
Enam puluh hari sudah umur Zamima, anakku. Zamima hadir diantara kami menguatkan ikatan ini. Ikatan yang tak pernah ku impikan sebenarnya.
Zamima sayang, terimakasih memilih kami jadi orang tuamu.
"Di pandangin terus Mimanya, udah mirip bapaknya itu."
Isshh A Zam ganggu aja, gak tahu apa aku lagi memandangi Mima yang lelap banget tidurnya.
Apa katanya tadi, mirip bapaknya?
Ah tapi ya memang, Mima mirip banget sama A Zam. Adil gak sih, aku yang hamil aku yang lahirin, eh pas lahir mirip bapaknya semua.
Ckck.
O iya kami sudah kembali ke rumah kami, setelah berbagai drama terlewati.
Dari mulai ibuku yang memaksa untuk tinggal, sampai mertuaku ikut-ikutan menarik-narik supaya aku tinggal bersamanya.
Mereka sangat mencintai anakku.
Ahhh begitu banyak kebahagiaan semenjak hadirnya Mima.
"Neng, melamun aja."
Lagi-lagi pria ini mengangguku, eh dia suamiku hihi.
"Enggak ko, siapa bilang."
Berlagak nih aku.
"Udah sini, biar Mimanya aku tidurin dulu."
A Zam mengambil Mima yang sejak tadi berada di pangkuanku.
"Aa mau makan?"
Sesaat setelah A Zam kembali ke ruang tamu.
Sejak pagi aku sibuk sendiri dengan Mima, hingga bayi gedeku sedikit terabaikan.
"Tadi sudah sarapan, neng yang belum kan."
A Zam melipir ke dapur membawa sepiring nasi.
Seperti ada beban di tubuhku begitu malasnya aku beranjak dari kursi ini.
"Neng makan dulu !!"
A Zam duduk di sebelahku.
Saat aku mau mengambil piring itu, A Zam menjauhkannya sambil tersenyum.
"Biarkan aku menyuapimu."
Aihhh kalimat sederhana seperti itu mampu membuatku terharu. Ah aku gampangan sekali.
Suapan demi suapan terasa nikmat, sungguh tanganmu ajaib A.
Makananku tak terasa sudah habis di piring.
Setelah selesai makan, aku masih belum beranjak. Yang kulakukan hanya membaca buku, yang baru aku sadari ada di atas meja.
"Mima masih bobo."
A Zam tiba-tiba ada di sebelahku lagi.
Pasti dia tadi ngintip Mima dulu deh.
A Zam merengkuh tubuhku tanpa basa basi.
Aku lagi baca ini.
__ADS_1
"Ih Aa."
Terdengar manja mungkin.
"Aku rindu neng."
A Zam memelukku erat, ku lepaskan buku yang tadi ku pegang dan membalas pelukannya.
Maklum yaaa waktu di rumah ibu, itu yang namanya bang Gazani ga pernah membiarkan kami dekat walau semeter. Uh.
Sesaat kemudian A Zam melepas pelukannya. Ih natapnya jangan gitu A, ko aku malu haha.
"Ini perasaanku, atau memang benar neng tambah cantik sehabis melahirkan."
Aissshh siapa saja tolong aku.
Melengos aja buang muka, malu rasanya.
Ih tanganmuu Aa.
Tangannya menangkup wajahku, terpaksa dong aku menatap wajahnya.
Aih ini rasanya seperti ketangkap basah sedang melihat seseorang eh orang tersebut ga sengaja lihat kita. Uh begitu deh malunya.
"Aku mencintaimu neng."
Kok A Zam sekarang bisa blak-blakan begini.
"Mima menyadarkanku akan sesuatu neng. Terimakasih karena neng sudah menjadi ibu dari anakku. Mari kita jaga cobaan ini bersama."
Maaf apa katanya?
"Ko cobaan, bukankah anak itu anugerah."
Heran aku.
Ih senyum lagi.
Aku merenungi sejenak perkataan A Zam. Iya aku baru ingat firman Alloh dalam surat Al-Anfal ayat 28, yang isinya menjelaskan harta dan anak-anak adalah cobaan. Sesungguhnya di sisi Alloh lah pahala yang besar.
Aaaah sesyahdu ini saling mengingatkan dalam kebaikan, and for me you're perfect husband A.
Eh ko lidahku mendadak bule haha. Gara-gara disuapin tadi sepertinya hihi.
Sesaat kemudian kami saling mendekat kembali dan hampir saja akan terjadi sesuatu, sebelum kemudian ketukan pintu menyadarkan kami.
Eh ada tamu, kami blingsatan di buatnya. Aku sibuk mencari kerudung yang entah terlempar kemana. Duh A Zam sii main lempar aja.
A Zam pun membuka pintu, segera ku hampiri sesudah aku menemukan kerudungku.
Sesaat kami tertegun, tamu itu Hannah.
Kami pun persilahkan masuk dan kini kami duduk bersama di ruang tamu ini.
"Aku ke sini ingin melihat anak kalian. Maafkan pas lahiran aku ga sempet jenguk."
Aku tersenyum kaku.
"Nimas, apa Ustadz Zamzam sudah memberitahu bahwa aku ingin ketemu sama kamu."
Ah iya A Zam pernah bilang, eh tapi mau apa coba?
"Aku ke sini mau berterima kasih."
Terimakasih?
"Untuk apa?"
"Yaa karena ketulusan kamu mendoakanku, aku bisa sembuh dan melewati masa sulitku dengan berdzikir pada Alloh mengagungkan namanya, bermuhasabah diri. Terimakasih, tasbihmu menyadarkanku."
Tiba-tiba Hannah memelukku. Dan kami menangis berdua, sesungguhnya kami hampir diadu dombakan oleh syetan.
__ADS_1
"Alhamdulillah bila tasbih itu bermanfaat."
Entah mengapa, kini Hannah sesenggukkan di pelukanku.
"Maafkan aku Nim, aku sempat berfikiran jahat terhadapmu. Maafkan aku yang dulu ingin memiliki suamimu."
Tak kurasa benci padanya sungguh, mataku berkaca-kaca mendengar pengakuannya.
Inikah yang dinamakan keadilan Tuhan?
Suara tangisan Mima memecah keharuan diantara kami.
A Zam membawa Mima ke pangkuanku.
"Wah, anaknya ko mirip Ustadz banget."
Tuh kan tuh kaaaaan, Hannah orang ke berapa yang bilang seperti itu.
Kami tersenyum.
"Oh iya, aku bawa hadiah buat dedek lucu ini."
Hannah keluar sebentar mengambil barang-barang yang dia bawa di mobilnya.
Apa ini?
Segala macam perlengkapan bayi dia berikan sebagai hadiah.
"Hannah ini berlebihan."
Aku gak enak juga.
"Enggak kok, aku seneng. Boleh aku gendong dedeknya."
Hannah pun mengambil alih tubuh Mima.
Tak pernah ku sangka sebelumnya, bisa seakrab ini dengan Hannah.
Jikalau yang maha kuasa telah membuka tabir, niscaya apapun akan terungkap.
---------------------
Ini sudah hari ke berapa kami di rumah ini. Tamu seakan tak pernah berhenti datang. Mama dan Bi Haji pun sempatkan kemari, murid tk ku juga kemari, Hulliyah dan teman-teman santri pun datang. Bahkan para guru Mts pun hadir beserta murid A Zam.
Tapi satu orang yang tak kulihat, dialah Sofia.
Kemana Sofia?
Pertanyaan itu pula yang aku tanyakan pada Hulliyah.
Agak sedikit terkejut mengetahui Sofia telah menikah sebulan yang lalu. Terlebih suaminya adalah Farrel.
Tak memberitahuku, kenapa?
Jodoh memang tak ada yang tahu, tapi kenapa yaa aku merasa janggal, hmm entahlah yang pasti selalu ku doakan yang terbaik untuk Sofia.
Pengajian di pesantren aku sempatkan untuk datang, sambil menggendong Mima aku semangat menghadiri pengajian yang pastinya aku akan bertemu teman-teman santri juga., selalu rindu jadi santri aku tuh, aaah tak bisa ku ulang.
Kali ini aku telah duduk bargabung dengan jamaah yang kebanyakan ibu-ibu.
Pandanganku terpaku pada dua orang yang baru saja datang.
Siti dan Sofia di sana.
Siti, iyaa itu Siti dia gendong anak juga. Hihi gini nih nasib perempuan kalau sudah menikah.
Aku tersenyum lebar menyambut dua sahabatku yang menghampiriku dan duduk bersama.
Sekilas aku melihat wajah Sofia yang nampak murung. Mereka bisa datang bersama, ya memang suami mereka saudara.
Aku menahan diri untuk bertanya kabar pada mereka, karena pengajian di mulai.
__ADS_1