
Semenjak malam itu, aku mencoba membuka kembali hati yang hampir membeku. Aku berikan A Zam kesempatan, hanya sebatas dia boleh menyapa anaknya. Gak lebih ya, catet !!
Aku sudah mulai berhenti mengajar sekarang dan fokus pada kehamilanku sebagaimana yang dikatakan Bi Haji.
Dan akhirnya beginilah kegiatanku tiap hari,makan tidur makan tidur huh cape.
Kini ku tahu pekerjaan paling capek adalah rebahan uuuh.
Apalagi A Zam libur hari ini, jadilah aku ga ada kegiatan, semua pekerjaan dia kerjakan aku hanya disuruh duduk selimutan hadeuuh gak betah.
Setelah pekerjaan rumah selesai semua, A Zam duduk di sebelahku yang sejak tadi menonton aksinya beres-beres.
"Cape A?"
"Lumayan."
A Zam bicara sambil mengurai gulungan baju di lengannya.
"Aku ambilkan minum ya."
Belum sempat aku berdiri A Zam menarikku dan menyandarkanku di tubuhnya. Duh posisinya aku membelakangi dia, bikin gagal fokus hihi.
"Aku ga mau minum, aku maunya neng."
Isshh apa coba maksudnya.
Sebelum makin berlanjut segera ku alihkan pembicaraan.
"A, mbak Sari udah lahiran kita belum nengok."
"Eh iya, terus maunya neng gimana?"
Nanya sih nanya A, tapi tanganmu diem dong ah geli.
Kebiasaan emang A Zam tuh kalau dibaikin hobinya menggerayami.
Oops..
"Kita nengokin yuk !"
Ajakku dan emang aku sudah ingin pulang.
"Neng ga akan kuat."
Heii emang aku kenapa?
"Kuatlah, emang kenapa?"
Protes dong aku.
A Zam beranjak sedikit kemudian menjadikan pahanya jadi bantalku. Aku jadi tiduran kan nih.
"Kan neng lagi hamil, takutnya ga kuat perjalanan jauh?"
Tatapan kami terkunci.
"Kuat." Ucapku mantap.
-------------------
Akhirnya kami pun berangkat sore ini juga. Berhubung A Zam liburnya cuma hari ini dan besok saja, jadi kami bergegas mumpung ada waktu.
Di tengah perjalanan aku sungguh tak nyaman, pegal, begah, ahh pokoknya gak enak deh.
Nyesel aku ga dengerin suami. Ku lirik A Zam yang sedang fokus mengemudi.
Eh A Zam noleh.
Mobil pun menepi di parkiran sebuah mesjid. Sebentar lagi memasuki waktu magrib.
"Yuk neng, turun dulu !!"
Tumben dia peka atau kebetulan?
Kami pun beristirahat sejenak di sana.
"Gimana neng mau lanjut apa pulang aja?"
Ini udah setengah jalan ya masa pulang.
__ADS_1
"Lanjutin aja , nanggung A."
Ko makin deket sii duduknya apa ih.
Ternyata A Zam meraih kakiku dan memangkunya.
Terus A Zam mijit-mijit, sweet gak sih?
Siapa yang nyetir siapa yang dipijit hadeuh.
Seusai sholat kami pun melanjutkan perjalanan. Hari yang makin gelap membuat suasana agak mencekam. Maklum daerah tempat tinggalku masih banyak pepohonan dan gunung-gunung.
Lalu ingatanku kembali ke masa yang lalu, dimana A Zam malam-malam sendirian melewati jalanan ini
Iiii serem yaa kalau sendirian ke sini, aku merinding sendiri.
Ku pandangi wajahnya, oh betapa indahnya ciptaanmu yaa Rob. Aku ngiler sendiri dan ga nyangka pangeran tampan ini adalah suamiku.
Ah tampan apaan, nyebelin iya.
Eh hati, kenapa kalian jadi dua?
"Aku emang ganteng neng, jangan diliatin terus."
Eh.
Yang aku liatin tahu, ck percaya dirinya itu loooh.
Beberapa saat kemudian kami akhirnya sampai di kediaman orang tuaku.
Ayahku menyambut kami kemudian kami pun masuk ke dalam rumah.
"Ibu mana yah?"
"Kan semenjak mba Sari melahirkan ayah selalu tidur sendiri di rumah ini."
Haha ko kasihan, aduh maafkan anakmu ayah.
Aku pun memutuskan untuk segera ke rumah Bang Gazani.
"Assalamualaikum."
"Nimas? Ko ga bilang mau kesini, ayo masuk !!"
Aku memeluk ibuku, uh kangen banget rasanya.
Aku pun masuk bersama A Zam, eh tiba-tiba aku melihat pamandangan yang apa yaa hmmm dibilang indah ya indah deh. Tepatnya langka.
Bang Gazani tengah memangku bayinya sambil bersholawat. Aihhhhh abangku ini terlihat bahagia sekali.
Sampai akhirnya dia sadar aku datang.
"Adek, kapan dateng?"
"Barusan bang, cieee yang punya bayi turunin dong aku mau lihat."
"Lihat, yang lihat denda."
Idih tampang bang Gazani nyebelin banget deh.
Aku memiih menghampiri mba Sari ketimbang meladeni Bang Gazani.
"Assalamualaikum mba."
Ucapku kala memasuki kamar.
"Waalaikumussalam, dek kamu dateng."
"Iya mba, tadinya mau lihat ponakan baru, eh si abang ga bolehin. Huh nyebelin."
Mba Sari malah terkekeh mendengar omelanku.
Bang Gazani nyerah juga, akhirnya ponakanku dikembalikan ke kamar.
Terpesona aku melihat anak Bang Gazani.
"Uh imutnyaaa, cowok kan mba ya?"
"Iya."
__ADS_1
Jelas sekali rona di wajah mba Sari yang sangat bahagia, bagaimana tidak, memiliki anak adalah impiannya.
"Selamat ya mbaa, aku ikut bahagia. Uh jadi pengen punya bayi."
"Sebentar lagi kamu juga punya dek, terimakasih ya."
Oh iya yaa hampir aku lupa, hehe.
------------------
Setelah agak lama di rumah bang Gazani aku pun akhirnya kembali ke rumah ayah. Kini aku berbaring sudah di kasurku.
Sementara A Zam masih asik ngobrol bersama ayah di luar.
Alamat tidur sendiri ini mah. Mereka kalau sudah bertemu suka lupa waktu, lupa istri huh.
-----------
Keesokan paginya, saat kami tengah sarapan.
"Dek, gimana kemarin perjalanan jauh?"
Pertanyaan ibu mancing banget.
"Cape bu."
Asal aja ku jawab yang sebenarnya.
"Gimana kalau kamu di sini saja dulu sampai melahirkan?"
Hah.
Aku dan A Zam saling berpandangan.
"Gimana Zam?" Tanya ayah.
"Saya sii terserah neng saja, gimana neng apa mau di sini atau ikut pulang nanti sore?"
Mendadak aku gamang, duh kalau di sini berarti akan berjauhan dengan A Zam dong. Baru juga kami baikan sudah mau berpisah saja ga rela rasanya.
--------------
Akhirnya aku putuskan untuk tinggal di sini sampai melahirkan. Sedih yang jelas harus berpisah sama A Zam.
Sore ini A Zam bersiap berangkat, di kamar ini aku melihatnya baru selesai mandi dan berpakaian.
"Neng ga apa-apa aku tinggal?"
A Zam mendekatiku yang sedari tadi menatapnya.
Aku hanya mengangguk lemah ga rela, kalau saja ibu tidak memaksa aku lebih baik pulang.
"Aku akan ke sini seminggu sekali baik-baik disini ya. Jaga dedeknya."
Ingin ku teriak TiDAK KAKANDA JANGAN TINGGALKAN AKU, wkwk.
"Bener yaa Aa ke sini seminggu sekali, Aa ga lagi buang aku kan."
Mendadak mataku panas dan meluncurlah air mata kesedihan.
"Neng ngomong apa sayang? Ini demi kebaikan neng, biar disini ada yang jagain. Kalau di rumah kan neng sering sendirian."
Huaaaaa, nangis nih aku nangis huaaaaa.
Sesenggukkan aku jadinya.
"Hei hei hei ko malah nangis."
A Zam meluk aku makin tak kuasa aku melepasnya.
Entahlah aku hanya ingin dekat dengan suamiku ingin di manja. Ah.
Setelah agak tenang, kami pun keluar kamar. Aku tak segan bergelayut manja merangkul pinggang A Zam.
Tapi kalau di fikir aku harusnya malu, ih aku enyahkan perasaan malu yang penting bisa deket dulu sama suamiku.
"Yaelah dek, manja bener."
Sudah ketebak itu suara siapa, Bang Gazani ribet.
__ADS_1