksi dari sesi curhat Farrel padaku.


Hampir dua jam kami menghabiskan waktu di meja makan hanya untuk saling bercerita, sesekali meringis bersama, sesekali tertawa.


Tapi ternyata semenyenangkan ini ngobrol sama Farrel.


------------------


Malam ini seusai kami berjamaah sholat isya. Farrel merebahkan dirinya di kasur.


Itu kasurku?


"Pindah Rel, aku mau tidur."


Aku mencoba menggeser-geserkan tubuhnya.


"Kita tidur bareng aja."


Apa?


Benar-benar harus ada yang di luruskan di sini.


"Farrel, kita harus bicara."


Aku harus tegas kali ini.


Farrel masih belum menghiraukanku.


"Farrel bangun! Kita harus bicara."


Aku menarik tangannya sekuat tenaga, tapi Farrel malah menarikku. Tejatuhlah aku di sampingnya yang tengah berbaring itu.


Hening tercipta, hanya bola mata yang saling bicara. Kami berhadapan dalam satu bantal.


"Bicaranya sambil tiduran aja."


Ucapan Farrel barusan membuyarkan lamunanku.


"Ga nyaman, mending bangun deh."


Lagi-lagi saat aku hendak bangkit, Farrel menahan tubuhku. Dengan tangannya yang merangkul pinggangku.

__ADS_1


"Begini saja."


Haissh bahkan nafasnya begitu terasa menerpa wajahku.


Aku pun menyerah, menghela nafas sebelum bicara.


"Ada apa sama kamu?"


Itulah pertanyaan yang akhirnya meluncur dari bibirku.


Farrel tersenyum, tangannya masih setia memegangi pinggangku.


Haisssh, ini kode bahwa aku jangan menghindar.


"Enggak kenapa-napa."


Hanya itu?


Aku ga puas dengan jawabannya.


"Beberapa hari ini kamu aneh Rel. Apa kamu sakit?"


Tanganku pun terulur memegang dahinya, ah tapi suhunya normal.


Kemudian Farrel memindahkan tangannya, dan meraih tanganku. Digenggamnya tangan ini, membuat keningku menaut seketika karena heran.


"Aku mulai berfikir, bagaimana kalau kita hidup sebagai suami istri sungguhan."


Otakku buyar seketika, mulutku terbuka. Aku tercengang oleh ucapan Farrel.


"Reaksi kamu berlebihan." Farrel mengusap wajah, sambil menahan tawa.


"Jangan bercanda deh, ga lucu. Aku tahu dari awal, aku hanya bertahan untuk pergi."


Farrel menggeleng kuat.


"Sekarang kita rubah, bertahan atau menunggu."


Menunggu?


"Maksud kamu?"


"Aku minta sama kamu, tetap bertahan bersamaku dan menungguku untuk sepenuhnya menerima kamu sebagai istriku."


Hah?


"Rani?"


Nama itu keluar begitu saja dari mulutku.


Farrel tersenyum.


"Makanya aku minta kamu menunggu, menunggu aku mengakhiri sesuatu antara aku dan Rani."


Eh ini aku sedang mimpi atau tidak sih?


"Kenapa?"


"Aku mau belajar menerima kamu, dan hidup bahagia."


Sepertinya Farrel kebanyakan baca novel nih.


"Aku ga bisa."


Farrel kini diam memandangi wajahku.


"Kenapa ga bisa?"


Pertanyaannya menuntut.


"Yaa aku ga punya perasaan sama kamu, lagian aku sering ditinggal sama kamu aku ga pernah rindu."


Bohong aku bohong.


Sejujurnya aku hanya ingin tahu, apakah Farrel serius dengan perkataannya.


"Kita lihat saja nanti, kalau kamu besok rindu. Maka aku ga akan melepaskan kamu. Tapi kalau tidak baiklah kita menyerah."


Kebimbangan menelusup dalam relung hati ini, kalau rindu sudah pasti aku selalu merindukanmu kalau kita berjauhan.


Tapi kenapa aku harus menunggunya?


Entah mengapa aku merasa ini tidak akan mungkin.

__ADS_1


Aku dan Farrel bagaikan dua sisi magnet yang saling tolak menolak.


Aku merasa aku tidak bisa untuk terus bersamanya.


__ADS_2